TAHAP REVISI
MASIH BANYAK TYPO DAN SALAH EYD, MOHON DIMAAPKEN🥲
Bagaimana jika ternyata selama ini kalian diawasi secara diam-diam. Bahkan saat tidur ternyata seseorang juga datang menemanimu tidur.
Seorang pria misterius yang selama ini ternyata memperhatikan seorang wanita bernama Valerie. Apa yang selanjutnya akan terjadi?
ayo, baca dan tambahkan dalam list favorit kalian.
Bye 😘💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violet Slavny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
"Sean.. "
Sean menabrakkan punggungku ke dinding dan menghimpitku. Aku menatap lekat wajah Sean yang kelihatan marah. Kenapa? Memangnya aku salah apa?
"Kau bersenang-senang selagi aku tidak ada sayang? "Tanya Sean dengan senyum menyeringainya. Aku meneguk ludahku kasar saking gugupnya menghadapi Sean. Saat ini wajah Sean benar-benar sangat dekat dengan wajahku.
"Kamu suka menghadiri pesta seperti ini dengan lelaki itu? "Ucapnya lagi, namun wajahnya semakin menggelap mengerikan. Aku takut padanya.
"Se... Sean... Kamu sudah kelewatan kita berada di dalam toilet. "Ucapku sambil mencoba mendorong tubuhnya menjauh dari hadapanku. Namun, tubuhnya sama sekali tak bergerak dengan doronganku.
"Kamu senang beberapa hari ini melewati harimu dengannya? "Tanyanya lagi dengan wajah menggelap marah. Aku bahkan menggigil ketakutan dengan aura gelapnya saat ia semakin menghimpit tubuhku.
"Sean..."panggilku mencoba untuk menyadarkannya.
"Kenapa tidak menjawab sayang? "Ucapnya lagi. Aku menyerah dan menatapnya kesal.
"Kau ingin jawaban apa? Jujur? Ya, aku senang. Kau puas? "Ucapku ikut marah. Rasa takutku menghilang dalam sekejab, namun kembali datang saat melihat betapa marahnya wajah Sean saat ini. Tangannya terkepal, rahangnya mengeras, matanya menjam seakan ingin menusukku.
Aku menunggu beberapa detik dengan mulut terkatub takut. Tiba-tiba Sean menyeretku kasar keluar dari toilet, lanjut menyeretku entah kemana dan tidak melalui ramainya tamu. Hingga entah bagaimana, aku dan Sean keluar dari hotel dengan mobil yang sudah siap sedia.
Sean mendorong tubuhku kasar masuk kedalam mobil, lalu di susul olehnya. Secepat dia menutup pintu, secepat itu pula dia langsung menindihku dan menciumku kasar.
Aku bersyukur terdapat sekat yang memisahkan kursi penumpang dengan supir, sehingga sang supir tak melihat bagaimana rendah dan menyedihkannya aku saat ini di bawah kekuasaan Sean.
Tanganku mencoba memukul pundaknya, namun segera kedua tanganku di tahan oleh satu tangannya di atas kepalaku. menciumku seakan tak ada hari esok.
Drt... Drt... Drt
"Mmmhh.... "Aku hanya bisa mendehem di sela lumatannya untuk memberi tahu Sean kalau ponselku bergetar.
Sean melepas ciumannya dengan wajah marah, lalu meraih tasku dan mengambil ponselku kasar. Sean menatap ponselku yang bergetar dengan senyum miring, lalu memutarnya kearahku, menampilkan nama Aiden yang tertera di sana.
"Kau senang dia menelfonmu? "
"Berikan ponselku Sean! Dia mungkin khawatir aku tidak kembali. "Sean masih menahan kedua tanganku dengan satu tangannya.
Sean terkekeh kecil dengan nada mengejek. "Hhhhhh... Kau khawatir dia mencarimu? Apa kau khawatir kemana aku selama ini? "Tanyanya lagi. Aku terdiam tak tau harus menjawab apa.
"Kemarikan Sean aku akan menjawabnya! "Ucapku lagi. Sean tersenyum miring, namun tak menyangka dia menyerahkan ponselku padaku.
"Terima saja telfonmu. "Ucapnya sambil melepas kedua tanganku.
Awalnya aku tak percaya dia akan memberikan ponselku dengan begitu mudah. Aku menjawab telfon dari Aiden dan akhirnya tau apa tujuan Sean membiarkanku menerima telfon tersebut.
"Halo. "Aku terlonjak kaget saat Sean meremas dadaku dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menarik pinggulku agar semakin merapat pada tubuhnya.
"Vale, di mana kamu? Aku mencarimu ke toilet dan kamu tak ada. "
"Aiden, aku tidak enak badan ahh.. "Aku mencoba menahan desahanku keluar saat mulut nakal Sean bermain di daerah leher dan telingaku yang sensitif. Sean tau tempat di mana aku tak bisa menolak permainannya. Dia tau titik kelemahanku.
"Kamu sakit? "
"Ahh.. Ya, aku sudah pulang dengan taksi. Maaf tidak mengabarimu Aiden. "Ucapku dengan mata terpejam tak kuat.
"Baiklah, istirahat dirumah! Get well soon Vale. "
Belum sempat aku menjawab, secepat kilat Sean merenggut ponselku, mematikan sambungan telfon, lalu melempar ponselku entah kemana.
"Puas berbincang dengannya? "Sean kembali merenggut bibirku sambil meremas dadaku kasar. Tak membiarkanku berbicara sedikitpun. Sean memimpin permainannya dan aku tak dapat melakukan apa-apa dengan tubuh tak berdaya.
Seakan sean menumpahkan kemarahannya di dalam ciuman ini. Aku memberontak saat merasakan nafasku mulai habis. Sean melepas ciumannya seakan mengerti, lalu aku menarik nafas sedalam mungkin.
Setelah di rasanya cukup, dia kembali merenggut bibirku dan ********** kasar. Tangannya bergerak liar menyusuri tubuhku.
Sean seperti orang kesurupan. Dia menciumku tanpa ampun. Rambutku bahkan sudah berantakan beserta lipstik yang kupakai. Sean merenggut rahangku dengan tangannya yang bebas dan memaksa semakin dalam mengeksplor mulutku.
"Sean... "Di sela ciuman menggebu-gebunya, aku sempat memanggilnya mencoba untuk menyadarkannya. Namun nihil, itu tak ampuh padanya sekarang.
Kurasakan mobil berhenti dan mesin mati. Sean melepas ciumannya, membuka pintu dan menyeretku kembali ke dalam sebuah rumah mewah yang kelihatan tak asing.
Aku tak sempat berfikir untuk mengenali rumah ini. Sean sangat cepat menyeretku hingga aku hampir jatuh tak dapat menyesuaikan langkahnya, di tambah hells yang kupakai mempersulit langkahku.
"Sean Pelan! "Ucapku, namun tetap di hiraukan olehnya.
Bruk...
Hingga akhirnya aku jatuh karna menginjak gaun malamku sendiri dan meringis sakit dengan satu tangan yang masih direnggut oleh Sean.
Grep.
Sean menggendong tubuhku dan lanjut melangkah entah kemana. Menaiki anak tangga dan membuka sebuah pintu mewah dengan kasar.
Mataku terbelalak saat melihat ternyata ini adalah sebuah kamar super mewah. Apa Sean akan....
"Tidak.. Sean.. Tidak. "Aku memberontak di gendongannya namun Sean tetap memasang wajah marahnya.
Sean berhasil mengunci pintunya entah bagaimana, lalu melemparku keatas ranjang. Aku meringsut menjauh ke kepala ranjang, saat kulihat sean dengan mata penuh gairah membuka jasnya cepat, serta kemejanya kasar hingga kancingnya putus berjatuhan di lantai.
Author POV
Vale meringsut menjauh dengan wajah takut, sedangkan Sean tersenyum menyeringai dengan wajah tak sabar. Setelah berhasil melepaskan kemejanya, Sean langsung beranjak naik mendekati Vale.
"Sean, Kumohon jangan! "Ucap Vale dengan wajah takut. Air matanya bahkan hampir menetes.
"Terlambat sayang. "Sean menyeringai puas menatap wajah ketakutan Vale. Tangan Sean menarik kedua kaki Vale agar gadis itu terbaring di ranjang. Tangannya dengan kuat merobek belahan gaun yang berada di pahanya, hingga sobek dan memperlihatkan dalaman hitamnya.
"Berani sekali kau memperlihatkan tubuhmu pada orang lain Valerie. "Ucap Sean tajam. Vale menggeleng dengan wajah berkaca-kaca sambil menatap Sean dengan wajah sedih.
"Sean Please no! "Sungut Vale dengan wajah sedih.
"Kau sudah melakukan banyak kesalahan sayang. Sekarang sudah terlambat untuk meminta pengampunan. "Tambah Sean dengan nada tegas. Sean tak suka Valerie membantah kata-katanya.
"Semenjak hari di mana kau berjanji, saat itulah tubuhmu menjadi milikku dan kau tak berhak untuk menolak. "Tambahnya lagi. Sean merenggut kerah V Valerie dan merobeknya kuat. Sean benar-benar sudah di penuhi dengan amarah.
Sean tak suka saat laki-laki lain melihat kaki jenjang dan paha wanitanya. Melihat belahan dadanya, melihat tangan pria berengsek itu melingkar di pinggang wanitanya, melihat Valerie dan pria itu tertawa bahagia, melihat mereka berpelukan, Sean melihat apapun yang valerie lakukan selama ia pergi. Semuanya sampai seluruh percakapan mereka.
"Terima saja hukumanmu sayang! Ingat kau tak berhak menolak! Tubuh ini adalah milikku. "Ucap Sean dengan nada mengancam lalu menyentuh tubuh Vale sesukanya.
Air mata Valerie tak dapat lagi ia tahan dan meluncur dengan sendirinya. Sean mencoba tak peduli dengan suara isak tangis Vale. Bibir Sean meraih bibir Valerie kasar sama seperti sebelumnya. Sean dapat merasakan rasa asin karna air mata Valerie yang turun dengan deras.
Valerie mencoba menolehkan kepalanya ke kanan ke kiri untuk menghindari ******* kasar Sean. Sean melepas lumatannya dan beralih ******* leher gadis itu dengan semangat.
Menghisapnya dan meninggalkan jejak kemerahan di sana dengan begitu banyak. Menandakan bahwa Valerie hanya miliknya.
"Sean Berhenti! "Ucap Vale di sela tangisnya yang kian deras.
"DIAM VALERIE! "Sean benar-benar marah dan akhirnya membentak Valerie kencang.
Tangis Valerie semakin keras dengan isakan semakin kuat. Matanya terpejam erat merasakan betapa kasarnya Sean menyentuh tubuhnya. Mulut Sean yang perlahan turun dan bermain di atas dadanya dengan begitu kasar dan rakus. Membuat Valerie mendesah di sela-sela tangisnya. Namun desahannya bukanlah ******* menikmati, ia kesakitan dengan sorot mata pedih.
Tangan Vale masih mencoba menahan bahu Sean dengan sisa-sisa tenaganya. Tangannya mencengkeram pundak Sean, menahan sakit saat pria itu menghisap kuat dadanya. Sean melepas ciumannya dengan wajah merasa bersalah dan sayangnya Vale tak dapat melihat ekspresi pria itu karena air mata mengaburkan penglihatannya.
Ia dapat melihat wajah Valerie yang di penuhi dengan air mata dan tangan gadis itu yang mencengkram pundaknya seakan menahan kesakitan yang ia berikan. Ia menyerah, Sean tak dapat melanjutkan ini. Mendengar Vale menangis karnanya, membuat ia semakin di rundung rasa bersalah.
"Sstt... Sayang... "Sean mencoba menenangkan Valerie dengan nada lembut, lalu mencium kedua kelopak mata Vale yang menangis sesenggukan.
"Hikss... Hikss... Sean... "Ucap Vale di antara senggukannya. Sean mengusap kedua pipi Valerie lalu mengecup kedua pipi itu lembut.
"Hmmm.. "Dehem Sean lembut.
"Maaf... Hiks.. "Hati Sean bergetar mendengar kata maaf meluncur dari mulut Valerie. Ia luluh, ia semakin tak tega menatap gadisnya ini menangis sampai sesenggukan. Hatinya menghangat mendengar kata maaf Valerie.
Sean menatap wajah Vale yang di penuhi oleh air mata dengan wajah iba. Bahkan tangan Vale terkulai lemas di samping tubuhnya dan tak bisa memberontak lagi.
"Sst... Baiklah, aku memaafkanmu. Berhenti menangis sayang! "Sean terus mengusap titik air mata Vale yang turun. Sean yang berada di atas Vale, menahan tubuhnya agar tak menindih gadisnya.
Dengan lembut Sean mencium setiap sudut wajah Vale untuk menenangkannya. Matanya, hidungnya kedua pipinya, bibirnya, dan terakhir mencium lama kening Vale. Perlahan Valerie mulai berhenti menangis dengan wajah lelah hingga tertidur di pelukan Sean yang entah kapan sudah berbaring di samping gadisnya.
Valerie membenamkan wajahnya di leher Sean dan tangannya memeluk perut Sean erat. Sedangkan sebelah tangan Sean di jadikannya bantal untuk kepala Vale. Dan tangannya yang lain, mengusap punggung Vale naik turun.
Sean dapat merasakan nafas Vale yang berangsur teratur di lehernya. Sejak dulu, Valerielah kelemahannya. Valerielah satu-satunya alasan ia ingin melanjutkan hidup saat itu. Valerielah alasan ia ingin mempunyai masa depan dengan gadisnya itu. Hidup bahagia dengannya, Selamanya.
Valerielah hidupnya.
bersambung....
hay.. kangen kan? 😊☺️
oh iya, author baru aja buat akun insta baru khusus novel-novel yang author buat. Follow dongz😘 namanya violet_slavny.
disana author bakalan post para visual, spoiler, dan kira-kira cerita baru yang akan muncul gituloh, jadi kita bisa dekat juga disana kan.
jangan lupa like, share dan komen.
bye.. 😘💕
jgn jgn yg bikin merah leher kamu jg pk direktur nih