Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Peran yang Tak Pernah Dipilih
Zahra terdiam. Senyumnya membeku sepersekian detik.
“Rez…” katanya akhirnya, pelan. “Aku peduli sama kamu.” Ia menarik napas, lalu tersenyum tipis, seolah menata kata. “Tapi hal-hal kayak gitu… harusnya memang diurus istri.”
Tangannya meremas ujung tas. “Aku bisa nemenin kamu. Jaga kamu. Tapi kalau soal itu…” Zahra menggeleng kecil. “Bukan tempatku.”
Reza terdiam sejenak, mencerna perkataannya, lalu mengangguk pelan.
Istri, kata itu berputar di kepalanya.
Kata istri itu membuat dadanya terasa lebih ringan. Seolah ada pintu yang akan terbuka, asal ia mau menunggu sedikit lebih lama.
Reza akhirnya tersenyum, meraih tangan kanan Zahra perlahan, lalu menggenggamnya.
"Kau cinta aku?" Ia menatap mata itu lurus.
Zahra mengusap rahang Reza dengan tangan kirinya. "Kalau aku gak cinta kamu, mana mungkin aku bertahan sejauh ini, menerima posisiku… bahkan saat kamu memilih menikahi perempuan lain.”
Zahra tertunduk. "Aku bukannya gak cemburu," ucapnya lirih seolah menahan sesak. "Rasa takut kehilanganmu lebih besar dari rasa cemburuku."
Reza merengkuhnya dalam pelukan. "Maaf. Aku gak maksud melukaimu. Setelah bunda sembuh,” ucapnya cepat, seolah keputusan itu sederhana. “Aku akan ceraiin dia.”
Zahra mendongak menatapnya. "Janji?"
Reza mengangguk. "Janji."
Perlahan Zahra menegakkan punggungnya. Wajahnya maju lebih dekat dengan Reza, hingga napasnya menyapu wajah Reza.
Reza menunduk. Mata mereka perlahan terpejam saat bibir mereka bertemu. Ciuman itu lembut dan penuh kepemilikan. Makin lama napas mereka makin memburu.
Ciuman itu membuat Reza lupa. Lupa pada siapa yang baru saja membersihkan tubuhnya dengan tenang, tanpa meminta apa pun.
Klek!
Suara handle pintu yang ditarik membuat mereka refleks melepaskan ciuman.
Ayza muncul dari balik pintu. Sebelah tangannya membawa tas kecil berisi mukenah, satu lagi membawa buah-buahan.
Zahra langsung berdiri. "Ah, Ayza sudah kembali. Kalau begitu, aku pergi dulu. Besok aku tengok lagi."
Tanpa menunggu jawaban, Zahra melangkah pergi.
Ayza mengernyit tipis, lalu menatap suaminya. Pria itu justru memalingkan wajah.
“Kenapa?” tanyanya datar. “Tak suka aku kembali?" Ia melangkah makin dekat. "Atau merasa aku mengganggu?”
Reza refleks menoleh. "Apa kamu gak bisa bicara tanpa menyindir atau menjatuhkan suamimu sendiri?" Nadanya berat, rahangnya mengeras.
Ayza malah tertawa pendek. "Aku nggak pernah menyindir atau menjatuhkan kamu."
Ia meletakkan tas kecil dan buah itu di atas nakas. "Aku hanya mengatakan fakta." Ayza menatapnya lurus. "Kalau kau merasa tersindir, apalagi dijatuhkan," Ia men-jeda sejenak. "Itu berarti kau merasa salah."
"Kau---"
Reza tak melanjutkan kata-katanya. Memilih menelannya kembali sebelum ia makin terpojok.
Dalam hati, "Aku tak pernah menang berdebat sama dia. Andai kata-katanya tak setajam ini… mungkin aku sudah jatuh cinta padanya.."
Reza refleks menolak pikiran itu.
"Apa yang aku pikirkan? Aku tak mungkin jatuh cinta hanya karena dia bertanggung jawab. Itu bahkan bukan kelebihan istimewa. Tak ada apa-apanya dibanding Zahra."
Ayza hanya tersenyum tipis di balik cadarnya. Tak ada yang tahu apa yang ia simpan di balik ketenangannya.
***
Malam telah larut.
Reza terbangun perlahan, masih setengah sadar. Tubuhnya terasa kaku, tapi bukan nyeri yang membuatnya membuka mata.
Ada suara lirih yang mengalun teratur. Reza mengernyit pelan.
"Siapa yang sedang mengaji?" batinnya, lalu menoleh ke arah sumber suara.
Ayza.
Ia duduk di atas sofa di sudut ruangan. Punggungnya tegak, wajahnya sedikit tertunduk. Al-Qur’an terbuka di pangkuannya, jari telunjuknya bergerak pelan mengikuti baris demi baris ayat. Suaranya jernih, merdu, tak keras, seolah hanya ingin didengar oleh dirinya sendiri, atau oleh Tuhan.
Ayat-ayat suci itu mengalir tenang, memenuhi ruang yang biasanya hanya berisi bunyi alat medis dan napas orang sakit.
Reza memejamkan mata sejenak.
Ada rasa aneh yang merayap di dadanya. Hangat. Menenangkan. Sesuatu yang selama ini tak ia cari, tapi tiba-tiba ia rindukan.
Ia membuka mata lagi, menatap Ayza lebih lama.
Tak ada sorot lelah di mata perempuan itu. Tak ada keluhan. Hanya ketenangan yang menetap, seolah dunia di sekelilingnya tak pernah kejam padanya.
Reza menelan ludah pelan. "Bagaimana bisa ada wanita seperti itu?" pikirannya.
Sejak kecelakaan itu, baru sekarang pikirannya benar-benar sunyi. Tak ada Zahra. Tak ada pekerjaan. Tak ada rasa bersalah yang menyesakkan.
Hanya suara Ayza.
Dan ketenangan yang diam-diam menyusup… tanpa meminta izin.
Ia memejamkan mata kembali. Dan membiarkan lantunan itu menjaganya sampai tertidur lagi.
***
Hari ketiga perawatan.
Pagi di rumah sakit terasa lebih terang dari dua hari sebelumnya. Infus sudah dilepas sejak subuh. Lengan kiri Reza masih tergantung dengan gips putih tebal. Nyerinya tak lagi menusuk, tapi masih berdenyut, mengingatkan bahwa ia belum sepenuhnya pulih.
Ayza duduk di kursi samping ranjang, menata buah-buahan yang semalam ia bawa. Tangannya cekatan, rapi, seolah rumah sakit pun bisa ia jadikan ruang domestik sementara.
Ketukan terdengar di pintu.
“Masuk,” ucap Reza.
Seorang perempuan berusia akhir dua puluhan melangkah masuk. Blazer abu-abu muda, rok span hitam, rambut disanggul rapi. Di tangannya ada map tebal dan tablet.
Tatapannya sempat bertemu dengan Ayza. "Bukankah dia wanita yang datang ke kantor waktu itu?" batinnya.
Tanpa sadar ia mengangguk sopan, lalu menatap Reza. “Pagi, Pak,” sapanya sopan, sambil menunduk hormat. “Maaf baru bisa datang hari ini. Kemarin-kemarin saya diminta fokus beresin agenda yang ketunda.”
Reza mengangguk. “Tak apa."
Ayza tak ikut campur, ia memilih melangkah menuju sofa yang ada di sudut ruangan, lalu membaca buku.
"Ada yang mendesak?” tanya Reza tanpa basa-basi.
"Iya, Pak." Nina langsung membuka map. “Saya bawa beberapa berkas yang harus segera ditandatangani. Ada kontrak yang deadlinenya hari ini, sama laporan keuangan triwulan.”
Reza menghela napas pelan. “Meeting sama klien Singapura?”
“Terpaksa diundur,” jawab Nina. “Saya sudah sampaikan kondisi Pak Reza. Mereka minta reschedule minggu depan.”
Reza mengangguk. Wajahnya berubah. Lebih fokus. Lebih dingin. Wajah yang selama ini jarang Ayza lihat secara langsung. Wajah Reza saat bekerja.
“Berikan,” kata Reza. “Aku lihat sekarang.”
Nina menyodorkan map itu, ragu. “Tangan Pak Reza masih digips. Kalau kesulitan, saya bisa bantu pegangin berkasnya.”
“Enggak apa-apa,” jawab Reza cepat. “Aku masih bisa.”
Ayza memerhatikan dari samping. Cara Reza membaca, cara alisnya berkerut saat menemukan pasal yang tak sesuai. Cara suaranya berubah tegas ketika bertanya.
“Nina, ini klausul penalti terlalu longgar,” katanya.
“Iya, Pak. Itu juga catatan saya.”
Percakapan mereka mengalir lancar. Profesional. Seirama.
Ayza menutup bukunya, meletakkan di atas meja, lalu mengambil tas kecilnya.
“Aku ke luar sebentar,” katanya pelan.
Reza menoleh sekilas. “Mau ke mana?”
“Ke mushola,” jawab Ayza singkat. “Sekalian beli minum.”
Reza mengangguk tanpa banyak tanya. Fokusnya sudah kembali ke kertas di depannya.
Ayza keluar dari kamar rawat. Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Nina melirik pintu itu sepersekian detik,. "Apa hubungannya dengan Pak Reza?" batinnya.
Ia kembali pada Reza. “Pak Reza mau pulang hari ini?”
“Iya,” jawab Reza. “Dokter bilang boleh.”
“Baik. Saya sudah siapkan jadwal sementara. Tapi mungkin Pak Reza perlu istirahat beberapa hari.”
Reza tersenyum tipis. “Istirahat itu relatif.”
Nina membalas senyum kecil. “Saya mengerti.”
Di lorong, Ayza berhenti sejenak. Ia menyandarkan punggung ke dinding, menarik napas panjang.
Hari ketiga. Hari terakhir Reza di rumah sakit.
Dan entah kenapa, ia merasa… perannya juga hampir selesai. Bukan karena Reza sembuh. Tapi karena dunia Reza sudah kembali utuh, tanpa perlu kehadirannya lagi.
Tapi.. apakah benar?
...🔸🔸🔸...
..."Kadang, seseorang tidak meninggalkan kita karena tak cinta....
...Tapi karena dunia tak pernah memberi ruang untuknya tinggal."...
..."Ia tidak meminta dicintai. Ia hanya menjalankan perannya, sampai akhirnya peran itu tak lagi dibutuhkan."...
..."Ada lelaki yang merasa bertanggung jawab pada istri,...
...namun hanya jatuh cinta pada perempuan yang tidak pernah melihatnya rapuh."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Zahra meyakinkan diri - tidak akan pernah duduk di kursi terdakwa.
Wait and see.
Ayza sudah duduk di ruang tunggu pengadilan.
Ayza mengenali langkah kaki yang mendekat - Reza.
Ketika Reza sudah duduk - dia bicara tentang kesalahannya saat ketika melihat kejadian.
Sudah tidak ngaruh bagi kelangsungan rumah tangga mereka. Tetap selesai.
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Ayza akan bersanding dengan Kaisyaf