NovelToon NovelToon
Cuma Modal Cerita

Cuma Modal Cerita

Status: tamat
Genre:Teen / Solo Leveling / Menjadi NPC / Tamat
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: jiejie_IYAYA'S

Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.

Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.

"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.

(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)

Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Antara Aroma Sayur dan Riuh Mall Citylink

Layar ponsel di hadapanku menampilkan halaman kosong aplikasi catatan dengan kursor berkedip-kedip pasrah. Sudah lima belas menit aku menatapnya tanpa menghasilkan satu kalimat pun.

Menjadi seorang calon novelis ternyata tidak semudah yang kubayangkan saat membaca buku-buku tebal di perpustakaan SMK negeri tempatku bersekolah dulu. Ah, bicarakan soal SMK-ku, aku tidak usah sebutkan nama jelasnya, ya. Yang tahu pasti langsung terbayang bangunan dan seragam khasnya, sedangkan yang belum tahu… yah, dimohon bersabar, ini ujian.

Pagi itu adalah hari Minggu yang cerah. Udara Kota Bandung terasa sejuk menggigit, jenis cuaca yang biasanya membuat orang malas beranjak dari bawah selimut. Namun, aku sudah berdiri di samping lapak sayur milik Bapak sejak pukul enam pagi. Hari ini Bapak tidak berjualan keliling seperti biasa, hanya membuka dagangan kecil-kecilan di depan rumah.

Tugas utamaku sebetulnya hanya bantu-bantu sedikit—mengemas cabai ke dalam plastik klip, merapikan ikatan kangkung, atau sekadar melempar senyum pada ibu-ibu tetangga yang menawar harga tomat.

Selebihnya, aku berkutat dengan ide-ide cerita yang berputar di kepala.

Setiap kali tidak ada pembeli, aku akan bergegas mengetik draf alur novel di ponselku. Namun, kalau tiba-tiba ada suara, "Neng, beli bawang merah seperempat," fokusku langsung buyar dan jemariku berganti gesit mengambil timbangan.

Sekitar pukul sebelas siang, suasana lapak mulai sepi. Bapak sudah merapikan sisa-sisa dagangan ke belakang rumah. Aku duduk menyandarkan punggung di kursi plastik, menghirup aroma tanah lembap dan sisa-sisa wangi daun bawang yang menempel di telapak tangan. Rasa bosan mulai merayap pelan. Alur novelku mandek di bab tiga, ide cerita seperti terkunci rapat.

Ting!

Suara notifikasi WhatsApp memecah keheningan. Aku menyapu layar ponsel. Sebuah nama tertera di sana: Bila. Teman lama dari masa SMK. Kami sudah cukup lama tidak bertukar kabar karena kesibukan masing-masing setelah lulus.

Tumben sekali dia mengirim pesan.

“Alow Tia, kabar kamu gimana kabarnya?” tulis Bila di seberang sana.

Aku menaikkan alis, sedikit terkejut namun senang. Jemariku langsung bergerak cepat menari di atas keyboard layar.

“Aku baik-baik aja. Terus gimana kamu kabarnya, Bila?”

“Baik. Kamu hari ini free gak?” balasan Bila masuk dalam hitungan detik.

“Free, emangnya ada apa, Bila?” balasku. Rasa ingin tahu mulai memenuhi kepalaku. Tidak biasanya Bila bertindak spontan seperti ini.

“Enggak, aku mau ngajak kamu main ke Citilink. Bisa gak?”

Mata ku membelalak seketika. Festival Citylink Bandung—mall yang lokasinya memang sangat dekat dari rumahku. Kalau mau jalan kaki hanya butuh beberapa puluh langkah menelusuri trotoar, walau kalau naik motor tentu jauh lebih cepat sampai.

Masalahnya bukan pada jarak, melainkan pada kondisiku saat ini. Rambutku masih dicepol asal, kaus oversized yang kupakai beraroma bawang, dan aku sama sekali belum menyentuh air mandi!

“Ih, akunya lom mandi,” balasku sejujurnya, lengkap dengan emotikon menepuk dahi.

Bila membalas santai, “Gak papa Tia, aku juga da belom mandi. Gimana, mau gak?”

Tawaran yang sangat menggiurkan di tengah rasa bosan yang membunuh ini. Mengapa tidak? Mumpung hari Minggu dan draf novelku sedang stagnan, menyegarkan pikiran sebentar mungkin bisa memancing ilham baru.

“Boleh, mau kapan biar aku siap-siap? Soalnya aku siap-siapnya lama,” balasku memberi peringatan jujur. Bagi seorang perempuan, kata 'siap-siap' mencakup ritual panjang: memilih baju, mencatok rambut, hingga mematut diri di depan cermin berulang kali.

“Jam satuan aja Tia, aku juga belom mandi, mau mandi dulu,” jawab Bila mengakhiri kesepakatan singkat kami.

Seketika itu juga aku melesat ke kamar mandi. Dalam waktu kurang dari dua jam, aku berhasil mengubah penampilan dari "gadis penjaga lapak sayur" menjadi "penulis muda siap nongkrong". Aku memilih pakaian terbaikku—kombinasi atasan kasual yang nyaman dan celana jeans kesayangan.

Setelah mengoleskan sedikit lip tint agar tidak terlihat pucat, aku meminta izin pada Bapak lalu melangkah mantap menuju mall.

Pukul satu tepat, aku sudah melangkahkan kaki memasuki dinginnya pendingin udara Festival Citylink.

Karena bingung harus menunggu di mana dan posisi gerbang masuk yang ramai, aku memutuskan menunggu di lorong dekat area toilet lantai satu. Tempatnya agak lengang dan cukup nyaman untuk berdiri lama.

Untuk mengusir rasa canggung dan bosan karena Bila belum kelihatan, aku membuka aplikasi TikTok.

Tiba-tiba tebersit ide di kepala: Kenapa tidak mencoba live saja? Hitung-hitung latihan mental berinteraksi dengan audiens untuk calon penulis seperti aku.

Aku menekan tombol Go Live. Layar ponsel menampilkan wajahku dengan latar belakang dinding mall. Satu per satu penonton mulai masuk.

"Halo semuanya! Hari ini aku lagi nungguin temen aku di mall nih..." sapaku pada layar. Aku mulai mengobrol ringan, menceritakan suasana mall Minggu siang dan sesekali menjawab komentar yang melintas di layar.

Sedang asyik-asyiknya berinteraksi dengan penonton live, sebuah lambaian tangan memotong jarak pandangku.

"Tia! Maaf ya lama, kamu baru sampe atau udah dari tadi?" suara khas Bila terdengar menggelegar ramah.

Aku mematikan siaran langsung TikTok-ku setelah berpamitan singkat pada penonton.

"Gak kok, aku juga baru tadi," jawabku sambil memeluknya sekilas. Rasa canggung akibat lama tidak bertemu langsung menguap begitu saja, digantikan kehangatan nostalgi masa-masa sekolah.

Tujuan pertama kami tanpa ragu adalah Game Master. Suara dentuman musik, denting koin, dan sorak-sorai pengunjung lain langsung menyambut kami.

Kami menyewa bilik karaoke kecil di sana. Di dalam ruangan berlampu warna-warni itu, kami melepaskan semua beban. Dari lagu-lagu pop melankolis hingga lagu berirama cepat, kami nyanyikan bersama dengan nada yang sering kali tidak pas—namun justru di situlah letak keseruannya. Kami tertawa terbahak-bahak melihat tingkah satu sama lain.

Puas bernyanyi dan menjajal beberapa mesin permainan, perut kami mulai melancarkan protes. Suara keroncongan tidak bisa lagi dikompromi.

"Ke lantai atas yuk, cari makan," ajak Bila yang langsung kusetujui.

Kami menaiki eskalator menuju area kuliner di lantai atas. Bau harum bermacam hidangan menyapa indra penciuman kami.

Setelah berputar-putar sebentar menimbang-nimbang antara ayam goreng, nasi bumbu, atau mi, pilihan kami akhirnya jatuh pada menu paling abadi untuk segala suasana: bakso.

Kami memesan dua mangkok bakso hangat lengkap dengan mi kuning, kerupuk, dan kuah kaldu yang masih berasap.

Setelah mendapatkan meja kosong di sudut yang agak tenang, kami duduk berhadapan.

Aroma kuah bakso berpadu dengan gurihnya minyak bawang membuat liur menetes. Sambil meracik sambal dan kecap ke dalam mangkok masing-masing, percakapan mengalir tanpa henti.

Kami membicarakan segala hal—kenangan konyol waktu SMK, keluh kesah pekerjaan, kabar teman-teman seangkatan yang sudah banyak berubah, hingga mimpinya masing-masing. Aku bercerita tentang ambisiku menjadi seorang novelis, dan Bila mendengarkan dengan penuh dukungan tanpa meremehkan sedikit pun.

Mengobrol sambil menikmati bakso pedas di hari Minggu terasa seperti terapi terbaik setelah minggu-minggu yang melelahkan.

"Aduh, kenyang banget," ujar Bila sambil menyandarkan punggungnya setelah mangkok bakso kami bersih tanpa sisa.

"Sama nih. Tapi... Bi, temenin aku sebentar yuk?" pintaku sambil menunjukkan layar ponselku.

"Mau ke mana?"

"Aku mau beli ini, jajanan yang lagi viral banget di TikTok. Namanya Chikuro. Penasaran banget dari kemarin lewat FYP terus!"

Bila tertawa pelan. "Ayo, hayu! Mana tempatnya?"

Kami kembali turun mencari gerai Chikuro. Antrean ternyata cukup panjang, membuktikan betapa perkasa pengaruh media sosial saat ini. Namun rasa penasaran mengalahkan rasa malas berbaris. Setelah menunggu belasan menit, akhirnya seporos jajanan pastel/churros renyah dengan isian daging dan keju lumer yang gurih itu berpindah ke tanganku.

Gigitan pertama langsung membayar tuntas rasa penasaran—renyah di luar, lembut dan gurih di dalam.

Sebelum hari makin sore dan matahari Bandung mulai terbenam di balik awan, kami menahan diri di beberapa sudut mall yang memiliki pencahayaan bagus. Kami mengambil banyak foto bersama—mulai dari gaya paling manis, gaya formal, hingga foto-foto pose konyol yang membuat kami tertawa sendiri saat melihat hasilnya di galeri.

Hari Minggu yang awalnya kukira akan dihabiskan dengan lamunan bosan di depan draf cerita yang macet, ternyata berubah menjadi lembaran kenangan manis. Kadang-kadang, ide cerita terbaik justru tidak ditemukan di depan layar ponsel saat menyendiri, melainkan dari sela-sela tawa bersama seorang sahabat lama di tengah riuh rendah isi kota.

Kami akhirnya berpisah di pintu keluar mall, melambaikan tangan dengan janji akan lebih sering meluangkan waktu untuk bertemu lagi, sebelum masing-masing melangkah pulang menuju rumah.

1
Araara
seru abis
Araara
semangat ya kakak jangan pantang menyerahnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!