NovelToon NovelToon
Jatuh Ke Pelukan Ayah Sahabatku

Jatuh Ke Pelukan Ayah Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:50.2k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Terbang menuju Italia demi cinta, Evelyn hanya ingin membahagiakan kekasihnya. Namun, takdir berkata lain saat ia menemukan kenyataan pahit di dalam pesawat: sang kekasih berciuman mesra dengan wanita lain di depan matanya.

Saat air mata menetes dan tubuhnya goyah akibat turbulensi mendadak, sepasang lengan kekar menariknya rapat. Ia berada di pelukan Wiliam, pria dewasa berwajah tegas, berkelas, dan memiliki tatapan dingin membunuh. Pria itu tak membiarkan Evelyn lepas begitu saja. Dari sebuah insiden guncangan pesawat, Evelyn justru melangkah masuk ke dalam dunia sang pria paruh baya yang kaya raya, protektif, dan siap memanjakannya tanpa batas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 31

****

Sunyi di kamar utama vila tersembunyi itu terasa makin pekat dari hari ke hari. Tirai tipis berwarna gading berayun pelan ditiup angin sore yang membawa hawa dingin dari hutan pinus di luar. Di atas ranjang king size yang empuk, Lyn masih terbaring pasrah. Selang infus memang telah dilepas, namun gaun tidur sutra longgar yang membalut tubuh ringkihnya seolah menegaskan betapa rapuh dan terbatasnya ruang gerak gadis itu di bawah pengawasan ketat sang tuan.

Wiliam duduk di tepi tempat tidur, memangku laptop mewahnya seraya memeriksa dokumen-dokumen korporasi yang menumpuk. Pria paruh baya itu sama sekali tidak meninggalkan area vila sejak kondisi janin Lyn dinyatakan rawan. Sesekali, jemari besarnya yang hangat terulur, mengusap lembut jemari Lyn yang terkulai lemas di atas seprai.

Tiba-tiba, suara dering ponsel yang teramat familier memecah keheningan kamar.

Kringgg... Kringgg...

Ponsel pribadi Lyn—yang selama beberapa hari ini disita dan disimpan rapat oleh Wiliam di dalam laci meja kerjanya—menderik nyaring dari atas nakas. Wiliam menoleh pelan, meraih benda persegi tersebut. Pendar layar menampilkan nama panggilan yang seketika membuat darah di tubuh Lyn terasa berhenti mengalir.

Clara Calling...

Lyn tersentak tipis, matanya melotot menatap layar ponsel itu dengan pendar ketakutan yang luar biasa.

Wiliam tidak langsung mengangkatnya. Pria berkuasa itu menatap Lyn dengan mata sehitam jelaga yang tenang namun sarat intimidasi mutlak. Ia mengusap pipi pucat Lyn dengan punggung jarinya, membelai garis rahang wanitanya dengan amat lembut.

"Ini sahabatmu, Little Lady," bisik Wiliam serak, nada suaranya bergaung tenang. "Aku akan mengizinkanmu bicara padanya. Tapi ingat... jaga setiap katamu. Jangan sampai kebohongan manis kita justru membahayakan kondisi kesehatanmu dan anak kita."

Lyn menelan ludah dengan susah payah, mengangguk pasrah seraya menahan gemetar di bahunya.

Wiliam menekan tombol hijau, memindahkan panggilan ke mode pengeras suara agar ia bisa mendengarkan setiap detail percakapan tersebut, lalu meletakkan ponsel itu tepat di samping bantal Lyn. Tanpa membuang detik, Wiliam memanjat naik ke atas ranjang, memposisikan tubuh tegapnya menaungi Lyn dari belakang dan melingkarkan lengan kokohnya di pinggang ramping sang gadis secara protektif dan mengikat.

"L-Lyn?! Lyn, kamu ke mana saja?!" suara histeris Clara seketika pecah memenuhi udara kamar.

Gadis itu menangis sejadi-jadinya di ujung telepon, suaranya bergetar hebat dipenuhi kepanikan dan rasa cemas yang meluap.

"Lyn, tolong jawab aku! Kamu di mana?! Sudah empat hari kamu tidak masuk kuliah, kamu tidak ada di apartemen, dan ponselmu mati total!" tangis Clara makin pecah, napasnya terengah-engah di sela isakannya. "Aku takut sekali, Lyn... Aku pikir kamu diculik atau terjadi hal buruk padamu!"

Sentuhan tulus dan kepedulian tanpa batas dari Clara terasa bagaikan belati tajam yang menghujam tepat di ulu hati Lyn. Air mata bening seketika menetas melintasi pipi pucat Lyn. Ia meremas kain seprai di bawah tubuhnya, menahan dada bidang Wiliam yang menempel kencang di punggungnya.

"C-Clara..." bisik Lyn serak, mencoba mengontrol getaran di tenggorokannya yang terasa kering. "M-maafkan aku..."

"Kamu di mana sekarang, Lyn?! Tolong katakan padaku!" desak Clara memohon, suaranya terdengar sangat menderita. "Aku sendirian di rumah, Lyn... Papa juga tidak pernah pulang beberapa hari ini. Mami terus-terusan marah dan menangis di kamar... Aku butuh kamu, Lyn!"

Di sela-sela tangisan Clara, sayup-sayup terdengar suara tajam Siska dari latar belakang saluran telepon.

"Clara! Siapa yang kamu telepon?! Apakah itu gadis itu?!" suara Siska bergaung penuh kecurigaan. "Tanyakan padanya di mana Wiliam! Mami yakin hilangnya gadis itu dan absennya Papamu ada hubungannya! Papamu pasti menyembunyikan wanita rahasianya bersama gadis itu!"

"Mami, stop! Jangan tuduh Lyn yang tidak-tidak!" jerit Clara membela Lyn di sela tangisnya, sebelum kembali bicara di ponsel. "Lyn... tolong katakan kamu baik-baik saja..."

Setiap kata dari Clara dan tuduhan tajam dari Siska menjadi racun yang mematikan bagi nurani Lyn. Rasa bersalah yang teramat dahsyat membakar seluruh sarafnya. Di bawah kungkungan hangat Wiliam yang kian merapatkan pelukannya di perut rata Lyn, gadis itu terpaksa menganyam kebohongan paling kejam dalam hidupnya.

"Aku... aku baik-baik saja, Clara..." bisik Lyn seraya memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air matanya deras mengalir. "Maafkan aku tidak memberimu kabar... Tiba-tiba... lambungku kambuh parah dan fisiku drop. Dokter menyuruhku bedrest total di rumah kerabatku di luar kota..."

"Di luar kota...?" suara Clara melunak, meski masih diselingi isakan pelan. "Kenapa kamu tidak bilang padaku, Lyn? Aku kan bisa datang menjengukmu..."

"J-jangan, Clara... Jangan kemari," potong Lyn cepat dengan nada panik yang berusaha disembunyikannya. "Di sini... tempatnya sangat jauh dan tenang. Aku hanya butuh istirahat beberapa hari lagi... Setelah pulih, aku janji akan langsung menemui kamu di kampus."

"Beneran ya, Lyn...?" pangkas Clara dengan nada memohon yang begitu polos. "Kamu janji tidak akan menghilang lagi kan? Aku cuma punya kamu, Lyn... Di saat Papa dan Mami seperti ini, cuma kamu sahabat yang aku percaya..."

"I-iya, Clara... Aku janji..." sahut Lyn tercekik oleh gumpalan air mata di tenggorokannya.

"Ya sudah... Kamu istirahat ya, Lyn. Cepat sembuh, Sayang. Aku menyayangimu..." bisik Clara tulus sebelum akhirnya memutus sambungan telepon secara perlahan.

TUT... TUT... TUT...

Sambungan terputus. Keheningan malam kembali menyergap kamar mewah tersebut dengan kejam.

Lyn melemparkan wajahnya ke bantal, melepaskan tangisan histeris yang selama ini ia tahan di depan saluran telepon. Bahunya terguncang hebat. Kehancuran jiwa dan penderitaan batin atas pengkhianatan terselubung terhadap sahabat terbaiknya meledak tanpa kendali.

Wiliam mengambil ponsel itu, mematikannya kembali, lalu mengusap bahu ramping Lyn yang gemetaran. Pria paruh baya itu mendaratkan kecupan-kecupan hangat di pelipis dan leher wanitanya, menyerap tangisan pilu gadis itu dalam dekapannya.

"Kamu melakukannya dengan sangat baik, Little Lady," bisik Wiliam serak, nada suaranya memancarkan kepuasan dan dominasi yang pekat. "Kamu sudah menenangkannya."

Lyn memutar tubuhnya dengan gontai, menatap lurus mata sehitam jelaga milik Wiliam dengan pendar mata yang hancur dan dipenuhi kebencian yang mendalam. Dengan jemarinya yang gemetar hebat, Lyn meremas cengkeraman kemeja hitam Wiliam di bagian dada.

"Puas...?" bisik Lyn parau, suaranya bergetar tajam di sela derai air mata yang tak kunjung berhenti. "Puas kamu mempermainkan anakmu seperti ini, Wiliam...? P-Puas kamu membunuh batin Clara perlahan-lahan demi memuaskan rasa posesif gilamu ini?!"

Wiliam tidak marah. Wajah mewahnya tetap tenang, namun pendar mata sehitam jelaga itu menajam oleh keteguhan yang tak tergoyahkan. Pria berkuasa itu menangkup kedua pipi Lyn dengan tangan besarnya yang hangat, menyapu air mata di wajah wanitanya dengan ibu jari.

"Aku tidak pernah mempermainkan siapa pun, Evelyn," ujar Wiliam datar, suara beratnya bergaung penuh otoritas mutlak. "Clara tetap putriku yang aman di bawah naungan fasilitas terbaikku. Tapi kamu... dan anak di dalam rahimmu ini... adalah prioritasku yang tak bisa ditawar oleh siapa pun. Siska atau Clara tidak akan pernah bisa mengubah kenyataan bahwa kamu adalah milikku."

"Anda kejam, Wiliam... Anda monster..." cicit Lyn pasrah, memejamkan matanya rapat-rapat saat bibir hangat Wiliam kembali mendarat lama di keningnya.

"Sebut aku apa saja yang kamu mau, Little Lady," bisik Wiliam serak di telinga Lyn seraya merengkuh tubuh wanitanya makin erat ke dalam pelukannya. "Tapi kamu tidak akan pernah bisa melangkah keluar dari sangkar ini."

Bersambung....

1
Mutaharotin Rotin
😍😍😍
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰 suka ceritanya
ollyooliver
knp gak panggil mami papi aja..kalau mami papa apa bedanya kay dengan clara yg punya ibu sambung pdhl kaay itu anak kandung evelyn dan william
D_wiwied
Clara sdh ketemu jodohnya, smg Julian benar-benar orang baik
D_wiwied
hanya di dunia halu hamilpun bisa request kembar 😆😆
beybi T.Halim
entah lah., pertama kaki,lalu tangan,gas lah kita baca aja daripada mikir..walau pusing🙈
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading 😚🫶
total 1 replies
D_wiwied
gelagatnya calonnya Clara nih 😆🤭
ollyooliver
wah si kecil yang sudah dewasa🤏😄
ollyooliver
sudah suami istri punya anak pula masih pake "saya". formal ya
Mutaharotin Rotin
🫣🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
😍😍😍😍
D_wiwied
alamat bs punya adik nih kaysan, si daddy main sembur aja 😆😆🤭
Mutaharotin Rotin
🫣🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
🫣🫣🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
😍😍😍😍🫣🫣
Arum Dyah
jangan end dlu lo kak... tau² udh umur 4th aja kan🤣🤣
Mutaharotin Rotin
🫣🫣🫣
Mutaharotin Rotin
👍🥰👍🥰🥰
Mutaharotin Rotin
🥰🥰🥰🥰 mampir baca
Arum Dyah
kalo perlu dibikin season ke 2🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!