NovelToon NovelToon
KETIKA HATI NAVIN KALAH

KETIKA HATI NAVIN KALAH

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 Yang Dititipkan di Pantry

Selasa siang, Lia menemukan Dinda di pantry, berdiri menghadap dinding dengan bahu bergetar.

Lia menutup pintu pelan dan menyodorkan tisu. "Ini bukan soal Pak Navin, kan?"

Dinda menggeleng, lalu tertawa getir di sela isak. "Bukan. Ini soal suamiku."

Lia tidak bertanya. Ia hanya menarik dua kursi plastik dan duduk. Itulah keahliannya yang tidak pernah tercatat di penilaian kinerja: orang-orang bercerita padanya tanpa diminta.

"Semalam ponselnya bunyi," kata Dinda pelan.

"Aku lihat. Ada pesan dari teman kantornya. 'Terima kasih ya buat semalam, kamu bikin aku lupa capek.' Lia, semalam dia bilang lembur."

Dada Lia mengencang, tapi wajahnya tetap tenang. "Sudah kamu tanya?"

"Dia bilang aku terlalu curiga. Dia bilang cuma bercanda." Dinda menyeka pipi. "Dua tahun, Lia. Baru dua tahun. Waktu kami menikah, kupikir semuanya akan mudah."

"Belum tentu semuanya salah dia. Tapi kamu berhak tahu yang sebenarnya."

Dinda menatapnya lama. "Kamu belum menikah, kan? Kadang aku pikir kamu yang paling pintar." Ia menggenggam tangan Lia. "Jangan buru-buru ya. Serius. Tunggu sampai kamu benar-benar yakin. Kalau tidak, nanti kamu nangis di pantry seperti aku."

Lia mengangguk dan tersenyum tipis. Ia tidak menjawab, sebab tidak ada kalimat savage yang cocok untuk momen seperti ini. Ada luka di depan matanya, dan luka tidak butuh balasan cerdas. Luka butuh telinga.

Ketika Dinda akhirnya kembali ke mejanya dengan mata sembap, Lia tinggal sendirian di pantry, menatap secangkir teh yang sudah dingin. Ini cerita yang keberapa? Ia sudah berhenti menghitung. Sepupu, teman kuliah, kolega. Semuanya menitipkan sepotong luka, dan semuanya mengucapkan hal yang sama: hati-hati.

Aku tidak takut, ia meyakinkan diri. Aku hanya waspada.

Ia teringat pertemuan keluarga bulan lalu, ketika seorang paman berkata bahwa perempuan yang terlalu mandiri akan kesepian di hari tua. Lia menjawab bahwa lebih baik kesepian di rumah sendiri daripada di rumah orang. Semua tertawa. Tidak ada yang tahu kalimat itu ia pikirkan berhari-hari sesudahnya.

Tapi tangannya yang memegang cangkir ternyata sedikit gemetar.

Malamnya, di kursi belakang taksi daring, ponselnya berdering lagi. Kali ini sepupunya, Sekar, yang baru setahun menikah.

"Lia, kamu sibuk? Aku cuma mau bilang... suamiku lupa ulang tahunku. Bukan cuma lupa. Dia bilang, 'Memangnya penting?'"

Lia mendengarkan tanpa menyela sampai napas sepupunya teratur kembali. Setelah telepon ditutup, ia menatap kemacetan Bandung yang berkelip merah di depannya dan mengembuskan napas panjang. Hari ini dua orang. Bulan lalu empat. Kalau semuanya ia tulis di buku catatan, isinya bisa menjadi buku panduan tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan dalam pernikahan.

Ia tidak menuliskannya. Tapi ia mengingat semuanya.

* * *

Pukul sebelas malam di Jakarta, lampu di lantai empat puluh Sundara Tower masih menyala.

Navin Sundara membalik halaman terakhir laporan cabang Bandung, lalu menutupnya dengan bunyi pelan yang membuat asistennya, Dimas, refleks menegakkan punggung.

"Kontrak distribusi tahun lalu," kata Navin datar. "Siapa yang menandatangani?"

"Pak Surya, Pak. Beliau sudah dipindahkan ke logistik pusat."

"Kenapa dia bisa menandatangani kontrak dengan margin sebodoh itu?"

Dimas menelan ludah. "Waktu itu ada tekanan dari kantor pusat, Pak."

"Dari saya, maksudmu." Navin mengucapkannya tanpa emosi. Dimas tidak berani menjawab. Sudah tiga tahun ia bekerja untuk pria ini, dan ia belajar bahwa diam sering lebih selamat daripada membela diri.

Navin bangkit, berjalan ke jendela besar yang menampilkan Jakarta sebagai hamparan titik cahaya. Dua puluh delapan tahun. Ia mengambil alih perusahaan ini ketika ayahnya mulai sakit-sakitan, dan sejak itu ia membuktikan sesuatu yang tidak pernah diminta siapa pun: bahwa ia pantas berada di sini. Ia tidak punya waktu untuk kelembutan. Kelembutan membuat orang lengah, dan orang yang lengah bisa dimanfaatkan.

Ayahnya kini lebih banyak berada di rumah sakit daripada di ruang kerja, dan ibunya mengisi kekosongan itu dengan satu obsesi: menemukan pendamping yang "pantas" untuk putranya. Pantas berarti sederajat, berlatar keluarga baik, dan tentu saja tidak akan mempermalukan nama Sundara. Navin sudah terlalu sering duduk di meja makan menghadapi perempuan-perempuan yang tersenyum sempurna dan bicara tentang koleksi tas. Tak satu pun meninggalkan bekas.

"Ada satu hal lagi, Pak," kata Dimas hati-hati. "Ibu Bapak menelepon tiga kali sore ini. Soal makan malam Sabtu. Katanya putri Pak Hartanto akan datang."

"Batalkan."

"Sudah saya sampaikan bahwa Bapak sibuk. Tapi Ibu bilang..."

"Dimas." Navin tidak menoleh. "Saya tidak butuh dikenalkan pada siapa pun."

"Baik, Pak."

Sunyi. Di kaca jendela, bayangan Navin tampak seperti orang asing: rahang kaku, mata yang lelah, tak ada yang bisa menebak apa yang ia rasakan. Ia sendiri tidak tahu. Sudah lama ia berhenti bertanya.

"Bandung," ujarnya akhirnya. "Kamis pagi. Saya berangkat sendiri. Jadwalkan sopir pukul lima."

Dimas ragu. "Pak, biasanya Bapak mengirim tim audit lebih dulu."

"Tim audit akan membawa laporan yang sudah dirapikan. Saya mau melihat yang belum dirapikan."

"Baik, Pak."

"Dan Dimas."

"Ya, Pak?"

"Jangan beri tahu mereka jam pastinya."

Dimas mengangguk, lalu menahan senyum kecil yang tidak sempat dilihat Navin. Di kantor pusat, semua orang tahu bahwa saat Pak Navin berkata "saya mau melihat yang belum dirapikan," seseorang akan segera kehilangan pekerjaan.

Di ambang pintu, Dimas ragu sejenak. "Pak, boleh saya bertanya? Kenapa Bapak turun sendiri kali ini? Cabang Bandung bukan yang terbesar."

Navin tidak langsung menjawab. "Karena angkanya tidak masuk akal," katanya akhirnya. "Cabang dengan tim sebagus itu tidak seharusnya rugi dua kuartal. Ada yang salah, dan saya ingin tahu siapa yang tahu jawabannya tapi tidak berani bicara."

Setelah Dimas pergi, Navin duduk kembali. Ada satu berkas di sudut mejanya yang belum ia buka: daftar staf cabang Bandung. Ia membukanya dengan malas, membaca deretan nama tanpa wajah. Kepala cabang. Manajer divisi. Analis keuangan. Perencana kontrak.

Matanya berhenti di satu nama: Ophelia Puspa. Tujuh tahun masa kerja. Penilaian kinerja stabil, tidak pernah mencolok. Di kolom catatan atasan tertulis satu kalimat pendek: Tenang, tajam, tidak mudah dipengaruhi.

Navin mengerutkan alis tanpa tahu alasannya. Nama itu tidak berarti apa-apa. Ia membalik halaman.

Namun dua puluh menit kemudian, ketika berkas sudah selesai dan lampu ruangan hampir seluruhnya padam, nama itu masih tersangkut di kepalanya seperti serpihan kecil yang tak bisa dijelaskan. Ia mendengus, menyalahkan kelelahan, lalu mematikan lampu.

Di dalam lift yang meluncur turun sendirian, ia menatap pantulan dirinya di dinding logam. Empat puluh lantai, ribuan karyawan, dan tak seorang pun berani menanyakan apakah ia baik-baik saja. Ia tidak pernah keberatan dengan itu. Selama ini.

Ia belum tahu bahwa itu bukan kelelahan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!