NovelToon NovelToon
KIAMAT TIBA: BAWA KRISTAL INTI UNTUK SEWA KAMAR (APOCALYPSE LANDLORD SYSTEM)

KIAMAT TIBA: BAWA KRISTAL INTI UNTUK SEWA KAMAR (APOCALYPSE LANDLORD SYSTEM)

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat / Fantasi Wanita
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Dibuang dan dijadikan pelayan oleh keluarga angkatnya, Lin Yue tidak menyangka bahwa seminggu sebelum kiamat ia mengaktifkan Sistem Suaka di rumah tua neneknya.

​Saat Virus Genesis meletus, manusia, hewan, dan tumbuhan bermutasi menjadi monster berelemen. Di tengah kiamat yang mengerikan, rumah tua Lin Yue diubah oleh Sistem menjadi zona aman mutlak!

​Aturan Lin Yue sangat sederhana: "Mau makanan hangat, listrik, dan perlindungan? Bayar sewa pakai Kristal Inti di kepala zombie!"

​Dari kos-kosan 4 kamar sederhana, Lin Yue membangun perumahan elit hingga kota suaka terbesar di dunia, memaksa keluarga angkat yang dulu menyiksanya berlutut memohon perlindungan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: MALAM TERAKHIR MENJELANG PERBURUAN

BAB 5: Malam Terakhir Menjelang Perburuan

Empat hari berikutnya bergulir dalam keheningan yang kian mencekam, kaku, namun diiringi oleh ritme latihan yang teratur tanpa cela.

Bagi sebagian besar manusia yang masih berjuang mati-matian bertahan hidup di belahan Kota Jiangcheng, rentang hari ke-empat hingga hari ke-tujuh kiamat adalah gambaran nyata dari gerbang neraka yang terbuka lebar. Pasokan air bersih yang biasanya mengalir deras dari kran-kran rumah warga kini sepenuhnya mati total, meninggalkan pipa-pipa yang hanya meracaukan angin kering. Jaringan komunikasi seluler padam tanpa sisa; deretan menara pemancar tidak lagi berfungsi, menyisakan derau gelombang statis yang dingin di layar ponsel yang kini tak lebih berguna dari seonggok batu.

Dari balik celah tirai lantai dua rumah tuanya, Lin Yue sesekali menyaksikan kolam asap hitam pekat membubung tinggi ke langit dari arah pusat kota. Kebakaran hebat melahap area pemukiman padat dan pusat perbelanjaan tanpa ada satu pun raungan sirene mobil pemadam yang datang menolong. Peradaban modern runtuh dengan kecepatan yang mengerikan, meninggalkan manusia pada hukum rimba yang paling primitif.

Namun, di dalam rumah tua milik nenek Lin Yue, waktu seolah mengalir dalam sebuah zona ruang tersendiri—tenang, terkendali, dan diwarnai oleh disiplin baja.

Setiap pagi, saat remang fajar menyibak kabut keunguan di luar, Lin Yue menghabiskan waktu setidaknya dua jam penuh untuk mengamati pola patroli acak mahluk-mahluk yang berkeliaran di sekitar gang. Ia mencatat durasi pergerakan mereka, refleks terhadap angin, hingga frekuensi raungan mereka saat malam merambat turun.

Siang hari digunakannya untuk mengonsumsi porsi biskuit gizi, menenggak air mineral secara terukur, dan melakukan latihan ketahanan fisik hingga seluruh kaos lusuhnya basah kuyup oleh keringat. Lalu, dari sore hingga malam hari, Lin Yue akan berbaring tenang, membiarkan energi hangat dari Modul Restorasi Pasif bekerja secara mikro merekonstruksi setiap serat otot, memperbaiki ikatan sendi, dan memadatkan struktur tulang di seluruh tubuhnya.

Hingga akhirnya, detik-detik paling krusial di ujung hari ke-tujuh—penanda genapnya 168 jam pertama—pun tiba.

Hitung Mundur Minggu Pertama: 00:00:10... 00:00:05... 00:00:00

Bip!

Sebuah getaran hangat yang belum pernah dirasakan sebelumnya terpancar dari kunci besi berukir kuno di dadanya. Gelombang energi itu tidak lagi merayap pelan seperti hari-hari sebelumnya, melainkan meledak halus di setiap ujung saraf, menjalar dari telapak kaki hingga menembus ke tempurung kepalanya.

[Bip! Fase Modul Restorasi Pasif 7 Hari (168 Jam) Telah Selesai 100%.]

[Rekonstruksi Tubuh Pemilik Berhasil Sepenuhnya!]

[Status Fisik Pemilik: Manusia Normal Puncak (Peak Human Condition).]

[Seluruh efek gizi buruk kronis, anemia berat, kerusakan jaringan lunak, dan trauma internal akibat penganiayaan masa lalu telah terhapus total tanpa sisa.]

[Peringatan: Fungsi Pemulihan Otomatis Pasif Kini Memasuki Mode Efisiensi Normal (Hanya meregenerasi stamina dasar saat tubuh beristirahat).]

Lin Yue perlahan mengedipkan matanya. Ketika pandangannya terbuka di dalam kamar lantai dua yang gelap gulita, sebuah sensasi luar biasa menyergap inderanya. Pandangannya mendadak terasa begitu jernih dan tajam. Tanpa bantuan cahaya lampu sedikit pun, ia mampu membaca alur serat kayu di papan jendela dengan sangat jelas, seolah-olah ruangan itu disinari oleh pancaran cahaya bulan penuh.

Sensasi kebas dan nyeri tumpul yang selama bertahun-tahun mengendap di punggung serta tulang rusuknya kini sirna sepenuhnya. Lin Yue berdiri dari tempat tidur. Langkah kakinya terasa begitu ringan namun menapak sangat kokoh di atas lantai kayu.

Ia melangkah perlahan menuju sudut kamar, berdiri di depan cermin rias tua berdebu yang sedikit retak di bagian pinggirnya.

Pantulan di dalam kaca itu tidak lagi memperlihatkan bayangan seorang gadis kurus kusam yang menyedihkan—gadis berkulit pucat kekuningan dengan tulang pipi menonjol, bahu membungkuk, dan mata sayu penuh penderitaan.

Di dalam cermin itu, berdiri seorang gadis remaja berumur delapan belas tahun dengan postur tubuh tegap, lurus, dan proporsional. Kulit wajahnya yang dulu dipenuhi memar dan noda kotor kini tampak putih bersih, halus, serta merona sehat. Rambut hitam tebalnya yang dulu kusam terikat rapi ke belakang, membingkai garis rahangnya yang tegas. Namun, perubahan paling mencolok ada pada sepasang matanya. Iris matanya yang hitam pekat kini memancarkan ketajaman, kedalaman, dan ketenangan dingin yang tak tergoyahkan—mata seorang penyintas yang telah melewati gerbang penderitaan.

Lin Yue mengangkat tangan kanannya, menyebarkan jemarinya sejenak sebelum mengepalkannya kuat-kuat.

Brak!

Ia melontarkan satu pukulan lurus yang presisi ke udara kosong. Suara kibasan angin yang renyah, tajam, dan bertenaga meledak singkat di tengah ruangan.

"Ini... tubuhku yang sebenarnya," gumam Lin Yue dengan suara rendah.

Sebuah getaran emosional sempat menyusup ke dadanya, namun dengan cepat dikendalikannya kembali. Kepalanya tetap dingin dan logis.

Ia tahu betul, Sistem tidak memberinya kekuatan magis yang sanggup membelah gunung atau membuat tubuhnya kebal dari serangan senjata api dalam semalam. Sistem melakukan sesuatu yang jauh lebih berharga: mengembalikan apa yang telah dicuri dari masa mudanya oleh keluarga Zhou Mei. Sistem memberinya kesehatan, stamina puncak, dan sebuah panggung pertarungan yang adil untuk menentukan takdirnya sendiri di era kiamat.

Bip!

Pendaran cahaya biru transparan berkedip kembali di pelupuk matanya, memperbarui antarmuka Sistem secara menyeluruh.

...----------------...

[Status Pemilik (Owner Status)] Nama: Lin Yue

Identitas: Pemilik Suaka (Level 0)

Kondisi Fisik: Manusia Normal Puncak

Kekuatan (STR): 12 (Kemampuan mengangkat beban dan daya dorong fisikal)

Kelincahan (AGI): 13 (Kecepatan refleks, koordinasi motorik, dan keseimbangan)

Vitalitas (VIT): 12 (Ketahanan organ dalam, kapasitas paru-paru, dan imunitas)

Persepsi (PER): 15 (Ketajaman indra penglihatan, pendengaran, dan intuisi bahaya) (Catatan: Nilai rata-rata manusia dewasa normal tanpa pelatihan adalah 10)

Kemampuan Tambahan: Tidak Ada

[Misi Utama Minggu Ke-2 Aktif!] Deskripsi Misi: Bunuh 1 Zombie Level 0 dan ambil Kristal Inti Keruh pertamamu.

Hadiah Misi: Pembukaan Fitur Suaka Level 1 (Membuka Akses Bangunan Kos-kosan Suaka 1 Kamar, Modul Barrier Listrik Otomatis, dan Toko Pertukaran Sistem Level 1).

Batas Waktu Misi: 72 Jam.

...----------------...

Lin Yue memindai setiap baris teks digital itu dengan cermat. Matanya tertahan pada frasa Toko Pertukaran Sistem Level 1.

Baris informasi itu memberikan pemahaman taktis baru baginya. Kristal Inti yang tersimpan di dalam tubuh mahluk-mahluk mutan itu bukan sekadar prasyarat mekanis untuk memperluas area bangunan, melainkan mata uang universal yang sah di bawah kendali Sistem. Dengan Kristal Inti, ia bisa membeli komoditas, memperkuat senjata, atau mengakses teknologi yang tidak mungkin didapatkan manusia biasa di dunia yang telah hancur ini.

"Satu Kristal Inti Keruh..." bisik Lin Yue.

Ia berjalan menuju sudut kamar, merogoh tempat di mana tombak rakitannya bersandar.

Bilah pisau dapur berbahan baja tebal yang terikat di ujung kayu jati itu memantulkan kilatan cahaya biru dari layar Sistem. Lin Yue tidak langsung membawanya turun. Dengan ketelitian tinggi, ia memeriksa ulang ikatan kawat baja yang melilit pangkal pisau, memastikan tidak ada kelonggaran sekecil kuku pun yang bisa membuat matanya goyah saat menghantam tulang tengkorak musuh.

Setelah memastikan senjata rakitannya siap, Lin Yue mengambil gulungan kain lap tebal dan melilitkannya erat-erat di kedua telapak tangannya. Lilitan kain ini berfungsi menyerap keringat dan mencegah pegangan tombak tergelincir saat terkena cipratan darah yang licin.

Dengan langkah yang mantap dan tanpa suara, Lin Yue menunurun tangga kayu menuju lantai satu.

Atmosfer di lantai bawah terasa sangat dingin dan sunyi. Pintu depan kayu tebal masih terkunci rapat oleh rantai dan gembok tua yang berkarat. Papan-papan kayu tebal yang ia paku silang di setiap bingkai jendela tetap terpasang kokoh tanpa ada celah yang jebol. Di luar kubah energi transparan yang memancar tipis di sekeliling halaman, suara-suara malam dunia luar terdengar samar-samar: gesekan dedaunan kering, derit seng berkarat yang tertiup angin, dan raungan rendah zombie-zombie yang melintas di jalanan utama.

Lin Yue menghentikan langkahnya persis tiga meter di belakang pintu depan. Ia tidak terburu-buru membuka gembok.

Tenangkan pikiranmu, Lin Yue, seru batinnya menyusun kalkulasi taktis.

Zombie di luar peka terhadap suara, tetapi penglihatan mereka sangat buruk dan pergerakan mereka cenderung lambat. Jika aku bertindak gegabah dengan membuka pintu depan dan berlari keluar ke area terbuka, bau atau suara langkah kakiku bisa memancing tiga atau empat mahluk sekaligus yang ada di sekitar gang. Dikepung oleh banyak musuh di arena terbuka saat belum memiliki baju zirah adalah tindakan konyol dan amatir.

Metode paling efisien dan minim risiko adalah memancing satu target masuk ke dalam area eksekusi yang terkontrol.

Mata jernih Lin Yue menyapu seluruh dinding lantai satu. Di sudut kanan dekat pintu depan, terdapat sebuah jendela ventilasi kecil berukuran 30x30 sentimeter. Jendela itu sengaja tidak ditutupi papan kayu tebal oleh Lin Yue sejak hari pertama, melainkan hanya dilapisi oleh kisi-kisi besi tua berukir tebal bekas sangkar burung besar yang terhubung dengan engsel dan kait pengunci dari dalam.

Sebuah alur strategi yang tajam terbentuk di dalam kepalanya hanya dalam hitungan detik.

Ia akan membuka kait kisi-kisi besi kecil itu secara perlahan.

Ia akan membuat getaran suara yang terukur untuk memancing satu target yang berjarak paling dekat dari pagar luar.

Begitu mahluk itu mendekati dinding luar tempat jendela kecil berada, ia akan memanfaatkan karakteristik istimewa dari kubah Suaka—di mana benteng energi ini bersifat satu arah: serangan atau tusukan fisik dari dalam area Suaka bisa menembus keluar dengan bebas, sementara serangan fisik dari luar akan tertahan total oleh lapisan pelindung.

Menusuk dan menghancurkan batang otak zombie itu dari jarak aman tanpa perlu menginjakkan kaki satu senti pun di luar area perlindungan!

Efektif, sangat taktis, meminimalkan risiko bahaya, dan memanfaatkan seluruh keunggulan sistem secara efisien.

Lin Yue menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara bersih di dalam rumah untuk menenangkan debar jantungnya yang mulai memompa adrenalin. Ini akan menjadi pengalaman pertamanya mencabut nyawa sebuah mahluk. Meskipun sasaran di luar sana bukan lagi manusia melainkan bangkai berjalan yang dikendalikan virus kanibal, refleks kemanusiaannya tetap menuntut keteguhan mental yang kuat.

Tidak boleh ada keraguan di dalam hatinya. Tidak boleh ada genggaman tangan yang gemetar pada gagang tombak. Di era kiamat, keraguan sekecil apa pun adalah celah menuju kematian.

Lin Yue melangkah maju dua tapak, merapat ke dinding di bawah jendela ventilasi kecil itu. Tangan kirinya terangkat perlahan, memegang kaitan kisi-kisi besi tua yang sedikit berdebu.

Kriiiit...

Suara derit halus dari gesekan engsel besi yang aus itu terdengar agak nyaring membelah keheningan sore yang kusam di sekitar rumah tua.

Di luar pagar besi halaman, sekitar lima belas meter di seberang jalanan berdebu, seekor zombie pria paruh baya yang mengenakan kemeja kotak-kotak lusuh dengan noda darah mengering mendadak menghentikan langkah seretnya. Kepalanya yang terkulai miring ke kiri berputar patah-patah menuju ke arah sumber suara derit besi tersebut.

Matanya yang tertutup selaput putih keruh mendelik lebar, dan lubang hidungnya yang setengah membusuk mengembang kempis, mencoba menangkap getaran di udara.

"Ggrrrr... krrraaakh..."

Mahluk itu mulai memutar tubuhnya yang kaku. Dengan kaki kanan yang sedikit terseret, ia melangkah maju menyeberangi jalanan berdebu—bergerak lurus tanpa ragu menuju ke arah dinding rumah tua tempat Lin Yue berdiri menunggu.

Lin Yue tidak panik. Ia menurunkan posisi tubuhnya sedikit, menyeimbangkan pijakan kaki kuda-kudanya di atas lantai. Tangan kirinya menopang bagian depan gagang jati, sementara tangan kanannya menggenggam erat bagian pangkal tombak di samping pinggulnya.

Pandangan matanya yang tajam mengunci lurus pada dahi mahluk yang kian mendekat itu melalui celah kisi-kisi.

Masa persiapan dan pemulihan tubuh selama seminggu pertama telah usai. Kini, saatnya ia memetik hasil perburuan pertamanya di dunia kiamat.

Bersambung....

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Alvaro Sebastian
overall ceritanya udah bagus banget ,menurut ku pribadi
masijacoke021205: Halo kak Alvaro, terima kasih banyak ya buat penilaian dan bintang 5-nya! ❤️ Glad to know kamu suka sama jalan ceritanya. Dukungan kaya gini bikin makin semangat lanjutin petualangan Lin Yue! Pantau terus kelanjutannya yaaa~ ✨
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!