Aku mempunyai kemampuan bisa melihat hari kematian semua orang termasuk diriku sendiri. Tapi justru aku di anggap aneh dan pembawa sial bagi keluarga ku sendiri dan juga orang lain. Tapi hanya satu yang peduli padaku yaitu kakekku sebelum dia meninggal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Begitu sambungan telepon terputus, keheningan yang teramat berat kembali merayap, mencengkeram atmosfer ruang tamu kami. Ponsel di genggaman Kak Aaron perlahan diturunkan, diletakkan di atas meja marmer dengan jemari yang masih bergetar hebat akibat rasa syok yang mendalam.
Di tengah kebisuan yang mencekam itu, Kak Ethan perlahan menegakkan posisi duduknya. Sorot mata elangnya yang tajam beralih, mengunci pandangan langsung ke arah Kak Aaron dan Kak Charles bergantian. Aura intimidasi dari sang kepala keluarga Adipta Group seketika memancar begitu pekat, menuntut penjelasan mutlak.
"Apa yang dimaksud oleh Paman Hendra tadi ... adalah Bella?" tanya Kak Ethan, suaranya terdengar bariton rendah, berat, dan sarat akan penekanan dingin yang membuat bulu kuduk meremang.
Pertanyaan singkat namun menghunjam dari Kak Ethan laksana godam yang meruntuhkan sisa-sisa pertahanan jajaran kakak laki-lakiku. Kak Aaron seketika terbungkam kaku dengan rahang yang mengatup rapat, sedangkan Kak Charles yang duduk di sudut sofa menundukkan kepalanya dalam-dalam, menolak untuk membalas tatapan sang kakak sulung.
Aku hanya bisa meremas ujung sweter tipisku di atas sofa, menatap hampa ke arah lantai marmer. Bukti nyata keselamatan Paman Hendra yang baru saja terdengar dari pengeras suara laksana sebuah tamparan keras bagi mereka yang selama dua puluh tahun ini selalu mencapku sebagai monster pembawa sial. Kini, kebenaran itu telah berdiri telanjang di depan mata Kak Ethan, bersiap meruntuhkan seluruh keangkuhan dan doktrin kebencian yang selama ini memenjarakan keluarga kami dalam kegelapan.
"Iya, Kak ...," sahut Kak Aaron perlahan.
Suara baritonnya terdengar teramat serak, bergetar samar oleh sisa kengerian dan rasa syok yang teramat sangat setelah mendengar pengakuan langsung dari Paman Hendra. Ia menurunkan pandangan, menolak untuk menatap mata elang Kak Ethan yang kian menuntut penjelasan.
"Ternyata ... tidak terjadi apa-apa pada beliau di luar kota kemarin," lanjut Kak Aaron dengan napas yang terasa kian berat dihantam rasa bersalah. "Paman Hendra ... beliau justru menelepon murni untuk mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Bella."
Hening.
Kalimat pengakuan yang meluncur dari bibir Kak Aaron laksana hantaman godam tak kasat mata yang meruntuhkan sisa-sisa keangkuhan di ruang tamu kami.
Aku masih terduduk membeku di atas sofa, menatap hampa ke arah lantai marmer dengan mata yang mendadak terasa begitu panas oleh desakan air mata. Dua puluh tahun hidup dikutuk, diasingkan di gudang lantai tiga, dan dicap sebagai monster pembawa petaka, hari ini seluruh benteng fitnah itu dihancurkan berkeping-keping oleh kebenaran takdir yang nyata. Rasa haru yang luar biasa besar bercampur dengan denyutan perih di relung hatiku, menciptakan sesak yang teramat menyiksa di dalam rongga dada.
Di seberang meja marmer, Kak Charles yang sejak tadi dikubur dalam kemarahan kaku, seketika membeku laksana patung berdiri. Wajah tegasnya pucat pasi dalam sekejap, dan bibirnya yang memar akibat pukulan kemarin tampak bergetar hebat. Fakta bahwa anak perempuan yang semenit lalu ia seret paksa ke ambang pintu untuk dibuang ke jalanan, siang ini terbukti sebagai malaikat pelindung yang baru saja menyelamatkan dinasti bisnis Adipta Group, membuat seluruh harga diri tingginya laksana dipaksa runtuh tanpa sisa di hadapan kemurkaan mutlak Kak Ethan.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Aku tetap tidak percaya dengan hal gila ini!" seru Kak Charles lantang, mencoba menepis kenyataan dengan kepanikan yang kian meluap di wajah pucatnya. Ia menggelengkan kepala berulang kali, menolak untuk meruntuhkan benteng kebencian yang selama dua puluh tahun ini ia agungkan di rumah ini.
Namun, di tengah penyangkalan kaku dari Kak Charles, Olivia tiba-tiba bangkit berdiri dari kursinya. Langkah kakinya bergerak cepat menghampiriku yang masih terduduk lemas di atas sofa. Dengan gerakan yang teramat manis dan penuh kasih sayang, ia langsung memegang kedua belah telapak tanganku yang sedingin es, lalu menggenggamnya dengan teramat erat.
"Kak! Kak Bella benar-benar membawa keberuntungan bagi kita semua!" ucap Olivia dengan nada suaranya yang riang dan begitu senang, sepasang mata bulatnya yang jernih tampak berbinar bangga menatapku. "Kakak benar-benar hebat karena sudah berhasil menyelamatkan hidup orang lain!"
Mendengar pujian murni yang mengalir dari bibir adik bungsuku, setitik air mata haru yang hangat perlahan luruh melewati pipiku yang pucat. Dadaku mendadak terasa begitu sesak dihantam luapan emosi yang membumbung tinggi, karena untuk pertama kalinya setelah belasan tahun dicap sebagai monster pembawa sial, sebutan 'pembawa keberuntungan' akhirnya dialamatkan padaku.
Sret.
Langkah kaki yang berwibawa terdengar mendekat. Kak Ethan perlahan bangkit berdiri dari kursi kepala keluarganya, melangkah lebar menghampiri sofa tempatku berada. Pria tegap yang biasanya selalu sedingin es itu kini menatapku dengan sorot mata elang yang melunak, sarat akan kelembutan dan rasa bersalah yang mendalam atas kelalaiannya di masa lalu.
Ia mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, lalu mengelus lembut puncak kepala-ku dengan penuh rasa takzim.
"Bella ... kerja bagus. Kakak sangat bangga padamu," ucap Kak Ethan, suaranya baritonnya terdengar bergetar samar menahan rasa haru yang luar biasa besar di dalam rongga dadanya.
Sentuhan lembut di kepalaku dari tangan kakak sulungku laksana menjadi penawar paling ampuh yang menyembuhkan seluruh luka batin dan siksaan fisik yang selama dua puluh tahun ini terpaksa kutanggung sendirian di dalam kegelapan gudang lantai tiga. Di bawah kebungkaman kaku Kak Aaron dan ketidakterimaan Kak Charles yang kini mati kutu di sudut ruangan, aku tahu fajar keadilan dan kedamaian yang sesungguhnya di dalam keluarga Adipta akhirnya telah terbit hari ini.
Setelah mengelus lembut puncak kepalaku, Kak Ethan perlahan menurunkan tangannya. Suasana hangat yang sempat tercipta di antara aku, Kak Ethan, dan Olivia mendadak lenyap dalam sekejap. Kak Ethan membalikkan tubuh tegapnya, beralih menatap Kak Charles dengan sorot mata elang yang teramat tajam dan menusuk, memancarkan kemurkaan mutlak dari seorang kepala keluarga.
"Charles, minta maaf pada Bella sekarang juga," ucap Kak Ethan penuh penekanan. Suara baritonnya terdengar rendah namun begitu dingin, tidak menerima bantahan apa pun.
Kak Charles yang masih terduduk kaku di sudut sofa seketika mendongak. Wajahnya yang pucat pasi mendadak menegang, dan guratan tidak terima tercetak jelas di dahinya. Gengsi besarnya menolak mentah-mentah diperintah untuk menundukkan kepala di hadapan anak perempuan yang selama dua puluh tahun ini selalu ia injak-injak.
"Atas dasar apa aku harus meminta maaf padanya?!" tanya Kak Charles dengan nada suara yang meninggi, berapi-api menolak perintah tersebut.
"Kamu tidak sadar akan kesalahanmu, Charles?! Dan kamu masih berani-beraninya bertanya atas dasar apa?!" bentak Kak Ethan dengan suara yang menggelegar hebat, laksana petir yang meruntuhkan seluruh sisa keberanian di ruang tamu kami. Ia melangkah maju satu kali lagi, menudingkan telunjuknya tepat di depan wajah Charles. "Padahal kamu sudah menuduh Bella secara kejam tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi selama ini! Cepat minta maaf pada Bella sekarang juga!"
Mendengar amukan Kak Ethan yang kian membakar ruangan, tubuh Kak Charles seketika menegang kaku. Sepasang matanya bergetar hebat menatap kilat pembunuhan di mata kakak sulungnya, sementara Kak Aaron hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam di sudut meja marmer karena didera ketakutan yang sama.
Charles menyadari bahwa posisinya kini benar-benar sudah terkunci total. Di bawah tatapan menuntut dari Kak Ethan, Kak Aaron, dan Olivia, rahang Kak Charles mengatup begitu rapat laksana menelan duri.
"Maaf," ucap Kak Charles teramat singkat dan kaku, melontarkan kata tersebut tanpa sudi menatap wajahku sedikit pun.
Setelah melayangkan permintaan maaf yang terkesan dipaksakan itu, Kak Charles langsung bangkit berdiri dengan tergesa-gesa. Tanpa memedulikan seruan Kak Ethan yang hendak menahannya, ia langsung berlari lebar memotong tengah ruangan, memacu langkah kakinya menaiki anak tangga marmer menuju ke kamarnya di lantai atas.
Brak!
Suara dentuman keras pintu kamar Kak Charles yang dibanting dari lantai atas menggema hebat, memecah keheningan rumah besar keluarga Adipta yang kini kembali diselimuti oleh kecanggungan yang teramat padat. Aku hanya bisa memeluk lututku erat-erat di atas sofa, mengembuskan napas pendek yang sarat akan kepasrahan, menyadari bahwa meskipun kebenaran telah berpihak padaku, bara permusuhan di hati Kak Charles tidak akan pernah padam dengan mudah.
"Kak Charles mau ke mana?!" tanya Olivia setengah berteriak setelah melihat Kak Charles berlari tergesa-gesa meninggalkan kami.
Adik bungsu kami itu melangkah beberapa senti ke depan, menatap nanar ke arah anak tangga marmer tempat siluet Kak Charles baru saja menghilang. Kerutan di dahinya yang polos memperlihatkan betapa kecewanya dia atas sikap kaku dan tidak sopan yang ditunjukkan oleh kakak ketiganya itu.
Namun, tidak ada jawaban dari atas sana. Satu-satunya balasan hanyalah suara debuman keras pintu kamar Kak Charles yang berdentang nyaring memenuhi seisi rumah.
Aku hanya bisa terdiam di atas sofa empuk ini, menundukkan kepalaku dalam-dalam untuk menyembunyikan wajahku yang kian memucat. Genggaman tangan Olivia di jemariku perlahan mengendur saat dia berbalik, menatapku kembali dengan sorot mata yang sarat akan rasa iba dan penyesalan terselubung atas tabiat buruk saudaranya yang lain.
Di ujung meja marmer, Kak Ethan mengembuskan napas panjang yang teramat berat. Rahang tegasnya mengatup rapat, dan sepasang mata elangnya perlahan meredup, menyiratkan kelelahan batin yang luar biasa besar sebagai seorang kepala keluarga. Kemarahan murkanya yang meledak-ledak tadi kini berangsur-angsur surut, berganti dengan rasa bersalah yang teramat pekat saat matanya kembali jatuh menatap penumpukan luka di pundak dan pergelangan tanganku.
Suasana di ruang tamu yang megah itu mendadak diselimuti oleh keheningan mati yang teramat kaku. Kini, perhatian penuh Kak Ethan perlahan-lahan mulai beralih menatap lurus ke arah Kak Aaron yang sejak tadi masih berdiri mematung di sudut ruangan dengan tubuh yang gemetar hebat, menanti giliran penghakiman atas kebungkaman kaku yang ia lakukan sepanjang pengusiranku kemarin.
"Biarkan dia pergi," potong Kak Ethan tegas, suaranya bariton yang berat seketika memutus kebingungan Olivia di dekat tangga.
Kak Ethan mengembuskan napas panjang, mencoba meredam sisa amarah yang sempat bergejolak hebat di dadanya. Ia memalingkan wajahnya menatapku dan Olivia dengan sorot mata yang telah melunak jauh dari biasanya. "Ayo kita makan. Nanti nasinya keburu dingin."
Mendengar keputusan mutlak dari sang kepala keluarga, Olivia hanya bisa mengangguk pelan seraya kembali memapah lenganku dengan teramat hati-hati. Kami berdua berjalan beriringan melangkah menuju ke ruang makan utama, diikuti oleh Kak Ethan dan Kak Aaron yang berjalan lambat di belakang kami dengan kebungkaman kaku yang teramat pekat.
Akhirnya, kami semua mendudukkan diri di kursi masing-masing dan menikmati makanan dalam keheningan yang mendalam di sana.
Atmosfer di sekeliling meja porselen yang luas ini terasa begitu kaku dan menyiksa batin. Satu-satunya bunyi yang memecah kesunyian hanyalah dentingan halus ujung sendok yang sesekali beradu dengan mangkuk piring. Kak Charles sama sekali tidak terlihat turun kembali dari kamarnya di lantai atas, sementara Kak Aaron hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap kosong ke arah nasinya tanpa sanggup menelan makanan sedikit pun karena didera rasa bersalah dan syok yang teramat sangat menyiksa jiwanya.
Aku menyuap makananku perlahan dengan dada yang kian terasa sesak dihantam oleh sisa ketegangan konflik fisik kemarin. Pengakuan Paman Hendra di seberang telepon tadi telah membuktikan ketulusanku sepenuhnya di depan mata Kak Ethan, namun aku tahu, keheningan pekat di ruang makan siang ini barulah awal dari babak baru yang sesungguhnya di dalam rumah besar keluarga Adipta.
Di tengah keheningan yang kaku, gerakan tangan Olivia kembali memecah kecanggungan meja makan. Adik bungsuku itu tersenyum lebar sembari mengambil seekor kepiting berlumur saus kental yang aromanya teramat menggugah selera—hidangan yang sejak dulu selalu menjadi makanan favoritku.
"Kak, ini kepiting saus kesukaan Kakak! Tadi Olivia sengaja minta pelayan untuk memasak banyak makanan kesukaan Kak Bella," ucap Olivia riang sembari menaruh kepiting itu tepat ke atas piring makanku.
Aku menatap potongan kepiting itu dengan mata yang mendadak berkaca-kaca karena haru. "Terima kasih banyak ya, Olivia," ucapku tulus.
Melihat interaksi manis di hadapannya, Kak Ethan perlahan meletakkan sendoknya. Pria tegap yang biasanya selalu bersikap sedingin es itu kini menatapku dan Olivia bergantian dengan seulas senyuman tipis yang sarat akan kelembutan, sekaligus gumpalan penyesalan yang mendalam.
"Kalian makanlah yang banyak. Nanti kalau makanannya kurang, kita bisa meminta pelayan untuk memasak apa pun yang kalian inginkan," ucap Kak Ethan, suaranya baritonnya terdengar rendah dan bergetar samar. Ia menjeda kalimatnya sejenak, menatapku lurus dengan sorot mata elang yang memancarkan rasa bersalah yang teramat luar biasa pekat. "Bella ... mulai sekarang, kalau kamu butuh sesuatu, langsung katakan pada Kakak. Jangan diam saja. Kakak berjanji akan memberikan apa pun yang kamu mau."
Hantaman kalimat perlindungan dari sang kepala keluarga seketika membuat tenggorokanku serasa tersumbat oleh rasa haru yang luar biasa besar. Selama dua puluh tahun diasingkan dan tidak pernah diperhatikan di rumah ini, janji mutlak dari Kak Ethan siang ini terasa laksana menghapus seluruh penderitaan masa laluku di gudang lantai tiga.
"Baik, Kak. Terima kasih banyak," jawabku teramat pelan dengan segaris senyuman paling manis yang bisa kuukir. Aku menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan setitik air mata bahagia yang luruh melewati pipiku, lalu mulai memakan kepiting pemberian Olivia dengan hati yang akhirnya terasa begitu penuh dan damai.
Dentingan sendok di atas piring makanku mendadak terhenti saat suasana di meja makan kembali bergeser menegangkan. Setelah mengulas senyum lembut ke arahku dan Olivia, fokus pandangan mata elang Kak Ethan perlahan-lahan beralih lurus menembus ke arah sisi kanan meja.
Sorot matanya mendadak kembali berubah menjadi sangat tajam, dingin, dan penuh dengan aura intimidasi yang menuntut kebenaran.
"Aaron, kenapa dari tadi kamu hanya diam saja?" tanya Kak Ethan penuh penekanan, memecah kebisuan dengan suara baritonnya yang berat. Ia meletakkan garpunya ke atas meja porselen dengan dentingan halus yang sanggup membuat bulu kuduk meremang. "Kakak perhatikan, sejak kita duduk di sini, kamu sama sekali tidak menyentuh makananmu dan hanya melirik ke sana kemari. Ada apa?"
Pertanyaan telak dari sang kepala keluarga seketika laksana hantaman godam yang membuat tubuh Kak Aaron tersentak kaku di kursinya.
Aku melirik perlahan dari balik bulu mataku. Wajah kakak keduaku itu tampak semakin pucat pasi, dan sepasang matanya bergetar hebat menatap piringnya yang masih utuh. Jemarinya yang saling bertautan di atas pangkuan terlihat meremas satu sama lain dengan teramat gelisah.
Kebohongan mereka selama seminggu ini yang mengabaikan ketulusan ramalan kematianku tentang Paman Hendra, kini telah benar-benar menjebaknya di dalam sudut ruangan yang sempit. Di bawah keheningan ruang makan yang mencekam dan tatapan menuntut dari Kak Ethan yang tidak bisa dikelabui sedikit pun, lidah Kak Aaron mendadak terasa kelu, bersiap menghadapi badai interogasi baru yang akan segera membongkar seluruh ketakutan pengecut mereka di rumah ini.
Mendengar cecaran dingin dari Kak Ethan, pertahanan Kak Aaron benar-benar runtuh tanpa sisa. Pria tegap itu perlahan menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan piring makannya yang masih utuh. Sepasang bahunya yang kokoh seketika tampak merosot layaknya orang yang baru saja kehilangan seluruh kekuatannya.
"Maaf, Kak ...," sahut Kak Aaron, suaranya terdengar teramat serak dan gemetar hebat menahan gelombang rasa bersalah yang akhirnya pecah membakar nuraninya.
Ia meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan hingga buku-buku jarinya memutih, mencoba mengumpulkan sisa keberanian untuk menatap mata elang Kak Ethan yang kian menuntut penjelasan.
"Sebenarnya ... seminggu yang lalu, setelah jamuan makan siang bersama para mitra bisnis selesai ... aku dan Charles telah memarahi Bella habis-habisan," aku Kak Aaron parau dengan air mata yang mulai berlinang di sudut matanya yang lelah.
"Kami berdua membentaknya di koridor tengah. Kami menganggap peringatan tulus dari Bella tentang takdir maut Paman Hendra hanyalah sebuah sandiwara konyol pembawa sial untuk merusak nama baik keluarga kita. Bahkan, Charles tadi siang hampir saja mengusir dan menyeret Bella keluar ke jalanan karena mengira kontrak bisnis kita diputus akibat takhayul ghaib tersebut."
Hening.
Pengakuan jujur yang meluncur langsung dari bibir Kak Aaron laksana hantaman badai yang seketika membekukan pasokan oksigen di ruang makan kami.
Aku masih terpaku diam di tempat dudukku, menggenggam erat garpu porselen dengan dada yang kian terasa sesak. Setitik air mata hangat kembali merebak di sudut mataku, luruh perlahan melewati pipiku yang pucat. Rasa perih akibat tuduhan kejam belasan tahun lamanya seolah baru saja disiram oleh obat penawar yang teramat menenangkan, menyaksikan bagaimana kakak keduaku itu akhirnya menundukkan seluruh harga diri tingginya untuk mengakui kekejamannya sendiri di depan Kak Ethan.
Di ujung meja, atmosfer di sekeliling tubuh tegap Kak Ethan mendadak berubah menjadi sangat pekat, dingin, dan dipenuhi oleh aura kemurkaan mutlak yang menakutkan. Rahang tegas sang kepala keluarga Adipta Group itu mengatup begitu rapat hingga urat-urat di pelipisnya menegang kaku, bersiap menjatuhkan hukuman paling berat atas pelanggaran fisik yang telah menimpa adik perempuan kami selama seminggu ini.
Melihat aura kemurkaan mutlak yang kian pekat menyelimuti tubuh tegap Kak Ethan, rongga dadaku seketika dihantam rasa tidak tega. Aku meletakkan kembali sendok dan garpuku di atas piring porselen dengan perlahan. Aku tidak ingin meja makan yang baru saja menghangat ini kembali berubah menjadi medan pertempuran berdarah.
"Kak Ethan ... sudah, Kak. Tolong jangan memarahi Kak Aaron lagi," ucapku teramat lirih, memberanikan diri memotong keheningan yang mencekam tersebut.
Kak Ethan menoleh perlahan, menatapku dengan sorot mata elang yang seketika meredup bingung.
"Aku benar-benar tidak apa-apa, Kak. Semuanya sudah berlalu," lanjutku dengan segaris senyuman tipis yang sarat akan kepasrahan, mencoba meyakinkannya. "Jadi, tolong ... Kakak tidak usah menghukum Kak Aaron ataupun Kak Charles lagi."
Aku menjeda kalimatku sejenak, lalu melirik ke arah sisi kiri sofa. Di sana, Olivia ternyata sudah menundukkan kepalanya dalam-dalam sembari menangis tersedu-sedu. Tubuh kecil adik bungsuku itu gemetar hebat karena terlampau syok dan ketakutan setelah mendengar rentetan bentakan kaku dari Kak Ethan sejak tadi.
"Lagipula, kasihan Olivia, Kak. Dia sampai menangis ketakutan karena mendengar bentakan Kakak," tambahkan kalimatku parau sembari mengusap pelan punggung tangan Olivia yang berada di dekatku.
Mendengar rangkaian kalimat tulus yang meluncur langsung dari bibir adik perempuan yang selama belasan tahun telah disiksanya, Kak Ethan seketika terbungkam kaku. Ketegangan di rahang tegas sang kepala keluarga Adipta Group itu perlahan-lahan luruh tanpa sisa. Sepasang mata elangnya memancarkan rasa bersalah yang teramat luar biasa hebat, menyadari betapa luhurnya hati Bella yang tetap memilih menjadi pelindung kedamaian rumah, bahkan di saat ia baru saja dianiaya secara fisik.
Setelah beberapa saat membiarkan dadanya bergemuruh oleh rasa haru yang sesak, Kak Ethan akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia menganggukkan kepalanya pelan, memilih untuk meredam seluruh urat marahnya demi menuruti keinginan tulusku. Di sudut meja, Kak Aaron yang mendengar pembelaanku langsung terisak diam, menenggelamkan wajah pucatnya di atas lipatan lengan dengan penyesalan yang kian hancur meremukkan harga dirinya sebagai seorang kakak laki-laki.
eh ia nanti mampir di Novel aku yaaa~