NovelToon NovelToon
Aku Tak Terima Dicurangi

Aku Tak Terima Dicurangi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Mandul
Popularitas:238.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.

Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.

Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.

Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.

Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.

Sebenarnya apa yang terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjemput hasil tes : 26

Helyara terlihat biasa, suaranya lemah lembut, dengan sorot mata polos, tak terdapat nada mencemooh, tatapan merendahkan.

Lagi dan lagi masih saja terasa menyakitkan, tak terima dengan kata 'pembantu' yang sengaja ditekankan Helyara. Amarah terpendam Siska bertambah mendidih, sesaat tatapan mata nyalang penuh kebencian.

“Mana mungkin saya sanggup mencicilnya, Nyonya. Yang ini saja sudah bersyukur banget bisa kebeli,” terpaksa dia merendah, menelan mentah-mentah rasa malu, dan merasa sangat terhina.

Dibalik suara dan tatapan lugu Helyara, Siska seperti menangkap, melihat kesombongan tersembunyi.

“Kamu kok punya cincin ini, Sayang? Kapan belinya atau warisan dari Ibu?” Alan menggenggam ujung jemari tangan kiri istrinya. Seperti orang lapar, matanya memicing melihat batu berlian besar diatas ring putih berkilat.

Helya meraih tangkai cangkir teh, menyeruput sedikit, bergaya santai. “Dari Ibu. Sebenarnya masih ada empat set perhiasan pemberian Beliau, tapi dititipkan ke rumah Paman, aku malu mau mengambilnya.”

Ganira tiba-tiba menyeletuk, langkah kaki terburu-buru mendekati meja makan. “Buruan ambil! Jangan sampai diakui hak milik. Zaman sekarang gak ada namanya saudara kalau sudah menyangkut uang, harta.”

“Ma, aku gak berani, sungkan mau mintanya. Lagian bingung gimana cara ngomongnya,” cicitnya pasrah.

“Tinggal ngomong minta, mau disimpan sendiri, kok ya gak becus!” suaranya menggeram, gemas sekaligus kesal.

“Mama jangan ikut campur! Itu hak nya Helyara, biar jadi urusan dia dan keluarga pamannya!” tegur Alan. Dia segera berdiri, mencegah ibunya agar tidak terlalu transparan menunjukkan sikap tamak.

“Kamu gak sarapan, Mas?” Helya mengelap mulut menggunakan tisu.

“Di toko saja. Kamu kalau kepengen makan apa, bilang saja. Nanti mas belikan lewat layanan pesan antar.” Diusapnya lembut pucuk kepala Helya.

“Iya.”

Ganira mendengus, lalu kembali duduk di dekat suaminya.

Sudut mata Helyara melihat kepalan tangan Siska yang berdiri di sebelah kitchen set. 'Panaskan hatimu?'

“Siska, siapa yang masak bihun goreng ini?”

Jemari mengepal langsung mengendur, badan kaku melemas. “Saya. Kenapa ya, Nyonya? Apa rasanya gak enak?”

“Iya. Kurang garam, kebanyakan bubuk merica, dan berminyak,” tidak sungkan-sungkan dia memberi kritik.

“Lain kali saya perbaiki cita rasanya, Nyonya,” ucapnya pelan dengan dada terasa terhimpit terlalu banyak menyimpan emosi.

Hem.

“Sayang, kunci mobilku mana? Kamu ambil, ya?” suara Alan terdengar nyaring.

Helya berdiri seraya mendorong kursi ke belakang sampai berbunyi berderit. Diambilnya tas selempang cukup membawa banyak barang pribadi.

Dia berjalan ke depan, berdiri di pertengahan jalan antara suami dan mertuanya.

“Yang tergantung di samping cermin, atas rak sepatu itu kan kunci mobil, Mas?”

Alan melihat arah tatapan sang istri, lalu menoleh ke wanitanya lagi. “Bukan yang ini. Nanti mbak Zanaya mau pinjam mobil Avanza lagi untuk dipakai reunian bareng temen kuliahnya.”

“Terus?” Helya pura-pura tidak paham keinginan suaminya. Terdengar suara decakan di belakang tubuhnya.

Ganira bersiap mencibir, tidak pernah ada kata puas bila menyangkut sang menantu yang dianggap bodoh.

“Mobil Fortuner, Helyara. Kan biasanya Mas pakai itu pergi ke toko,” suaranya turun, terdengar menekan.

“Hari ini sampai empat hari kedepan, aku mau pakai. Ada acara di panti asuhan. Kamu naik Avanza saja,” untuk pertama kalinya, dia tidak lagi mengalah.

Jika itu dulu, maka Helyara langsung memberikan kunci berikut STNK, tidak jadi pergi keluar rumah.

“Mas antar saja, ya?” bujuknya lembut.

“Gak bisa, Mas. Soalnya nanti pasti ada pergi juga untuk beli kekurangan barang atau urusan lainnya terkait acara yang mau diselenggarakan,” Helya keukeuh.

“Jangan egois, Helya! Acara itu gak menghasilkan uang, sedang suamimu mau pergi kerja nyari duit. Kamu kan bisa naik, grab atau ojek. Lagian punya trauma gaya banget mau keluar rumah!” cibir Ganira, lagi-lagi ikut campur.

Helya mundur, supaya bisa memandang mertua dan suaminya lebih mudah. “Kenapa aku dipaksa mengalah? Itu mobilku, harusnya mbak Zanaya sadar diri. Suruh dia naik taksi!”

“Zanaya cuma sekali-kali keluar bareng temennya —”

Helya menyela dengan kalimat tegas. “Aku juga cuma tiga bulan sekali menghadiri acara panti asuhan, Ma. Mbak Zanaya dan mas Wandi hampir tiap hari minjem mobil kami, mereka loh punya kendaraan sendiri.”

“Helya sayang, Mas buru-buru. Kemarikan kuncinya. Lebih baik kamu dirumah saja. Takutnya nanti misophonia nya kambuh. Untuk acara panti asuhan, kirim uang sebagai permintaan maaf tidak bisa ikut memeriahkan,” bujuknya enggan naik mobil Avanza.

“Kamu tenang saja, Mas. Aku baru beli earphone bluetooth, katanya bisa minimalisasi ketakutanku akan bunyi sirine ambulans.” Dia tersenyum cerah sambil memasangkan earphone di kedua telinga. “Tinggal putar lagu atau musik, maka suara lainnya sulit terdengar.”

“Sejak kapan kamu suka dengerin lagu, nanti pusing lagi macam tempo dulu pas Mas ajak pergi ke tempat karaokean,” tanya Alan heran.

“Baru-baru ini. Kita gak akan tau sebelum membiasakan diri. Terkadang apa yang gak disukai kalau dipaksakan bakalan terbiasa. Apa salahnya mencoba kalau memang bisa membantu mengatasi rasa ketakutanku. Sudah ya, Mas. Aku takut telat, gak enak sama pengurus panti.” Ia melenggang pergi, mengabaikan gerutuan mertua dan suaminya.

Alan mengumpat sambil meninju dinding ketika mendengar gerbang bergeser, dan pintu mobil ditutup.

Mau tak mau disambarnya kunci mobil Avanza dengan perasaan kesal. Merasa harga dirinya terjun bebas.

Semenjak ada mobil Fortuner setahun lalu, Alan seolah alergi naik kendaraan kelas menengah ke bawah. Apalagi merasa memiliki jabatan tinggi di toko Emas Utomo.

Siska bertambah kesal, biasanya Alan akan mencuri-curi waktu berpamitan kepadanya, sekarang pria itu melihat pun enggan.

“Siska, apa memang seperti itu efek sampingnya? Beberapa hari ini si mandul kelihatan aneh,” gumam ibunya Alandi.

Siska tersenyum culas, dia mengangguk dengan pandangan menerawang.

Ganira, Sapto terkekeh. Entah apa yang mereka bayangkan sampai senyum-senyum tidak jelas.

Dilain tempat, Helyara benar-benar memakai earphone, mendengarkan lagu mengalun lembut dengan volume sedikit dikeraskan agar konsentrasi mengemudi tidak terganggu.

Dia mengikuti rute dua hari lalu sewaktu pergi bersama Abi Sakta Haujan, menghindari melewati rumah sakit.

Pada pukul setengah sembilan pagi, Helyara sudah tiba di laboratorium tempat dia melakukan tes darah.

“Kenapa perasaanku gak nyaman, badan panas dingin seperti ini?” gumamnya pelan, meremas setir mobil.

Helyara gugup, takut akan hasil kesehatannya.

Tok!

Tok!

Kaca jendela diketuk seseorang. Helya menekan tombol disamping tempat duduknya.

“Anda baik-baik saja?” pria berambut sedikit kusut dikarenakan memakai helm, bertanya dengan suara tenang.

“Iya.” Angguknya kesulitan mengalihkan pandangan, seolah matanya terkunci oleh netra coklat muda.

“Turunlah! Hasil tes darahnya sudah bisa diambil. Sekalian nanti kita minta bantuan petugas untuk menjelaskan secara rinci.” Abi Sakta mundur agar Helya bisa keluar dari dalam mobil.

Kaca jendela mobil dinaikan, tas disampirkan pada bahu, Helyara turun dengan perasaan campur aduk.

.

.

Bersambung.

1
🌷💚SITI.R💚🌷
arus listriky kurang kuat yara, jd sialan ga kejang² de
🌷💚SITI.R💚🌷
drakula atau vamvir nih yg dekap yara..klu sialan kan pasyiy pura² dia
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
nahh mulai ketahuan kan
nahh kan mau bilang apa coba
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wehhh jd pas covid itu ya tp di lampung sini aman kok
lyani
buat spt masira sekeluarga
mie_moet
sumpah aku pgn berbicara kasar buat siskmpling🤬 dan sialan🤬 ganiron🤬sapto🤬 esmosi tingkat pentit imi🤬🤬
Sumìni Manju Maja
jambaknya aku wakilin y helya
sherly
pesankan kamar VVIP ya Siska, sebab itu nanti ditempati oleh salah satu dr kalian...dasar org gila dah dikasi pendidikan tinggi malah ilmunya dipakai buat nyakitin org... bisa kena pasal pidana nih Siska
Marlina Prasasty
🫣🫣🫣🤭🤭🤭
sherly
puas banget dah si helya balas si mokondo... hahahah good job
Teh Qurrotha
si Ganira. harus di kasih karma yang paling menderita
Teh Qurrotha
sebel deh si Sapto yang songong bin sombong
Teh Qurrotha
pokonya puasss,
dewi rofiqoh
Tak kirain yang krna injak pusakanya... Eh ternyata perut yang kena 🤔
Teh Qurrotha
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
sakta gak sadar lampu dh hijau akibat terpesona dg senyum helya 😀
Teh Qurrotha
bisa bersilat lidah dia, atau pura2 ngelindur🤣
Teh Qurrotha
apa kamu menggoda bapa mertuaku sis🤣
Tamia Akhildadanwidyan
babat habis si Siska helya,,,enak aja sok Sokan jadi nyonya rumah??coba ngaca deh,,,mau hidup enak kok yg instan
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻSENJA
hajar hel hajar 🤮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!