NovelToon NovelToon
Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Tahta, Dahaga, Dan Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Enemy to Lovers / Cinta Istana/Kuno / Wanita perkasa
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: Laygraph

"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."

Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.

"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."

Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.

Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Kasim Tua yang Terbuang

Pintu Paviliun Srigading tidak bisa ditutup rapat.

Engsel bawahnya sudah berkarat dan patah. Setiap kali angin bertiup, daun pintu itu berderit dan membentur kusennya, pelan dan berulang. Dyah Ayu mengganjalnya dengan batu bata yang ia pungut dari halaman, tetapi bunyinya tetap terdengar sepanjang malam.

Tok. Tok. Tok.

Delapan Prajurit Estri yang mengantarnya ke sini sudah pergi sejak senja. Mereka meninggalkan sebuah peti kayu berisi kain-kainnya, sebuah pelita dengan minyak yang hanya cukup untuk satu malam, dan dua penjaga tua bertombak karatan di gerbang luar. Kedua lelaki itu sudah tertidur sebelum bulan naik.

Tidak ada dayang. Tidak ada yang ditugaskan melayaninya.

Paviliun itu berbau lumut basah dan kayu yang membusuk dari dalam. Lantainya papan jati yang melengkung, berderak di setiap langkah. Atap ijuknya bocor di tiga tempat. Di sudut bilik tidur, jamur putih tumbuh membentuk bercak-bercak di dinding, merambat sampai ke kaki ranjang.

Di atas kepalanya, sesuatu berlari di sepanjang balok atap. Kecil. Berkuku. Lalu berhenti, dan terdengar bunyi gerigit kayu.

Dyah Ayu berbaring di ranjang yang kasurnya lembap, mendengarkan tikus itu, dan tidak memejamkan mata.

***

Sumur itu ada di halaman belakang.

Dyah Ayu menemukannya pada pagi pertama, tersembunyi di balik rumpun alang-alang setinggi pinggang. Bibir sumurnya dari batu kali berlumut. Mulutnya ditutup dengan tiga lembar papan tebal yang dipaku silang. Tali timbanya sudah dipotong, menyisakan ujung yang tergantung kaku di katrol berkarat.

Ia menempelkan telapak tangan di atas papan itu. Dingin dan basah oleh embun.

Paku-pakunya masih baru. Kepala pakunya mengilap, belum dimakan karat seperti segala sesuatu yang lain di tempat ini.

Seseorang menutup sumur ini belum lama. Bukan bertahun-tahun lalu, saat selir terakhir ditemukan mengambang. Beberapa bulan lalu. Mungkin beberapa minggu.

Dyah Ayu mengusap tangannya di kain, lalu kembali ke dalam.

***

Jendela bilik belakang Srigading menghadap ke tembok luar Keputren. Dari sana, di antara celah daun pohon asam, ia bisa melihat sepotong jalan setapak yang menghubungkan dapur utama dengan gudang-gudang belakang.

Ia duduk di sana sepanjang hari kedua. Menghitung.

Fajar: gerobak sampah dapur ditarik oleh dua kasim tua, melintas ke arah timur. Matahari sepenggalah: empat dayang berusia setengah baya memikul keranjang kain cucian, tetapi mereka tidak lewat gerbang. Mereka menghilang di balik rumpun bambu di sudut tembok, lalu muncul lagi tanpa keranjang sepemakan sirih.

Tengah hari: seorang lelaki tua memikul pikulan berisi kendi-kendi air. Ia berhenti di depan rumpun bambu yang sama, menoleh ke kiri dan kanan, lalu juga menghilang.

Dyah Ayu mencatat semuanya dengan ujung arang di balik kain bekas.

Para selir dan menteri berjalan di selasar berlapis batu, melalui gerbang-gerbang berpenjaga. Tetapi orang-orang ini, yang tua, yang cacat, yang dianggap tidak lebih penting daripada sapu, berjalan di jalur yang tidak tercatat di peta mana pun.

Mereka tahu jalan-jalan yang tidak diketahui Prajurit Estri.

Mereka tahu siapa yang masuk ke dapur pada malam hari, siapa yang membawa bungkusan dari gerbang selatan, dan siapa yang menutup sumur dengan paku baru.

Dan tidak ada satu pun bangsawan di keraton ini yang pernah bertanya kepada mereka.

***

Pada sore ketiga, ia melihat lelaki itu.

Gudang pusaka tua berada tidak jauh dari Srigading, sebuah bangunan rendah beratap sirap yang separuh tertutup tanaman merambat. Pintunya terbuka. Di dalamnya, di antara tumpukan gong retak, tombak patah, dan peti-peti berdebu, seorang kasim tua duduk bersila di atas tikar.

Punggungnya melengkung tajam, seperti batang padi yang patah di tengah. Kepalanya menunduk begitu dalam sampai dagunya hampir menyentuh dada. Wajahnya penuh kerutan yang dalam, kulitnya cokelat gelap dan kering seperti kulit kayu jati tua.

Ki Bongkok. Begitu dua dayang buangan di dapur menyebutnya. Tidak ada yang ingat nama aslinya.

Ia sedang menggosok sebuah kotak sirih perak dengan kain lembut dan abu gosok. Gerakannya pelan, melingkar, telaten. Ia menggosok satu bagian kecil berulang-ulang, meniupnya, lalu menggosoknya lagi.

Dyah Ayu berdiri di ambang pintu dan memperhatikan.

Gudang itu penuh dengan benda-benda pusaka yang berkarat dan berdebu tebal. Keris-keris tanpa warangka. Cermin perunggu yang buram. Semuanya terbengkalai.

Kecuali kotak sirih itu. Kotak itu berkilau seperti baru ditempa. Di tutupnya, terukir sekuntum teratai yang mekar dengan delapan kelopak.

"Kalau Gusti Selir datang untuk mengambil barang, di sini tidak ada yang berharga," ucap Ki Bongkok tanpa mengangkat kepala. Suaranya parau dan pelan. "Semuanya sampah yang dibuang Keraton. Seperti hamba."

"Hamba tidak datang untuk mengambil apa-apa, Ki."

Dyah Ayu melangkah masuk. Debu berhamburan dari lantai, menggelitik hidungnya. Ia berlutut di atas tikar, sejajar dengan lelaki tua itu, tidak peduli jarik sutranya kini kotor.

Ki Bongkok berhenti menggosok. Matanya yang keruh melirik ke arah lututnya, lalu ke selendang perak di bahunya.

"Gusti Selir berlutut di depan kasim buangan," gumamnya. "Itu bukan adat."

"Adat juga melarang pusaka Ratu dibuang ke gudang sampah." Dyah Ayu menunjuk kotak sirih di tangannya dengan dagu. "Teratai delapan kelopak. Lambang Gusti Ratu Kusumawardhani, ibunda Sinuwun Prabu Hayam Vira. Hamba melihatnya di lontar silsilah Empu Wiradarma."

Jari-jari Ki Bongkok yang memegang kain berhenti bergerak.

"Semua barang di sini berdebu setebal kuku, Ki. Hanya kotak itu yang tidak. Seseorang menggosoknya setiap hari selama bertahun-tahun." Dyah Ayu menatapnya. "Ki melayani beliau, bukan?"

Lama tidak ada jawaban.

Seekor kadal merayap di dinding gudang. Di kejauhan, suara gamelan dari Paviliun Permaisuri sayup-sayup terdengar.

"Dua puluh tiga tahun," ucap Ki Bongkok akhirnya. Sangat pelan. "Hamba membawakan kotak sirih ini untuk beliau sejak beliau masih gadis di Kadipaten Kahuripan. Hamba yang menyalakan dupa di biliknya. Hamba yang terakhir melihatnya hidup."

"Lontar mencatat beliau wafat karena demam."

"Lontar ditulis oleh orang-orang yang dibayar." Suara tua itu bergetar sekarang. Bukan karena tangis, melainkan sesuatu yang lebih tua dan lebih keras. "Beliau tidak demam. Selama tujuh hari beliau tertawa sendiri di kamarnya. Berbicara dengan bayangan di dinding. Matanya membesar seperti mata kucing di malam hari. Pada hari ketujuh, beliau naik ke menara barat dan... beliau mengira bisa terbang."

Dyah Ayu mendengar setiap kata. Ia merasakan sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya.

Tertawa sendiri. Berbicara dengan bayangan. Pupil mata yang membesar.

"Kecubung," bisiknya.

Ki Bongkok mengangkat kepala. Pertama kalinya sejak Dyah Ayu masuk, lelaki tua itu benar-benar menatapnya.

"Bukan demam, Ki. Kecubung. Diberikan sedikit demi sedikit dalam makanan atau minuman, setiap hari, selama berminggu-minggu. Pertama pusing. Lalu melihat hal-hal yang tidak ada. Lalu kehilangan akal." Dyah Ayu berbicara dengan tenang, satu kalimat demi satu kalimat. "Ibu hamba seorang tabib. Ia pernah merawat seorang pedagang yang diracun seperti itu oleh istrinya sendiri."

Rahang tua Ki Bongkok bergerak, tetapi tidak ada suara yang keluar.

"Dan kecubung hitam hanya tumbuh di tanah tinggi. Di lereng Gunung Kawi. Di kebun milik keluarga ibunda Gusti Permaisuri Prabaswari."

Kotak sirih perak itu jatuh dari tangan Ki Bongkok ke tikar dengan bunyi berdenting.

***

"Hamba mengatakan hal yang sama," bisik Ki Bongkok. "Dua puluh tahun lalu. Hamba bilang beliau diracun. Hamba bilang hamba melihat dayang dari rumah Rakryan Wiradipa membawa wedang jahe setiap malam ke bilik beliau."

Ia menyentuh punggungnya yang melengkung dengan tangan gemetar.

"Mereka memukul hamba dengan gada kayu, empat puluh kali, di depan seluruh Keputren. Sampai tulang punggung hamba patah. Mereka bilang hamba gila karena kehilangan junjungan. Lalu mereka membuang hamba ke sini. Menggosok sampah."

Ia tertawa kecil, kering dan pecah.

"Rakryan Wiradipa. Ayahanda Gusti Permaisuri. Enam tahun setelah Ratu wafat, putrinya dinikahkan dengan Sinuwun yang baru berusia empat belas tahun. Dan sejak itu, tidak ada lagi yang bertanya tentang wedang jahe."

Dyah Ayu meraih kotak sirih yang terjatuh itu. Ia mengusapnya dengan ujung selendangnya sendiri, lalu meletakkannya kembali ke tangan Ki Bongkok yang kasar. Ia membiarkan jemarinya menggenggam tangan tua itu sedikit lebih lama.

"Kalau Ki tetap di sini menggosok kotak ini, Ki akan mati menggosok kotak ini," ucapnya pelan. "Dan mereka yang membunuh Gusti Ratu akan mati tua di atas kasur sutra, dengan cucu-cucu mereka duduk di atas takhta Kagendra."

Ki Bongkok menatapnya. Matanya yang keruh berair.

"Hamba tidak bisa memberi Ki keadilan hari ini," lanjut Dyah Ayu. "Hamba sendiri dibuang ke tempat yang sama. Tetapi hamba tahu caranya. Hamba hanya butuh mata. Telinga. Seseorang yang tahu setiap lorong pelayan di balik rumpun bambu, setiap dayang yang bisa dipercaya, setiap sumur yang ditutup dengan paku baru."

Ki Bongkok terdiam lama sekali.

Ia memandang wajah Dyah Ayu seperti sedang membaca lontar yang tulisannya sudah pudar. Bibirnya bergerak tanpa suara. Lalu ia mengucapkan satu kalimat, nyaris tak terdengar.

"Gusti Ratu juga menatap orang seperti itu."

Dengan susah payah, tubuhnya yang bengkok bergerak. Ia mendorong dirinya dari tikar, berpindah posisi, lalu meletakkan kotak sirih perak itu di depan lutut Dyah Ayu. Dahinya yang berkerut menempel ke tikar berdebu.

"Hamba, Ki Bongkok, kasim yang tidak punya nama lagi." Suaranya parau, tetapi setiap kata keluar dengan jelas. "Bersumpah demi arwah Gusti Ratu Kusumawardhani. Mata hamba mata Gusti Selir. Telinga hamba telinga Gusti Selir. Sampai orang-orang yang membunuh beliau membayar dengan darahnya sendiri."

Dyah Ayu meletakkan tangannya di atas kepala lelaki tua itu. Rambutnya tipis dan putih, kasar seperti ijuk.

"Hamba terima sumpah Ki."

***

Ki Bongkok tidak segera bangkit.

Ia tetap bersujud, tetapi kepalanya sedikit bergeser, mendekat ke telinga Dyah Ayu. Napasnya berbau sirih dan tembakau kering.

"Gusti Selir sudah makan hari ini?"

"Belum. Rantang makanan dari dapur utama selalu tiba setelah matahari terbenam."

"Jangan sentuh rantang malam ini."

Dyah Ayu diam.

"Pagi tadi, hamba menyapu di belakang dapur sesaji," bisik Ki Bongkok. "Hamba melihat Nyi Ageng Rukmi berbicara dengan juru masak kepala. Ia memberikan sebuah kantong kain hitam. Isinya serbuk berwarna merah bata, seperti tanah liat yang ditumbuk."

Kerutan di wajah tua itu menegang.

"Hamba pernah melihat serbuk itu sekali, di dapur rumah Rakryan Wiradipa, dua puluh tahun lalu."

Ki Bongkok mengangkat kepalanya sedikit. Matanya yang keruh kini tajam, tajam seperti mata seorang lelaki yang sudah menunggu terlalu lama untuk mengucapkan sesuatu.

"Malam ini, rantang makanan Gusti Selir bukan berisi sup biasa, melainkan racun Sembilu yang membakar organ tanpa meninggalkan jejak di lidah."

1
Agus Tina
Bagus ceritanya
Agus Tina
Sepertinya semua cerita tentang istana memang penuh dengan intrik dan kepalsuan
Laygraph: Iya kak, bahkan banyak sejahrawan mencatat banyak relief yang membuktikan Konspirasi sudah ada sejak zaman kerajaan kuno. bahkan sampai sekarang. 😄
total 1 replies
Agus Tina
Cerita, alur, cara menukis ceritq ini bagus semua ... kenapa yg like sedikit? Ayo pembaca
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..
Laygraph: Terimakasih masukannya kak, semoga setia sampai ceritanya selesai yah 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!