Alessandro Magnus, Grand Duke penguasa Wilayah Magnus, dia terkenal kejam, dingin, dan punya insting membunuh yang tajam. Segala macam jebakan politik, racun, atau mata-mata yang dikirim musuh-musuhnya hanyalah kotoran yang bisa dia selesaikan dalam satu tebasan pedang.
Anastasia Starling adalah gadis yang selama ini terkenal pendiam, tertutup, dan lemah di seluruh kekaisaran. Namun, tidak ada yang tahu bahwa jiwa di dalam tubuh itu telah digantikan oleh seorang pembunuh berdarah dingin yang mati akibat dikhianati.
Bagi Anastasia yang baru, air mata adalah tanda kelemahan yang menjijikkan, berbekal insting bertahan hidup yang kuat, mulut yang tajam, kemampuan bertarung, serta rahasia ruang dimensi di dalam jiwanya, dia menolak menjadi boneka politik
"Hugo, mundur tiga langkah, matamu terlalu lancang menatap istriku. Jaga batasanmu sendiri sebelum aku menganggap kesetiaanmu itu sebagai ancaman yang harus ku potong kepalanya." _Grand Duke Alessandro Magnus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYUSUP
Malam di Kastil Magnus terasa sangat dingin, menusuk hingga ke tulang.
Di dalam kamar yang terpencil, Anastasia tidak benar-benar tidur, dia hanya berbaring dengan mata tertutup, namun semua indranya tetap waspada.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara halus di balik pintu kamar, itu bukan langkah kaki pelayan atau penjaga, tapi itu adalah gerakan ringan, sangat senyap, khas seseorang yang ahli dalam menyusup.
Anastasia membuka matanya perlahan. Dia menoleh ke arah Nina yang tertidur pulas di lantai samping tempat tidur nya, dengan gerakan yang nyaris tak bersuara, Anastasia bangkit dan berdiri di samping lemari kayu.
Klikkk
Kunci pintu kamar yang terkunci rapat dari dalam mendadak terbuka dengan bunyi yang sangat halus.
Sosok pria berpakaian hitam legam yang bergerak seperti bayangan.
Pria itu mendekati tempat tidur dengan belati di tangannya, dia yakin targetnya sedang terlelap.
Begitu sampai di depan tempat tidur, dia langsung menghujamkan belatinya ke tumpukan selimut yang berbentuk tubuh manusia.
Jleb
Pria itu mengerutkan kening nya, tidak ada perlawanan, tidak ada suara rintihan, bahkan selimut itu terasa kosong.
"Kamu salah sasaran," sebuah suara dingin berbisik tepat di belakang telinganya.
Pria itu tersentak, refleks berbalik untuk menebas, namun gerakannya tertahan.
Anastasia sudah ada di sana, dengan gerakan secepat kilat, Anastasia menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu memutar lengannya hingga terdengar bunyi tulang yang retak.
HAP
KRAKKK
"AAAAKKKKKKHHHH!"
Pria itu mengerang kesakitan, namun Anastasia segera membekap mulutnya dengan tangan kirinya yang kuat, agar tidak mengundang para kesatria yang sedang berjaga di luar.
"Siapa yang mengirim mu?" tanya Anastasia datar, mata tajam nya yang biru jernih menatap tajam ke arah mata pria itu yang kini melebar ketakutan.
Pria itu mencoba memberontak, dia mencoba mengeluarkan pisau kecil dari balik sabuknya. Namun, Anastasia jauh lebih cepat, dia mengeluarkan belati milik nya.
Jlep
Tanpa basa-basi, Anastasia langsung menusuk leher pria itu.
"Aaakkkkhhh..."
"Satu pertanyaan lagi, jika kamu tidak menjawab, aku tidak butuh saksi," ucap Anastasia dingin.
Pria itu gemetar hebat, dia tahu dia berhadapan dengan lawan yang jauh di atas kemampuannya, dia akhirnya mengangguk pelan.
"P-Pangeran... Pangeran Arkan..." bisik pria itu terbata-bata.
"Dia ingin kamu mati sebelum pernikahan ini membawa pengaruh bagi posisi politiknya..." lanjut pria itu gemeteran.
Jujur saja, kalau saja dari awal dia tahu targetnya, akan se mengerikan ini, dia tidak akan pernah mau mengambil misi ini.
"Pangeran pecundang itu masih saja suka bermain kotor," ucap Anastasia tersenyum miring.
Pangeran Arkan yang tidak lain adalah mantan tunangan Anastasia asli, pria itu memutuskan pertunangan nya karena lebih memilih bersama adik Anastasia, putri haram Ayah nya.
"Karena kamu sudah berbicara, sekarang waktunya kamu kembali ke tempat asal mu," gumam Anastasia, dingin.
SRETTTT
Tanpa membuang waktu, Anastasia menyayat tenggorokan pria itu, darah segar menyembur, namun Anastasia melompat mundur agar tidak mengotori gaun tidurnya.
BHUK
Pria itu ambruk ke lantai, tewas seketika tanpa sempat membuat keributan.
Anastasia berdiri di samping mayat itu, mengamati situasi, baru saja dia akan membersihkan kekacauan itu saat pintu kamar tiba-tiba terbuka lebar.
BRAKKK
"Siapa di sana?!"
Alessandro berdiri di ambang pintu, matanya menyapu ruangan dengan insting pemburu yang tajam, dia baru saja akan kembali ke kamar nya, saat mendengar suara samar dari arah kamar Anastasia.
Langkah Alessandro terhenti saat melihat pemandangan di depannya.
Seorang pria tergeletak tak bernyawa di lantai dengan genangan darah, dan Anastasia berdiri dengan santai di sampingnya, sedang mengelap belati nya dengan kain putih.
Suasana hening seketika, Alessandro menatap mayat itu, lalu beralih menatap Anastasia.
"Penyusup?" tanya Alessandro dengan suara berat.
"Ya. Rupanya teman-teman lamaku di ibu kota sangat tidak sabar melihatku hidup lebih lama," jawab Anastasia, tidak panik sedikit pun.
Alessandro melangkah masuk, melewati mayat pria itu dengan tatapan dingin, lalu berdiri tepat di depan Anastasia, menatapnya dari atas ke bawah.
"Kamu membunuhnya tanpa suara? Bahkan penjaga di depan pintu pun tidak mendengar apa-apa," tanya Alessandro, dengan suara rendah nya.
"Itu karena mereka bodoh," jawab Anastasia santai sambil melangkah menuju meja untuk mengambil segelas air.
"Lagipula, membunuh tanpa suara adalah keahlian yang harus dimiliki oleh setiap orang yang tidak ingin mati konyol," lanjut Anastasia, tanpa melihat ke arah Alessandro.
Alessandro menatap Anastasia dengan tatapan yang sangat dalam, dia melihat noda darah kecil di tangan Anastasia, lalu meraih tangan itu untuk melihatnya lebih dekat.
"Kamu sudah sering melakukan ini, bukan?" tanya Alessandro, suaranya sedikit melunak, meski tetap terkesan mengintimidasi.
"Di dunia ini, kalau bukan kita yang membunuh, kita yang akan terbunuh. Grand Duke, kamu seharusnya lebih paham soal itu daripada aku," jawab Anastasia menarik tangannya perlahan.
Alessandro terdiam, dia menatap mayat di lantai, lalu menatap Anastasia yang berdiri dengan angkuh, ketertarikan yang dia rasakan saat pertama kali bertemu kini berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat, sebuah rasa penasaran yang mendalam terhadap sosok istri yang baru saja dinikahinya ini.
Rumor yang selama ini dia dengar benar-benar hanya omong kosong.
"Bersihkan ini, Nero!" perintah Alessandro tanpa menoleh ke pintu.
Nero masuk dengan tergesa-gesa, dia membelalak melihat mayat itu, lalu menatap Anastasia dengan rasa ngeri yang bercampur kagum.
"B-baik, Tuan," jawab Nero, mengangguk kaku.
"Besok pagi, jangan keluar dari kamar sampai aku datang, kita perlu bicara serius tentang siapa saja orang-orang yang mengirim hadiah ini padamu," ucap Alessandro menatap Anastasia sekilas, sebelum berbalik keluar.
"Tentu, aku juga punya banyak hal untuk dibicarakan denganmu, Grand Duke," jawab Anastasia, dingin.
Saat pintu tertutup kembali, Anastasia menghela napas panjang, dia menatap bayangannya di cermin, senyum tipis terukir di bibirnya, semuanya berjalan sesuai rencana, mengabaikan Nina yang masih mematung di sudut ruangan dengan wajah syok.
Setelah keluar dari kamar Anastasia, Alessandro bukan nya pergi ke kamar nya, justru pria itu kembali masuk ke ruang kerja nya.
Alessandro sedang berdiri di depan jendela besar, menatap ke arah hutan dengan tangan terlipat di belakang punggung.
Nero masuk dengan langkah pelan setelah membereskan sisa-sisa mayat di kamar tadi.
"Yang Mulia, pembunuh nya dipastikan dari pihak Pangeran Arkan. Saya menemukan segel tersembunyi di pakaian dalamnya," ucap Nero melapor, dengan sopan.
Alessandro tidak langsung menjawab, dia memutar tubuhnya, menatap Nero dengan tatapan tajam.
"Arkan terlalu pengecut, dia mengirim pembunuh bayaran kelas rendahan untuk menguji istriku?" ucap Alessandro, dingin.
"Mungkin dia tidak tahu kemampuan asli Grand Duchess, Yang Mulia," jawab Nero ragu-ragu.
"Tapi, Grand Duchess, dia membunuh pria itu dengan sangat tenang, Yang Mulia, saya tidak melihat sedikit pun keraguan atau rasa takut di matanya tadi," lanjut Nero.