"Aku yang menciptakan penderitaanmu... maka aku juga yang akan jadi takdir bahagiamu."
Lili tidak pernah menyangka akan bertransmigrasi ke dalam novel buatannya sendiri—menjadi Lilian, seorang pelayan biasa. Mengerikannya, ia datang saat Damian, sang tokoh utama pria, berada di titik terendah.
Dibuang keluarga, posisinya dijarah, dan tunangannya direbut anak angkat yang licik.
Tahu betul penderitaan ciptaannya, Lilian pasang badan. Berbekal 'pengetahuan masa depan', ia membongkar kejahatan anak angkat itu dan menuntun Damian merebut kembali segalanya.
Namun, saat dendam terbalaskan dan Lilian berniat pergi, Damian justru menguncinya erat.
"Kamu yang mengajarkanku cara bangkit, Lilian. Jangan harap bisa pergi setelah merebut hatiku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14 -Bukti
Damian menaikkan sebelah alisnya. "Rencana apa?"
Lilian tersenyum miring, dia menatap keluar jendela dengan pandangan liciknya memikirkan balas dendam untuk Gavin. Damian, pun hanya menatap Lilian penasaran dan menunggu rencananya.
"Rencana membalas perbuatan Gavin," bisik Lilian mantap. "Aku yakin seratus persen, pengawal di ruang rawat Kara itu dibayar sama Gavin. Dia pasti sengaja mematikan atau merusak rekaman CCTV pas Gavin masuk."
Damian menghela napas berat, mengingat betapa rapuhnya posisinya di mata sang ayah. "Kalau CCTV-nya mati, kita enggak punya bukti apa-apa, Lilian. Daddy enggak akan pernah dengar perkataanku tanpa rekaman visual."
Lilian menyunggingkan senyum tipis yang penuh percaya diri. Dalam hatinya, ia sudah memanggil Si Peri Mini untuk mulai bekerja meretas dan memulihkan berkas video yang dihapus oleh anak buah Gavin di server rumah sakit.
"Tenang aja, Tuan. Kalau rekaman itu dihapus, aku yang bakal cari cara buat menghidupkannya lagi," ujar Lilian mantap. "Gavin pikir dia sudah menang hari ini. Padahal, dia cuma sedang menggali lubang kuburnya sendiri."
Damian menatap Lilian tanpa kedip. Di tengah guncangan hebat yang hampir menghancurkan hidupnya, kehadiran perempuan di hadapannya ini benar-benar menjadi satu-satunya alasan ia masih bisa berdiri tegap.
"Terima kasih, Lilian... karena selalu ada di pihakku," bisik Damian tulus, menggenggam jemari Lilian di atas meja.
Lilian mendadak salah tingkah. Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain, merasakan sensasi panas yang menjalar hingga ke ujung telinganya. Sungguh berbahaya berada sejarak ini dengan Damian. Apalagi sekarang, kondisi fisik Tuan Muda itu sudah berubah pesat—makin tampan, gagah, dan memiliki pesona yang sulit ditolak.
"Astaga, berbahaya banget ini..." bisik Lilian menjerit dalam hati.
"S-sama-sama," balas Lilian canggung seraya ikut tersenyum tipis.
Setelah puas menyantap bakso dan suasana hati mereka sedikit membaik, keduanya memutuskan untuk kembali ke Mansion Laurent untuk mengambil barang-barang penting milik mereka.
Namun, begitu mobil mereka memasuki pekarangan mansion, pemandangan menyakitkan langsung menyambut mata. Berbagai koper, pakaian, dan barang-barang pribadi milik Damian serta Lilian sudah berserakan berhamburan di atas tanah pekarangan.
"Hei! Apa-apaan kalian?! Kenapa barang-barang kami dibuang kayak gini?!" teriak Lilian emosi. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlutut, membereskan pakaian dan barang-barang miliknya serta milik Damian yang kotor terkena tanah.
Mody—pelayan muda yang merasa di atas angin karena berstatus sebagai keponakan Nola, si pelayan senior—melangkah maju dengan dagu terangkat dan nada suara yang sangat sombong. "Kata Tuan Arthur, Kamu bukan lagi bagian dari keluarga Laurent, Damian."
"Berani-beraninya kamu..." perkataan Lilian terputus.
BYURRR!
Guguran air dingin mendadak mengguyur tubuh Lilian dan Damian dari atas teras! Air keruh itu membasahi rambut, pakaian, serta barang-barang yang baru saja mereka rapikan.
"Kurang ajar!" pekik Lilian berang seraya menyapu air dari wajahnya.
Di atas teras lantai dua, terlihat Gavin berdiri dengan senyum licik yang memuaskan. Di sampingnya, Leo, Kai, dan Nathan—antek-antek kesayangan Gavin—terbahak-bahak puas menyaksikan penderitaan Damian dan Lilian.
"Pergi dari sini! Atau kita bakal lakuin hal yang lebih parah dari sekadar siraman air!" usir Leo seraya tertawa mengejek, ditimpali sorakan kasar dari Kai dan Nathan.
"Awas aja kalian, gue bakal balas perbuatan kalian berlipat ganda!" janji Lilian dalam hati dengan napas memburu amarah.
Sambil mengepalkan tangan, Lilian diam-diam memanggil bantuan Sistem 303. Dengan sedikit potongan poin ringan, energi tak kasat mata bekerja instan—mengeringkan pakaian dan merapikan kembali barang-barang mereka yang sempat basah kuyup.
Dengan sisa kekuatannya, Damian dan Lilian memasukkan seluruh koper dan barang-barang mereka ke dalam bagasi mobil. Suasana mendadak menjadi sangat hening dan berat.
Lilian menunduk dalam-dalam, matanya memerah menahan rasa bersalah yang menusuk dada. "Maafkan aku, Damian... Ini semua gara-gara aku..." bisiknya lirih.
Damian menggenggam jemari Lilian yang dingin, lalu mengusap puncak kepala wanita itu dengan lembut.
"Bukan, ini bukan karena kamu, Lilian," bisik Damian dengan suara berat namun menenangkan. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. "Sudahlah... Asal ada kamu di sisiku, aku enggak masalah. Mulai hari ini, aku sendiri yang akan menghapus nama besar Laurent dari hidupku."
Damian menyalakan mesin mobilnya, melaju meninggalkan pelataran Mansion Laurent yang kini terasa asing baginya. Tidak ada lagi raut keputusasaan di wajah pria itu; keberadaan Lilian di sampingnya secara ajaib memberi Damian kekuatan baru untuk berdiri tegap.
"Kita mau ke mana, Damian?" tanya Lilian pelan sambil menatap profil samping wajah Damian yang tegas.
"Ke apartemen pribadiku," jawab Damian tenang, melirik Lilian sekilas. "Daddy dan Gavin enggak tahu tentang tempat ini. Aku membelinya pakai uang hasil investasiku sendiri beberapa tahun lalu."
Lilian sedikit berpikir, dahinya berkerut halus. "Aduh... kok aku enggak ingat kalau dia punya apartemen pribadi, ya?" bisiknya bingung dalam hati.
PING!
Peri Mini mendadak muncul sebentar di samping telinga Lilian, menyilangkan tangan di dada dengan raut wajah sebal. "Host kebiasaan lupa! Dasar pikun! Kan dulu kamu sendiri yang ngetik detail ini pas bab awal-awal!" omel Peri Mini gemas sebelum akhirnya melesat menghilang kembali ke dalam Sistem.
Lilian meringis canggung, menepuk jidatnya pelan. "Ya maaf, kan aku ngetiknya pas lagi ngantuk!" batunya dalam hati.
Tak lama kemudian, mereka tiba di unit apartemen mewah yang bersih dan luas. Damian membawa koper-koper mereka masuk.
"Kamu istirahatlah dulu, Lilian. Kamu pasti capek dan terguncang gara-gara kejadian hari ini," kata Damian lembut, mengusap bahu Lilian sebelum melangkah ke arah dapur untuk mengambilkan air minum.
Menatap punggung Damian, Lilian mengepalkan tangannya erat-erat. Ia langsung melangkah ke kamar mandi dan mengunci pintu.
"Sistem! Sekarang saatnya retas CCTV rumah sakit!" perintah Lilian dalam hati.
Peri Mini muncul kembali dengan raut serius. "Panggilan diterima, Host! Fitur peretasan dan pemulihan data tingkat lanjut diaktifkan. Pemotongan 50 Poin Sistem!"
Layar hologram kebiruan langsung membayang di depan mata Lilian, memperlihatkan barisan kode rumit. Hanya dalam kurun waktu dua menit, file video CCTV yang sempat dihapus antek Gavin berhasil dipulihkan!
Di sana terlihat jelas sosok pengawal bayaran Gavin yang menyuntikkan zat berbahaya ke kantong infus Kara. Namun, Lilian tau jelas itu bukan pengawal.
"DAPAT!" pekik Lilian girang tanpa suara. "Kita bawa bukti ini ke Tuan Arthur kamu besok pagi!"
Namun, Peri Mini menggelengkan kepala. "Tunggu dulu, Host. Video CCTV ini memang membuktikan ada seseorang yang meracuni Kara, tapi belum cukup kuat untuk membuktikan kalau Gavin adalah dalang utamanya. Gavin itu licik, dia bisa saja mengelak dan mengorbankan orang lain sebagai kambing hitam."
Lilian menggeram kesal. "Terus kita harus gimana?"
"Sistem perlu mengumpulkan seluruh rekam jejak transaksi gelap, obrolan rahasia, dan kejahatan masa lalu Gavin pada Kara secara menyeluruh. Tapi... proses deskripsi data tingkat dalam ini membutuhkan waktu beberapa hari bahkan bulan, Host," jelas Peri Mini.
Lilian menghela napas panjang, namun matanya berkilat penuh tekad. "Baiklah. Biarkan Gavin tertawa puas dan merasa menang untuk beberapa hari ini. Makin tinggi dia terbang, makin hancur saat kita menjatuhkannya nanti!"
Lilian pun keluar dari kamar mandi dengan langkah mantap, siap mendampingi Damian menyusun strategi pembalasan mereka secara matang.
Bersambung ...
buat apa bertahan demi laki² yang tidak mau menikahi'mu
balik wwooii... balikk...
wow....
kejutan....
ada apa ini Li...
Emak Bapak'mu gak nyariin Kamu Li
tarik nafas lewat mulut...
buang lwt bawah...
bbrrooootttt🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tapi Kamu jadi kaya raya Li
mengganggu aja
dia kau Gagav
kita double date sm mereka
🤣🤣