NovelToon NovelToon
Rumah Impian Yang Retak

Rumah Impian Yang Retak

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eys Resa

Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.

Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Genggaman Nadia pada tepi meja makan mengerat, buku-buku jarinya memutih. Kalimat itu meluncur begitu bebas dari bibir Bu Ratna, seolah bilah pisau yang diiriskan pelan di atas luka yang belum sempat menutup. Bagaimana kalau kamu punya anak? Kata-kata itu keluar dengan mulus dan mendarat di kepala Nadia, menghidupkan kembali bau antiseptik rumah sakit, suara monitor detak jantung, dan dinginnya ruangan tempat bayinya direnggut dari masa depan.

​Rian melihat perubahan di wajah istrinya. Ada kilat kepedihan yang ia rasakan di mata Nadia, sorot mata yang membuatnya mendadak merasa sangat kecil di kursi itu. Rian membuka mulutnya, hendak melarang ibunya melanjutkan kata-kata yang lebih menyakitkan, namun tenggorokan Rian terasa tercekat oleh rasa bersalah yang sejak semalam menghimpit dadanya.

​"Ibu, sudahlah," ucap Rian dengan suara parau, memotong tindakan ibunya yang akan kembali mencerca. "Jangan diungkit lagi masalah itu."

​Bu Ratna mendengus pelan, meletakkan sendoknya dengan bunyi berdenting nyaring di atas piring porselen. "Kenapa dilarang? Ibu hanya bicara kenyataan, Rian. Istrimu ini terlalu dimanjakan. Mentalnya lembek. Dulu waktu kita hidup pas-pasan, mana ada waktu merenung dan meratapi nasib seperti ini. Semua dikerjakan sambil jalan."

​Nadia mengangkat wajahnya. Tidak ada lagi air mata. Yang ada hanya tatapan kosong yang dingin, sorot mata yang membuat Rian tanpa sadar meneguk ludahnya dengan susah payah.

​"Ibu benar," suara Nadia terdengar pelan, namun cukup jelas untuk menghentikan gerakan Bu Ratna yang hendak menyendok makanan lagi. "Mental saya memang lembek. Saya tidak sekuat Ibu yang sanggup menelan semua kepahitan hidup tanpa bersuara. Tapi, Bu..." Nadia menatap langsung ke dalam mata ibu mertuanya dengan tenang. "Apakah Ibu ingat, apa penyebab saya harus kehilangan anak itu? Apakah Ibu tahu bagaimana rasanya harus berdiri di dapur ini seharian, menuruti semua standar kesempurnaan seorang istri teladan, sementara suami ku memilih sibuk di luar dengan alasan proyek, lalu pulang larut malam membawa aroma parfum wanita lain?"

​Suasana di meja makan mendadak membeku. Sendok di tangan Bu Ratna terhenti di udara. Mata wanita paruh baya itu membelalak, terkejut bukan main atas keberanian Nadia yang selama ini dikenal paling pendiam di antara menantu-menantu keluarga mereka—ah, ralat, Nadia adalah satu-satunya menantu, dan selama ini ia selalu memilih mengalah.

​Rian tersedak kopinya sendiri. Ia terbatuk-batuk kecil, wajahnya pucat pasi menatap Nadia dengan panik.

"Nadia! Jaga ucapanmu!" bentak Rian, meski suaranya bergetar karena ketakutan.

​"Kenapa, Mas? Kamu takut?" Nadia tersenyum, senyum paling sinis yang pernah ia tunjukkan seumur hidupnya. Ia berdiri perlahan dari kursinya, mendorong piring nasi goreng yang masih utuh di hadapannya ke tengah meja. "Kamu takut rahasiamu terbongkar? Kamu pikir aku tidur nyenyak semalam? Kamu pikir aku tidak tahu siapa yang menghubungi mu semalam? Kamu bisa berbohong pada ibumu, kamu bisa berbohong pada seluruh dunia kalau kamu sibuk bekerja demi masa depan kita. Tapi kamu lupa, Mas, handphone-mu tergeletak tepat di sebelah bantal kita semalam. Dan semalam wanita itu mengirimkan ucapan terima kasih karena kamu telah menemaninya makan malam."

​Bu Ratna menoleh tajam ke arah anaknya. "Rian? Apa maksud istrimu ini? Siapa Maya?"

​Rian berdiri, kursi kayunya bergeser kasar menimbulkan suara decitan nyaring di lantai keramik. "Itu tidak seperti yang kamu bayangkan, Nad! Maya itu klien!!"

​"Klien?" potong Nadia tajam, suaranya meninggi, memecah keheningan pagi yang dingin. "Yang membuatmu lupa jalan pulang dan memilih bersenang-senang dan makan malam di luar, sementara aku di sini sudah susah payah memasak, membereskan rumah, dan menelan semua cacian karena aku dianggap gagal menjadi wanita?"

​"Nadia, cukup!" Rian membentak, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Urat-urat di lehernya menonjol, menahan amarah yang bercampur dengan rasa bersalah. Ia benci dihakimi seperti ini, terutama di hadapan ibunya sendiri. "Kamu egois! Kamu hanya memikirkan luka hatimu sendiri! Kamu tidak tahu betapa stresnya aku di luar sana memikirkan cicilan rumah ini, memikirkan operasional perusahaan, memikirkan masa depan kita! Aku membanting tulang siang dan malam supaya kita tidak hidup susah, tapi apa balasannya? Kamu malah mencurigaiku berselingkuh hanya karena sebuah pesan kerja?"

​"Pesan kerja?" Nadia tertawa hambar, air matanya akhirnya tumpah juga, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena muak. "Pesan kerja macam apa yang berbunyi, 'Terima kasih ya untuk makan malamnya, kamu jangan terlalu capek, ingat kesehatanmu'? Apakah klien memberikan perhatian sebegitu intimnya kepada seorang rekan kerja yang sudah beristri? Jangan bodohi aku, Mas. Aku mungkin sudah melepaskan karier seniku demi mengikutimu, tapi aku tidak pernah kehilangan akal sehatku!"

​Bu Ratna yang tadinya terkejut, perlahan menguasai diri. Sifat aslinya kembali muncul, insting pertamanya adalah membela anaknya sendiri, apapun kondisinya. Wanita tua itu ikut berdiri, menunjuk wajah Nadia dengan jari telunjuknya yang bergetar karena emosi.

​"Sudah berani melawan kamu ya, Nadia!" geram Bu Ratna dengan suara bergetar penuh kemarahan. "Dasar menantu tidak tahu diuntung! Baru diberi cobaan sedikit saja sudah menuduh suamimu macam-macam! Wajar kalau Rian tidak betah di rumah! Siapa yang tahan tinggal serumah dengan wanita penuh drama, suka mengungkit-ungkit masa lalu, dan pencemburu buta sepertimu? Kalau kamu tidak suka tinggal di sini, silakan pergi! Pintu keluar terbuka lebar!"

​Nadia menatap ibu mertuanya lama sekali. Kalimat itu—silakan pergi—yang selama ini ditakutinya, kini justru terdengar seperti sebuah pembebasan. Ia menatap Rian, berharap suaminya akan membela dirinya sekali lagi seperti beberapa menit yang lalu. Berharap Rian akan mengatakan pada ibunya untuk tidak menyuruhnya pergi.

​Namun, harapan itu sia-sia. Rian hanya diam mematung, menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan mata Nadia. Sikap diam Rian adalah jawabannya. Pria itu telah memilih. Rian telah memilih untuk membiarkan ibunya mengusir istrinya sendiri, karena jauh di dalam lubuk hatinya, Rian pun merasa lelah.

​Nadia menarik napas panjang, meresapi setiap detik kehancuran rumah tangga yang dibangunnya di atas reruntuhan air mata dan pengorbanan. Tanpa mengucapkan sepatah kata, ia berbalik meninggalkan meja makan dan melangkah menuju kamarnyaa.

​Di dalam kamar, suasana masih remang-remang karena jendela belum dibuka sepenuhnya. Nadia membuka lemari pakaian miliknya. Tidak banyak barang yang ia miliki di sana, sebagian besar ruang lemari sudah dipenuhi oleh setelan jas dan pakaian kerja Rian. Ia mengambil sebuah koper berukuran sedang dari atas lemari, meletakkannya di atas tempat tidur, dan mulai memasukkan beberapa helai pakaiannya.

​Ponsel Rian masih tergeletak di atas nakas, menyala redup menampilkan layar utama. Nadia meliriknya untuk terakhir kali. Tidak ada lagi rasa sakit, yang tersisa hanyalah mati rasa.

​Pintu kamar mendadak terbuka. Rian berdiri di ambang pintu, napasnya sedikit memburu. Pria itu menatap koper di atas tempat tidur dengan kening berkerut.

​"Kamu... mau kemana, Nadia?" tanya Rian dingin, berusaha menutupi kepanikannya dengan nada suara yang ketus.

​Nadia melipat blus terakhirnya dengan rapi, lalu meletakkannya ke dalam koper sebelum menutup resletingnya. Ia mendongak, menatap pria yang pernah sangat dicintainya—pria yang dulu berjanji akan melindunginya, namun kini...

​"Aku pergi, Mas," jawab Nadia tenang, suaranya tidak lagi bergetar. "Seperti yang ibumu inginkan. Dan seperti yang mungkin sudah lama kamu harapkan dalam diam."

​"Jangan bertindak bodoh, Nadia," Rian mencekal tangan Nadia. "Jangan memperkeruh keadaan. Ibu hanya emosi sesaat. Selesaikan dulu urusan kita, jangan pergi membawa koper seperti ini. Nanti tetangga melihat dan jadi bahan gunjingan."

​Nadia tersenyum tipis, ​"Kamu selalu mengkhawatirkan apa kata tetangga, apa kata rekan kerjamu, dan apa kata ibumu, Mas," ucap Nadia lirih "Tapi kamu tidak pernah sekalipun mengkhawatirkan bagaimana hancurnya hatiku di rumah ini."

1
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
ditambah dong ka up nya
Ariany Sudjana
betul sekali, dasar pelacur murahan kamu Sarah, sudah pengangguran, eh pelacur murahan juga, sama seperti Maya
Ariany Sudjana
hahaha Rian Rian kamu bodoh, mau saja disetir sama Mak Lampir dan juga pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Heni Setiyaningsih
ternyata suami dan mertua bersekongkol mengincar hartanya Nadia ciih menjijikan
Heni Setiyaningsih
gk sabar pengen lihat pembalasan Nadia
falea sezi
🤣🤣 trik laki. yg uda ketauan selingkuh ya begitu
Eys Resa: yah, begitulah🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
datang lagi hama...hilang maya datanglah sarah...mungkinkah ini yg akan memicu perginya nadia??ditunggu..
Mefiani: siiip lah...👍
total 2 replies
Mefiani
mungkinkah perubahan itu bisa selamanya ato sesaat??ditunggu kelanjutane
Eys Resa: siap bos
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
kurang Thor besok update nya double ya 😄💪
Eys Resa: hehehe, kalo sempet ya kak. othor lagi ngerjain 4 novel soalnya😁🙈🌹
total 1 replies
Mefiani
pergi sono nadia dan kembalilah kekehidupanmu sebelum kamu menikah...raihlah kebebadanmu..💪
Eys Resa: hooh kk
total 3 replies
falea sezi
mertua kayak lampir lanjut thor laki bego gini di cerai aja🤣
Eys Resa: 🙈🙈🙈🤭🤭
total 1 replies
falea sezi
moga bagus ampe ending q kirim bunga dehh🤭
Eys Resa: makasih kak. semoga ya, lagi mikir alurnya kak, semoga nanti suka😁
total 1 replies
Mefiani
akhirnya buat cerita baru lagi kak resa sayank..q dah meluncur nich..😘💪
Eys Resa: makasih kak Mefi, yang pertama nih. bentar lagi juga ngisi di sebelah kak. 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!