NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Api di Gerbang Utara dan Kain Putih

Darah dingin malam merayap menelusuri parit-parit luar Benteng Odawara. Angin laut dari Teluk Sagami bertiup tajam, membawa bau garam bercampur asap belerang yang menggantung pekat di kaki pegunungan Kanto.

Di kegelapan gulita lereng utara, Sanada Nobushige merayap di atas tanah basah. Baju zirah akatoshiku merahnya yang membara telah dilapisi lumpur hitam dan jelaga arang—sebuah taktik penyusupan khas Shinano agar rona merahnya yang mencolok tak memantulkan cahaya obor penjaga Hojo. Di belakangnya, lima puluh shinobi dan prajurit pilihan Sanada merayap seperti ular-ular raksasa tanpa menimbulkan desau sedikit pun.

Di atas mereka, tembok kayu berpasak besi Gerbang Utara Odawara berdiri megah. Menara-menara pengawas Hojo disiagakan dengan belasan senapan tanegashima yang siap menyemburkan api.

Nobushige mengangkat dua jarinya, memberi isyarat pelan.

CRING!

Tiga kait besi berantai tipis dilemparkan ke atas bibir benteng kayu. Dalam sekejap mata, para penyusup Sanada memanjat dinding tegak lurus itu bagaikan iblis lereng gunung. Nobushige adalah yang pertama mencapai puncak menara pengawas barat.

Seorang prajurit penjaga Hojo berpaling karena terkejut, namun sebelum lidahnya sempat memekikkan peringatan, wakizashi di tangan Nobushige sudah menerobos leher pria itu dari bawah rahang. Darah hangat menyemprot basah ke lengan baju zirah Nobushige. Tanpa membuang sekon, Nobushige menarik bilahnya, memutar tubuh, dan menggorok tenggorokan penjaga kedua yang baru saja hendak menyulut sumbu senapannya.

"Minyak dan api! Sekarang!" bisik Nobushige, suaranya parau menahan desakan napas.

Guci-guci berisi minyak wijen ditumpahkan ke atas tumpukan jerami dan amunisi mesiu menara. Sebuah pemantik batu dihantamkan—

BARRR!

Kobaran api merah raksasa meletus membelah langit malam gerbang utara! Dinding kayu menara pengawas mendadak berubah menjadi pilar api yang membubung puluhan meter ke udara. Bunyi ledakan petasan mesiu yang terbakar menyusul secara beruntun, meremukkan keheningan malam dan memicu kepanikan masal di dalam barak pertahanan Hojo.

"Serangan musuh! Serangan musuh dari gerbang utara!" teriakan histeris para komandan Hojo bergema di balik tembok.

Kring-kring-kring! Lonceng perunggu peringatan bahaya dipukul bertubi-tubi.

"Pasukan berkuda Sanada, serbu!" jerit Sanada Nobuyuki dari bawah tebing.

Dari balik kegelapan hutan, gelombang pasukan berkuda Sanada yang dipimpin Nobuyuki melesat bagaikan anak panah lepas dari busur. Kuda-kuda Shinano yang kekar menerjang parit-parit dangkal, menembus asap tebal, dan memuntahkan ratusan anak panah ke arah prajurit Hojo yang berlarian kacau tanpa baju zirah lengkap.

Nobushige melompat turun dari atas menara yang terbakar, mendarat persis di atas dada seorang perwira Hojo. Pedangnya mengayun memutar, menebas dua tombak kayu hingga patah sebelum menancapkan bilahnya tepat di celah pelindung leher musuh berikutnya. Darah pekat memercik menghias wajah muda Nobushige. Di tengah kobaran api dan amukan baja, pemuda Shinano itu bertarung bagaikan dewa perang—dingin, presisi, dan mematikan.

Gempuran malam yang liar dan terencana itu berhasil memancing kekacauan besar. Beribu-ribu prajurit cadangan Hojo ditarik dari sektor tengah menuju utara untuk menahan amukan "Iblis Merah" Sanada, persis seperti skenario jebakan yang dirancang oleh Kuroda Kanbei.

***

Sementara api masih membakar langit utara Odawara, sebuah drama politik yang tak kalah menegangkan sedang berlangsung di markas utama Toyotomi di Gunung Ishigaki.

Di depan gerbang kemah komando raksasa, ratusan daimyo dan komandan perang berkumpul dalam keheningan yang mencekam. Di atas panggung kayu berlapis kain sutra emas, Toyotomi Hideyoshi duduk di atas tahtanya dengan wajah dingin tak bersahabat. Di sampingnya, Kuroda Kanbei berdiri menopang tubuh dengan tongkat kayu, matanya yang tajam menatap lurus ke arah jalan setapak pendakian.

Dari balik kegelapan malam, sebuah rombongan kecil berjalan perlahan mendekati panggung.

Seluruh daimyo yang hadir menahan napas seketika.

Pria yang berjalan di terdepan adalah Date Masamune. Namun sang "Naga Satu Mata" dari utara itu tidak datang dengan zirah hitam mewahnya atau pelindung kepala bulan sabit emas yang diagungkan. Masamune melangkah bertelanjang kaki di atas tanah berdebu, mengenakan Shiromuku—kain kafan linen putih polos yang biasa digunakan untuk membungkus mayat sebelum dikuburkan.

Rambut hitamnya yang panjang terurai lepas tanpa diikat. Di tangannya, ia memegang sebatang kayu salib kusam tempat memancangkan kepala tawanannya. Wajahnya yang tampan tampak pucat pasi, namun mata kirinya yang tersisa menatap lurus ke lantai tatami di depan kaki Hideyoshi.

Mengikuti nasihat rahasia dari Tokugawa Ieyasu, Masamune datang sebagai mayat berjalan yang memohon pengampunan.

Masamune berlutut, merebahkan tubuhnya hingga dadanya menempel di atas tanah berdebu, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan panggung Hideyoshi.

"Hamba, Date Masamune dari Oshu..." suara Masamune bergema pelan namun jernih di tengah keheningan, "...datang membawa tubuh yang berdosa ini untuk menerima hukuman mati dari Tuan Kampaku. Keterlambatan hamba memenuhi panggilan perang adalah kejahatan yang hanya bisa ditebus dengan tebasan katana Anda."

Atmosfer di sekeliling kemah komando mendadak membeku. Para daimyo saling berbisik heran melihat penguasa angkuh dari utara itu bersujud bagaikan seorang hamba sahaya yang pasrah.

Hideyoshi menatap Masamune yang terkapar di atas tanah. Matanya yang licik berbinar-binar. Ego dan rasa haus akan pengakuannya terpuaskan sepenuhnya melihat Naga dari Oshu yang legendaris kini berlutut pasrah dalam pakaian mayat di bawah telapak kakinya.

Hideyoshi berdiri perlahan, melangkah turun dari panggung kayu dengan gaya anggun yang dipaksakan. Ia memegang sebilah kipas perang berbahan besi, lalu menyentuhkan ujung kipas itu tepat di leher belakang Masamune yang terbuka.

"Jika kau datang beberapa hari lebih lambat, Masamune-dono..." bisik Hideyoshi dengan nada dingin yang mengancam, "...kipas komando ini akan digantikan oleh bilah Bizen milikku untuk memisahkan kepalamu dari badan."

Masamune tidak bergeming. "Hamba siap menerima keputusan Tuan Kampaku."

Hideyoshi tertawa renyah—sebuah tawa keras yang memecah ketegangan di seluruh perkemahan. Ia mengangkat kipas perangnya dari leher Masamune, lalu menepuk bahu pria muda itu dengan akrab.

"Berdirilah, Naga dari Oshu!" seru Hideyoshi nyaring agar didengar oleh seluruh daimyo. "Aku, Toyotomi Hideyoshi, mengampuni nyawamu! Kebijaksanaan dan keagungan istana tidak akan membantai seorang pahlawan yang tahu cara menyesali kesalahannya!"

Kuroda Kanbei, yang berdiri di samping tahta, menyipitkan matanya. Kanbei melirik sekilas ke arah Tokugawa Ieyasu yang duduk tenang di barisan daimyo kanan. Kanbei langsung tahu bahwa sandiwara kain kafan putih ini adalah buah pikiran dari serigala Mikawa tersebut.

"Namun, Masamune-dono," sela Kanbei dengan suara parau dan dingin, melangkah maju mendekati Hideyoshi. "Pengampunan Tuan Kampaku harus dibayar dengan pembuktian di lapangan perang."

Masamune menegakkan tubuhnya, menatap Kanbei. "Katakan tugas apa yang harus kubawa, Tuan Kanbei."

Kanbei menunjuk ke arah utara tempat membumbungnya asap api dan dentuman senapan yang masih bergema di kejauhan.

"Saat ini, klan Sanada sedang bertarung sengit menahan gempuran balasan Hojo di gerbang utara," terang Kanbei datar. "Bawa seluruh pasukanmu dari Oshu malam ini juga. Bergeraklah ke sektor utara, bergabunglah dengan Sanada Nobushige, dan buktikan bahwa klan Date pantas menerima pengampunan dari Tuan Kampaku!"

Masamune membungkuk dalam-dalam sekali lagi. "Hamba menjunjung tinggi perintah ini! Klan Date akan membakar gerbang utara hingga tak berbekas!"

Masamune berdiri, membalikkan badan, dan melangkah pergi menyusuri jalan pendakian dengan kain kafan putihnya yang kini ternoda debu. Di dalam dadanya, rasa malu dan dendam membara hangat, namun kepalanya tetap selamat di atas leher—siap meluncurkan amukan Naga Oshu di garis depan pertempuran bersama Sanada Nobushige.

1
Xiao Qiao
keknya makanan kesukaan dia babi asap nih 🤣
Xiao Qiao
😭
Friend_A
bagus
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!