NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:964
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.

Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.

Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.

Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?

"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Atap, Dua Hati yang Jauh

Langit sore berwarna jingga pudar, menyinari atap bangunan utama yang luas itu dengan cahaya yang perlahan meredup. Di luar, semuanya tampak tenang — pepohonan berdiri tegak, bunga-bunga menutup kelopaknya perlahan, lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, menciptakan bintik-bintik cahaya lembut di sepanjang jalan setapak. Namun di dalam, di balik dinding-dinding tebal ini, suasana terasa berbeda — hening, namun bukan damai. Hening yang menyembunyikan jarak, jarak yang tercipta di antara kami, meski kami tinggal di tempat yang sama, di bawah atap yang sama.

Aku berdiri di ambang pintu kamar, menatap lorong panjang yang memisahkan kamarku dari kamar Arga — hanya beberapa langkah saja, secara fisik. Namun di dalam hati, rasanya seakan terbentang lembang yang luas, gelap, belum pernah disentuh siapa pun. Setiap hari kami makan bersama, berjalan bersama, tampak berdampingan di mata orang lain. Namun saat pintu tertutup, saat tidak ada siapa pun yang melihat, kami kembali menjadi dua orang yang asing — masing-masing menyimpan dunianya sendiri, masing-masing menjaga perasaannya sendiri, takut melangkah terlalu jauh, takut berharap terlalu banyak.

Malam itu, setelah makan malam yang berjalan tenang namun penuh kesopanan yang menjaga jarak, aku duduk di tepi jendela, memandang ke luar. Angin berhembus pelan, menggerakkan dedaunan di kejauhan. Aku memikirkan kata-kata yang tak terucap, tawa yang tertahan, pertanyaan yang tersimpan di ujung lidah namun tak pernah sampai ke telinganya. Kami berbagi satu atap, satu meja, satu masa depan yang ditentukan orang lain — namun hatinya tetap tertutup rapat, dan hatiku masih ragu untuk mengetuknya.

Suara ketukan pelan di pintu membuatku menoleh. Arga berdiri di sana, mengenakan pakaian santai, wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya, seakan beban yang dipikulnya semakin berat akhir-akhir ini. Ia tidak tersenyum, namun tatapannya tidak lagi sedingin dulu — ada keraguan, ada keinginan yang tertahan, seakan ia sendiri tidak yakin apakah benar-benar ingin masuk.

“Boleh aku bicara sebentar?” tanyanya pelan, suaranya rendah, takut didengar siapa pun di luar.

Aku mengangguk, membukakan pintu lebih lebar. “Tentu saja. Masuklah.”

Ia melangkah masuk perlahan, seakan setiap langkahnya diukur dengan hati-hati. Ia berdiri di dekat perapian yang tidak menyala, memandang sekeliling ruangan — ke arah tempat tidur, ke arah meja kecil tempat aku meletakkan foto Ibu, ke arah jendela tempat aku biasa duduk.

“Kau menyukai tempat ini?” tanyanya, bukan untuk sekadar bertanya, melainkan seakan ingin tahu apakah aku benar-benar merasa memiliki sedikit pun tempat di sini.

“Mulai menyukainya,” jawabku jujur. “Tapi menyukai tempatnya, belum tentu merasa pulang, Arga.”

Ia menunduk, tangan kirinya meremas ujung kemejanya pelan. “Aku tahu. Aku… aku tidak pandai membuat orang merasa diterima. Sejak kecil, aku tidak pernah diajarkan cara menyambut seseorang ke dalam hidupku. Semua orang datang karena nama ini, karena harta ini, karena janji ini — bukan karena aku.”

Kata-katanya begitu jujur, begitu menyentuh tempat yang paling rapuh di hatinya. Aku duduk di tepi tempat tidur, menepuk kursi di hadapanku, mengajaknya duduk. Ia ragu sejenak, lalu duduk — ujung kursi saja, tubuhnya masih condong ke depan, seakan siap pergi kapan saja.

“Kau tidak pernah sendirian di sini?” tanyaku lembut. “Tidak ada teman, tidak ada seseorang yang dekat?”

Arga menggeleng pelan, menatap lantai yang berkilau. “Teman-teman yang datang dulu — mereka pergi saat Ayah sakit, saat urusan keluarga menjadi rumit. Mereka menyukai bayanganku, bukan diriku. Lalu Ibu pergi, Ayah semakin sibuk, dan aku belajar satu hal: jika aku tidak membiarkan siapa pun masuk, aku tidak akan terluka.”

Kalimat itu terasa seperti pengakuan yang selama ini disimpan sendirian, berat dan menyakitkan. Aku menatapnya — pria yang tampak begitu kuat, begitu tenang di hadapan dunia, ternyata menyimpan ketakutan yang sama sepertiku: takut ditinggalkan, takut tidak cukup berharga, takut dicintai hanya karena apa yang dimilikinya, bukan karena siapa dirinya.

“Dan aku?” tanyaku pelan. “Apakah kau takut aku juga pergi?”

Ia mendongak, menatapku lurus. Matanya berkilau samar di bawah cahaya lampu yang lembut. “Setiap hari. Setiap kali kau memandang ke arah pintu, setiap kali kau menyebut rumahmu… aku bertanya-tanya — kapan kau akan pergi?”

Dadaku terasa sesak, namun bukan karena sedih — karena terharu. Selama ini aku mengira ia dingin karena tidak peduli. Ternyata ia menjaga jarak karena takut. Dinding yang ia bangun bukan untuk menolakku, melainkan untuk melindungi dirinya yang terluka itu.

“Aku belum pergi,” jawabku pelan namun tegas. “Dan aku tidak berencana pergi. Bukan karena aturan, bukan karena janji. Tapi karena aku mulai melihatmu, Arga. Bukan sebagai pewaris, bukan sebagai suami yang ditentukan. Tapi sebagai seseorang yang kesepian, sama sepertiku.”

Ia terdiam lama, menatapku seakan tidak percaya mendengar kata-kata itu. Napasnya keluar perlahan, bergetar sedikit. “Kau tidak tahu apa yang kau katakan, Lia. Aku tidak mudah dicintai. Aku tertutup, aku cemas, aku sering salah bicara. Aku tidak seperti mereka yang bisa membuatmu bahagia dengan mudah.”

“Bahagia yang mudah tidak selalu tahan lama,” jawabku lembut. “Aku tidak mencari yang mudah. Aku mencari yang nyata.”

Kami duduk berdua dalam keheningan yang panjang, tidak lagi saling menilai, tidak lagi menjaga jarak. Hanya duduk, berbagi ruang, berbagi kesepian yang perlahan berkurang karena ada satu sama lain. Namun hati kami masih jauh — belum sampai, belum berani sepenuhnya. Hanya ada keinginan, sekecil benih yang mulai tumbuh di tanah yang selama ini kering.

“Malam ini,” ucapnya pelan, berdiri perlahan, “aku akan tidur di kamarku. Aku tahu kita belum siap. Aku tidak ingin kau merasa terdesak.” Ia berhenti di ambang pintu, menoleh sekilas. “Tapi terima kasih. Karena tidak pergi.”

Ia pergi, menutup pintu perlahan. Aku tetap duduk di sana, memeluk diriku sendiri, merasakan kehangatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Satu atap masih menaungi kami, namun dua hati itu masih berjalan di jalur masing-masing, perlahan mendekat, namun belum berani bersentuhan. Aku tahu perjalanan ini masih panjang. Ada banyak hal yang harus diucapkan, banyak luka yang harus diobati, banyak ketakutan yang harus dihadapi bersama. Tapi untuk pertama kalinya, aku yakin — ia tidak menolak kedekatan itu. Ia hanya belum tahu cara menyambutnya.

Malam semakin larut, namun aku tidak bisa tidur. Aku membuka buku catatanku, menulis dengan tenang:

“Atap ini menaungi kami berdua, namun rumah yang sesungguhnya belum terbentuk. Rumah itu bukan di dinding, bukan di atap — melainkan di tempat di mana dua hati yang jauh akhirnya berani bertemu, dan berkata: aku di sini. Aku tidak pergi.”

Aku menutup buku itu, meletakkannya di bawah bantal, seakan menyimpan janji yang belum terucap. Esok mungkin masih berat, jarak mungkin masih ada, tapi arahnya sudah jelas — kami berjalan ke arah yang sama. Perlahan, namun pasti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!