Dewi Anjani yang baru saja dipecat dan nyaris bangkrut, tiba-tiba dipeluk erat oleh bocah tiga tahun bernama Elvan yang menangis dan memanggilnya "Mama" di pinggir jalan. Belum hilang rasa kagetnya, ayah anak itu—Raka Mahardika, sang CEO Grup Lentera yang terkenal sedingin es—muncul dan menyodorinya sebuah kontrak gila untuk menjadi ibu bayaran. Keadaan menjadi semakin tak masuk akal ketika sebuah suara mekanis mendadak berbunyi di kepala Dewi: "Ding! Sistem Ibu Super Hebat diaktifkan!" Kini, berbekal misi-misi ajaib dari sistem dan tingkah menggemaskan Elvan, Dewi tidak hanya perlahan mencairkan hati beku sang CEO, tapi juga bersiap memberikan tamparan paling telak pada mantan istri Raka yang gila harta saat wanita itu berani kembali untuk mengacaukan keluarga barunya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Namun detik berikutnya, suhu di dalam aula itu seolah ikut turun drastis menyusul suara Raka yang berubah sedingin es di kutub utara.
"Marissa ada di sana?" tanya Raka dengan nada rendah yang mengancam nyawa.
Marissa yang mendengar suara mantan suaminya itu langsung menelan ludah dengan susah payah.
"R-Raka, ini aku Marissa. Aku hanya ingin bertemu dengan anakku," ucap Marissa mendekat ke arah ponsel Dewi.
"Siapa yang mengizinkanmu menemui anakku, Marissa?" balas Raka tanpa basa-basi.
"Dia juga anakku Raka! Aku yang mengandung dan melahirkannya!" jerit Marissa tidak terima.
Suara tawa dingin Raka menggema dari ponsel Dewi, membuat bulu kuduk beberapa ibu-ibu di sana merinding.
"Anakmu sudah mati bagimu tiga tahun yang lalu saat kau melangkah keluar dari rumahku bersama pria bajingan itu."
"Menjauh dari istri dan anakku sekarang juga, sebelum aku menyuruh tim pengacaraku menghancurkan karir modelmu hari ini juga."
Kata istri yang ditegaskan oleh Raka itu seolah menjadi palu godam yang menghantam kepala Marissa.
"Istri?! Kau menikahi pengasuh kampungan ini?!" teriak Marissa histeris.
"Itu bukan urusanmu. Dewi, bawa Elvan pulang sekarang. Aku akan mengirim Bram dan tim keamanan ke sana detik ini juga," perintah Raka pada Dewi dengan nada yang melembut.
"Siap laksanakan Bos tampan!" jawab Dewi riang lalu mematikan panggilan itu.
Klik.
Dewi memasukkan kembali ponsel mahalnya ke dalam tas dan menatap Marissa yang wajahnya sudah semerah tomat.
"Nah, Nyonya Marissa sudah dengar sendiri kan instruksi dari donatur terbesar sekolah ini?" sindir Dewi.
Dewi lalu menoleh ke arah Kepala Sekolah yang sedari tadi hanya berdiri mematung ketakutan.
"Bu Kepala Sekolah, tolong sampaikan pada panitia, aku dan anakku harus pulang duluan."
"Dan tolong perketat keamanan sekolah ini, jangan biarkan orang asing yang tidak diundang masuk sembarangan lagi," tegur Dewi dengan sangat elegan.
Kepala Sekolah itu langsung menunduk hormat berkali-kali.
"B-baik Nyonya Mahardika! Maafkan kelalaian kami, ini tidak akan terjadi lagi!" jawab Kepala Sekolah itu panik.
Dewi lalu berjongkok dan menggendong Elvan yang masih sesenggukan.
"Ayo sayang, kita pulang. Nanti Mama buatkan kue bolu cokelat yang banyak di rumah," bujuk Dewi sambil mengusap air mata Elvan.
"Bolu cokelat? Janji ya Ma?" rengek Elvan yang langsung berhenti menangis mendengar kata makanan.
"Janji dong," jawab Dewi sambil mencium dahi bocah itu.
Dewi berbalik dan berjalan menuju pintu keluar aula dengan langkah yang sangat anggun dan percaya diri.
Dia melewati kerumunan ibu-ibu sosialita yang otomatis membelah jalan untuknya seperti menyambut seorang ratu.
Sementara itu, Marissa berdiri kaku di tengah aula dengan tangan terkepal kuat menahan malu yang luar biasa.
Berita tentang penolakannya oleh anak kandungnya sendiri pasti akan menjadi gosip hangat di kalangan kelas atas besok pagi.
"Awas kau pengasuh sialan," desis Marissa dengan mata memancarkan kebencian yang sangat pekat.
"Aku akan merebut kembali Raka dan Elvan darimu, apa pun caranya."
Di luar gedung sekolah, Dewi menghembuskan nafas panjang yang sedari tadi ditahannya begitu masuk ke dalam mobil.
Fiuh.
"Gila, jantungku rasanya mau copot berhadapan dengan wanita ular itu," gumam Dewi sambil menyandarkan punggungnya di jok mobil.
Ding!
[Misi Darurat Selesai!]
[Tuan Putri berhasil membongkar sandiwara tangisan palsu dan memenangkan pertempuran pertama!]
[Hadiah ditransfer: Poin Kasih Sayang +20 dan Item Payung Anti Fitnah disimpan di Inventori!]
Dewi tersenyum tipis membaca notifikasi itu.
Item Payung Anti Fitnah kedengarannya sangat berguna untuk menghadapi kelicikan Marissa di masa depan.
Sepanjang perjalanan pulang, Dewi memeluk Elvan yang tertidur kelelahan di pangkuannya.
Pikirannya melayang pada percakapan teleponnya dengan Raka tadi.
Pria itu benar-benar pasang badan untuk melindunginya dari hinaan Marissa di depan umum.
Bahkan Raka tidak ragu memanggilnya dengan sebutan istri di depan orang banyak.
"Bos es batu itu... kenapa dia harus sebaik itu sih?" batin Dewi dengan perasaan yang tidak menentu.
"Kalau begini terus, aku bisa-bisa benar-benar jatuh cinta padanya."
Dewi menampar pelan pipinya sendiri untuk mengusir pikiran konyol itu.
Tugasnya di sini hanya bekerja sebagai ibu kontrak, tidak boleh ada perasaan pribadi yang terlibat.
Tapi sekeras apa pun Dewi menyangkal, benih-benih perasaan itu sudah terlanjur tumbuh dan mengakar di sudut hatinya.
Mobil perlahan memasuki gerbang Mansion Mahardika.
Dari kejauhan, Dewi bisa melihat Raka sudah berdiri menunggu di lobi utama dengan wajah tegang.
Begitu mobil berhenti, Raka langsung membuka pintu penumpang sebelum Bram sempat melakukannya.
"Kalian tidak apa-apa? Dia tidak menyentuh kalian kan?" tanya Raka dengan nada panik yang jarang sekali dia tunjukkan.
Dewi turun dari mobil sambil menggendong Elvan dan tersenyum lebar menatap Raka.
"Tenang saja Bos, istrimu ini terlalu kuat untuk dikalahkan oleh model kurang gizi seperti dia," canda Dewi santai.
Mendengar kata istrimu keluar langsung dari mulut Dewi, Raka seketika terpaku.
Telinga sang CEO kembali memerah, namun kali ini senyum tipis yang sangat manis mengembang di bibirnya.
"Baguslah kalau begitu," gumam Raka pelan sambil mengambil alih Elvan dari gendongan Dewi.
Hari itu, Dewi dan Raka menyadari satu hal yang sama.
Kehadiran Marissa tidak membuat mereka berantakan, justru hal itu membuat ikatan keluarga palsu mereka menjadi semakin kuat dan tidak terpisahkan.
cuma sekedar tandatangan kayak nya
mampir thor, saking asik nya baca lupa interaksi🤭