Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Rin membersihkan luka di lutut Al . Ditiupnya pelan-pelan setiap selesai diusap tisu basah. Wajah Al yang tadinya pucat, sekarang wajahnya mulai kembali berwarna. Matanya tak lepas dari Rin-dari cara Rin mengerutkan dahi, sampai cara Rin menahan napas seolah takut menyakitinya. Nggak ada rasa geli atau jijik di wajahnya.
Jonas duduk diatas amplifier, ngemil cookies sambil matanya jelalatan ke kaki Al yang bertengger di pangkuan Rin.
"Enak banget dimanjain!" ledeknya sambil ketawa ngik-ngik.
Al langsung melempar tatapan tajam maut.
"Sakit?" tanya Rin pelan, tanpa mendongak.
"Dikit!" jawab Al, suaranya tiba-tiba manja.
"Yaelah! Lu pernah keserempet mobil ampe berdarah-darah, nggak bilang sakit! Giliran ada kak Rin aja semua jadi sakit!" protes Arza, ikut-ikutan ngemil cookies Jonas.
"Kalian ini berisik! Biar Rin obatin dulu!" Bima menengahi, masih senderan di dinding dengan drumstick di tangan.
"Itu terlalu semangat gebuk drum, buat bikin kak Rin berdebar!" sahut Arza lagi. kali ini Al nggak tahan. Diremasnya tisu di tangannya dan dilemparkannya ke wajah Arza.
Pintu backstage terbuka keras.
Vivian masuk sambil tertawa-mungkin habis dari crowd-tapi tawanya langsung putus ditengah. Matanya melotot. Di depannya, kaki Al ditopangkan ke paha Rin. Dan Rin sedang mengobati luka itu dengan telaten.
"Kak..." suaranya tercekat. Refleks dia menggeser kaki Al turun dan berdiri cepat. Al langsung mengaduh kesakitan karena gerakan tiba-tiba itu.
"Lo...! Ngapain hah?" tunjuk Vivian, suaranya setengah berteriak.
Tanpa pikir panjang, Al berdiri-menahan perih-di depan Rin, menutupi sepenuhnya dari Vivian.
"Gue capek dan dia ngerawat luka gue! Jadi jangan berisik!"
"Tapi Al...!"
"Kalo lo masih berisik, keluar dari sini!" potong Al, dingin.
Vivian terdiam, matanya berkaca-kaca menatap Al, lalu melirik tajam ke arah Rin yang menunduk di belakang Al. Dengan dengusan kesal , ia mengalah dan duduk di sudut, mengipasi wajahnya yang berkeringat dengan kasar.
"Tolong dikit lagi!" pinta Al, suaranya langsung berubah lembut saat menoleh ke arah Rin.
Rin duduk kembali tapi kali ini dia tidak lagi membiarkan kaki Al di pangkuannya. Diletakkannya diatas kardus air mineral. Jaga jarak.
"Selesai! Jangan dipaksa banyak gerak dulu! Harusnya udah kering ini!" ucap Rin sambil membereskan perban.
"Oke, makasih ya!" Al tersenyum-senyum tulus yang cuma buat Rin.
Rin mengangguk "Kita pamit keluar dulu ya, acara sudah hampir selesai. Kalian mau langsung pulang atau...?"
"Nunggu kamu selesai..." potong Al cepat.
"Eh... Nggak usah! Kami mau..."
"Aku tidak mau penolakan Rin!" tegas Al. Final.
Rin melirik sekilas ke Vivian di sudut, lalu mengangguk pelan "Kami keluar dulu, nanti.... Nanti..."
"Nanti aku telepon! Kita pulang bareng!" Al menyelesaikan kalimatnya. Rin mengangguk dan pamit keluar diikuti Jonas, Arza dan Bima yang masih menahan tawa.
"Ini saatnya kak!" bisik Jonas di telinga Rin.
Rin hanya tertawa kaku. Punggungnya terasa dingin , seolah tatapan Vivian masih menembus dari balik pintu yang baru saja mereka tutup.
"Haaaaah!" Rin membuang napasnya lega begitu mereka sudah di luar, di koridor yang ramai.
"Kak Rin hebat! obat mujarabnya bang Al!" ucap Arza.
"Nggak juga, itu karena kalian nggak mau ngobatin kan?" tawa Rin membuat Arza garuk kepala.
"Bukan nggak mau ngobatin, emang bang Al maunya sama Kak Rin!" ucap Arza.
"Cieeeee...." Jonas menowel bahu Rin.
Bima yang dewasa bilang "Vivian nggak akan diam, Rin. Hati-hati..."
Rin mengangguk mengerti. Tentu aja Vivian nggak akan diam, dia pasti melakukan cara lain agar Rin dan Al bisa menjauh.
Rin kembali bergabung dengan panitia. Begitu juga dengan Ara. Beberapa teman panitia memberikan ucapan selamat pada Rin. Lalu mereka membubarkan diri. Terakhir masih ada ketua panitia pelaksana yang bernama Zayn.
Dia menghampiri Rin dan memberikan buket bunga kecil. Tidak sebesar yang diberikan oleh Al.
"Kak...?"
"Selamat ya! Itu bukan pilihan saya tapi teman-teman yang milih kamu. Terimakasih sudah banyak membantu," ucap Zayn.
"Sama-sama kak," Rin meraih buket bunga dari Zayn.
"Ini titipan dari temen-temen, ternyata kamu banyak fans juga," Zayn tertawa sambil menyerahkan satu paperbag berisi beberapa hadiah. Rin melihat ada boneka beruang dan coklat.
"Waaah bisa gendut saya!" canda Rin.
Ponselnya bergetar di saku. Rin melihat Al meneleponnya. Rin meminta ijin untuk angkat telepon pada Zayn
"Halo?"
"Kamu dimana?" tanya Al dari seberang sana.
"Masih di belakang, baru bubar,"
"Tunggu aku di sana, lima menit lagi aku jemput kesana! Jangan naik motor orang lain!" ucap Al.
"Iyaaaah, bawel!" balas Rin. Sambungan dimatikan.
Rin memasukkan ponsel ke sakunya.
"Kak, makasih ya!"
"Sama-sama Rin. Oh ya, kamu pulang dengan siapa?"
"Dengan saya!" Al tiba-tiba datang dari samping gedung. "Rin! Ayo pulang!" ucap Al.
"Permisi kak!" Rin tersenyum dan berjalan ke arah parkir.
Al diam aja selama perjalanan ke mobil. Di mobil anak-anak T&T udah duduk manis di dalam sambil ngobrol dengan Ara. Seketika mereka terdiam melihat wajah Al yang kusut.
"Kok... Jadi diem?" tanya Rin.
"Nggak apa-apa, ayo pulang!" Ara mengangguk ke arah Rin.
Rin duduk di kursi tengah bareng Al. Sedangkan yang lain duduk dibaris dua dan tiga dempet-dempetan.
"Kok nggak disini Ra? Kan sempit di situ!" Rin berbalik melihat Ara.
"Udah nggak apa, gue nyaman disini!" ucap Ara. Padahal dia duduk di situ atas permintaan Al. Dia mau duduk berdua dengan Rin, katanya kalau ada Jonas dan Arza pasti dia terganggu. Kalau kata Jonas itu akal-akalan Al aja biar bisa berduaan dengan Rin.
Al duduk tapi sesekali melirik ke buket dan paperbag di pangkuan Rin.
"Ehemmm..." Al berdehem kesekian kali.
"Lo batuk? Minum dulu!" Rin mengambilkan air minum untuk Al.
"Nggak!" jawabnya dingin. Rin jadi bertanya-tanya kenapa lagi dengan Al.
"Buket yang gue kasih lo tinggal!" ucap Al pelan.
"Apa?" Rin kurang jelas menangkap apa yang diucap Al.
"Buket gue, lo tinggal!" ucapnya dengan bibir yang-rasanya pengen Rin ikat pake pita. Rin menepuk jidatnya. Lupa!
"Balik lagi yuk! Maaf Al, kan tadi gue takut banget di sana. Jadi keluar cepet-cepet!" Rin panik.
"Tenang kak! Ini!" Jonas menyodorkan buket yang tertinggal di backstage tadi.
"Makasih ya!"
"Perkara nih, ngambek lagi!" bisik Jonas ke Ara.
"gue denger ya! Dan gue nggak ngambek. Cuma kesel aja punya gue ditinggal, punya orang dibawa kemana-mana!" Al bicara tapi menghadap ke belakang. Ke arah Jonas dan Ara.
"Bang, bukan salah gue! Kok lo nyolot kesini!" protes Jonas. Al mendengus kesal.
"Lo marah?" tanya Rin
"Nggak tau!"
"Jangan marah dong! Buket lo yang paling wangi!" ucap Rin.
"Wajar! bang Al nyemprotin minyak wanginya satu galon!" Jonas terkikik geli. Al menjitak kepala Jonas.
"Sabar! Jangan marah-marah terus! Oke gue minta maaf udah kelupaan dengan buket cantik ini!" Rin tersenyum manis. Al menatap Rin dan perlahan wajahnya melunak.
"Lo ikut ke kantor aja!"
"Haaaaah?!?"
Nggak cuma Rin tapi semua yang ikut dimobil mengucapkan hal yang sama.
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok