NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15_Sebuah penebusan

Tia terus menatap bangku itu tanpa henti. Bahunya sedikit turun, matanya kosong dan air matanya jatuh deras.

"Maaf... maafkan aku, kalian berdua..." Suaranya pecah, bibir bergetar.

Air matanya terus menetes. Dia menangis sampai terisak, bahu naik turun hebat.

Dia pun berlutut karena tidak kuat menahan rasa sakit, lutut menghantam tanah.

*Duk!*

"Aku benar-benar parah... Padahal mereka tidak pernah menyerah, apapun yang terjadi. Tapi aku... aku hanya bisa lari terus dari kenyataan..." Wajahnya tertutup tangan, mata sembab.

Dia mengepalkan tangannya dan memukul-mukul lantai dengan kencang, wajahnya memerah menahan sesak. Dia terbayang senyum mereka berdua.

*Bug! Bug!*

"Padahal mereka berdua sudah membantuku untuk menjadi lebih manusiawi..." Suaranya serak, air mata tak berhenti.

Dia pun bersujud dan menangis dengan keras, dahinya menempel ke tanah.

Dia teringat kejadian di ibu kota dan yang terjadi di laboratorium bawah tanah, matanya membelalak ngeri.

"Tapi aku malah membiarkan mereka tersiksa seperti itu..." Bibirnya bergetar hebat.

Dia terus menangis dan menangis karena tidak bisa melawan ancaman sang Raja, tubuhnya gemetar.

"Aku... aku benar-benar penjahat..." Suaranya lirih, putus asa.

Pandangannya tiba-tiba mulai kabur, matanya sayu, lalu dia pun tergeletak tidak sadarkan diri di lantai.

*Bruk...*

Seorang prajurit perempuan yang kebetulan lewat pun menyadarinya, matanya membelalak panik.

"Ahh... Putri Tia!" Suaranya keras.

Dia langsung memangkunya dan menepuk-nepuk wajahnya, tangan gemetar.

"Putri Tia... tolong bertahanlah... Putri Tia!" Wajahnya pucat cemas.

Dia pun langsung menggendongnya dan berlari menuju ruang medis istana, napas memburu.

Raja yang mendengar hal itu pun langsung panik dan segera berdiri dari singgasananya, wajahnya tegang.

"Apa katamu...?!!" Matanya melebar.

Dia segera keluar dari ruang takhtanya dan bergegas menuju ruang medis, langkahnya berat panik.

Sesampainya di ruang medis, dokter langsung memeriksanya secara teliti, wajahnya serius.

Semua orang di istana benar-benar terlihat sangat panik ketika mendengar hal itu. Wajah mereka semua terlihat sedih akan kejadian itu, mata berkaca.

Ratu pun segera keluar dari ruang kerjanya. Para pembantunya pun segera mencoba menghentikannya, wajah mereka cemas.

"Tunggu dulu, Nyonya Pandora. Anda tidak bisa meninggalkan pekerjaan Anda begitu saja!"

Ratu langsung membalikkan badannya, mata melotot marah, rahang mengeras.

"Jika kau bertanya kepadaku, apa yang lebih penting dari jabatan ini... maka akan kujawab: yaitu anak-anakku!" Suaranya lantang, wajah tegas.

Dia langsung membalikkan badannya lagi dan bergegas menuju ruang medis, langkah cepat.

Tia terbangun di suatu tempat. Ruang gelap, dingin.

Dia pun tersentak setelah melihat keadaan sekitar tempat itu, matanya membelalak takut.

"Bukankah ini semua adalah... ingatanku?" Suaranya bergetar.

Terdapat ingatan-ingatannya yang melayang di ruangan itu, buram menyakitkan.

Dia pun mulai melihat satu per satu ingatan-ingatannya yang berisi penderitaannya selama ini, wajahnya pucat.

"Hentikan...!!" Suaranya pecah.

Dia mulai merintih karena kesakitan, memegangi dada.

"Hentikan...!!" Matanya berkaca-kaca, bibir digigit.

Ingatan-ingatan itu mulai menghantui jiwa dan pikirannya, berputar-putar.

"Hentikan... aku mohon..." Wajahnya meringis sakit.

Dia memegangi kepalanya, tangan gemetar hebat.

Wajahnya benar-benar terlihat sangat ketakutan. Seluruh badannya gemetar dengan sangat hebat, mata membelalak.

"Aku mohon... Hentikan semua ini...!!" Suaranya histeris.

Air matanya mulai menetes deras.

Dia pun berlutut dan membenturkan kepalanya sendiri dengan keras ke tanah, wajahnya putus asa.

*BUK... BUK... BUK...*

Wajahnya terlihat sudah putus asa, mata kosong.

"Tolong... Pergilah... Pergilah...!!" Suaranya parau.

Darah mulai menetes dari kepalanya. Dan dia mulai menarik-narik wajahnya sendiri sambil tersenyum miring, mata kosong.

"Aku... benar-benar sangat buruk..." Senyumnya mengerikan, mata sayu.

Dia pun mulai tertawa dengan sangat keras, wajahnya retak.

"HAHAHA!! Aku benar-benar sangat jahat! Aku membiarkan mereka semua mati..."

Dia tersenyum dengan lebar, mata membelalak gila.

Dia pun bangun dan mulai tersenyum dengan sangat lebar, dan matanya juga membelalak, bibir berdarah.

"Siapa yang jahat?? Aku yang jahat! Siapa yang jahat?? Aku yang jahat! Siapa yang jahat??... Aku... aku yang jahat!" Sambil terus menarik-narik wajahnya, kuku menancap.

Wajahnya yang ditarik pun mulai terluka dan mengeluarkan darah karena terkena kukunya.

*Krek...*

"Ahh... sakit... Wajahku sangat sakit... Tapi... tidak sesakit mereka berdua..." Matanya berkaca, senyum pahit.

Dia mengelap darahnya sendiri dengan telapak tangannya, tangan gemetar.

Lalu dia menjilat darah yang ada di telapak tangannya, matanya kosong.

"Ahhh... Rasa sakit ini... benar-benar sangat nikmat..." Sambil terus tersenyum dan tertawa, wajahnya berantakan.

"Hahaha!! Benar-benar memuaskan! Rasa sakit ini benar-benar sangat hebat..."

Lalu dari kejauhan terdengar suara orang melangkah pelan, berat.

*Tap... tap...*

Semakin dekat langkah kaki itu, semakin banyak darah dan bau yang menyengat mulai muncul, anyir menusuk.

Tia pun mulai gemetar. Tubuhnya tidak bisa digerakkan. Matanya terus membelalak, bibir pucat.

Jantungnya mulai berdetak sangat kencang. Nafasnya mulai terengah-engah, wajahnya pucat pasi.

"Siapa!? Siapa di sana!?" Suaranya tercekat takut.

Darah-darah pun mulai mengalir melewati kaki Tia, terus semakin tinggi dan tinggi.

*Srrk...*

Lalu ada suara berat yang terdengar dari jauh, rendah menggemakan ruangan.

"Siapa aku?? Harusnya kau mengenalku..."

Tia yang mencium bau darah-darah itu pun langsung muntah karena tidak tahan baunya, wajahnya meringis jijik.

"Siapa!?.. Siapa di situ!? Pergi!! Aku tidak kenal!!.. Aku tidak mengenalimu!!" Matanya membelalak panik.

Suara itu pun mulai terdengar semakin jelas. Lalu suara berat itu terdengar lagi, dingin.

"Baiklah... Jika kau masih bersikeras tidak mengenalku, maka tidak ada pilihan lain..."

Seseorang mulai muncul dari balik kegelapan, bayangan tinggi.

"Namaku adalah Void... Ah, tidak..."

Suara laki-laki yang familiar di telinga Tia pun mulai terdengar, lembut tapi dingin.

"Nama asliku adalah..."

Orang itu muncul dari balik kegelapan, wajahnya tersenyum tipis.

Tia yang melihatnya langsung lemas, tidak bergerak. Hanya bisa gemetar ketakutan, mata membelalak tak percaya.

_Tidak mungkin... Bagaimana bisa??_ Wajahnya pucat.

Dia berdiri di hadapan Tia dan mulai berbisik ke telinga Tia yang sedang mematung, napasnya dingin.

"Kai..."

Kai langsung mundur dan memegangi wajah Tia, matanya menyipit, senyumnya miring.

"Sayang sekali..." Dia melihat wajah Tia secara terus-menerus, jari mengelus pipi.

"Padahal wajahmu ini sangatlah indah..."

Tia langsung menepis tangan Kai dari dirinya dan mulai berjalan mundur, wajahnya jijik takut.

"Kenapa?? Kenapa?? Kenapa kau bisa ada di sini??" Sambil gemetar karena ketakutan, suara pecah.

Kai mulai berjalan ke arahnya, langkah pelan.

"Ayo lah, Tia... Bukannya kita ini adalah teman? Kenapa kau menjauh dariku??" Senyumnya lebar, mata kosong.

Tiba-tiba ada sebuah rantai yang muncul dari dalam darah-darah tersebut, hitam pekat.

*Clank...*

Rantai-rantai itu pun mulai melilit tubuh Tia dan membuatnya tidak bisa bergerak, melilit erat.

"Aku tidak bisa... bergerak!!" Wajahnya meringis sakit.

Dia terus berusaha melepaskan dirinya, tapi rantai itu malah membuat tubuhnya terluka, darah menetes.

Kai berjalan menuju ke arah Tia. Senyum lebar mulai muncul dari wajahnya, mata merah menyala.

"Hei... Tia. Apakah kau ingin tahu apa yang membuatku seperti ini??"

Dia memegangi leher Tia, tangan dingin. Rantai-rantai itu pun menghilang. Dan Kai mengangkat Tia ke atas, wajahnya kejam.

"Itu adalah... kau." Suaranya dingin menusuk.

Tia terus menggeliat mencoba untuk melepaskan dirinya dari cengkeraman Kai, wajahnya memerah sesak.

_Sesak... Aku tidak bisa bernapas..._ Matanya berkaca.

Lalu Kai melepaskan genggamannya. Dan Tia langsung terjatuh ke dalam darah itu, tubuhnya basah darah.

*Bruk!*

"Apa kau tahu, Tia? Darah-darah ini adalah darah prajurit-prajurit Kerajaan Eiden yang dulu sering menghina ku, menyakiti ku..." Dia tersenyum lebar, mata gila.

"Akhirnya aku bisa membalas perbuatan mereka..."

Dia tertawa dengan sangat keras, kepala mendongak.

"HAHAHAHA!! Aku tidak percaya! Setelah mendapatkan kekuatan ini, aku akhirnya bisa membalas para sampah itu!" Wajahnya puas kejam.

Tia pun bangun. Tubuhnya sudah tertutupi oleh darah, wajahnya pucat gemetar.

"Kenapa, Kai?? Kenapa kau bisa berubah seperti ini??" Suaranya parau, mata berkaca.

Kai menatap ke arah Tia dengan tatapan tajam. Senyum lebarnya pun menghilang, wajahnya datar dingin.

"Maaf, Tia... Tapi aku tidak pernah berubah. Mungkin saja kau sedang melihat diriku yang lainnya..." Matanya kosong.

Mata Tia langsung membelalak, bibir bergetar.

"Apa maksudnya??" Dia pun mencoba bangun, tapi sebuah rantai muncul dan menahannya.

*Clink!*

Kai berdiri di hadapannya lalu dia mengangkat tangannya ke atas. Sebuah pedang mana pun muncul, berkilau hitam.

*Wung...*

"Maaf, Tia... Karena kau sudah tahu banyak tentang diriku, aku jadi terpaksa membunuhmu... Maaf ya..." Wajahnya datar, senyum tipis kejam.

Tia langsung menunduk pasrah. Tangannya pun sudah lemas, mata kosong berkaca.

_Sudah waktunya ya... Apakah aku akan mati di sini??_ Dia tersenyum tipis pahit.

_Tapi... akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi... Nyonya... Flora..._ Matanya terpejam.

Kesadarannya pun tiba-tiba menghilang.

Saat Kai mulai mengayunkan pedang itu ke arah kepala Tia, tiba-tiba saja ruangan itu retak, cahaya menyilaukan.

*Kraak!!*

Dan dari retakan itu muncul cahaya yang menghangatkan tubuh Tia, lembut.

Kai pun langsung merintih kesakitan. Wajahnya meringis, mata menyipit. Dia langsung menutup matanya dengan tangannya.

"Cihh... Aku pikir aku sudah berhasil mengendalikan dirinya sepenuhnya. Ternyata mustahil..." Suaranya kesal.

Dia langsung menghilang.

*Wussh...*

Aku langsung bangun dari tidurku. Keringatku bercucuran. Nafasku juga terengah-engah, wajahku pucat pasi.

"Apa yang terjadi?? Apa yang aku bicarakan?? Kenapa aku ingin membunuh Tia??" Mataku membelalak panik, tangan gemetar.

Aku langsung melihat ke arah sekitar, napas masih berat.

"Benar juga... Aku berada di ruang arsip." Wajahku bingung.

Aku kemarin membaca buku-buku di ruangan itu untuk mempelajari hal-hal yang tidak aku ketahui tentang dunia ini.

_Aku kemarin sedang membaca buku-buku ini... dan sepertinya aku ketiduran. Itu berarti yang tadi adalah... mimpi??_ Alisku bertaut.

Zafira yang melihat wajah Kai sangat tegang seperti itu langsung memberinya sebuah teh, wajahnya cemas.

"Kau tidak apa-apa, Kai??" Matanya berkaca khawatir.

Aku tersenyum tipis kepada Zafira, berusaha tegar.

"Hmm... terima kasih, Kak Zafira."

Saat aku memegang cangkir itu, tanganku mulai bergetar tanpa sebab, wajahku kaget.

"Hehh?? Apa yang terjadi??" Mataku membelalak.

Zafira langsung memegangi tangan Kai. Wajahnya pun terlihat cemas, alis bertaut.

"Ada apa, Kai?? Apa kau sakit??"

Aku langsung meminum teh itu sambil gemetar, bibir bergetar.

"Tidak apa-apa kok, Kak Zafira. Mungkin karena aku kelelahan saja. Ingat... aku selalu latihan dan ke sini setiap waktu." Sambil tersenyum tipis untuk menghilangkan rasa cemasnya, mata menghindar.

Zafira langsung memeluk diriku untuk menenangkan ku, pelukannya hangat erat.

"Tidak apa-apa jika kau tidak ingin cerita kepadaku. Tapi jika kau merasa tidak bisa menghadapinya lagi, kau bisa memeluk kakakmu ini dengan erat dan memberitahu semuanya, ya..." Suaranya lembut, mata berkaca.

Semua orang yang melihat Kai bertingkah seperti itu pun mulai merasa sedih, karena tidak bisa berbuat apa-apa, wajah mereka murung.

Terutama Belial dan Agrees. Mereka terus mengepalkan tangan mereka dengan erat dan menundukkan kepala mereka, rahang mengeras.

Tia yang sudah sadar pun mulai bangun dan memegangi kepalanya, wajahnya pucat bingung.

"Tempat apa ini??" Matanya mengerjap.

Dia tersentak kagum. Matanya membelalak dan mulutnya ternganga, wajahnya takjub.

"Indahnya..." Suaranya pelan takjub.

Sebuah padang bunga yang indah ditambah langit biru cerah yang membentang tanpa batas, angin sepoi.

Tia mulai berjalan menyusuri padang bunga itu, wajahnya perlahan tenang.

Selama perjalanan dia terus mencium bau bunga yang harum dan merasakan hembusan angin pelan menerpa dirinya, mata terpejam nyaman.

_Tenang sekali... dan sangatlah hangat..._

Saat dia sedang menyusuri padang bunga itu, dari jauh ia melihat seorang wanita mengenakan gaun putih yang sangat indah sedang duduk di sebuah bangku taman di tengah hamparan padang bunga ini, rambut pirang berkibar.

"Seorang wanita?? Apa yang dilakukannya di sini??" Alisnya berkerut penasaran.

Dia mulai berjalan menuju ke arah wanita itu, langkah pelan.

Saat jarak wanita itu semakin dekat dengannya, wanita itu menatap ke arah Tia dan melambaikan tangannya ke arah Tia, senyumnya lebar hangat.

Tia pun tersentak karena melihat wajah wanita itu, matanya membelalak, air mata langsung menggenang.

"Apakah aku bermimpi... Itu Nyonya... Flora..." Suaranya tercekat.

Dia menundukkan kepalanya, lalu meneteskan air matanya dan mengepalkan tangannya, bahu bergetar.

Lalu Flora pun langsung berteriak memanggilnya, suaranya ceria.

"Tia... kemarilah!" Sambil tersenyum dengan lebar, mata berkaca.

Tia pun mengangkat kepalanya dan mulai berlari ke arah Flora dengan air mata yang tidak henti-henti menetes, wajahnya pecah tangis.

_Mungkin saja... Mungkin saja... Ini adalah kesempatanku untuk... menebus kesalahanku di masa lalu..._

Flora langsung merentangkan kedua tangannya, senyumnya tulus.

Lalu saat itu juga Tia langsung memeluknya dengan sangat erat dan menangis dengan kencang sampai terisak-isak di pelukannya, wajahnya terbenam.

Flora langsung memeluknya sembari mengusap kepala Tia dengan lembut, matanya berkaca sayang.

"Maaf ya... karena aku, kau jadi seperti ini..." Suaranya pelan, penuh rasa bersalah.

Tia langsung melepaskan pelukannya, wajahnya sembab berair mata.

"Tidak perlu meminta maaf. Semuanya adalah kesalahanku..." Sambil mencoba tersenyum lebar ke arah Flora, bibir bergetar.

Flora yang melihat itu pun, langsung mengelap air matanya dengan jarinya dengan lembut, senyumnya hangat.

"Terima kasih ya... karena kau masih memikirkan kami berdua selama ini. Tapi kami baik-baik saja kok. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan kami lagi..." Suaranya lembut, mata berkaca.

Tubuhnya pun mulai menghilang menjadi partikel-partikel kecil, berkilau.

*Wussh...*

Tia yang melihat itu pun langsung menggelengkan kepalanya, matanya panik membelalak.

"Tidak... Tidak... Aku mohon... jangan pergi..." Suaranya pecah histeris.

Flora memegang wajahnya dan tersenyum, mata berkaca-kaca.

Tia pun mulai kehilangan kesadarannya lagi, mata sayu.

"Tidak... Tolong... jangan... pergi... Jangan tinggalkan aku sendirian lagi..." Suaranya melemah.

Dia pun tertidur di pangkuan Flora, wajahnya tenang dalam tangis.

Flora pun mengusap rambutnya dengan perlahan-lahan, senyumnya teduh.

_Tenang saja... Aku tidak akan pergi meninggalkanmu..._ Matanya berkaca.

Tubuhnya mulai memudar, lalu pada akhirnya dia mencium pipi Tia, lembut.

_Aku tidak akan pernah meninggalkanmu... karena aku... akan selalu ada di sisimu..._ Suaranya berbisik hangat.

Tubuhnya pun hilang menjadi partikel-partikel kecil lalu terbawa angin.

*Wussh...*

Tia pun mendapatkan kesadarannya lagi dan bangun di sebuah kamarnya, napasnya pelan.

"Apa yang terjadi?? Oh iya... Aku tadi kehilangan kesadaranku..." Wajahnya bingung, mata sayu.

Dia pun terkejut karena merasakan ada seseorang yang menggenggam tangannya dengan erat, matanya membelalak.

Saat dia menoleh ke samping, dia melihat seorang prajurit wanita berambut hijau sedang menggenggamnya dan tertidur di sampingnya karena menunggu Tia bangun, wajahnya lelah.

_Bukankah dia wanita yang ada di kapsul laboratorium itu??_ Matanya membelalak kaget.

Saat Tia melihat ke arah tangannya, dia tersentak lalu tersenyum tipis, mata berkaca.

_Bukan dia yang menggenggam ku... tapi aku yang menggenggamnya..._

Dia menggenggam tangan wanita itu erat-erat, wajahnya tulus.

_Pada akhirnya aku ditolong lagi olehnya..._

Tia langsung mengusap kepala wanita itu, senyumnya lembut.

"Terima kasih... Nyonya Flora..."

Tanpa sadar wanita itu pun langsung tersenyum lebar saat Tia mengusap kepalanya, wajahnya damai dalam tidur.

__sepertinya sudah waktunya aku membuang diriku yang sekarang... Dan mengambil langkah pertama untuk maju ke depan_ dia mengangkat wajahnya, mata berbinar tekad _tunggu aku kalian berdua_ lalu menaruh tangan ke dadanya sambil tersenyum tipis, air mata haru jatuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!