Setelah ditinggalkan oleh istrinya dan kehilangan putri kecilnya Bai Xinxin yang berusia enam tahun, hidup Bai Ruchen berubah sepenuhnya. Di tengah kesepian dan rasa bersalah, sebuah cahaya muncul — Sistem Pria Merana, sistem misterius yang memberinya kekuatan luar biasa setiap kali ia melakukan login harian.Namun, alih-alih menggunakan kekuatan itu untuk dirinya sendiri, Bai Ruchen mengirimkan setiap hasil login kepada Xinxin, yang sedang berkelana di dunia untuk mencari ibunya. Tanpa disadari, setiap hadiah yang diterima sang putri membuatnya tumbuh menjadi sosok kuat yang dikenal seluruh benua.Sementara dunia mulai mengguncang oleh nama “Dewa Tersembunyi”, Bai Ruchen hanya tersenyum — karena bagi dirinya, semua kekuatan itu hanyalah cara untuk melindungi putrinya dari jauh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 :Gadis Kecil di Tengah Jalan, Wajahnya Sama Persis dengan Permaisuri
Kuda meringkik keras. Kereta berhenti mendadak.
Permaisuri Su Wanqing sedang memikirkan suaminya ketika pengemudi kereta, seorang ahli Tingkat Bumi, menarik tali kekang.
"Lapor, Yang Mulia! Ada gadis kecil menunggang lembu jantan dan menghalangi jalan. Bagaimana kita harus bertindak?"
Yang melapor adalah Mu Qingyu, penjaga berbaju zirah perak dengan pedang di pinggangnya. Ia menangkupkan tangan ke arah kereta.
Su Wanqing mengerutkan kening. Perjalanan ini dirahasiakan dari semua orang, dan taruhannya adalah takhtanya sendiri. Dewa Pedang Lei Zhentian terluka parah. Jika tidak segera diobati, Pangeran Mingze, saudaranya, pasti memanfaatkan kesempatan itu untuk merebut kekuasaan. Kalau sampai terjadi, jangankan bertemu lagi dengan suami dan putrinya, para pejabat pun akan berpesta di istananya.
"Jangan cari masalah. Dia hanya anak kecil, suruh saja minggir," ujarnya pelan dari balik tirai.
"Baik, Yang Mulia!"
Mu Qingyu menghampiri gadis kecil itu. Belum sempat ia bicara, anak itu mengangkat wajah bulatnya. Mulutnya penuh roti kukus.
"Halo, Kak! Ini di mana?"
Mu Qingyu tertegun. Wajah itu sangat ia kenal. Tanpa menjawab, ia berlari kembali ke kereta.
"Yang Mulia, ada hal penting! Gadis itu mirip sekali dengan Anda waktu kecil. Silakan lihat sendiri!"
Mu Qingyu sama-sama murid Lei Zhentian dan tumbuh besar bersama sang Permaisuri, jadi ia tahu betul seperti apa rupa Yang Mulia di masa kecil.
Su Wanqing mengangkat alis. "Mirip denganku? Bawa dia kemari."
Begitu melihat gadis berkepang dua yang mungil seperti boneka porselen itu, Permaisuri yang biasanya tenang langsung berdiri. Dadanya bergemuruh. Bahkan Lei Zhentian, yang tinggal selangkah dari liang kubur, ikut duduk tegak.
"Di dunia ini ada dua orang semirip ini?" gumamnya.
Di dalam kereta, Su Wanqing menerima roti isi daging yang disodorkan si kecil.
"Xinxin, kamu yakin marga keluargamu Gu?"
"Yakin! Kakak cantik, Gu Xinxin itu nama yang bagus, kan?" Bai Xinxin tersenyum bangga.
Kakak cantik? Mu Qingyu terkejut. Berani sekali anak ini memanggil Permaisuri seperti itu. Namun Permaisuri diam saja, jadi ia pun menahan lidah.
"Siapa nama ayahmu? Kenapa dia membiarkanmu sendirian di jalan? Di mana rumahmu? Setelah urusan kami selesai, kami akan mengantarmu pulang."
Su Wanqing semakin cemas. Anak enam tahun dibiarkan sendirian di padang liar. Bagaimana kalau bertemu serigala, harimau, atau orang jahat? Lagi pula, kenapa anak ini begitu mirip dengannya? Putrinya sendiri juga seharusnya berusia enam tahun sekarang. Jangan-jangan...
Jantungnya berdebar kencang, antara curiga dan berharap.
Bai Xinxin menangkap tatapan menyelidik itu. Ia teringat pesan ayahnya, Bai Ruchen: di dunia persilatan, bicaralah sesuai lawan bicara, tiga bagian benar dan tujuh bagian bohong. Dan makin cantik seorang wanita, makin harus diwaspadai, karena mereka pandai menipu.
"Aku nggak tahu rumahku di mana. Aku tersesat. Sudah lebih dari sepuluh hari aku naik lembu tuaku ke sini," katanya. "Ayahku tentu bermarga Gu juga. Julukannya Dewa Pedang Anggur. Dia hebat sekali!"
Dalam hati ia puas. Ayahnya pernah bilang, punya beberapa nama samaran saat berkelana itu bagus. Siapa tahu orang-orang ini musuh?
Semua yang mendengar menahan senyum. Dewa Pedang Anggur? Mana mungkin dia lebih kuat daripada Dewa Pedang yang terbaring di kereta ini? Lelucon yang bagus.
Su Wanqing mengerutkan kening. Marga ayahnya Gu. Sedangkan suaminya bermarga Bai. Mungkin ia hanya terlalu banyak berpikir.
Untuk memastikan, ia bertanya lagi sambil mengamati wajah si kecil. "Kalau ayahmu sehebat itu, kenapa dia tidak mengajarimu bela diri?"
Anak seusia ini tidak mungkin pandai berbohong, dan kalaupun berbohong, pasti ketahuan.
Xinxin menepuk dada. "Ayahku memang ahli! Dia menguasai Kitab Bunga Matahari, Kitab Pedang Penangkal Kejahatan, dan sebagian Empat Puluh Delapan Jurus Edo! Tapi latihannya terlalu berat. Tiap hari aku disuruh kuda-kuda, jadi aku nggak mau belajar."
Ia cemberut. Dulu ia pernah minta diajari. Ayahnya langsung membawanya naik-turun gunung belasan kali, lalu menyuruhnya kuda-kuda setengah hari. Kakinya kaku sampai tak bisa digerakkan, dan sejak itu ia tak pernah menyinggungnya lagi.
Su Wanqing, Lei Zhentian, dan Mu Qingyu saling pandang dengan dahi berkerut. Tak satu pun dari nama itu pernah mereka dengar. Pasti jurus kelas tiga. Ayah anak ini mungkin punya sedikit kemampuan, tapi tidak lebih.
Su Wanqing agak kecewa dan menepis dugaannya. Semua ini pasti kebetulan. Suaminya tidak punya bakat bela diri sama sekali. Ia hidup terkurung di pegunungan terpencil, mustahil mengenal jurus-jurus seperti itu.
Tapi anehnya, ia merasa dekat dengan anak ini. Mungkin karena wajahnya mirip dirinya dulu, dan usianya sama dengan putrinya. Rasa sayang dan bersalah pada putrinya sendiri jadi tertuju pada Xinxin.
"Lalu ibumu? Kamu pergi sudah lama. Orang tuamu pasti khawatir."
Wajah Xinxin langsung muram. "Aku belum pernah lihat ibuku. Katanya dia kabur dengan laki-laki lain setelah melahirkanku. Ayahku yang membesarkanku sendirian."
Semua orang terdiam. Ayahnya benar-benar tidak biasa. Membesarkan anak sendirian, dan anaknya tumbuh seperti ini.
Mu Qingyu mengusap kepala Xinxin. Su Wanqing memeluknya erat, hatinya sakit. Ia yang biasanya tenang pun mengumpat.
"Apa? Kabur dengan orang lain? Sialan! Ada ibu yang melahirkan tapi tidak mau mengurus anaknya. Wanita seperti itu tidak pantas disebut ibu! Kalau aku bertemu dengannya, aku..."
Ia sendiri terpaksa meninggalkan putri dan suaminya. Tapi yang ini bahkan pergi dengan laki-laki lain. Sungguh menjijikkan.
Xinxin mengangguk semangat. "Betul, Kak! Gara-gara dia, ayahku menunggu bertahun-tahun dan tidak menikah lagi selama enam tahun. Kalau nanti aku menemukannya dan dia sudah tua, aku tidak akan memberinya makan. Biar dia kelaparan!"
Satu besar, satu kecil, keduanya langsung punya musuh yang sama. Mereka merasa satu sama lain jauh lebih menyenangkan.
Su Wanqing menghela napas dalam hati. Ayah anak ini setia sekali, enam tahun tidak menikah. Bagaimana dengan suaminya sendiri? Apakah dia juga menjaga diri untuknya?
"Xinxin, kamu ingat arah rumahmu? Kakak akan mengantarmu kalau sudah senggang. Berbahaya sekali kalau kamu berkeliaran sendirian."
"Tidak usah, Kak. Ayah bilang aku harus mencari pengalaman. Lagi pula ayah memberiku harta, jadi tidak ada yang bisa menyakitiku."
Karena Xinxin enggan menyebut rumahnya, mereka tak bisa memaksa. Misi mereka tak bisa ditunda. Soal harta yang disebutnya, semua orang menganggapnya angin lalu. Mana ada aura harta karun di sekitar anak itu?
"Kalau begitu, tinggallah bersama Kakak dulu. Setelah urusan ini selesai, Kakak akan menyuruh Mu Qingyu mengajarimu bela diri dan membantu mencari rumahmu."
Xinxin menatap wajah cantik Permaisuri, lalu sebuah ide muncul. Mencari ibunya pasti sulit. Kalau ia berteman dengan kakak ini, kakak ini bisa membantunya mencari. Banyak tangan, pekerjaan jadi ringan.
"Baik, Kak! Maaf merepotkan! Tapi Xinxin tidak punya apa-apa untuk membalas. Nanti kalau sudah bisa bela diri, Xinxin yang akan melindungi Kakak!"
Su Wanqing tersenyum melihat tingkah dewasa anak itu dan menggoyangkan roti di tangannya. "Tidak perlu. Xinxin sudah memberiku sesuatu."
Ia lalu menggigit roti kukus yang agak kotor itu tanpa ragu. Rasanya biasa saja, tapi ada sesuatu yang begitu akrab hingga tubuhnya gemetar.
"Bakpao daging ini... kenapa tidak ada daun bawangnya?"
Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, suara penjaga dari luar memecah suasana hangat itu.
"Lapor, Yang Mulia! Kita sudah tiba. Di depan adalah lembah tempat Qiu Xuanfeng hidup mengasingkan diri!"