Marsya, seorang istri yang selalu di hina oleh suami dan keluarga nya hanya karena dia dianggap karyawan di salah satu toko kue.
Tapi tanpa sepengetahuan keluarga suami nya, bahwa toko kue itu adalah milik nya dan dia adalah seorang sarjana.
Dia sengaja menyembunyikan identitas nya atas permintaan sang ibu, kini Marsya tahu sendiri seperti apa suami nya dan juga keluarga nya.
Selain di berikan nafkah yang jauh dari kata cukup, Marsya juga di duakan oleh suami nyam dengan seorang wanita yang merupakan rekan kerja suami nya di kantor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
"Pak Dani, bu Marsya berpesan bahwa dia tidak datang ke toko hari ini. Bapak bisa pulang sekarang!" Rini menyampaikan pesan dari Marsya pada Dani.
"Sial, awas kau Marsya!" Dani mengepal kan tangan nya, karena dia kesal pada Marsya.
Tanpa banyak bicara, Dani pun pergi dari toko kue nya Marsya. Dia langsung berangkat ke kantor nya. Hari ini Dani begitu tegang, dia takut jika nanti Arum akan memecat nya karena dia ketahuan berbohong dan berselingkuh dengan Mela.
Sedang kan Marsya saat ini sedang asyik berselancar di sosial media milik nya dengan akun palsu, dia sengaja memantau Dani dan Mela lewat unggahan sosial media mereka.
Marsya melihat Mela mengunggah beberapa foto diri nya dan Dani yang sedang berpelukan, background nya adalah sebuah Vila yang berada di tengah perkebunan teh. Foto - foto itu di ambil dari berbagai sudut yang berbeda, tidak lupa Mela menulis sebuah caption 'Semoga tidak ada halangan menuju status baru!'
Tapi ada satu hal yang membuat Marsya heran, dia merasa tidak asing dengan Vila yang menjadi latar belakang foto Mela dan Dani.
"Seperti nya aku mengenal tempat ini, ini seperti Vila keluarga ku!" Marsya mengernyit kan kening nya.
Marsya lalu memperbesar salah satu foto itu, dan benar saja itu adalah Vila milik keluarga nya.
Marsya lalu melihat ada sebuah foto Mela dan Dani lengkap dengan keluarga nya. Ada bu Ana, Bela, dan 2 orang lain nya. Mereka tampak sedang makan bersama dengan view pemandangan perkebunan teh di hadapan mereka.
"Ibu dan Bela pernah datang ke sini, tapi bagai mana bisa ya?" Marsya semakin heran dengan apa yang di lihat nya.
Marsya tahu persis, itu adalah Vila milik keluarga nya yang ada di perkebunan teh milik orang tua nya. Dani dan Mela bisa berada di sana, hal itu membuat Marsya menjadi heran.
"Coba aku tanya sama mbak Arum, mungkin saja dia tahu sesuatu!" Marsya lalu segera menelepon tunangan kakak nya tersebut.
Marsya mengambil ponsel nya dan dia langsung menghubungi Arum, Marsya mengajak Arum untuk bertemu sekaligus makan siang nanti.
"Hallo mbak, makan siang bareng yuk, ada sesuatu yang mau aku tanyain sama mbak!" Tanpa basa - basi lagi Marsya langsung mengajak kakak.
"Ok, share lokasi nya ya, ntar mbak langsung meluncur!" Arum setuju untuk makan siang bersama dengan Marsya.
"Sipp, aku kirim lokasi nya sama mbak, Bye,,,!" Marsya pun menutup sambungan telepon dengan Arum.
Marsya kembali memerhatikan semua foto yang di unggah oleh Mela, Marsya melihat dari setiap sudut nya dan dia sangat mengenali tempat tersebut.
'Bagai mana bisa Mela dan mas Dani berada di Vila keluarga, siapa yang memberi dia akses ke sana?' Marsya bertanya di dalam hati.
Karena masih bingung dengan apa yang di lihat nya, Marsya pun segera bersiap untuk bertemu dengan calon kakak ipar nya. Ketika melewati ruang tamu, Marsya melihat Mama nya yang sedang bersantai.
"Ma, aku keluar dulu ya. Aku mah ketemu sama mbak Arum, Mama mau ikut?" Marsya pun tidak lupa mengajak Mama Lili untuk ikut serta.
"Gak ah, Mama lagi males keluar rumah. Salam buat Arum ya!" Jawab Mama Lili sambil melihat putri nya.
"Ya udah Ma, Marsya berangkat dulu!" Marsya lalu tidak lupa mencium tangan wanita yang sudah melahir kan diri nya ke dunia ini.
"Hati - hati nak!" Ujar Mama Lili lagi.
Marsya pergi ke kafe yang sudah dia tentukan, dia pergi sendirian dengan mengemudikan mobil nya. Penampilan Marsya saat di rumah mertua nya dan di luar sangat berbeda, di rumah mertua nya Marsya hanya mengenakan daster lusuh yang sudah sore di beberapa bagian. Sedang kan di luar, Marsya mengenakan baju- baju yang harga nya selangit.
Marsya tiba di kafe yang sudah dia tentukan, dia segera memilih salah satu meja yang berada di sudut. Dia ingin sedikit leluasa berbicara dengan Arum nanti nya, karena Arum belum sampai Marsya pun hanya memesan minuman saja. Untuk makanan nya nanti saja setelah Arum tiba.
"Marsya,,,,!" Arum yang baru saja tiba melambai kan tangan nya pada Marsya memberi tanda bahwa dia sudah sampai.
"Mbak Arum, sini mbak!" Marsya balik melambai kan tangan nya pada Arum.
"Udah lama Sya? Maaf ya kamu nunggu nya kelamaan, jalanan macet banget!" Arum pun menarik salah satu kursi yang ada di hadapan Marsya.
"Gak kok mbak, aku baru aja tiba!" Jawab Marsya sambil tersenyum.
"Udah pesan makanan?" Tanya Arum lagi.
"Belum mbak, nungguin mbak Arum dulu!" Jawab Marsya lagi.
"Ya udah, pesan aja dulu udah keburu laper ni!" Ujar Arum sambil tersenyum.
Marsya memanggil pelayan dan langsung memesan makanan untuk mereka berdua, kedua saudara ipar itu tampak akrab satu sama lain.
"Ada apa Sya? Kata nya ada hal penting?" Tanya Arum penasaran.
"Aku mau nunjukin sesuatu sama mbak!" Marsya berkata sambil memberikan ponsel nya pada Arum.
Marsya memperlihat kan foto - foto yang di unggah oleh Mela, Arum melihat nya tapi tidak ada yang aneh di sana.
"Ada apa sama foto - foto itu Sya?" Arum masih bingung dengan maksud Marsya menunjuk kan semua foto - foto itu.
"Gak ada yang aneh sama foto- foto nya mbak, tapi tempat nya yang aneh!" Marsya mulai menjelaskan maksud nya.
"Maksud nya gimana Sya?" Tanya Arum tidak mengerti.
"Semua foto - foto itu di ambil di Vila milik Papa yang ada di puncak mbak, aku heran bagai mana mas Dani dan Mela bisa memiliki akses untuk masuk ke Vila itu!" Marsya lalu menceritakan semua nya.
"Oh ya, jadi latar belakang foto itu adalah Vila milik Papa?" Arum tidak percaya dengan apa yang di lihat dan di dengar nya.
"Iya mbak, aku mengenal semua bagian dari tempat itu karena aku sering menghabiskan waktu di sana. Yang membuat aku bingung, bagai mana mas Dani dan Mela bisa berada di sana bersama keluarga mereka!" Marsya menceritakan apa yang membuat nya bingung.
Arum sendiri ikut terdiam, dia juga heran dengan kejadian itu. Dan satu hal lagi, Arum memanggil belum pernah datang ke Vila milik keluarga nya Marsya.
"Apa jangan - jangan Mama yang masih akses mereka ke sana?" Marsya membuyar kan lamunan Arum.
"Ku rasa gak mungkin Mama, Sya. Mama yang minta kamu untuk merahasiakan identitas kamu dari Dani dan keluarga nya, masa kini Mama juga yang memberi akses untuk mereka kesana!" Arum tidak yakin jika Mama mertua nya yang melakukan itu.
Marsya pun mengangguk kan kepala nya, memang benar apa yang di katakan oleh Arum. Tidak mungkin Mama Lili membiarkan orang yang menyakiti anak nya bersenang - senang dengan mengunakan fasilitas keluarga mereka.