NovelToon NovelToon
Super Dokter: Warisan Ilmu Medis

Super Dokter: Warisan Ilmu Medis

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.

Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Krucuk krucuk.

Suara perut Jiang Chen berbunyi semakin nyaring dan menyedihkan di dalam kamar yang sunyi itu.

Pemuda itu berguling ke kanan dan ke kiri di atas kasur empuknya dengan perasaan sangat tersiksa.

Dia mencoba memejamkan mata untuk menipu rasa laparnya, tetapi sebuah suara dari luar kamarnya terus mengganggu konsentrasinya.

Sruput sruput.

Suara seruputan mi kuah yang sangat berlebihan dan disengaja terdengar jelas dari balik pintu kamarnya.

Chu Mengqi rupanya sedang duduk di ruang tamu sambil memakan mi instannya dengan suara yang dibuat sekeras mungkin.

Gadis itu bahkan sengaja mendekatkan mangkuknya ke arah pintu kamar Jiang Chen agar pemuda itu semakin menderita.

'Gadis barbar ini benar-benar punya hati iblis,' batin Jiang Chen sambil menutupi kedua telinganya dengan bantal.

Namun aroma bumbu penguat rasa dari mi instan itu perlahan menyusup masuk melalui celah bawah pintu kamarnya.

Bagi Jiang Chen yang panca inderanya kini sangat tajam, aroma mi instan murahan itu terasa seperti godaan setingkat dewa.

Dia akhirnya tidak tahan lagi dan menendang selimutnya dengan kasar.

Jiang Chen bangkit dari kasurnya dan berjalan membuka pintu kamar dengan wajah cemberut.

Cklek.

Chu Mengqi yang sedang duduk bersila di atas sofa langsung menoleh ke arahnya dengan senyum penuh kemenangan.

"Oh, dokter jenius kita sudah bangun dari tidur siangnya," sapa Mengqi dengan nada mengejek yang sangat kental.

"Apakah kau terganggu dengan suara makan siangku yang sederhana ini?"

Jiang Chen bersandar di kusen pintu sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Suara seruputanmu itu lebih mirip suara mesin penyedot debu yang rusak daripada suara manusia sedang makan," balas Jiang Chen pedas.

"Dan mi instan yang kau makan itu penuh dengan pengawet yang akan membuat siklus bulananmu semakin berantakan."

Wajah Mengqi langsung memerah karena Jiang Chen kembali membahas masalah rahasia pribadinya dengan sangat santai.

"Tutup mulutmu! Mi instan ini jauh lebih baik daripada kelaparan karena tidak punya uang untuk beli makan!" bentak Mengqi sambil mengangkat mangkuknya tinggi-tinggi.

"Lebih baik kau kembali ke kamarmu dan tidur saja, karena kau tidak boleh masuk ke area dapurku."

Jiang Chen hanya mencibir dan merogoh ponsel murahnya dari dalam saku celana.

Dia baru ingat bahwa dia bukan lagi pemuda miskin yang harus mengemis makanan pada ibu kos galak.

Di balik bajunya, masih ada puluhan ribu Yuan uang tunai yang dia dapatkan dari keluarga Shen semalam.

Jiang Chen dengan cepat membuka aplikasi pesan antar bahan makanan cepat saji di ponselnya.

Dia memesan daging sapi premium kelas atas, berbagai macam sayuran segar, beras kualitas terbaik, dan beberapa bumbu dapur lengkap.

Total belanjanya mencapai hampir tiga ratus Yuan, angka yang dulunya bisa dia gunakan untuk makan sebulan penuh.

Namun sekarang, Jiang Chen menekan tombol bayar tanpa ragu sedikit pun.

"Kita lihat saja nanti siapa yang akan memohon untuk makan masakanku," gumam Jiang Chen sambil tersenyum licik.

Dia kemudian kembali masuk ke kamarnya dan menutup pintu, membiarkan Mengqi menikmati mi instannya dengan tenang.

Tiga puluh menit kemudian, suara bel pintu apartemen berbunyi nyaring.

Ting tong.

Mengqi yang sedang mencuci mangkuknya di dapur mengerutkan kening merasa heran.

Gadis itu berjalan menuju pintu utama dan membukanya perlahan.

Seorang kurir pengantar barang berdiri di sana dengan membawa dua kantong belanjaan berukuran sangat besar.

"Pesanan bahan makanan atas nama Tuan Jiang Chen, sudah dibayar lunas melalui aplikasi," lapor kurir tersebut sambil menyodorkan kantongnya.

Mengqi mematung menatap isi kantong yang dipenuhi dengan daging sapi segar dan bahan makanan mahal lainnya.

Dari mana pemuda gembel berpenampilan lusuh itu mendapatkan uang untuk membeli bahan makanan semewah ini?

Sebelum Mengqi sempat menjawab, sebuah tangan sudah terulur dari belakang punggungnya dan mengambil kantong belanjaan itu.

"Terima kasih atas kerja kerasmu, Paman Kurir," ucap Jiang Chen sambil memberikan uang tip sepuluh Yuan.

Kurir itu tersenyum lebar dan segera pergi meninggalkan apartemen tersebut.

Jiang Chen menutup pintu dan berbalik menatap Chu Mengqi yang masih berdiri menghalanginya.

"Minggir Nona, koki jenius mau lewat dan menggunakan dapur," ucap Jiang Chen sambil menyingkirkan bahu gadis itu dengan santai.

Mengqi langsung tersadar dari lamunannya dan segera merentangkan kedua tangannya menghalangi jalan Jiang Chen.

"Tunggu dulu! Kau lupa dengan peraturan kedua kita?!" bentak Mengqi sambil menunjuk garis selotip merah yang sudah dia tempel di lantai.

"Area dapur adalah wilayahku, kau tidak boleh masuk ke sana tanpa izin tertulis atau membayar denda!"

Jiang Chen memutar bola matanya melihat garis pembatas konyol yang membelah ruang tamu apartemen itu menjadi dua bagian.

Dia meletakkan kantong belanjaannya di atas meja dan merogoh saku celananya dengan cepat.

Srak.

Sebuah lembaran uang seratus Yuan berwarna merah diletakkan dengan kasar di atas telapak tangan Chu Mengqi.

"Ini seratus Yuan untuk menyewa seluruh area dapurmu selama dua jam ke depan," ucap Jiang Chen dengan nada arogan ala orang kaya baru.

"Simpan kembaliannya untuk membeli pembalutmu bulan depan."

Mata Mengqi membelalak lebar melihat uang kertas seratus Yuan yang kini berada di tangannya.

Dia sama sekali tidak menyangka pemuda gembel ini akan benar-benar membayar denda bodoh itu menggunakan uang tunai pecahan besar.

Bahkan kata-kata tajam Jiang Chen barusan membuat harga dirinya sebagai mahasiswi mandiri merasa sangat terhina.

"Kau pikir uang bisa menyelesaikan semua hal di apartemen ini, hah?!" teriak Mengqi sambil melemparkan uang itu kembali ke arah Jiang Chen.

Jiang Chen dengan santai menangkap uang kertas yang melayang itu menggunakan dua jarinya.

"Tadi kau bilang aku dilarang masuk tanpa bayar denda, sekarang setelah aku bayar, kau malah marah."

"Wanita memang makhluk yang jalan pikirannya paling sulit didiagnosis secara medis," gerutu Jiang Chen sambil berjalan melewati garis batas merah tersebut.

Mengqi hanya bisa menggertakkan giginya menahan kesal sambil menatap punggung pemuda itu.

Dia bersidekap dada dan bersandar di dinding, berniat mengawasi setiap gerak-gerik Jiang Chen di wilayah dapurnya.

'Paling-paling dia hanya akan merusak panciku atau membuat dapurnya terbakar,' batin Mengqi meremehkan.

Jiang Chen mulai mengeluarkan bahan-bahannya satu per satu ke atas meja dapur.

Dia mengambil sebilah pisau dapur dari laci dan menimbangnya sejenak di telapak tangannya.

Pemahaman anatomi dan meridian yang ada di kepalanya tidak hanya berlaku untuk tubuh manusia.

Dia memandang serat daging sapi segar itu dan bisa melihat tepat di mana titik terlemah dari setiap uratnya.

Tak tak tak tak.

Suara pisau yang beradu dengan talenan kayu terdengar sangat cepat dan berirama seperti mesin otomatis.

Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, bongkahan daging sapi itu sudah terpotong menjadi dadu-dadu kecil yang sangat presisi dan sempurna.

Chu Mengqi yang mengawasi dari jauh sedikit membelalakkan matanya melihat keterampilan menggunakan pisau yang sangat menakutkan itu.

Kemampuan memotong daging Jiang Chen bahkan jauh lebih cepat dan rapi daripada koki profesional di restoran bintang lima.

'Pria ini sebenarnya dokter, pembunuh bayaran, atau koki jalanan?' tanya Mengqi dalam hati dengan penuh tanda tanya.

Jiang Chen menyalakan kompor dan menuangkan sedikit minyak wijen ke dalam wajan.

Dia melempar potongan bawang putih, jahe, dan beberapa rempah herbal yang dia beli ke dalam wajan yang mulai memanas.

Sreng sreng.

Suara desisan minyak yang bertemu dengan bumbu langsung menciptakan melodi masakan yang menggugah selera.

Jiang Chen menyalurkan sedikit sekali tenaga Qi dari ujung jarinya ke gagang spatula.

Energi itu merambat ke dalam wajan, memaksa sari pati dari setiap rempah herbal keluar secara maksimal dan bercampur sempurna.

Aroma harum yang sangat luar biasa kuat seketika meledak dan memenuhi seluruh ruangan apartemen tersebut.

Itu bukanlah aroma masakan tumis daging sapi biasa yang sering dijual di restoran.

1
Abady Ehm
cerita sampah juga nih,.....
ARay
ini cowok mulutnya lemez banget, pake rok aja sekalian
syarif ibrahim
orang lugu cuman ada di komik dan novel saja🤭😄tidak ada di dunia ini🤭😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!