Xie Yufei (17 tahun), remaja Gen-Z yang hobi julid, tewas tersedak boba dan bertransmigrasi ke zaman kuno menjadi Nona Muda yang lemah lembut.
Demi bertahan hidup, Yufei berakting super anggun dan polos. Namun, dia tidak tahu kalau suara hatinya yang sangat berisik dan penuh istilah modern bisa terdengar jelas oleh Pangeran Mo Cheng yang kejam, kakak kandungnya, dan pelayan setianya!
Kekacauan dimulai saat Yufei membungkuk takzim, sementara isi kepalanya sibuk mengomel: (Buset, ini Pangeran mukanya ditekuk mulu kayak belum bayar kontrakan. Ganteng sih spek drakor, tapi auranya psikopat banget!)
Mendengar itu, sang Pangeran dingin seketika tersedak teh. Di saat Yufei merasa akting polosnya sempurna, orang-orang di sekitarnya justru sedang berjuang setengah mati menahan tawa mendengar isi kepalanya yang super kocak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heldahell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14: Pemburu buku harian dan coretan aksara dewa
Mendengar kabar paviliun pribadinya disusupi, wajah Xie Yufei di luar langsung berubah pucat pasi seolah-olah jiwanya baru saja melayang. Namun di dalam otaknya, kepanikan yang meledak jauh lebih personal dan berisik:
(DEMI APA?! Kamar gue disusupi?! Waduh mampus, emas bonusan dari Mas Jenderal semalam aman gak ya? Terus sisa sup pedas gue yang di meja kecil masih utuh gak? Tapi bentar... yang paling bahaya itu buku binder catatan harian gue! Mampus, di situ kan gue nulis semua keluh kesah budak korporat, coret-coret rumus kimia IPA, sama daftar nama cowok fiksi idaman gue! Kalau sampai jatuh ke tangan musuh politik, bisa hancur reputasi gue sebagai mantan siswi terhormat!)
Pangeran Mo Cheng yang menangkap getaran kepanikan dahsyat dari batin Yufei langsung menajamkan tatapannya. Buku binder? Catatan harian? Sang pangeran menduga benda misterius itu adalah "kitab kuno rahasia" tempat Yufei menyimpan segala formula aneh dan analisis magisnya. Jika benda itu jatuh ke tangan Perdana Menteri Lin, posisi mereka bisa terancam.
"Xie Jian, siapkan kuda! Kita kembali ke kediaman Xie sekarang juga!" perintah Pangeran Mo Cheng dengan nada tegas dan dingin.
Sesampainya di kediaman keluarga Xie, suasana paviliun Yufei sudah berantakan layaknya kapal pecah. Xiao Mei menangis sesenggukan di depan pintu sambil gemetaran, sementara pengawal melaporkan bahwa si penyusup bergerak sangat cepat dan berhasil lolos lewat atap tepat sebelum pasukan mengepung area.
Yufei langsung berlari masuk ke kamarnya, pura-pura memeriksa lemari pakaian dengan tubuh gemetar penuh drama. Emas bonusnya ternyata aman karena disembunyikan dengan rapi di bawah kasur. Sup pedasnya juga masih utuh. Namun, begitu dia memeriksa laci rahasia di meja riasnya... buku catatan harian bersampul kulit rajutan modern miliknya telah raib!
Di luar, Yufei langsung terduduk lesu di kursi sambil memegang dadanya, berakting seolah-olah hendak pingsan karena syok. Namun di dalam hatinya, dia malah mulai merutuk habis-habisan dengan gaya kocak:
(Aduh Gusti... beneran dicuri dong buku harian gue! Tega bener itu maling jemuran istana. Tapi dipikir-pikir... biarin aja deh! Biar itu Perdana Menteri Lin sama mata-matanya pada kena mental berjamaah. Emang mereka bisa baca huruf alfabet latin? Boro-boro tahu artinya kata 'overwork' atau curhatan gue soal Mas Jenderal, ngeliat bentuk huruf A sampai Z aja pasti dikira coretan mantra pemanggilan setan kuno, bwahaha!)
Pangeran Mo Cheng yang berdiri di ambang pintu paviliun langsung mengembuskan napas lega setelah mendengar konfirmasi batin Yufei. Aksara latin? Huruf A sampai Z? Pangeran merasa tenang mengetahui buku itu ditulis dalam simbol asing yang tidak akan mungkin bisa dibaca oleh orang zaman ini. Namun, rasa penasarannya justru semakin membubung tinggi. Apa yang sebenarnya dia tulis tentang diriku di buku itu?
Sementara itu, di kediaman megah Perdana Menteri Lin.
Suasana ruangan utama terasa sangat mencekam. Perdana Menteri Lin dan putranya, Lin Hao yang tangannya masih dibalut kain perban akibat sisa dermatitis kontak kemarin sedang menatap sebuah buku harian aneh di atas meja giok dengan pandangan super serius. Di sekeliling mereka, tiga orang ahli bahasa kuno dan penerjemah terbaik di ibu kota sudah bersujud dengan dahi menempel ke lantai batu, tubuh mereka berkeringat dingin karena ketakutan.
"Bagaimana?! Apakah kalian sudah berhasil memecahkan isi dari kitab strategi rahasia milik jalang keluarga Xie itu?!" bentak Perdana Menteri Lin dengan suara menggelegar penuh ambisi.
Ahli bahasa yang paling tua mendongak dengan wajah pucat pasi. "M-mohon ampun yang sebesar-besarnya, Perdana Menteri! Hamba sudah membuka ratusan kamus kuno, prasasti tua, hingga gulungan sihir dari kerajaan seberang, namun simbol-simbol di dalam buku ini sama sekali tidak masuk akal! Bentuknya bukan aksara hanzi atau huruf kuno mana pun!"
Lin Hao mendengus kesal sambil menahan gatal di tangannya. "Bodoh! Masa membaca satu baris saja tidak bisa?! Apa bentuk coretannya?!"
Ahli bahasa itu menunjuk tulisan tangan Yufei yang sebenarnya berbunyi 'Gue capek banget kerja lembur bagai kuda'. Namun di mata sang ahli bahasa, huruf latin modern itu terlihat sangat mistis.
"Lihat ini, Tuan Muda Lin... bentuk aksaranya sangat aneh! Ada simbol berbentuk lingkaran bolong (O), ada tiang dengan garis silang di tengahnya (t), dan ada coretan berbentuk cacing lurus (l). Ini fiks bukan tulisan manusia bumi! Ini pasti 'Aksara Dewa' atau sandi kutukan terlarang dari peradaban kuno yang sudah musnah!" ratap si ahli bahasa ketakutan.
Perdana Menteri Lin langsung membelalakkan matanya, wajahnya menegang penuh kengerian. "Astaga... jika ahli bahasa terbaik kita saja tidak bisa mengenali satu huruf pun dari simbol misterius ini, artinya tingkat kecerdasan dan kekuatan Xie Yufei jauh di luar nalar kita! Coretan dewa ini pasti berisi formula senjata pemusnah massal atau taktik militer tingkat tinggi yang sengaja dia segel dengan mantra rahasia!"
Lin Hao ikut pucat pasi, menatap ngeri buku bersampul rajutan itu seolah benda tersebut bisa meledak kapan saja. Mereka sama sekali tidak sadar kalau "kitab rahasia" yang membuat mereka stres setengah mati itu hanyalah berisi curhatan mager dan keluh kesah seorang mantan anak IPA dari dunia modern.