Demi cinta, Kataleya rela meninggalkan kokpit dan menyerahkan mimpinya menjadi Kapten Pilot pada suaminya, Arkana. Ia memilih menjadi istri dan ibu, mengorbankan karier yang dulu hampir berada di puncak.
Enam tahun kemudian, pengorbanan itu justru dibalas dengan pengkhianatan. Arkana berselingkuh, menghina penampilan Kataleya, dan menyebutnya wanita yang sudah tak pantas berdiri di sisinya.
Akan tetapi Arkana lupa satu hal, langit itu dulunya milik Leya. Saat wanita itu menuntut cerai dan kembali mengenakan seragam pilotnya, seluruh dunia penerbangan mulai menyadari siapa dia sebenarnya.
Di akademi pilot, ia bertemu Kaisar... pria misterius yang selalu berada di sisinya. Arkana baru sadar terlalu terlambat, wanita yang dulu ia rendahkan kini kembali terbang lebih tinggi darinya. Leya menjadi Kapten Pilot, yang tak akan pernah bisa ia miliki lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 17.
Mama Kartika tiba-tiba berjalan cepat ke arah Leya.
Leya bahkan belum sempat bereaksi ketika Mama Kartika menarik tubuhnya ke dalam pelukan.
Greep!
Mama Kartika memeluk erat Leya. "Ya ampun, Leya. Akhirnya Tante ketemu kamu lagi setelah sekian lama.“
Leya sempat terkejut, lalu tertawa kecil sambil membalas pelukan itu.
"Tante Kartika... apa kabar?"
Mama Kartika mundur sedikit, tapi kedua tangannya masih memegang bahu Leya. Matanya meneliti wajah Leya seolah memastikan sesuatu.
"Tante baik, sayang." Tangan mama Kartika naik meraup pipi Leya dengan lembut. "Kata Ayahmu, kamu sudah nikah... bahkan udah punya anak. Walaupun sekarang, lagi proses cerai."
Nada suara Mama Kartika bukan menghakimi, justru penuh simpati. “Kamu kuat sekali menjalaninya."
“Iya, Tante. Begitulah hidup..." Leya tersenyum kecil, ada rasa hangat menjalar di dadanya.
Di belakang mereka, Kaisar masih berdiri dengan wajah bingung.
“Mama... kenal Leya?"
Mama Kartika akhirnya menoleh pada putranya. “Kau nggak ingat dia?“
Kaisar mengerutkan dahi, “Memangnya aku harus ingat?"
Ibunya menghela nafas panjang.
"Ya jelas kamu nggak bakal ingat," Mama Kartika menggeleng kecil. "Waktu itu kamu baru lima tahun, waktu kita pindah."
Kaisar makin dibuat bingung.
“Dulu, keluarga kita tetanggaan sama keluarga Leya.“ Mama Kartika menjelaskan.
“Hah?“ Kaisar benar-benar melongo.
Mata pria itu berpindah dari ibunya ke Leya, lalu ke ayah Leya yang berdiri tak jauh dari meja kafe di teras.
Ayah Leya tersenyum tipis melihat reaksi Kaisar. Dan tadi, dia dan Mama Kartika tidak sengaja bertemu di jalan. Mereka bahkan sempat tertawa karena mengingat masa kecil anak-anak mereka dulu, ketika kedua keluarga masih bertetangga di luar kota.
“Jeng Kartika, kita ngobrol sambil duduk saja.“ Ucap Ayah Leya.
Mama Kartika sontak tertawa kecil. “Ah! Iya."
Mereka kembali ke meja kafe, diikuti Leya dan Kaisar. Mereka berempat duduk di meja yang sama.
Belum sempat Mama Kartika melanjutkan cerita, tiba-tiba Leya tertawa. Awalnya hanya tawa kecil, lalu makin keras.
"Hahaha ... hahahaha ..."
Kaisar menatapnya bingung, Leya sampai mengusap air matanya sendiri. Setelah tawanya mereda, ia menatap Kaisar dari atas sampai bawah dengan ekspresi geli.
"Jadi, kau itu... Ical?"
"Ical?" Kaisar mengerutkan dahinya.
Leya masih menahan tawa. "Anak kecil yang dulu nempel terus sama aku, kemana-mana ikut.“
Kaisar semakin bingung, sementara Mama Kartika dan Ayah Effendi malah ikut tertawa.
“Itu nama panggilanmu sendiri, Kai. Waktu lima tahun, kamu masih cadel. Manggil diri sendiri Kaisar, jadi Ical.“ Kata Mama Kartika sambil tersenyum.
Kaisar menyandarkan badan ke kursi. “Serius? Aku sama sekali nggak ingat."
“Dulu, bahkan kamu lebih dekat sama Leya daripada Mama.“
Kaisar mengangkat alisnya. “Mama ngada-ngada.“
“Mama mu benar, Nak. Hampir tiap malam, kamu nginep di rumah kami.“ Ayah Effendi menimpali.
“Makan maunya disuapin Leya, tidur pun harus tidur sama dia. Mandi juga... harus dimandiin dia. Kalau nggak diturutin, kamu ngamuk-ngamuk. Tantrum, nggak mau makan.“
Leya kembali tertawa, Kaisar mulai tak enak hati. Ia ingin ibunya berhenti bercerita, dan memberi kode pada Mama Kartika.
Namun Mama Kartika malah berpura-pura tak melihat kode dari anaknya, dia masih lanjut bercerita. “Padahal waktu itu... Leya juga baru 10 tahun, tapi sudah kayak babysitter kamu. Bahkan kalau kamu buang air besar, harus dicebokin Leya.“
Meja itu langsung pecah oleh tawa, Kaisar menutup wajahnya sebentar.
“Ini... nggak adil banget. Aku bahkan nggak ingat apa-apa, tapi kalian malah menertawakan aku.“ Kaisar terdengar sangat malu.
Leya terkekeh, ia menepuk bahu Kaisar. “Udah, santai aja. Ini cuma cerita nostalgia, kami merasa senang bisa bertemu lagi.“
Kaisar memutar bola matanya, tapi akhirnya ia ikut tersenyum.
Pantas aja... waktu pertama kali liat Leya, aku merasa familiar. Seperti ada ikatan, dan chemistry yang kuat. Gumam Kaisar dalam hati.
Leya kemudian melihat jam di tangannya. “Duh, Tante. Maaf ya, aku harus cepat pulang. Anakku lagi nungguin aku di rumah, jadi nggak bisa lama-lama ngobrolnya.“
Mama Kartika tentu saja mengerti, ia mengangguk pelan. “Iya, gapapa.“
Lalu tiba-tiba Mama Kartika baru sadar, “Eh... ngomong-ngomong, kalian tadi kenapa bisa bareng dan kayak udah saling kenal?“
“Nanti Kaisar aja yang cerita ya, Tan. Leya harus pamit," ia berdiri sambil meraih tasnya, lalu Leya menoleh ke ayahnya. “Ayah bawa mobil?"
“Bawa, mobilmu kemana?"
“Mogok, masih di parkiran akademi.“
“Ya sudah, pulang sama Ayah aja.“
Ayah Effendi langsung ikut berdiri, Mama Kartika menahan tangan Leya sebentar lalu memeluknya lagi.
“Sayang, kita harus sering ketemu. Sama ibumu juga, bilang sama Sapitri... Tante kangen."
Leya tersenyum lembut dan membalas pelukan Mama Kartika. “Iya, Tante."
Tak lama kemudian, Leya dan ayahnya pergi.
Begitu mereka keluar dari area kafe, Kaisar langsung mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Wajahnya benar-benar frustasi, ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
“Ish! Malu banget..."
Mama Kartika malah tertawa lagi. “Ya jelas bakalan malu lah, waktu kecil kamu memang se-memalukan itu."
“Mama..." Kaisar menatap ibunya dengan tatapan kesal.
“Kau itu, punya orang tua... tapi nempelnya sama anak tetangga. Waktu kita pindah, kamu nangis kejer dan berhari-hari nangis terus nyari Leya.“
Kaisar menghela nafas panjang, “Jangan diungkit lagi deh...“
Ibunya menyipitkan mata. “Ngomong-ngomong, kalian tadi kenapa bisa bareng? Mama tadi denger, Leya dari akademi?“
“Kami satu tim di akademi.“ Jawab Kaisar.
“Jangan-jangan, dia yang bikin kamu betah di akademi?"
Kaisar malah tertawa, “Kok... Mama bisa nebak sih. Mama tau, pantes saja pas pertama kali bertemu sama Leya, aku langsung tertarik sama dia... kayak ada chemistry gitu.“
Pria itu menatap ke arah jalan tempat Leya tadi pergi. “Ternyata, ada cerita di baliknya. Kami sudah kenal sedari kecil."
“Tunggu! Kamu benaran suka Leya?“
“Iya, emangnya kenapa? Jangan bilang, Mama berpikiran sempit. Mama nggak mau aku berhubungan sama wanita yang pernah nikah dan punya anak? Atau, karena usianya lebih tua dariku?“ Kaisar menyipitkan matanya.
Mama Kartika mendengus, lalu menepuk lengan putranya lumayan keras. “Dia belum resmi cerai, Kai. Soal lain, Mama nggak mungkin berpikiran sempit. Apalagi ini Leya, Mama tau betul... anak itu sangat baik hati. Mama hanya takut, dia jadi bahan gosip dan nama baiknya tercemar gara-gara kamu.“
“Mama tenang aja, aku tahu batasan. Leya juga bukan tipe wanita yang gampang terbawa perasaan.“
“Maksudnya?" Mama Kartika mengerutkan keningnya.
“Leya jaga jarak terus dariku... walaupun aku terus ngasih dia perhatian. Dia cuma nganggep aku rekan satu tim dan hanya sekedar teman biasa.“ Kaisar menghela nafas pelan, seperti kecewa.
Mama Kartika terdiam, namun tiba-tiba dia tertawa. “Jadi cintamu, bertepuk sebelah tangan?“
Kaisar melototi ibunya. “Mah! Nggak usah diperjelas, bisa?“
“Jangan-jangan dia nggak tertarik sama kamu, karena kamu kurang ganteng?“ mama Kartika malah menjahili putranya itu.
“Nggak ya! Gen-ku bagus. Mama sama Papa sama-sama good looking!“ Kaisar protes.
Ibunya mengangkat bahu. “Belum tentu, gen bagus kami... turun ke kamu.“
“Mama!“
Mama Kartika kembali tertawa, kali ini lebih keras. Sepanjang perjalanan pulang, tawanya masih sesekali keluar. Setiap kali itu terjadi, wajah Kaisar langsung merengut kesal
tapi awas bikin gosip yg gak bener tentang Leya atau Kaisar, Bu wa bahaya untuk mu sendiri itu
kak author gx sxan di basmi aj si rafi ini ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁
krn di balik suami yg sukses pasti ad istri hebat yg berkorban ,,
bukan pelakor yg berkibar oleh angin sesaat ,,
saat angin berhenti ia akan mencoba trap berkibar dg cara apa aja Sekali pun dg cara yg kotor/Smile//Smile//Smile/