Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Bima hanya mengangguk pelan mendengar cerita klise tapi nyata di kehidupan keras kota besar ini.
Ting.
Layar ponsel Bima tiba-tiba menyala di dalam sakunya di tengah keheningan.
[Sistem Pekerjaan Impian: Pesanan Masuk]
[Titik jemput: Minimarket Distrik Barat]
[Tujuan: Area Perumahan Permata]
Bima melihat layar aplikasinya lalu menatap Maya dengan alis terangkat.
"Kamu yang memesan taksi online barusan?" tanya Bima sedikit terkejut.
Maya tampak sama terkejutnya mendengar pertanyaan itu.
"I-iya, jangan bilang Kak Bima ini pengemudinya?"
"Benar, ayo kita pergi dari sini sebelum mereka kembali membawa teman yang lebih banyak."
Bima berjalan mendahului Maya keluar dari gang sempit tersebut menuju parkiran.
Maya mengikuti langkah Bima dengan perasaan lega bercampur kagum luar biasa.
Dia mengira Bima akan membawanya ke sebuah mobil LCGC biasa yang sering digunakan untuk layanan taksi online murah.
Langkah Maya terhenti saat Bima menekan kunci otomatis di tangannya.
Bip bip.
Lampu sebuah Lamborghini Urus hitam menyala terang menyapu area parkir minimarket yang sepi.
"Ini... mobil Kak Bima?" tanya Maya dengan mata membelalak tak percaya menatap monster besi itu.
"Bukan, ini mobil angkot VIP," jawab Bima asal sambil membukakan pintu penumpang depan untuk Maya.
"Masuklah, udara malam di kota ini mulai dingin."
Maya masih terdiam mematung di samping pintu mobil.
Dia merasa tidak pantas duduk di dalam mobil super mewah itu dengan pakaian pelayannya yang sedikit kotor.
"Tapi Kak, pakaian saya kotor karena terdorong ke dinding gang tadi."
"Saya takut mengotori jok mobil mewah ini."
Bima tersenyum geli mendengar kepolosan gadis muda di hadapannya ini.
"Ini cuma benda mati pengangkut manusia, Maya."
"Fungsinya untuk dikendarai, bukan untuk disembah dan dibersihkan setiap detik."
"Cepat masuk, tagihan argometernya sudah berjalan sejak aku menekan tombol terima."
Mendengar kata argometer, Maya buru-buru melompat masuk ke dalam mobil.
Dia sangat takut biaya taksi onlinenya membengkak karena dia memang sedang krisis keuangan saat ini.
Cklik.
Aroma wangi parfum interior khas mobil mahal langsung menenangkan saraf-saraf Maya yang menegang sejak tadi.
Bima masuk ke kursi pengemudi dan menyalakan mesin.
Vrooom.
Mobil melesat membelah jalanan malam kota dengan sangat mulus dan senyap dari dalam kabin.
"Kak Bima ini sebenarnya anak konglomerat yang sedang gabut ya?" tanya Maya memberanikan diri.
Bima tertawa pelan mendengar tebakan yang tidak jauh beda dengan Nadhira siang tadi.
"Bukan, aku cuma pengangguran yang kebetulan beruntung bisa menyetir mobil bagus hari ini."
Maya mengerucutkan bibirnya sedikit, jelas tidak percaya dengan jawaban Bima.
"Mana ada pengangguran yang bawa Lamborghini buat narik taksi online."
"Dan mana ada pengangguran yang jago bela diri seperti Kak Bima tadi."
"Lalu menurutmu aku ini apa? Agen rahasia kepolisian?" goda Bima balik sambil melirik Maya.
"Mungkin saja," gumam Maya pelan sambil melihat pantulan wajahnya di kaca jendela.
"Kak Bima tadi keren sekali waktu menendang preman yang memegang pisau itu."
"Persis seperti aktor film laga yang sering aku tonton di bioskop."
"Pujianmu tidak akan mengurangi tarif aplikasi, Maya."
Bima membalas candaan itu dengan wajah datar yang dibuat-buat.
Maya tertawa kecil mendengarnya, menunjukkan lesung pipit di wajah manisnya.
Rasa takutnya pada preman tadi sudah benar-benar hilang digantikan oleh rasa nyaman.
Dia merasa sangat aman berada di dekat pria misterius ini malam ini.
Perjalanan menuju Perumahan Permata memakan waktu sekitar dua puluh menit.
Area itu adalah kompleks perumahan menengah ke bawah yang jalanannya agak sempit.
Bima menghentikan mobilnya perlahan di depan gang agar tidak terlalu menarik perhatian warga sekitar.
"Totalnya tiga puluh ribu rupiah, bayar pakai saldo aplikasi kan?" ucap Bima memecah keheningan.
"Iya Kak, sudah saya selesaikan pemotongannya di aplikasi."
Maya bersiap untuk turun, tapi dia menoleh kembali menatap wajah Bima dari samping.
"Kak Bima."
"Ya?"
"Terima kasih banyak untuk bantuan yang luar biasa tadi."
"Kalau Kak Bima ada waktu mampir ke Kafe Senja di pusat kota, aku akan buatkan kopi paling enak gratis."
Bima mengangguk pelan mengiyakan tawaran tulus tersebut.
"Akan kuingat tawaran itu, sekarang masuklah ke rumah."
Maya tersenyum manis lalu turun dari mobil dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Bima menunggu sampai gadis itu benar-benar menghilang di balik gang rumahnya sebelum bersiap pergi.
Ting.
[Sistem Pekerjaan Impian: Pesanan Kedua Selesai]
[Kemajuan Tugas: 2/10]
[Host telah menunjukkan dominasi fisik dan melindungi warga sipil]
[Hadiah Reputasi: Pesona dan Kharisma Host meningkat 10%]
Bima membaca notifikasi tambahan itu sekilas sebelum mematikan layar ponselnya.
"Sistem ini sepertinya sangat mendukungku untuk membangun koneksi yang bagus," batin Bima.
Bima memutar setir menuju jalan arah pulang ke kawasan kos-kosannya.
Dua dari sepuluh pesanan sudah selesai dalam satu hari.
Dia harus beristirahat dengan tenang malam ini untuk menghadapi kejutan-kejutan lain yang mungkin disiapkan sistem esok hari.