Selama 5 tahun Maya mengorbankan seluruh hidup dan cita-citanya demi merawat bagas, Suaminya yang koma dan lumpuh akibat akibat kecelakaan.
Maya harus bekerja keras banting tulang untuk biaya ruah sakit dan selalu setia menemani sang suami dengan air mata dan doa.
Akhirnya membuahkan hasil, Bagas perlahan-lahan sembuh.
Tapi apa yang Maya dapat, Setelah sembuh, Bagas mendapatan pekerjaan bagus dan ia malah menjalin hubungan dengan teman kantornya yang bernama Rania, Karena ia malu memiliki istri seperti Maya yang terlibat kusam akibat penderitaan selama bertahun-tahun.
Perceraian itu akhirnya terungkap saat Maya menemukan surat cerai di saat hari pernikahan mereka yang ke-7 tahun.
Maya pun harus bangkit dari kehidupan, pengorbanannya selama ini ternyata sia-sia, iya akan menunjukkan ketulusannya akan menjadi penyesalan terbesar Bagas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SulSya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab9
BAB 9: KEAJAIBAN DI UJUNG JARI
Aroma karbol dan cairan antiseptik yang menusuk hidung mengiringi langkah lelah Maya memasuki kamar rawat nomor 304. Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi.
Setelah menyelesaikan shift malam sebagai pembersih perkantoran, Maya bergegas menuju rumah sakit tanpa sempat beristirahat.
Di atas ranjang, Bagas masih terbaring kaku. Sudah tiga tahun berlalu sejak kecelakaan maut itu.
Tiga tahun Maya bertarung sendirian menahan cemoohan orang, memeras keringat di tiga tempat kerja berbeda, hingga mengorbankan masa depannya demi mempertahankan alat penunjang hidup suaminya.
Maya meletakkan tas kain lusuhnya di kursi plastik, lalu mengambil baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Dengan telaten, ia mulai mengusap wajah Bagas yang makin tirus, lalu berpindah ke lengan dan jemari suaminya.
"Mas Bagas..." bisik Maya lembut. "Hari ini aku bawa kabar baik. Uang sewa mesin ventilator untuk bulan depan sudah aku bayarkan tadi sore. Jadi Mas nggak usah khawatir ya, Mas masih bisa bernapas di sini sama aku."
Maya tersenyum tipis, meski matanya berkaca-kaca menahan lelah yang teramat sangat. Ia meraih tangan kanan Bagas, menempelkannya ke pipinya yang dingin.
"Tadi sore Tante Ningsih ketemu aku lagi di pasar," lanjut Maya dengan suara agak serak. "Dia nanya lagi, sampai kapan aku mau begini. Tapi aku nggak peduli, Mas. Aku percaya Mas pasti bisa dengar suara aku. Mas pasti lagi berjuang di dalam sana, kan?"
Hening. Hanya denting teratur dari mesin pemantau detak jantung yang merespons ucapan Maya.
Maya memejamkan mata, membiarkan air matanya menetes membasahi punggung tangan Bagas. Ia merasa hatinya berada di titik paling rapuh malam ini.
"Mas... aku capek banget hari ini," adu Maya jujur, sesuatu yang jarang sekali ia ucapkan. "Tangan aku perih kena pemutih pakaian, kaki aku rasanya mau patah. Tapi kalau aku lihat wajah Mas, rasa capek itu hilang lagi.
Tolong kasih aku tanda sedikit aja, Mas... kasih aku semangat kalau perjuangan kita ini nggak sia-sia..."
Maya menundukkan kepala, bersandar pada tepi ranjang sambil terus menggenggam erat jemari Bagas.
Tiba-tiba, Maya merasakan sebuah getaran halus di telapak tangannya.
Maya tertegun. Ia langsung mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arah tangan kanan Bagas yang berada di dalam genggamannya.
Srett.
Jari telunjuk Bagas bergerak perlahan. Hanya sentimeter, namun gerakan itu sangat jelas. Lalu, jari manis dan ibu jarinya ikut bergerak pelan, seolah berusaha meremas balik jemari Maya yang gemetar.
Jantung Maya serasa berhenti berdetak. Matanya membelalak tak percaya.
"M-Mas Bagas?" bisik Maya dengan napas tercekat.
Maya menajamkan pandangannya. Jemari Bagas kembali bergerak, kali ini lebih mantap. Otot-otot di lengan suaminya yang selama tiga tahun ini melayu tampak berkontraksi kecil.
"Ya Allah..." jerit Maya lirih. Air mata haru mendadak meleleh deras membasahi pipinya. "Mas Bagas! Mas bisa dengar aku?!"
Maya bergegas bangkit dari duduknya hingga kursi plastik di belagaknya terdorong ke belakang. Ia menekan tombol pemanggil perawat di kepala ranjang secara bertubi-tubi tanpa henti.
"Suster! Dokter! Tolong!" teriak Maya seraya berlari kecil ke pintu kamar dan membukanya lebar-lebar. "Suster, tolong ke sini sekarang!"
Tidak sampai dua menit, Dokter Frans bersama dua orang perawat berlari cepat menyusuri lorong dan menerobos masuk ke dalam kamar rawat.
"Ada apa, Bu Maya? Ada penurunan kondisi pada Pak Bagas?" tanya Dokter Frans panik seraya menyiapkan stetoskopnya.
"Nggak, Dok! Bukan!" sahut Maya histeris bercampur bahagia, menunjuk ke arah tangan Bagas dengan jari yang gemetar. "Jari Mas Bagas bergerak, Dok! Tadi tangan saya dipegang sama Mas Bagas!"
Dokter Frans tertegun sejenak. Ia segera mendekati ranjang dan mengeluarkan senter medis untuk memeriksa respons pupil mata Bagas.
"Pak Bagas, bisa dengar suara saya?" panggil Dokter Frans dengan nada tegas. Ia kemudian mencubit pelan bagian punggung tangan Bagas untuk menguji refleks sarafnya.
Di depan mata mereka semua, jemari Bagas merespons rangsangan nyeri tersebut dengan menariknya perlahan. Bahkan, kelopak mata Bagas yang telah tertutup rapat selama tiga tahun tampak bergerak-gerak gelisah, seolah sang pemilik tubuh sedang berusaha keras membuka pintu dari kegelapan yang panjang.
Suster Ratna yang berdiri di samping dokter menutup mulutnya terperanjat. "Dokter... refleks motoriknya kembali!"
Dokter Frans menatap layar monitor yang menunjukkan lonjakan grafik sinyal gelombang otak yang signifikan. Wajah dokter senior yang biasanya dingin itu mendadak diliputi rasa takjub yang luar biasa.
"Ini... ini sungguh di luar perkiraan medis," gumam Dokter Frans dengan suara bergetar. Beliau menoleh menatap Maya yang berdiri gemetar di sudut ruangan. "Bu Maya, ini sebuah keajaiban. Sinyal kesadaran Pak Bagas mulai kembali. Sel-sel saraf otaknya menunjukkan aktivitas pemulihan yang sangat pesat malam ini!"
Maya menutup wajahnya dengan kedua tangan, jatuh berlutut di samping ranjang. Tangis bahagianya pecah memenuhi seluruh ruangan. Rasa lelah, cemoohan orang, rasa sakit di jemarinya, dan tiga tahun air mata penderitaannya seolah terbayar tuntas dalam hitungan detik.
"Terima kasih, Ya Allah... Terima kasih..." bisik Maya berulang kali di antara isaknya.
Dokter Frans menepuk bahu Maya dengan hangat. "Perjuangan dan perawatan penuh kasih sayang yang Ibu berikan selama tiga tahun ini tidak sia-sia. Pak Bagas membuktikan bahwa dia tidak menyerah, karena dia tahu ada istri yang setia menunggunya."
Maya bangkit, mendekatkan wajahnya ke telinga Bagas. Ia meraih kembali jemari suaminya yang kini terasa hangat.
"Mas Bagas..." bisik Maya lembut dengan senyuman paling bahagia yang pernah ia miliki. "Terima kasih sudah berjuang buat bangun. Maya di sini, Mas... Maya bakal terus dampingi Mas sampai Mas benar-benar bisa berdiri lagi."
Jari-jari Bagas kembali bergerak halus, seakan membalas janji setia istrinya di tengah keheningan malam yang kini dipenuhi harapan baru.