Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelombang Dormant
Suara azan Subuh berkumandang dari kejauhan, membelah keheningan Kota Medan. Namun di atap ruko nomor 42B Jalan Sutomo, keheningan itu terasa palsu dan mencekam.
Layar monopiksel hijau dari ponsel tombol jadul di tangan Faris terus berkedip. Empat angka nol—0-0-0-0—terpampang jelas di sana. Padahal, penutup belakang ponsel itu sudah terbuka dan baterai litiumnya tergeletak di atas semen dingin di dekat kaki Faris.
Ponsel itu menyala tanpa daya listrik.
"Maya..." suara Faris tercekat. Ia mengangsurkan ponsel jadul itu dengan tangan yang gemetar hebat. "Benda ini... benda ini menyala sendiri."
Maya yang tadinya bersandar lemas di dinding panel langsung menegakkan tubuh. Matanya berbinar panik saat melihat layar hijau yang menyala mandiri tanpa baterai. Ia merebut ponsel tombol itu dari tangan Faris, lalu menyambungkannya ke alat RF Signal Detector yang tergantung di lehernya.
Alat pendeteksi frekuensi itu tidak lagi menjerit keras seperti sebelumnya. Kali ini, jarumnya bergerak konstan, halus, dan stabil di angka gelombang radio pasif (Dormant Wave).
"Ini gila..." bisik Maya, wajahnya kembali pucat pasi di bawah temaram sinar fajar. "Saluran panggilannya memang sudah terputus saat kau memotong kabel pemancar tadi. Tapi entitas itu tidak kembali ke alamnya."
"Maksudmu apa, Kak? Ponsel itu tak ada baterainya!" jerit Faris, rasa panik kembali mencengkeram dadanya.
"Dia menyusupkan kodenya ke dalam memori eksternal dan sirkuit motherboard ponsel jadul ini tepat sebelum pemancar utama meledak," jelas Maya dengan nada cepat dan tertahan. "Dia mengubah mode operasinya. Dari yang semula panggilan aktif yang butuh energi baterai besar, menjadi transmisi pasif."
Faris mengerutkan dahi, tidak memahami istilah teknis tersebut. "Transmisi pasif? Apa bedanya?"
"Bedanya," Maya menatap mata Faris dengan pandangan mengerikan, "dia tidak lagi memanggilmu atau menguras energi tubuhmu secara drastis dalam delapan jam. Dia sedang berhibernasi di dalam sirkuit HP ini. Menunggu ponsel ini terhubung ke jaringan seluler baru atau didekatkan ke perangkat elektronik lain untuk menyebarkan salinan kodenya secara bertahap."
Faris menelan ludah. "Seperti virus komputer?"
"Jauh lebih buruk," balas Maya. "Ini virus elektromagnetik bersumber supranatural. Kalau virus biasa cuma merusak sistem data, kode ini merusak jaringan saraf otak manusia yang menangkap frekuensinya."
Maya bergegas bangkit, mengabaikan rasa lelah yang menggerogoti fisiknya. Ia memungut tas perkakasnya dan memasukkan ponsel tombol jadul itu ke dalam sebuah kotak besi tebal berlapisan timbal (Faraday cage) yang terkunci rapat. Begitu kotak itu ditutup, indikator sinyal pasif di alat pendeteksinya perlahan-lahan meredup.
"Kita tidak bisa tinggal di sini lebih lama," kata Maya tegas. "Sisa ledakan arus pendek tadi pasti menarik perhatian warga sekitar atau polisi. Kita harus membereskan barang-barang di lantai tiga dan pergi."
Satu jam kemudian, matahari pagi mulai menyinari kawasan Jalan Sutomo. Faris dan Maya keluar dari pintu belakang ruko, menyusuri gang-gang kecil menuju sebuah mobil minibus tua milik Maya yang terparkir dua blok dari lokasi.
Faris duduk di kursi penumpang depan, menyandarkan kepalanya yang terasa pening ke kaca jendela yang berdebu. Meskipun memar hitam di lehernya sudah tidak lagi terasa membeku seperti es, rasa nyeri tumpul masih tertinggal di sana. Di pangkuannya, ponsel pintarnya sudah dimatikan total—baterainya dilepas untuk mencegah interaksi sinyal tambahan.
Maya mengemudikan minibus tua itu membelah jalanan Kota Medan yang mulai dipenuhi arus lalu lintas pagi: bentor yang saling mendahului, deretan pedagang sarapan di pinggir jalan, dan lalu lalang anak sekolah. Semuanya tampak normal di mata orang awam, namun bagi Faris, setiap ponsel yang dipegang oleh pejalan kaki di trotoar kini terlihat seperti bom waktu yang siap meledak.
"Kita mau ke mana sekarang, Kak?" tanya Faris parau.
"Ke kawasan Medan Baru," jawab Maya tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan. "Ke rumah seorang mantan dosen ilmu fisika dan gelombang elektromagnetik Universitas Sumatera Utara. Nama beliau Profesor Bahri."
Faris menoleh. "Profesor? Untuk apa?"
"Saat adekku meninggal dua tahun lalu karena kasus yang sama, aku sempat mencari tahu siapa yang membiayai eksperimen gila Hendra di ruko Jalan Sutomo pada tahun 1998," kata Maya. "Hendra bukan cuma seorang teknisi otodidak. Dia punya penyokong dana dan mentor akademik. Dan nama Profesor Bahri tercantum di dokumen catatan laboratorium tua milik Hendra yang kubaca semalam."
Maya mencengkeram kemudi lebih erat.
"Pria tua itu tahu sesuatu tentang asal-usul asli algoritma frekuensi 0000. Kalau kita mau memusnahkan kode pasif yang ada di dalam kotak timbal ini secara permanen, kita butuh informasi dari orang yang ikut merancangnya."
Faris menatap kotak besi timbal yang diletakkan Maya di bawah jok belakang. Di dalam kotak yang kedap sinyal itu, entitas 0000 mungkin sedang tertidur—menunggu celah terkecil dari kelalaian mereka untuk kembali menyebar dan memangsa korban berikutnya di tanah Medan.