Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: PERATURAN BARU BASKARA
Hawa dingin di meja makan utama pagi itu terasa begitu menusuk, jauh lebih membeku daripada udara pendingin ruangan.
Baskara duduk di ujung meja kayu mahoni yang panjang, menyesap kopi hitamnya tanpa bersuara. Di sisi kanan, Arsen duduk mematung dengan seragam sekolah yang sudah terpasang rapi. Sementara itu, Clara berdiri canggung dua langkah di belakang kursi Arsen—menjalankan peran formalnya sebagai asisten, meski tubuhnya masih bergetar halus akibat rasa cemas yang belum surut sejak semalam.
Bi Inah dan beberapa pelayan lainnya melayani sarapan dengan jemari gemetar, tak berani membuat denting sekecil apa pun dari alat makan.
Klek.
Baskara meletakkan cangkir porselennya ke atas tatakan. Suara nyaring itu seketika menghentikan pergerakan semua orang di ruangan.
"Aku sudah memeriksa laporan keuangan mansion dan berkas sekolahmu tadi malam, Arsen," ujar Baskara membuka suara. Nada bicaranya datar, namun sarat akan wibawa yang menindas. "Dan aku menemukan beberapa hal yang sangat tidak masuk akal untuk standar keluarga Baskara."
Arsen tidak menyentuh sarapannya. Manik mata pekatnya menatap sang ayah dengan keheningan yang menantang. "Apa yang tidak masuk akal?"
"Pertama," Baskara melirik tajam ke arah Clara yang berdiri di belakang Arsen, "pelunasan utang sebesar 50 juta untuk keluarga rakyat jelata tanpa jaminan yang jelas."
Clara menahan napasnya, mencengkeram erat map dokumen sekolah Arsen yang dipeluknya di dada.
"Kedua," lanjut Baskara sinis, "status gadis ini. Di berkas, dia terdaftar sebagai asisten pribadi dan pelayan berbayar. Tapi laporan dari pengawal menyebutkan bahwa dia tidur di kamar utama bersamamu setiap malam."
Baskara menyandarkan punggungnya, mengetuk-etuk jemarinya di atas meja. "Keluarga Baskara tidak pernah memelihara pelayan dengan cara yang menjijikkan seperti ini, Arsen. Jika kau butuh wanita untuk memuaskan nafsumu, ada ribuan putri konglomerat yang pantas. Bukan gadis ringkih penderita anemia yang wajahnya membuatku muak."
Brak!
Arsen memukul meja makan dengan telapak tangannya. Piring porselen dan gelas di atas meja bergetar hebat. Arsen berdiri, menatap ayahnya dengan tatapan membunuh yang sangat pekat.
"Jaga ucapan Ayah!" geram Arsen, suaranya rendah dan menggelegar penuh amarah. "Clara bukan wanita seperti yang Ayah pikirkan. Dan aku sudah bilang semalam, dia adalah urusanku!"
"Di dalam rumah ini, semua hal adalah urusanku," balas Baskara penuh dominasi, matanya tak berkedip sedikit pun menghadapi amukan putranya. "Mulai hari ini, aku menetapkan peraturan baru."
Baskara mengarahkan pandangannya langsung pada Clara, membuat gadis itu membeku di tempat.
"Satu, gadis ini tidak lagi diizinkan tidur di kamar utama. Dia harus pindah ke paviliun pelayan di belakang bersama Bi Inah. Dua, tugasnya di sekolah dibatasi—dia tidak boleh mendampingimu saat jam pelajaran luar atau pertemuan antar-pewaris. Dan tiga..." Baskara tersenyum dingin. "...setiap minggu, dia wajib menjalani pemeriksaan medis oleh dokter pribadi keluarga Baskara."
Dada Clara berdesir hebat. Pemeriksaan medis oleh dokter pribadi Baskara? Jika dokter itu memeriksa sampel darahnya secara mendalam, rahasia kondisi tubuhnya—atau bahkan kecocokan darahnya dengan klan Baskara—bisa terbongkar!
"Peraturan Ayah tidak berlaku untukku," potong Arsen cepat. Arsen menyambar pergelangan tangan Clara, menarik gadis itu rapat ke sisinya dalam satu gerakan protektif. "Clara tetap tidur di kamarku. Dia tetap mendampingiku ke mana pun aku pergi. Dan tak ada seorang pun—termasuk dokter kepercayaan Ayah—yang boleh menyentuh jarum suntik ke kulitnya tanpa izin dariku!"
Baskara tertawa terkekeh, menggelengkan kepalanya melihat pertahanan tegar Arsen.
"Kau makin emosional, Arsen. Sikap posesifmu yang berlebihan ini justru makin membuatku penasaran..." Baskara bangkit dari kursinya, merapikan jasnya lalu menatap Arsen dengan pandangan yang sangat berisiko. "Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dari gadis ini? Atau... apa yang kau sembunyikan dariku tentang dirinya?"
Atmosfer ruangan mendadak terkunci rapat. Arsen mengepalkan tangannya begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih, namun ia tidak menjawab.
"Kita lihat seberapa kuat kau bisa menentangku di rumahmu sendiri, Tuan Muda," bisik Baskara sinis sebelum melangkah pergi meninggalkan ruang makan.
Arsen berdiri mematung, dadanya naik turun mengontrol amarah yang hampir meledak. Begitu langkah Baskara menjauh, Arsen langsung berbalik dan merengkuh kedua bahu Clara, menatap mata gadis itu dengan kecemasan yang teramat sangat.
"Kamu tidak akan pindah ke paviliun pelayan. Kamu tetap bersamaku," pangkas Arsen tegas, seolah sedang menenangkan dirinya sendiri. "Ayo berangkat ke sekolah sekarang. Rumah ini sudah tidak aman."