Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Lembar Perjanjian Berdarah
Aula pertemuan di kediaman resmi Duke Killian diselimuti keheningan yang mencekam. Hanya detak jam dinding kuno berornamen emas yang memecah kesunyian, seolah menghitung mundur waktu menuju badai besar yang akan mengguncang Kekaisaran. Di balik meja mahoni panjang yang kokoh, duduk sang tiran berdarah dingin. Sepasang manik mata abu-abu gelap milik Killian menatap lurus, tajam bagai belati, menembus manik mata Elena yang duduk tepat di hadapannya.
Elena menarik napas perlahan, menjaga agar gaun sutra safirnya tidak berdesir dan mengkhianati ketenangan yang susah payah ia bangun. Di kehidupan pertamanya, ia akan gemetar ketakutan menghadapi tatapan intimidasi seperti ini. Namun sekarang, setelah merasakan dinginnya sel penjara bawah tanah dan panasnya kobaran api yang membakar dagingnya, tidak ada lagi rasa takut yang tersisa. Yang ada hanya ambisi membara untuk membalas dendam.
"Kau meminta dukungan militer penuh dari kavaleri bayangan untuk mengamankan wilayah perbatasan barat daya," suara Killian terdengar berat dan datar, namun membawa tekanan magis yang kuat. "Dan sebagai imbalannya, kau menjanjikan jalur distribusi logistik rahasia milik keluarga Marquess yang bahkan tidak diketahui oleh Kaisar sendiri. Begitu, Nona Elena?"
"Benar, Yang Mulia," sahut Elena tanpa ragu sedikit pun. Suaranya terdengar jernih dan tegas di ruangan yang sunyi itu. "Gavin mengira dia telah mengamankan seluruh pasokan persenjataan melalui jalur resmi kekaisaran. Dia tidak tahu bahwa separuh dari tambang besi dan perajin terbaik di perbatasan berada di bawah kendali bayangan keluarga saya. Jika Anda menutup jalur itu, pasukan Gavin di perbatasan akan lumpuh dalam waktu dua minggu tanpa perlu menumpahkan satu tetes darah pun dari pihak Anda."
Killian menyandarkan punggungnya ke kursi besar berbalut kulit serigala. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang alih-alih ramah, justru terlihat mengerikan. "Sebuah rencana yang sangat matang untuk seorang wanita muda yang belum pernah menginjakkan kaki di medan perang. Katakan padaku, Elena... dari mana kau mendapatkan informasi sedetail ini? Bahkan mata-mataku membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk memetakan jalur logistik tersebut."
Elena mengepalkan tangannya di bawah meja, merasakan kuku-kukunya menusuk telapak tangan sendiri. Dari mana aku tahu? Aku tahu karena di kehidupan lalu, aku sendiri yang menyerahkan peta jalur rahasia itu kepada Gavin sebagai hadiah pernikahan kami. Hadiah yang kemudian dia gunakan untuk membantai keluargaku.
Namun, Elena tidak mungkin mengatakan hal itu. Ia menatap balik mata Killian dengan keberanian yang tak tergoyahkan. "Di kekaisaran yang penuh dengan serigala berbulu domba ini, informasi adalah mata uang terbaik untuk bertahan hidup, Duke. Saya hanya memastikan bahwa saya memiliki modal yang cukup sebelum mengetuk pintu Anda."
Killian tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah pena bulu angsa berujung emas, mencelupkannya ke dalam tinta hitam, dan menandatangani dokumen perjanjian aliansi rahasia yang terletak di depannya. Ketukan stempel segel lilin berwarna merah darah milik keluarga Grand Duke menjadi tanda resmi dimulainya aliansi terlarang mereka.
"Perjanjian ini sah," kata Killian sambil menggeser dokumen tersebut ke arah Elena. "Mulai hari ini, kavaleri bayangan adalah perisaimu. Namun ingat satu hal, Nona Muda. Aku tidak suka pengkhianatan. Jika kau berbohong atau mencoba bermain dua kaki dengan suamimu yang naif itu, aku sendiri yang akan memastikan namamu dihapus dari sejarah kekaisaran."
"Anda tidak perlu khawatir, Yang Mulia," Elena mengambil pena dan menorehkan tanda tangannya dengan mantap. "Bagi saya, Gavin bukan lagi seorang suami. Dia hanyalah mangsa yang sedang menunggu waktu untuk dieksekusi."
Setelah pertemuan formal yang menegangkan itu berakhir, Killian meminta Elena untuk menunggunya di rumah kaca halaman belakang ducal, tempat yang dipenuhi oleh bunga mawar hitam langka yang mekar di bawah sinar rembulan malam.
Elena berdiri sendirian di tengah keharuman malam yang pekat, memeluk lengannya sendiri untuk menghalau angin malam yang dingin. Tiba-tiba, sebuah jubah beludru hitam yang hangat dan tebal tersampir di bahunya. Elena terkejut dan langsung berbalik, mendapati Killian sudah berdiri sangat dekat di belakangnya. Kehadiran pria itu begitu mengintimidasi, namun entah mengapa, kehangatan dari jubahnya memberikan rasa aman yang asing bagi Elena.
"Udara malam di perbatasan utara tidak seramah ibu kota, Elena," suara Killian melembut, kehilangan nada dingin yang biasa ia gunakan di ruang pertemuan.
"Terima kasih, Yang Mulia," bisik Elena, menatap sepasang mata abu-abu pria itu yang kini memantulkan cahaya bulan.
Killian melangkah satu genggam lebih dekat. Tangan kekarnya yang dipenuhi kapalan akibat bertahun-tahun memegang pedang terangkat perlahan. Jari telunjuknya yang hangat menyentuh dagu Elena, mengangkat wajah wanita itu dengan lembut agar mata mereka saling bertatapan. Jantung Elena berdegup kencang—bukan karena takut, melainkan karena kedekatan yang begitu intim ini.
"Kau selalu memasang topeng ketangguhan di depan semua orang," kata Killian rendah, tatapannya menyapu setiap inci wajah Elena sebelum berhenti di bibirnya. "Tapi matamu tidak bisa berbohong. Ada luka yang teramat dalam di sana. Katakan padaku, apa yang sebenarnya dilakukan bajingan Gavin itu hingga membuat harimau kecil sepertimu rela bersekutu dengan tiran sepertiku?"
Napas Elena tertahan. Sentuhan tangan Killian di dagunya terasa begitu membakar, meruntuhkan dinding pertahanan yang ia bangun selama ini. Di kehidupan lalu, tidak ada satu orang pun yang peduli pada rasa sakitnya. Namun pria di hadapannya ini, yang dijuluki monster berdarah dingin, justru bisa melihat kerapuhannya.
"Dia... mengambil segalanya dariku, Yang Mulia," suara Elena bergetar menahan luapan emosi yang tiba-tiba mendesak keluar. "Dia menghancurkan hidupku, keluargaku, dan harga diriku."
Killian menatap wanita di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Perlahan, ibu jarinya bergerak mengusap bibir bawah Elena dengan kelembutan yang tak terduga, seolah sedang menenangkan badai di dalam jiwa wanita itu. Elena memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam sentuhan protektif sang Duke.
"Kalau begitu, biarkan aku menjadi pedang yang akan menebas mereka untukmu," bisik Killian tepat di telinga Elena, membuat tengkuk wanita itu meremang. Killian mendekatkan wajahnya, mengecup kening Elena dengan perlahan dan penuh penekanan, sebuah janji tak terucap yang lebih mengikat daripada segel lilin di atas kertas perjanjian mereka. "Gavin tidak akan pernah menyentuhmu lagi. Aku bersumpah."
Saat Killian menjauhkan wajahnya, ada kilatan posesif yang membara di matanya. Elena terpaku, menyadari bahwa hatinya yang mengeras karena dendam, perlahan-lahan mulai retak oleh kehangatan pria berbahaya ini.
Sementara itu, di kediaman megah milik Gavin, atmosfer terasa sangat berbeda. Gavin sedang berdiri di dekat jendela besar ruang kerjanya, menatap taman bunga dengan raut wajah masam. Surat penolakan dari beberapa bangsawan netral menumpuk di atas mejanya. Rencananya untuk menaikkan pengaruh politiknya di dewan kekaisaran perlahan-lahan menemui jalan buntu.
Pintu ruang kerja terbuka tanpa ketukan, dan seorang wanita muda dengan gaun merah muda berenda masuk dengan langkah terburu-buru. Wajahnya yang cantik tampak cemas, kontras dengan penampilannya yang biasanya selalu manja dan tenang. Ia adalah adik tiri Elena.
"Kak Gavin!" seru wanita itu sambil menutup pintu rapat-rapat. "Ada yang tidak beres dengan Elena. Akhir-akhir ini dia sangat sulit ditemui. Setiap kali aku mencoba pergi ke kamarnya atau mengajaknya minum teh, para pelayan selalu mengatakan bahwa dia sedang keluar untuk urusan bisnis keluarga Marquess."
Gavin berbalik, alisnya bertaut erat. "Urusan bisnis? Elena tidak pernah peduli dengan urusan luar. Biasanya dia hanya menghabiskan waktu di perpustakaan atau sibuk mempersiapkan pesta teh untuk mendukungku. Apakah kau yakin dia tidak sedang merencanakan kejutan untukku?"
"Aku serius, Kak!" adik tirinya berjalan mendekat dan menggenggam lengan Gavin dengan erat. "Kemarin malam, aku tidak sengaja melihat kereta kudanya kembali sangat larut. Dan yang lebih mencurigakan, kereta kuda itu tidak memiliki lambang keluarga Marquess, melainkan sebuah kereta hitam polos tanpa atribut. Aku merasa... dia menyembunyikan sesuatu yang besar dari kita."
Gavin terdiam. Kata-kata adik tiri Elena mulai memicu benih-benih kecurigaan di dalam benaknya. Selama ini, ia menganggap Elena sebagai domba penurut yang naif—seorang wanita yang bisa ia manipulasi dengan sedikit kata-kata manis dan perhatian palsu demi mendapatkan harta dan pengaruh keluarganya. Namun, ingatan tentang tatapan dingin Elena beberapa hari lalu saat mereka makan malam bersama membuat Gavin merasa tidak nyaman. Tatapan itu bukan lagi tatapan seorang gadis yang sedang jatuh cinta, melainkan tatapan orang asing yang menyimpan kebencian mendalam.
"Apakah dia tahu tentang... hubungan kita?" tanya Gavin dengan suara berbisik, matanya berkilat waspada.
"Mustahil," jawab adik tiri Elena dengan cepat, meskipun ada sedikit keraguan di matanya. "Kita selalu bertindak sangat rapi. Lagi pula, jika dia tahu, dia pasti sudah menangis histeris atau mengadu kepada ayahnya. Elena yang kita kenal tidak pandai menyembunyikan emosinya."
Gavin mengangguk perlahan, mencoba menenangkan diri sendiri. "Kau benar. Mungkin dia hanya sedang tertekan karena persiapan pernikahan kami yang semakin dekat. Aku akan menemuinya besok dan memastikan semuanya tetap berada di bawah kendaliku. Harta keluarga Marquess harus menjadi milikku sebelum musim dingin tiba."
Di balik pelukan Gavin, adik tiri Elena tersenyum licik. Di dalam hatinya, ia bertekad untuk menyingkirkan Elena secepatnya. Ia tidak akan membiarkan posisi permaisuri jatuh ke tangan kakak tirinya yang bodoh itu.
Keesokan harinya, gerimis tipis membasahi ibu kota kekaisaran. Elena berdiri di balkon kamarnya, memandangi tetesan air yang jatuh di atas dedaunan. Ia memegang sebuah surat kecil bersandi rahasia yang baru saja dikirimkan oleh mata-mata yang ia sewa melalui jaringan Duke Killian.
Surat itu berisi informasi tentang pergerakan Gavin yang mulai mendekati para menteri keuangan kekaisaran untuk mencari pinjaman dana darurat. Tampaknya, krisis finansial yang sengaja diciptakan Elena secara diam-diam di beberapa perusahaan dagang yang didukung Gavin mulai membuahkan hasil. Gavin mulai kehabisan modal untuk membiayai pasukan pribadinya.
"Nona Muda," suara pelayan setianya, Mary, terdengar dari ambang pintu. "Tuan Muda Gavin datang berkunjung. Beliau saat ini sedang menunggu Anda di ruang tamu utama."
Elena tidak terkejut. Ia justru tersenyum tipis. Singa yang kelaparan akhirnya datang mencari umpan, pikirnya.
"Baiklah, Mary. Tolong siapkan teh hitam terbaik kita. Dan ingat, masukkan ramuan penenang dosis ringan yang biasa kita beli dari tabib perbatasan ke dalam cangkir Gavin," perintah Elena dengan nada suara yang teramat tenang, seolah sedang memesan hidangan biasa.
"Dimengerti, Nona," Mary membungkuk hormat lalu segera pergi melaksanakan tugasnya. Mary adalah satu-satunya orang di kediaman ini yang tahu persis penderitaan Elena, dan kesetiaannya kepada Elena tidak perlu diragukan lagi.
Elena berjalan menuju cermin besar di sudut kamarnya. Ia menatap pantulan dirinya. Wajahnya tampak pucat namun memancarkan aura ketegasan yang luar biasa. Ia merapikan gaunnya, memastikan tidak ada cela sedikit pun. Pertunjukan yang sesungguhnya akan segera dimulai, dan ia harus memainkan perannya sebagai "Nona Muda yang naif dan penuh cinta" untuk terakhir kalinya sebelum menjatuhkan jaring jebakan yang mematikan.
Saat melangkah masuk ke ruang tamu, Elena langsung disambut oleh senyuman hangat milik Gavin. Pria itu berdiri dan berjalan mendekatinya dengan tangan terbuka, seolah-olah dia adalah pria paling penyayang di seluruh dunia.
"Elena, sayangku," kata Gavin dengan suara yang lembut dan penuh kerinduan buatan. "Maafkan aku karena baru bisa mengunjungimu sekarang. Tugas-tugas di istana sangat menyita waktuku akhir-akhir ini."
Elena menahan rasa mual yang bergejolak di dadanya saat Gavin menyentuh jemarinya. Sentuhan Gavin terasa hambar dan memuakkan, sangat berbeda dengan getaran intens yang ia rasakan dari Killian semalam. Namun, Elena membalas senyuman itu dengan senyuman yang tak kalah manis, senyuman yang dulu selalu berhasil mengecoh Gavin.
"Tidak apa-apa, Kak Gavin. Aku tahu betapa beratnya tugas yang kau pikul demi masa depan kita," ucap Elena dengan nada manja yang dibuat-buat. "Aku justru khawatir melihat wajahmu yang tampak lelah. Duduklah, aku telah meminta Mary menyajikan teh terbaik untukmu."
Gavin merasa lega melihat respons Elena yang masih sama seperti biasanya. Kecurigaan yang sempat ditiupkan oleh adik tiri Elena semalam seketika menguap. Pria itu duduk dengan santai, meminim teh yang disajikan tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun bahwa setiap sesapan teh itu perlahan-lapan akan melemahkan kewaspadaannya.
Mereka berbincang tentang hal-hal ringan, tentang persiapan pernikahan dan dekorasi aula pesta. Namun, di tengah percakapan, Gavin mulai mengarahkan pembicaraan ke tujuan utamanya.
"Elena... sebenarnya, ada sedikit masalah yang sedang kuhadapi," Gavin memasang raut wajah cemas yang sangat meyakinkan. "Beberapa proyek pembangunan di perbatasan mengalami keterlambatan dana dari pihak istana. Jika hal ini terus berlanjut, posisiku di depan Kaisar bisa terancam. Apakah... apakah kau bisa meminjamkan sebagian dana dari kas cadangan keluarga Marquess untuk sementara waktu?"
Elena menatap cangkir tehnya, menyembunyikan kilatan kepuasan di matanya. Di kehidupan lalu, saat Gavin meminta hal ini, Elena langsung memberikan seluruh kunci brankas keluarganya tanpa berpikir panjang. Akibatnya, keluarganya bangkrut dan tidak memiliki kekuatan finansial saat Gavin berbalik menyerang mereka.
Kali ini, jalurnya akan berbeda.
Elena mengangkat wajahnya, menatap Gavin dengan mata yang berkaca-kaca, penuh dengan keprihatinan yang palsu. "Tentu saja, Kak Gavin. Aku pasti akan membantumu. Namun, kau tahu sendiri bahwa Ayah sekarang sangat ketat dalam mengawasi keluar masuknya dana keluarga sejak beberapa bisnis kita merugi."
Gavin menahan napas, menunggu kelanjutan kalimat Elena.
"Tapi jangan khawatir," lanjut Elena sambil menggenggam tangan Gavin secara meyakinkan. "Aku tahu ada satu cara. Ayah memiliki sebuah dokumen obligasi kuno bernilai tinggi yang disimpan di perpustakaan rahasia. Jika kau bisa menandatangani surat jaminan aliansi militer dengan wilayah barat daya atas namamu sendiri, aku bisa menggunakan surat itu sebagai alasan kepada Ayah untuk mencairkan dananya."
Gavin tertegun. Menandatangani surat jaminan militer atas namanya sendiri di wilayah barat daya? Itu adalah wilayah kekuasaan Duke Killian, sang tiran. Jika Gavin menandatangani dokumen itu, artinya ia menjebloskan dirinya sendiri ke dalam jerat politik hukum yang sangat berbahaya. Namun, ingatan akan kehangatan dana segar dan efek obat penenang dosis ringan yang mulai mengaburkan logikanya membuat keserakahan Gavin menang.
"Apakah itu aman, Elena?" tanya Gavin, mencoba memastikan.
"Tentu saja aman, Kak Gavin. Ini hanya prosedur formalitas agar Ayah percaya bahwa dana tersebut digunakan untuk urusan strategis kekaisaran yang sah," jawab Elena dengan suara selembut sutra, meyakinkan sang mangsa untuk melangkah lebih dalam ke dalam jurang yang telah ia gali bersama Duke Killian.
Gavin terdiam sejenak, menatap mata Elena yang tampak bersih tanpa dusta. Akhirnya, dengan keserakahan yang membutakan mata hatinya, Gavin mengangguk. "Baiklah, Elena. Siapkan dokumennya. Aku akan menandatanganinya demi masa depan kita bersama."
Elena tersenyum sangat lebar—sebuah senyuman kemenangan yang sesungguhnya. Ya, Gavin. Demi masa depan kita bersama... masa depan di mana aku akan menyeretmu ke neraka yang paling dalam, sementara aku berdiri di samping pria yang benar-benar bisa melindungiku.