NovelToon NovelToon
PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

PRADA TRACE : Melacak Jejak Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / TKP
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Pradipta mendirikan divisi PRADA TRACE. Dia menerima klien yang ingin mencari anggota keluarga, teman, atau kerabat yang hilang. Pradipta bekerja sama dengan Gilang dalam menjalankan PRADA TRACE.

Namun setiap kasus yang mereka dapat, selalu menuntun mereka ke sebuah misteri yang harus dipecahkan.

Terkadang, orang yang mereka cari sudah menjadi arwah. Gilang pun harus menggunakan kemampuannya untuk menemukan jejak arwah dibantu oleh Prisa dan Jung Kook.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sikap Mencurigakan Yanto

“AAAA!!!” Karena terkejut, Prisa ikut berteriak. Melihat Prisa berteriak, Arga melanjutkan teriakannya. Jung Kook hanya bisa menutup kedua telinganya.

Gilang yang mendengar teriakan dari arah halaman belakang bergegas ke sana. Dia menoleh ke kanan dan kiri, kemudian mendongak ke atas.

Dia dapat melihat tiga makhluk astral yang berada di atas pohon. Dua di antaranya adalah Prisa dan Jung Kook.

“Heh! Prisa! Lo ngapain teriak-teriak? Berisik tahu!” sentak Gilang sambil bertolak pinggang.

Prisa dan Arga langsung menghentikan teriakan mereka begitu mendengar suara Gilang. Jung Kook segera turun. Sementara itu, Prisa masih di atas bersama Arga.

“Ayo turun,” ajak Prisa.

“Nggak mau. Aku takut sama dia. Dia bisa lihat aku. Nanti aku diusir pergi. Aku belum mau pergi kalau pembunuhku belum ditangkap dan ditahan.”

“Tenang aja. Dia ke sini bukan buat ngusir kamu, tapi mau nemuin kamu. Sebenarnya kita ke sini emang nyariin kamu. Kita disewa Indri buat cari kamu.”

“Indri,” gumam Arga. Mata hantu pria itu berkaca-kaca saat mengingat kekasihnya. “Apa Indri baik-baik aja?”

“Iya, dia baik. Mending kita turun dulu, terus ngobrol sama dia. Namanya Gilang, orangnya baik.”

Setelah dibujuk Prisa, akhirnya Arga bersedia turun. Kini ketiga makhluk astral itu berdiri di hadapan Gilang.

“Kamu pasti Arga,” terka Gilang. Meski wajahnya dipenuhi darah dan memar, Gilang masih bisa mengenalinya.

“Iya. Katanya kamu ke sini nyari aku disuruh Indri?” tanya Arga.

“Iya. Dia nyariin kamu. Dia sampai kabur dari rumah.”

“Hah? Kabur dari rumah? Tapi dia baik-baik aja, kan?” tanya Arga cemas.

“Lo cinta banget, ya, sama Indri. Udah jadi arwah, masih aja perhatian sama dia.”

Arga hanya mengangguk. Dia memang sangat mencintai Indri. Di balik sikapnya yang kekanakan dan keras kepala,

Indri sebenarnya perempuan yang baik. Dia mau saja berpacaran dengan Arga yang hanya pegawai rendahan di hotel milik ayahnya.

Selain itu, Indri juga tidak pernah sungkan atau malu memperkenalkan Arga sebagai pacarnya kepada teman-temannya.

Di mata Indri, Arga adalah pria hebat. Meski yatim piatu, kekasihnya itu tetap bisa menghidupi dirinya sendiri lewat kerja kerasnya.

“Tenang aja, keadaan Indri baik, kok. Sekarang dia ada di rumah Bang Dipta. Dia nyariin kamu keliling Bandung.”

“Kasihan Indri. Tapi dia belum tahu, kan, kalau aku sudah meninggal?”

“Belum. Dia itu orangnya impulsif. Kalau gue kasih tahu lo udah meninggoy, gue nggak tahu reaksinya gimana. Kalau dia tiba-tiba bundir, kan repot ke guenya.”

“Tolong rahasiakan ini darinya. Aku nggak mau lihat dia sedih.”

“Dia harus tahu. Tapi gue juga mau cari waktu yang tepat buat kasih tahu dia. Sekarang, coba lo ceritain gimana lo bisa berakhir di sini.”

Gilang berjalan menuju kursi yang ada di halaman belakang, lalu mendaratkan bokongnya di sana. Pegal juga kalau harus mendengar cerita Arga sambil berdiri.

Sementara itu, Yanto baru saja tiba. Pria itu datang membawa bungkusan berisi nasi pesanan Pradipta. Dia juga berinisiatif membelikan air mineral untuk penyewa vila tersebut.

Pradipta memilih mengajak bicara Yanto. Dia ingin mengorek informasi dari penjaga vila tersebut.

“Yang sering sewa di sini banyak, Pak?” tanya Pradipta.

“Kadang-kadang aja. Paling ramai kalau pas musim liburan. Kalau hari biasa kayak sekarang sih, paling satu atau dua aja.”

“Tapi vilanya bersih ya, Pak? Kayaknya tiap hari dibersihin.”

“Iya, Pak. Perintah dari yang punya. Minimal seminggu dua kali dibersihin. Ngomong-ngomong, temannya mana, Mas?”

“Tuh di halaman belakang,” jawab Pradipta seraya menunjuk Gilang.

Mata Yanto mengikuti arah jari Pradipta. Kening pria itu berkerut saat melihat Gilang seperti berbicara dengan seseorang. Namun, tidak ada siapa pun di dekat pria itu.

“Itu temannya lagi ngomong sama siapa, Mas?”

“Dia itu indigo, Pak. Mungkin lagi ngomong sama penunggu vila ini. Selain bisa melihat, dia juga bisa berkomunikasi dengan makhluk astral.”

Yanto mengangguk-angguk saja. Namun, kemudian wajahnya menegang. Seperti ada hal yang mengganggunya. Melihat reaksi Yanto, tentu saja membuat Pradipta curiga.

“Di vila ini banyak setannya nggak, Pak?” tanya Pradipta.

“Nggak tahu, Mas. Tapi setahu saya nggak ada sih. Soalnya semua tamu yang nginap nggak pernah ngeluh apa-apa.”

“Tapi itu buktinya si Gilang lagi ngobrol. Berarti ada hantu di sini, Pak. Apa jangan-jangan tanah vila ini bekas kuburan?”

“Eh, jangan sembarangan, Mas. Dulunya ini kebun, dibeli Pak Cahyo dan dibangun vila.”

“Siapa tahu ada yang pernah bundir di sini,” ujar Pradipta lagi. Dia terus memancing Yanto. Pria itu merasa Yanto mengetahui sesuatu.

“Mana ada, Mas. Di sini tuh aman. Nggak pernah ada kejadian apa-apa.”

“Syukur deh. Soalnya saya takut sama hantu. Untung ada Gilang yang bisa nolongin saya kalau diganggu hantu.”

“S-Saya pergi dulu, ya, Mas.” Yanto segera bangkit. Dia ingin segera meninggalkan vila.

“Eh bentar, Pak. Rumah Bapak di mana? Kali aja saya butuh sesuatu.”

“Rumah saya sekitar tiga ratus meter dari sini. Tanyain aja sama orang-orang di sana, di mana rumah Yanto yang jaga vila. Pasti nanti dikasih tahu.”

“Oke deh, Pak.”

Tanpa berlama-lama, Yanto segera meninggalkan vila. Sesekali dia melihat ke arah Gilang yang masih berada di halaman belakang. Setelah Yanto pergi, Pradipta segera memanggil Gilang.

“Ada apa, Bang?” tanya Gilang yang langsung mendekat setelah dipanggil.

“Lo lagi ngobrol sama siapa?” tanya Pradipta.

“Sama Arga,” jawab Gilang seraya duduk di hadapan Pradipta.

“Oh… udah ketemu.”

“Udah. Tuh, dia lagi berdiri di sebelah Abang.”

“Eh buset!” Seketika Pradipta bangkit lalu berpindah ke samping Gilang.

Gilang hanya tertawa melihat reaksi Pradipta. Pria itu sampai sekarang masih saja takut dengan hantu dan makhluk sejenisnya.

“Bilangin sama Prisa atau Jung Kook buat ngikutin Pak Yanto. Cari tahu rumahnya di mana.”

Gilang hanya melihat saja pada Jung Kook dan Prisa. Tanpa harus diperintah, kedua makhluk astral itu langsung menghilang.

“Gue curiga kalau Pak Yanto tahu sesuatu,” ujar Pradipta.

“Tahu sesuatu apa, Bang?”

“Dia tahu kalau Bimo ngebunuh Arga di sini. Si Arga bilang apa sama elo?”

“Dia bilang kalau dia dibunuh di sini. Dia dihajar sama Bimo. Tapi Arga sempat melawan. Tapi tiga teman Bimo bantu ngeroyok dia. Akhirnya dia keteteran juga. Si Bimo mukul kepalanya pakai sesuatu, katanya.”

“Fix, yang dipakai itu patung singa kilin.”

“Nah, benar tuh, Bang.”

“Gue yakin banget kalau Yanto tahu sesuatu. Bisa jadi dia yang bantu bersihin noda darah di sini. Si Bimo pasti nggak mau lakuin itu sendirian.”

“Ehm… bisa jadi sih, Bang. Terus gimana?”

“Lo kirimin dulu foto-foto yang kita ambil tadi ke Nino. Terus bilang kalau penjaga vila ini kayaknya tahu sesuatu. Jadi nanti bisa diinterogasi.”

“Oke, Bang.”

Gilang mengatakan bahwa dirinya dan Pradipta sudah berada di vila. Dia juga mengirimkan foto noda darah yang ditemukan. Selain itu, Gilang juga mengabarkan bahwa penjaga vila sepertinya tahu tentang kejadian malam itu.

Setelah mengirimkan pesan, Gilang langsung menyantap makanannya. Cacing di perutnya sudah berdemo sejak tadi.

***

Setelah mendapatkan laporan kehilangan Arga dan rekaman CCTV dari Gilang, Nino dan Asep langsung bergerak. Mereka segera memanggil Bimo untuk dimintai keterangan sebagai saksi atas menghilangnya Arga.

Panggilan ini tentu saja mengejutkan Bimo. Pria itu langsung mengadu kepada ayahnya. Awalnya Bimo tidak mau datang, tetapi Cahyo meminta anaknya datang. Jika Bimo mangkir dari panggilan, hal ini justru akan membuat polisi curiga.

Akhirnya Bimo setuju untuk datang. Pria itu mendatangi kantor Polda ditemani salah satu pengacara senior yang merupakan teman Cahyo.

Keduanya segera dipersilakan masuk ke ruang interogasi. Pablo, pengacara Bimo, ikut masuk ke dalam ruangan. “Ingat, jangan jawab apa pun tanpa persetujuan dariku,” bisik Pablo.

Baru saja Pablo selesai berbicara, pintu ruangan terbuka. Nino masuk lalu duduk di hadapan Pablo dan Bimo seraya meletakkan laptop di meja.

“Saudara Bimo, apa Anda mengenal Arga Kinanta?” tanya Nino tanpa basa-basi.

***

Repot kalau gini mah

1
Ani
kira kira jung kook dan Prisa bisa bantu Dipta gak ya.. gawat nih
Safitri Agus
top markotop 👍👍👍
Safitri Agus
bikin mata Giana ternodai 🤭
Safitri Agus
dasar b4ngs4t kau Ruben
Safitri Agus
nama organisasinya aja kembang malam, dengerinnya dah nethink aja
tehNci
Saatnya Jung kook dan Prisa muncul buat bantuin Pradipta, Giana dan Gilang.
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
panggil pasukan tak kasat mata
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
mini loh gilang🤣🤣
tehNci
Emak bapaknya pecinta duit, makanya dikasih nama Artos 😂
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
lahhh, ternyata dia si rudal mini 🤣🤣🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: eh bukan ternyata🤭🤭
total 1 replies
Sari Hastuti
aduh jadi serem gini y
dewi rofiqoh
Waduh... Ternyata benar mereka sindikat perdagangan manusia. Bahaya ini... Semoga dipta melawan mereka dan segera datang bala bantuan
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🤎⃟dí́ժαհᄂ⃟ᙚ🥑⃟𝐐⃟❦♬⃝❤
wadduhh ..apa Dipta bisa lawan preman² itu ?
mana bawa alat pentungan lg...
apa Dipta bisa gelud gk ya....
iii jd khawatir deh ....
aaiihh semoga saja mereka di lindungi yg Maha segalanya..aamiin yaa rabbal 'alaamiin 🤲🏻
vania larasati
lanjut kak
Ria alia
Apa rencana’y ketahuan ?🤔
Semoga prisa n c jong kook bisa lindungi kamu ya giana
Febri Nayu
ahqam celuk en dip
ardiani rosanti
wah...kyknya leya ini jodoh si Gilang wkwkwk
biar anteng itu mulutnya Gilang KLO kena leya, giana ttp jadi jodohnya bang Dipta aja, udah klik itu kyknya 🤣🤣🤣
Febri Nayu
kok isooo wkwkwkwk

Yo Wedi Yo ngakak Moco ne
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
👍🏻👍🏻👍🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!