NovelToon NovelToon
Unit Kosong

Unit Kosong

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Rumahhantu / Iblis
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Cerita bergenre Horor dan Misteri yang mengungkap rahasia kelam pembantaian korban penghuni apartemen oleh penguasa. Meski terinspirasi berdasarkan kisah nyata, tapi termasuk Fiksi karena banyak tambahan yang dimasukkan ke dalam cerita.

SINOPSIS: Bagas bersama timnya pergi dari Jakarta ke Bandung untuk bertemu investor yang akan membiayai project film mereka. Tapi siapa sangka kalau mereka justru dipesankan unit apartemen yang berhantu. Bangunan terbengkalai yang mangkrak karena wabah covid-19.

Meskipun sudah diminta pindah, Jefry yang merupakan leader tim justru menolak. Ia menganggap bahwa ini kesempatan untuk mendapat ide cerita horor dari kisah nyata. Sedangkan Bagas tidak bisa menolak keputusan leadernya itu.

Mereka pun harus menghadapi teror demi teror yang semakin hari, semakin membahayakan. Tapi di balik bahaya tersebut, membuat Jefry semakin bersemangat dan penasaran akhir yang akan mereka lalui ke depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24: Mulai Mendesak Jefry

Aku masuk ke dalam kamar utama, menyusul Jefry yang baru saja membawa Shinta. Di lantai sudah berhamburan tisu-tisu yang kini tidak lagi berwarna putih susu, tapi merah.

Tisu itu digunakan Jefry untuk mengelap darah Shinta.

“Gas! Mana Hendra?” tanyanya dengan setengah berteriak.

“Nggak tau, Bang. Gua dah coba bangunin daritadi tapi..” ujarku terpotong karena melihat Jefry berlari mendekat ke arahku.

Aku yang berdiri di sela pintu hampir tertabrak olehnya.

“Lo jagain Shinta,” ucapnya yang langsung berjalan ke arah kamar Hendra.

Dari dalam kamar, tepat di sebelah Shinta, aku mendengar Jefry melakukan hal sama seperti yang sudah kulakukan sebelumnya.

Mengetuk, menggedor, memanggil nama Hendra.

Tapi kemudian, Brak!

Terdengar suara keras seperti pintu didobrak.

Brakkk..! Takkh..!

Suara yang lebih keras dengan bunyi besi patah.

Aku langsung meninggalkan Shinta sebentar. Penasaran ingin melihat apa yang dilakukan Jefry.

Sesuai dengan dugaanku. Ia mendobrak pintu kamar Hendra hingga rusak. Ia langsung membangunkan Hendra, masih tertidur pulas.

“Bro, bangun! Bantu Shinta!” teriaknya

Aku kembali ke Shinta. Darah masih mengalir dari kedua hidungnya. Dengan cepat, aku langsung mengusap dengan tisu.

Disini aku bahkan menyumbat lubang hidung dengan tisu yang sedikit diremas. Shinta terbujur lemah, matanya tertutup tapi dengan alis mengernyit.

Dari ekspresi yang terlihat, aku menyadari bahwa Shinta tidak pingsan sepenuhnya. Ia seperti merasa kesakitan luar biasa, namun tidak bisa berbuat apa-apa.

Tak lama mereka berdua datang, panik.

Tentu saja Hendra masih bingung dengan apa yang sedang terjadi.

“Shinta kenapa, Gas?” tanyanya polos, meski sudah mulai menyadari situasi sedang genting.

Aku menggelengkan kepala sambil mundur, memberi posisi agar Hendra bergeser lebih dekat.

“Tolong Shinta, bro,” pinta Jefry memohon.

Sempat bingung, Hendra kemudian menadahkan kedua tangannya. Mulai berdoa.

Kami hanya memperhatikan. Jefry kemudian menggenggam kedua tangannya. Aku mendengar ia berbicara pelan, “Tuhan Yesus, Engkaulah sumber pertolongan, aku berseru kepada-Mu. Dalam nama Yesus, aku berdoa.”

Sesaat aku justru merasa yang paling tidak berguna. Aku hanya diam, tidak melakukan apa-apa. Apakah aku masih memiliki keyakinan terhadap Tuhan?

Tapi pikiran itu hanya terbesit sebentar. Aku kembali melihat Hendra, masih melafalkan sejumlah surat. Ia kemudian mengambil sebotol air mineral yang ada di samping ranjang.

Membuka tutupnya, lalu membacakan sesuatu. Aku yakin itu merupakan ayat-ayat doa.

Selesai membaca, Hendra menuangkan sedikit air ke telapak tangan kanan, membasuh wajah Shinta.

Tidak ada perubahan berarti. Ia kembali melakukan bahkan sampai tujuh kali.

Aku mulai melihat ada perbedaan dari kondisi Shinta yang sebelumnya berekspresi seperti sedang kesakitan. Alis tak lagi mengernyit.

Wajahnya mulai tenang.

Hendra melepaskan perlahan tisu yang masih menempel pada hidung Shinta. Tidak ada lagi darah. Semua seperti terhenti begitu saja layaknya kran tertutup rapat.

“Gimana, bro?” tanya Jefry mendekat.

Bukan langsung menjawab, Hendra masih mempertanyakan tentang apa yang sedang terjadi, “Ini ada apa sih?”

“Kalian ngapain?” keluhnya sambil berdiri, menatap tajam ke arahku dan Jefry.

Aku hanya diam, sedangkan Jefry juga tidak bisa menjawab pertanyaan Hendra tersebut.

Melihat kondisi Shinta yang sangat memprihatinkan. Aku tidak tahan lagi. Kami bertiga kumpul di ruang tengah.

“Gimana, Bang? Udah puas lo ngeliat Shinta begitu?” suaraku bergetar menahan amarah. “Shinta kayak gitu pasti gara-gara lo! Gara-gara ulah lo!”

Jefry berdecak pelan. “Jangan lebay, Gas. Gua nggak percaya kita kalah.” Ia masih tidak bergeming, “Kita harus bertahan sekarang. Di sini cuma masalah mental aja, kita nggak boleh terpengaruh.”

“Astaga, Bang. Lo mau nunggu sampe gimana sih?” kataku tidak habis pikir dengan sikapnya tak juga berubah. “Lo nggak kasihan sama Shinta? Kondisinya udah kayak gini.”

Aku minta bantuan Hendra untuk meyakinkan Jefry bahwa kami tidak boleh menganggap remeh masalah ini.

Hendra akhirnya bersuara, bernada tegas. “Bang, kayaknya ini serius deh. Lo nggak bisa lagi nganggep ini cuma eksperimen cerita. Lo lihat sendiri tadi gimana kondisi Shinta.”

Jefry menghela nafas panjang, seakan kami ini anak kecil yang merengek.

“Denger ya,” katanya pelan, dingin. “Arwah itu nggak bisa nyerang manusia. Apalagi secara fisik, nggak akan bisa. Yang Shinta alami itu psikosomatis, tekanan mental. Dia overthinking, makanya jadi begitu.”

Aku mendengus tak percaya karena Jefry masih berlagak seperti orang pintar mengetahui segalanya.

“Ya udah, tapi gua nggak tanggungjawab ya kalo Shinta ada apa-apa.”

“Lo kok ngomong gitu, Gas? Lo jangan doain yang nggak baik dong!” Jefry mendadak marah.

Hendra melerai perdebatan kami. Tapi juga tidak bisa memberikan solusi apapun.

Aku tidak pernah sekesal ini. Padahal kalau dipikir, aku hanya minta agar Jefry tidak memperburuk keadaan. Aku hanya berharap ia bisa mengerti bahwa permasalahan yang sedang kami hadapi bukanlah hal sepele.

Merasa belum selesai, Jefry kembali menatapku. “Kita semua disini udah sepakat, mau bareng-bareng. Dari Jakarta, gua juga nggak pernah maksa lo buat ikut. Kalo jadinya kayak gini, ya kita harus bareng lah. Jangan egois!”

“Gua udah banyak berkorban buat kita bisa sampai di sini. Jadi jangan seenaknya lo hancurin gitu aja,” hardiknya.

“Bang!” suaraku meninggi. “Lo nggak inget? Niat kita awalnya ke Bandung buat pitching film. Lo butuh gua buat siapin semua kebutuhan. Mulai dari kurasi cerita, pemilihan cast, sampai buat deck dan lain-lain.”

Saat ingin berkata lebih lanjut, aku sadar tidak seharusnya mengungkit masa lalu, mungkin akan menyinggung, memperburuk suasana. Hatiku masih berusaha menahan kalimat yang sudah ada di ujung lidah.

Ruangan mendadak terasa dingin karena muncul hembusan angin entah dari mana.

Lalu terdengar bunyi hebat.

“Gedumbrang!!!”

Suara dari ruang kitchen set, letaknya berada di sebelah pintu kamar utama.

Kami serempak menoleh.

Gelas dan piring di rak terlempar ke lantai sehingga pecah semua. Begitu juga dengan sendok garpu, jatuh berhamburan.

Tak tahu apa yang telah terjadi, kami hanya diam saling tatap satu sama lain.

Secara spontan, bibir Hendra mulai mengucapkan sesuatu, panjang. Ia seperti membaca doa.

Lalu, sesuatu yang lebih buruk telah menanti. Pintu kamar utama terbuka.

Shinta keluar dengan lunglai, matanya jelas menatap ke arahku. Kosong tapi seakan berbicara, menyerang mentalku secara nyata.

“Dek?” sahut Jefry menyapa dari jauh. Ia ingin berjalan mendekat, tapi tidak jadi karena melihat banyak pecahan kaca berhamburan di lantai.

Aku mengira kalau Shinta terbangun karena bunyi keras yang baru saja terjadi.

Tanpa diduga, Shinta berjalan keluar. Tapi cara jalannya berbeda.

“Dek, awas ada banyak beling. Lo diam aja di situ, biar dibersihin dulu,” ucap Jefry.

Hendra masih di tempatnya, terus membaca doa, bahkan kini lebih keras hingga aku bisa mendengar lafaz berbahasa arab dari mulutnya.

Shinta terus berjalan. Tidak menghiraukan ucapan Jefry.

“Dek! Stop!” teriak Jefry panik.

Tapi ia melangkah begitu saja. Kakinya menginjak serpihan kaca tajam. Aku melihat jelas, pecahan itu masuk ke kulit telapak kakinya.

Darah langsung mengalir, membasahi lantai. Menggambar jejak merah.

“Astaghfirullahal’adzim!” Hendra mengucap istighfar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!