NovelToon NovelToon
Bulan Merah Dari Timur

Bulan Merah Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:446
Nilai: 5
Nama Author: Biruwarna

Ketika bulan merah muncul di langit Timur, dua saudara kembar terlahir kembali membawa kekuatan yang seharusnya tidak pernah kembali ke dunia.

Yang satu dingin dan lebih suka diam. Yang satunya galak, mageran, sombong seenaknya, dan paling malas menunjukkan kekuatannya—sampai-sampai orang di sekitarnya sering dibuat tepok jidat. Namun di balik sikap mereka yang menyebalkan, keduanya menyimpan hati yang jauh lebih baik daripada yang terlihat.

Di tengah kerajaan yang dipenuhi keindahan, sihir, dan makhluk-makhluk gaib, kemunculan mereka perlahan membangunkan sesuatu yang telah lama tertidur.

Sebab kelahiran kembali mereka bukanlah kebetulan.

Dan ketika bulan merah kembali bersinar, kekacauan dari masa lalu mulai menagih sesuatu yang pernah hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biruwarna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12 : Musim Gugur Sakura

BTAK! BTAK! BTAK!

Suara sabetan sapu lidi yang menghantam lantai marmer Balai Pendisiplinan bergema nyaring, memecah keheningan pagi. Ratusan murid divisi luar dan puluhan senior berdiri berbaris rapi dalam formasi melingkar. Tak ada satu pun yang berani bernapas terlalu keras.

Di tengah lingkaran itu, Shen Yuan dan Shen Rui berlutut dengan kedua telinga yang sudah ditarik melar hingga memerah seperti kepiting rebus. Di belakang mereka, Lin Yue dan ketujuh bidadari Asrama Selatan ikut berlutut sambil menundukkan kepala dalam-dalam, merutuki nasib sial mereka.

"TIKUS-TIKUS KECIL TAK TAHU DIUNTUNG!"

Raungan Tetua Pertama nyaris membuat genteng Balai Pendisiplinan rontok. Pria tua itu mondar-mandir dengan wajah semerah darah, menggenggam seikat sapu lidi yang auranya seakan memancarkan niat membunuh. Di sudut ruangan, Xiao Cui sang pelayan dapur berdiri gemetar sambil meremas ujung celemeknya, tak berani menatap dua pemuda yang baru saja ia adukan.

"Pelayan Xiao Cui sudah menceritakan semuanya!" bentak Tetua Pertama, urat di lehernya menonjol keras. "Kalian menyusup ke dalam kereta gandum! Merangkak keluar di tengah pasar seperti gembel! Dan yang paling membuatku ingin memuntahkan darah... kalian membawa DELAPAN MURID PEREMPUAN?! Apa kalian pikir Perguruan Cang Yue ini adalah biro jodoh?!"

Yui, yang dasarnya tidak punya urat takut, menegakkan punggungnya. Dengan wajah sok suci dan penuh pencerahan, ia menatap sang Tetua.

"Tetua yang bijaksana, mohon dengarkan penjelasan hamba yang penuh logika ini," ucap Yui lancar, membuat Yuan di sebelahnya langsung memejamkan mata memohon ampunan pada langit. "Kami tidak kabur untuk bersenang-senang. Ini adalah murni misi pengawalan rahasia! Hutan di bawah sana dipenuhi preman. Sebagai pria sejati, saya dan Kak Yuan merasa bertanggung jawab atas keselamatan Kakak Xiao Cui. Dan mengenai para Nona ini..." Yui melirik ke belakang, mengedipkan mata pada Su Yin yang langsung menunduk malu. "...mereka sedang melakukan studi lapangan tentang fluktuasi Qi di tengah keramaian fana. Benar kan, Kakak-kakak?"

BTAK!

Sapu lidi itu mendarat mulus di puncak kepala Yui.

"ADUH! Ampun, Tetua! Rambutku bisa rontok!" jerit Yui, memegangi kepalanya yang benjol.

"Studi lapangan matamu! Kau pikir aku bodoh, Shen Rui?!" raung Tetua Pertama, ludahnya nyaris menyembur. Ia membungkuk, menatap tajam kedua saudara kembar itu. "Kalian berdua adalah aib terbesar divisi luar! Karena hukuman spiritual tidak mempan untuk kulit tebal kalian, aku akan menggunakan cara manusia biasa! Hukuman fisik! Kalian berdua akan membersihkan sepuluh hektar Ladang Ginseng Spiritual dengan tangan kosong! Dan jika ada satu saja akar ginseng yang patah..."

Tetua Pertama menyeringai mengerikan. "...Aku akan mengirim surat menggunakan gagak roh ke desa kalian! Aku akan menyuruh orang tua kalian datang ke mari untuk melihat sendiri betapa rusaknya kelakuan anak mereka!"

Mendengar ancaman itu, jantung Yuan dan Yui seakan berhenti berdetak. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur di pelipis mereka.

Menyuruh orang tua mereka datang? Memanggil Raja Shen Tianyi dan Ratu Bai Luoxue ke perguruan pinggiran ini?! Jika ayah mereka yang arogan dan penuh kuasa itu benar-benar turun tangan, bukan hanya Tetua Pertama yang akan pingsan berbusa, tapi seluruh perguruan ini bisa diratakan dengan tanah karena berani menghukum Putra Mahkota!

"T-tidak perlu repot-repot, Tetua!" sergah Yuan cepat, suaranya sedikit panik namun ditutupi dengan nada tegas. "Orang tua kami sangat miskin dan sibuk bertani. Biar kami saja yang menanggung hukuman ini. Kami akan membersihkan ladang itu sampai mengkilap!"

Tetua Pertama mendengus kasar, membuang sapu lidinya. "Bagus! Mulai sekarang! Dan kalian para perempuan, salin kitab aturan sekte lima ratus kali!"

---

Matahari bersinar sangat terik di atas hamparan Ladang Ginseng Spiritual. Bau tanah dan herba menyengat hidung.

Yuan mengayunkan cangkul kayunya dengan tenaga dalam, mencabut rumput liar dengan wajah berlipat ganda kusutnya. Di dalam kepalanya, bayangan siluman serigala raksasa tadi malam masih menghantuinya. Identitas mereka terancam, dunia dalam bahaya, namun di sinilah ia sekarang berkeringat mencabuti rumput.

Dan yang membuat Yuan semakin ingin meledak adalah pemandangan di sebelahnya.

Shen Rui sama sekali tidak memegang cangkul. Pemuda itu justru sedang duduk bersandar di bawah bayangan pohon besar. Telapak tangannya memancarkan pendar biru es, menciptakan sebuah balok es besar yang ia gunakan sebagai kipas angin spiritual. Hawa dingin berhembus menyejukkan wajahnya, sementara mulutnya mengunyah sisa manisan plum dari semalam.

"Yui..." geram Yuan, mencengkeram gagang cangkul hingga berderak. "Apa kau tidak punya niat sedikit pun untuk membantuku? Kita dihukum karena mulut manismu yang menggoda anak-anak perempuan itu!"

"Hei, jangan salahkan pesonaku yang tak tertahankan ini," kilah Yui santai, memutar balok esnya agar anginnya lebih kencang. "Semua ini salah Nona Lin Yue. Coba saja dia tidak memamerkan peta lubang anjing dan mendeskripsikan tekstur bebek peking itu, iman kita pasti tidak akan goyah. Kak Yuan, kau juga menikmati bebeknya semalam, kan? Jangan munafik."

"Jika kau tidak segera berdiri dan mencabut rumput ini, aku akan mencabut ginjalmu," desis Yuan kehabisan kesabaran. Ia membanting cangkulnya ke tanah. Hatinya benar-benar lelah. Tubuhnya kotor, pikirannya kacau balau memikirkan iblis kuno, dan adiknya sungguh tidak bisa diandalkan.

"Terserah. Aku mau kembali ke kamar. Aku butuh ketenangan sebelum Qi di tubuhku berbalik dan membunuhku," ucap Yuan dingin, membalikkan badan dan melangkah pergi meninggalkan ladang, mengabaikan teriakan Yui yang memintanya membuatkan pusaran angin kecil.

Yuan menyusuri jalan setapak berbatu yang membelah kompleks perguruan. Langkahnya membawanya melewati Jembatan Kayu Melengkung yang melintang di atas kolam teratai. Di area ini, pepohonan bunga sakura kuno tumbuh subur. Angin musim gugur meniup kelopak-kelopak merah muda itu hingga berguguran, menari-nari di udara layaknya hujan bunga yang turun dari kahyangan. Pemandangan yang sangat menenangkan.

Yuan berjalan sambil menunduk, memijat pelipisnya yang berdenyut pusing.

Tiba-tiba, dari arah berlawanan, sesosok gadis berbaju kuning cerah berjalan tergesa-gesa sambil membaca gulungan kertas hukuman.

BRUK!

Tabrakan tak terelakkan terjadi. Gulungan kertas itu terlempar ke udara. Gadis itu memekik kaget. Keseimbangannya hilang, dan tubuhnya limbung ke belakang, nyaris jatuh ke dalam kolam teratai.

Refleks kultivator Yuan bekerja lebih cepat dari pikirannya. Ia melangkah maju dengan kecepatan angin, mengulurkan tangan kanannya, dan melingkarkannya dengan erat di pinggang ramping gadis itu. Dengan satu tarikan kuat, Yuan membawa tubuh itu kembali ke atas jembatan, membuat mereka berdua bertabrakan ringan.

Dada gadis itu membentur bidang dada Yuan.

Keduanya terdiam mematung. Angin berhembus lembut, menjatuhkan kelopak sakura merah muda tepat di atas rambut mereka.

Yuan menunduk. Lin Yue mendongak.

Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa jengkal. Yuan bisa melihat dengan sangat jelas sepasang mata bulat Lin Yue yang biasanya penuh dengan menyebalkan dan kepolosan, kini melebar memancarkan keterkejutan yang memikat. Hembusan napas Lin Yue yang beraroma manisnya teh melati menerpa dagu Yuan. Entah kenapa, untuk pertama kalinya, Yuan menyadari bahwa Lin Yue memiliki bulu mata yang sangat lentik dan wajah yang anehnya... sangat pas di matanya.

Lin Yue sendiri terpaku. Tangan besar Yuan yang menahan pinggangnya terasa sangat hangat. Wajah dingin sang pemuda yang biasanya selalu mengomel, dari jarak sedekat ini terlihat begitu maskulin dan tampan hingga membuat jantung Lin Yue berdegup dua kali lipat lebih cepat. Rona merah perlahan menjalar ke pipi gadis itu.

Waktu seakan berhenti. Kelopak sakura terus berguguran, menciptakan suasana romantis yang membuat bumi seakan hanya berputar untuk mereka berdua. Pandangan Yuan perlahan turun, tanpa sadar terhipnotis oleh pesona gadis pembuat onar di pelukannya ini.

Namun, tepat di saat suasana baper itu mencapai puncaknya..

"EKHEMMMMMM!!!"

Sebuah dehaman keras, cempreng, dan sangat disengaja menggelegar dari ujung jembatan, menghancurkan gelembung romansa itu hingga berkeping-keping.

Yuan dan Lin Yue tersentak kaget dan langsung melompat mundur saling menjauh layaknya disengat petir. Wajah keduanya sama-sama semerah kepiting rebus.

Di ujung jembatan, Shen Rui berdiri sambil melipat tangan di dada. Mulutnya mengunyah manisan, sementara sebelah alisnya terangkat dengan senyum menyeringai yang paling menyebalkan di seluruh dunia.

"Wah, wah, wah," goda Yui dengan nada mengejek yang dipanjangkan. "Pantas saja kau beralasan sakit kepala dan ingin cepat-cepat kembali ke kamar, Kakak tersayang. Ternyata kau sedang mengatur jadwal pertemuan rahasia di bawah hujan bunga. Bolehkah adikmu yang bodoh ini menonton kelanjutannya?"

***

Likeeeeeeee

1
Tai
kapan selesai nya pakai sikat gigi😭
Tai
cukup aku tertawa 😭
Tai
yuan tega🤣
Tai
Rui😭😭😭
Tai
bisa bisanya 😭dasar anak nakal
Tai
ngakak membayangkan nya😭
Tai
😭😭😭
Tai
aku membayangkan perannya anak sd😭
Tai
iya es buah emang enak Rui 😭
Tai
ada es buah juga 😭
Biru
🤭
Tai
gara gara lucu,😭
Tai
pink
Tai
suka pertama 😭
Tai
panik sendiri jadinya🤣
Tai
ngakak bagian ini😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!