Demi membeli sebuah kue ulang tahun untuk sang adik, Rio yang baru berusia sepuluh tahun rela tak menebus obat hingga penyakit jantungnya kumat parah dan nyaris merenggut nyawanya. Tak ingin ibunya mati perlahan karena terjerat hutang biaya operasi sebesar lima ratus juta, Rio nekat kabur dari rumah sakit di tengah malam untuk menjemput ajalnya sendiri, meninggalkan ibunya yang hancur dalam tangisan. Namun takdir berkata lain; lima belas tahun berlalu, Rio yang diselamatkan oleh seorang konglomerat kini kembali sebagai Direktur Utama Grup Sentosa yang berkuasa, hanya untuk mendapati kenyataan yang menjijikkan. Rizky, adik kecil yang dulu sangat ia sayangi, kini tumbuh menjadi pria gila harta yang tega mengusir dan tak mengakui ibu kandung mereka yang pincang di tengah kemewahan pesta pernikahannya. Di detik itulah Rio melangkah maju ke tengah pesta, bukan lagi sebagai kakak yang rela berkorban, melainkan sebagai sang penguasa yang akan menghancurkan siapa pun yang berani meneteskan air
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Kringgg!
Suara jam beker tua memecah kesunyian rumah petak itu tepat pukul empat pagi.
Santi segera terbangun dan mematikan jam tersebut dengan tangan keriputnya yang gemetar karena kedinginan.
Dia merapikan kasur tipisnya lalu segera ke kamar mandi untuk bersiap-siap dengan pakaian paling rapi yang dia punya.
Tok tok tok.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar tepat saat Santi baru selesai menyisir rambut ubannya.
"Bu Santi, sudah siap belum? Mobil pikap kateringnya sudah menunggu di depan gang," panggil Bu Yanti dari luar.
"Sudah Bu Yanti, saya keluar sekarang!" sahut Santi bergegas mengambil tongkat kayunya di sudut ruangan.
Kriet.
Pintu terbuka dan Santi langsung mengunci rumahnya dengan gembok karatan kesayangannya.
"Ibu kelihatannya semangat sekali hari ini," sapa Bu Yanti tersenyum melihat raut wajah tetangganya.
"Tentu saja Bu Yanti, saya butuh uang tiga ratus ribu itu untuk modal jualan mi ayam besok," jawab Santi antusias.
Brummm.
Mobil pikap yang membawa belasan ibu-ibu pekerja cuci piring itu melaju membelah dinginnya udara pagi Jakarta.
Setelah perjalanan yang cukup jauh, mereka akhirnya tiba di pintu belakang Hotel Diamond yang menjulang tinggi menyentuh awan.
"Wah besar sekali gedung ini Bu Yanti, saya seumur hidup baru pertama kali melihatnya dari dekat," kagum Santi mendongak ke atas.
"Iya Bu Santi, ini hotel bintang lima tempat orang-orang konglomerat buang uang mereka," jawab Bu Yanti tertawa pelan.
Mereka semua digiring masuk ke bagian dapur belakang hotel yang ternyata sudah sangat sibuk dan bising.
Trang! Prang!
Suara panci besi dan tumpukan piring beradu terdengar saling bersahutan memekakkan telinga.
"Heh ibu-ibu yang baru datang! Jangan bengong saja di situ kayak orang kampung!" bentak seorang pria gempal berkumis tebal.
Pria itu adalah Mandor katering yang bertugas mengawasi jalannya pekerjaan para pegawai kasar.
"Kalian ke sini untuk kerja bukan untuk tamasya! Cepat pakai celemek kalian!" teriak Mandor itu lagi sambil bertolak pinggang.
"Iya Pak, maafkan kami," ucap Santi dan ibu-ibu lainnya serempak ketakutan.
"Mulai cuci tumpukan piring kotor di pojok sana, acara akan mulai siang ini jadi kerja kalian harus cepat!" perintah sang Mandor menunjuk gunungan piring.
Santi segera berjalan tertatih ke sudut ruangan dan mulai menyalakan keran air.
Sementara itu di lantai paling atas hotel tersebut, suasana terasa sangat berbeda layaknya bumi dan surga.
Rizky berdiri di depan cermin raksasa di dalam kamar rias VVIP yang berlantai marmer Italia.
Dia sedang merapikan kerah kemeja dan setelan jas putih tulang yang dia beli menggunakan uang rentenir.
"Wah, calon suamiku kelihatan sangat tampan dan berkelas hari ini," puji Cynthia masuk dan memeluk lengan Rizky manja.
"Tentu saja sayang, jas yang aku pakai ini saja harganya lima puluh juta rupiah," sombong Rizky menepuk dadanya pelan.
"Papaku pasti bangga melihat penampilanmu, teman-teman sosialitaku juga pasti akan iri padaku," tawa Cynthia bahagia.
Rizky ikut tertawa meskipun jantungnya berdebar kencang mengingat utang satu koma dua miliar yang menunggunya bulan depan.
"Oh ya Rizky, apa Papa dan Ibumu benar-benar tidak bisa terbang dari Jerman untuk hadir hari ini?" tanya Cynthia tiba-tiba cemberut.
"Maaf ya sayang, proyek triliunan perusahaan keluargaku sedang ada masalah genting jadi tidak bisa ditinggal sebentar pun," bohong Rizky selancar jalan tol.
"Papaku agak kecewa loh, masa di hari pernikahan anak bungsunya pihak besan malah tidak datang sama sekali," keluh Cynthia melipat kedua tangannya.
"Sebagai gantinya aku sudah mendatangkan Paman Herman dan Bibi Siska dari luar kota untuk menjadi wali nikahku," bujuk Rizky mencium punggung tangan Cynthia.
"Nanti bulan depan kita langsung terbang ke Jerman untuk liburan sekalian bertemu dengan orang tuaku ya," tambah Rizky memberikan janji manis.
Senyum Cynthia kembali mengembang mendengar kata liburan ke Jerman.
"Janji ya? Pokoknya aku mau bulan madu keliling Eropa pakai uang jajan dari mertuaku nanti," tuntut Cynthia girang.
"Pasti sayang, apapun untuk ratuku," jawab Rizky tersenyum palsu.
Setelah Cynthia keluar dari ruangan rias, wajah Rizky langsung berubah menjadi dingin dan tegang.
Cklek.
Pintu ruangan terbuka lagi menampilkan sepasang pria dan wanita paruh baya berpakaian mewah namun terlihat kikuk.
Mereka adalah aktor dan aktris figuran yang sengaja disewa oleh Rizky dari sebuah agensi hiburan kecil.
"Kalian berdua ingat naskahnya dengan baik kan?" tanya Rizky menatap tajam ke arah dua orang sewaan tersebut.
"Ingat Tuan Muda Rizky, kami adalah Paman Herman dan Bibi Siska dari keluarga pengusaha sukses," jawab pria figuran itu cepat.
"Bagus, jangan sampai kalian salah bicara atau terlihat kampungan di depan keluarga mertuaku nanti," ancam Rizky mengangkat telunjuknya.
"Kalian hanya perlu tersenyum dan memuji kekayaan keluargaku, sisanya biar aku yang bicara," lanjut Rizky memberikan arahan.
"Baik Tuan Muda, kami mengerti tugas kami," angguk wanita figuran itu patuh.
"Bayaran kalian yang sepuluh juta itu akan aku transfer setelah acara hari ini selesai dengan lancar tanpa hambatan," pungkas Rizky mengusir mereka keluar.
Rizky menghela nafas panjang menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin raksasa.
"Sedikit lagi Rizky, setelah hari ini kamu akan resmi menjadi bagian dari keluarga miliarder," gumam Rizky menyeringai licik.
Di waktu yang sama pada kediaman utama Grup Sentosa yang dijaga ketat oleh puluhan satpam.
Rio Dirgantara melangkah keluar dari kamarnya dengan setelan jas hitam legam yang memancarkan aura seorang penguasa absolut.
"Mobilnya sudah siap di depan Tuan Rio," lapor Nadia yang sudah menunggu dengan sabar di ruang tamu.
"Apa ada kabar terbaru dari tim intelijen tentang pria bernama Rizky itu hari ini?" tanya Rio sambil mengancingkan jas mahalnya.
"Ada Tuan, pria itu ternyata menyewa sepasang aktor murahan untuk berpura-pura menjadi paman dan bibinya."
"Mereka akan menjadi wali nikahnya di pelaminan karena dia beralasan orang tuanya sedang sibuk berbisnis di Jerman," jelas Nadia membacakan laporannya.
Rio mendengus sinis lalu tersenyum sangat dingin mendengar betapa rapinya kebohongan yang disusun oleh calon pengantin pria itu.
"Pembohong yang sangat menyedihkan dan tidak tahu malu," desis Rio dengan sorot mata membunuh.
"Menyembunyikan identitas keluarga sendiri demi sebuah pernikahan adalah hal paling rendah yang bisa dilakukan seorang pria."
"Ayo kita berangkat sekarang Nadia, aku sudah tidak sabar melihat wajah pucatnya," perintah Rio berjalan mendahului asistennya menuju pintu utama.
"Kita lihat apakah dia masih bisa tersenyum saat aku membongkar semua kepalsuannya di depan tamu undangannya nanti."
Brummm.
Iring-iringan tiga mobil mewah berwarna hitam meninggalkan kediaman Sentosa menuju Hotel Diamond.