Aletha sangat terkejut setelah papanya, Baskara memberitahu jika ia dijodohkan dengan anak sahabatnya sejak dari dalam kandungan. Dan sebelum kelulusannya ia akan melangsungkan pertunangan lebih dulu.
Aletha sedikit tergoda oleh ketampanan. Pria itu saat papanya bicara tentang ketampanan calon tunangannya itu.
Namun, saat tiba pertemuan di malam itu. Ternyata pria yang dijodohkan adalah Langit.
Musuh bebuyutannya di sekolah, apakah mereka akan melanjutkan perjodohan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cristaal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Perkelahian di Sekolah
Kata-kata Langit yang teramat tenang justru menjadi sumbu pendek yang meledakkan sisa kesabaran Tommy. Diperlakukan seperti angin lalu di hadapan anak buahnya sendiri membuat emosi ketua geng motor itu membumbung tinggi.
BUGH!
Tanpa aba-aba, satu pukulan mentah dari kepalan tangan kanan Tommy melayang telak, menghantam rahang kokoh Langit.
Aletha terlonjak kaget. Matanya membelalak lebar melihat tubuh tinggi Langit terhuyung ke samping akibat serangan tiba-tiba itu. Sudut bibir cowok itu seketika robek dan mengeluarkan tetesan darah segar. Suasana koridor langsung pecah oleh jeritan histeris siswi-siswi yang menonton.
"Tommy! Lo apa-apaan, sih?!" teriak Aletha dengan suara gemetar, benar-benar marah melihat tindakan nekat pacarnya.
"Kenapa main pukul orang sembarangan? Dia cuma minta bantuin bawa buku!"
Namun, Tommy sama sekali tidak mendengarkan. Ia justru bersiap melayangkan pukulan kedua, mengabaikan teriakan Aletha.
Tepat sebelum kepalan tangan Tommy kembali maju, Langit bergerak dengan kecepatan yang luar biasa. Ia menghindar ke kiri dengan tangkas, lalu membalas dengan satu pukulan uppercut tangan kanan yang meluncur telak dan presisi menghantam rahang bawah Tommy.
Brak! Bugh!
Pukulan balasan Langit begitu keras hingga tubuh tegap Tommy terjungkal ke belakang, menabrak barisan mading hingga beberapa kertas pengumuman robek dan beterbangan. Reza dan anak-anak geng lainnya langsung bergerak maju hendak membantu ketua mereka, memicu kegaduhan yang luar biasa di koridor yang kian menyempit.
Di tengah kekacauan itu, Langit tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia hanya menyeka darah di sudut bibirnya dengan ibu jari, lalu kembali bergeser, berdiri kokoh tepat di depan Aletha untuk memblokade gerakan anak buah Tommy.
Melihat punggung tegap Langit yang berdiri melindunginya tanpa ragu meski cowok itu sendiri baru saja terkena pukulan, sesuatu di dalam dada Aletha mendadak berdesir aneh. Ada perasaan nyaman dan aman yang begitu halus menyelinap di hatinya. Di sekolah ini, biasanya ia yang selalu harus berdiri tegap menghadapi segalanya sendirian, termasuk menghadapi sifat temperamental Tommy yang belakangan sering mengabaikannya. Namun sekarang, musuh bebuyutannya justru menjadi orang pertama yang berdiri sebagai tameng di depannya.
KRIINGGGGGG!
Bel tanda masuk sekolah berdering super nyaring, menggema di seluruh penjuru gedung SMA Taruna Bakti. Suara bel itu bertabrakan dengan teriakan lantang dari ujung koridor.
"Hei! Siapa itu yang berantem?! Bubar semua! Bubar!"
Itu suara Pak Bambang, guru bimbingan konseling yang terkenal tanpa ampun.
Kerumunan murid yang tadinya menonton langsung kocar-kacir menyelamatkan diri masuk ke kelas masing-masing.
Langit membalikkan tubuhnya perlahan, merapikan kembali kerah seragamnya yang sempat agak berantakan. Ia menatap Aletha yang masih terpaku, lalu dengan gerakan lembut yang tak terduga, ia mengambil alih satu buku cetak yang paling tebal dari pelukan Aletha agar beban gadis itu sedikit berkurang.
"Masuk kelas," ucap Langit dengan nada dinginnya yang kembali normal.
"E-eh, iya..." Aletha mengangguk kaku, mendadak gugup saat tatapan mata hazel Langit mengunci manik matanya.
Langit berbalik dan melangkah lebih dulu, memberi isyarat agar Aletha mengikutinya membelah sisa-sisa kerumunan murid yang panik.
Sementara itu, Tommy yang masih terduduk di lantai koridor sambil memegangi rahangnya yang berdenyut nyeri hanya bisa menatap kepergian mereka dengan napas memburu penuh dendam. Reza buru-buru membantunya berdiri sambil memunguti jaket denimnya yang kotor.
"Letha! Langit!" teriak Tommy dengan suara parau yang sarat akan kebencian. "Urusan kita belum selesai! Lihat aja nanti pas balik sekolah, habis lo berdua!"
Aletha sempat menoleh sekilas mendengar ancaman itu, membuat rasa cemas kembali mengetuk hatinya. Namun, saat ia melirik ke arah punggung tegap Langit yang berjalan tenang di depannya seolah tidak terjadi apa-apa, perasaan nyaman yang halus itu kembali hadir, menenangkan badai kecemasan di dalam dirinya.
___________________
Di sepanjang pelajaran pertama, Aletha sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Bukan karena guru Matematika yang sedang menjelaskan persamaan kuadrat di depan kelas, melainkan karena suara Tommy terus terngiang-ngiang di kepalanya.
"Urusan kita belum selesai!"
Aletha menunduk, pura-pura sibuk mencatat. Namun, ujung penanya hanya berhenti di atas kertas, meninggalkan satu titik hitam yang semakin melebar.
Ponselnya tiba-tiba bergetar di dalam saku rok.
Aletha menoleh cepat ke arah guru sebelum diam-diam mengeluarkan benda pipih itu. Satu pesan baru muncul di layar.
Tommy: "Pulang sekolah, belakang gedung olahraga. Datang sendiri."
Jari Aletha langsung terasa dingin. Ia menatap pesan itu selama beberapa detik, berharap kalimat tersebut berubah dengan sendirinya. Namun, pesan berikutnya segera masuk.
Tommy: "Kalau lo nggak datang, gue yang bakal nyari lo."
Aletha menelan ludah dengan susah payah. Hubungannya dengan Tommy memang belakangan terasa berbeda. Cowok itu menjadi lebih mudah marah, sering menghilang, dan seolah tidak lagi peduli pada perasaannya semenjak Aletha menolak saat akan dicium olehnya. Namun, ancaman dalam pesan itu tetap membuat dadanya sesak.
"Babu."
Suara Langit dari sebelahnya membuat Aletha hampir menjatuhkan ponsel.
"Apa?" bisik Aletha ketus.
Langit masih menatap papan tulis dengan santai, seolah-olah tidak melakukan apa-apa. Hanya matanya yang bergerak sekilas melirik ke arah ponsel Aletha.
"Kalau mau selingkuh, jangan sambil menggigil begitu."
Wajah Aletha memanas seketika. "Jangan ikut campur urusan gue."
"Gue nggak ikut campur." Langit menopang dagu dengan telapak tangan. "Gue cuma nggak mau calon istri gue dijemput ambulans sepulang sekolah."
Aletha menoleh tajam, menahan volume suaranya. "Jangan ngomong soal itu di kelas!"
"Berarti benar ada yang harus dikhawatirkan."
Aletha terdiam.
Langit akhirnya menoleh, menatap langsung ke arah Aletha. Sorot mata hazelnya tidak lagi menggoda. Ada sesuatu yang lebih serius di sana, sesuatu yang membuat Aletha kesulitan mengalihkan pandangan.
"Siapa yang menunggu lo nanti?" tanyanya pelan.
"Bukan urusan lo."
"Jawaban lo buruk."
"Peduli amat?"
"Nggak." Langit kembali mengalihkan pandangan ke depan. "Tapi kalau terjadi sesuatu, keluarga kita bakal menganggap gue gagal menjaga tunangan sendiri."
Aletha menggenggam ponselnya lebih erat. Debaran jantungnya berpacu semakin cepat. "Gue bisa jaga diri."
"Dari cowok yang baru aja mukul gue?"
"Tommy bukan orang jahat." Kalimat itu keluar begitu saja. Begitu menyadarinya, Aletha langsung menyesal.
Langit tersenyum tipis, tetapi senyuman itu tidak mengandung ejekan.
"Kalau lo harus membelanya secepat itu, berarti lo sendiri belum yakin."
Bel istirahat berbunyi sebelum Aletha sempat membalas. Teman-teman sekelas langsung beranjak dari tempat duduk, membuat percakapan mereka terputus begitu saja. Namun, sepanjang sisa jam pelajaran, tatapan Langit yang diam-diam mengawasinya tidak pernah benar-benar hilang.