NovelToon NovelToon
Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Skandal Jus Jeruk: Istri Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'

Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.

Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!

Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!

Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!

Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Amukan Komandan di Markas Utama

Apakah gue semalam beneran tega melakukan tindakan bejat itu? Tapi kenapa sistem otak gue sama sekali nggak ingat apa-apa? batin Adit didera frustrasi tingkat tinggi.

Ia merasa seperti sedang terjebak di dalam sebuah lubang hitam takdir yang ia sendiri tidak tahu di mana ujung dasarnya. Setiap kali pramugari kabin datang menawarkan pilihan minuman segar di sela-sela penerbangan, Adit selalu menolaknya dengan lambaian tangan halus. Detik ini, ia mengalami trauma psikologis yang sangat mendalam dengan segala jenis cairan berwarna oranye segar, atau minuman apa pun yang berpotensi bisa membuatnya kehilangan kendali kesadaran lagi.

****

Tepat pukul 21.00 WIB, roda-roda raksasa pesawat akhirnya mencium aspal landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta. Hawa udara Jakarta yang lembap dan panas langsung menyergap kulit mereka begitu melangkah keluar dari garbarata menuju terminal kedatangan.

"Sella, jalan di samping Mama. Dan kamu, Raditama, kamu wajib ikut masuk ke dalam mobil SUV saya. Jangan pernah berani berpikir untuk pulang ke rumah atau ke kantor pusatmu dulu malam ini," perintah Kaizen dengan nada komando mutlak begitu mereka semua tiba di area penjemputan luar.

Adit mencoba memberanikan diri untuk memprotes, "Tapi Om, barang-barang bawaan dan dokumen kerja saya..."

"Semua urusan barangmu bisa menyusul nanti! Kamu malam ini memiliki urusan pertanggungjawaban yang jauh lebih besar dan krusial di dalam rumah pribadi saya!" potong Kaizen dengan kalimat telak yang langsung membungkam mulut Adit.

Mobil SUV hitam besar milik keluarga Saputra sudah dalam posisi menunggu di depan pintu keluar terminal. Sella langsung melangkah masuk ke dalam kursi baris belakang dengan tubuh lesu, diikuti oleh Aulia di sampingnya. Adit dipaksa oleh Kaizen untuk duduk di kursi bagian depan, tepat di samping posisi sopir pribadi, sementara Kaizen sendiri mengambil posisi duduk di kursi belakang untuk mengawasi setiap gerak-gerik Adit.

Sepanjang perjalanan membelah jalanan protokol menuju ke rumah utama mereka di kawasan Jakarta Selatan, tidak ada satu orang pun yang membuka suara untuk berbicara. Keheningan yang dingin mendominasi isi mobil. Kaizen terus-menerus menatap tajam ke arah layar ponsel pintarnya, memutar kembali rekaman kamera tersembunyi di kamar ibunya. Rahang tegas mantan tentara itu tampak bergerak-gerak mengeras. Ia sudah bersiap sepenuhnya untuk melakukan aksi pembersihan barak secara besar-besaran malam ini juga di rumah pribadinya.

"Kita sudah sampai di markas utama," ucap Kaizen dengan nada suara sedingin es saat pintu gerbang besi rumah besar mereka terbuka secara otomatis.

Seluruh tubuh Sella langsung gemetar hebat ketakutan. Gadis berusia 19 tahun itu sangat tahu, begitu kaki mereka semua melangkah masuk melewati pintu utama rumah, sebuah badai kemarahan yang skalanya jauh lebih besar dan mengerikan daripada sekadar skandal jus jeruk di Paris akan segera meledak menghancurkan seisi rumah ini.

Kaizen langsung melompat turun dari dalam mobil bahkan sebelum mesin SUV hitam itu benar-benar dimatikan oleh sopir. Persetan dengan segala macam urusan sopan santun atau protokoler formalitas; tingkat emosi kemarahannya saat ini sudah berada di batas ubun-ubun kepala. Tanpa membuang waktu berharga lagi, ia melangkah dengan lebar dan cepat menuju ke arah pintu utama rumah, meninggalkan Adit yang masih mematung kaku seperti patung selamat datang di samping pintu kemudi mobil.

BRAKK!!!

Pintu kayu jati tebal berukuran sepuluh sentimeter itu terbuka lebar dengan satu kali hantaman dorongan kasar Kaizen, menciptakan suara dentuman keras yang sanggup mengejutkan seisi rumah. Suara teriakan kemarahan yang menggelegar dahsyat dari arah teras masuk seketika membuat seluruh orang yang berada di dalam ruangan tengah melonjak kaget setengah mati.

Bahkan, Nenek Anna yang saat itu sedang duduk santai di sofa sampai terlonjak dan terpaksa memegangi gulungan konde rambutnya erat-erat agar tidak merosot menutupi hidungnya saking syoknya mendengar suara ledakan pintu tersebut.

"MASUK KAMU! JANGAN CUMA DIAM MEMATUNG DI SITU SEPERTI ORANG IDIOT!"

Kaizen Saputra melangkah masuk melewati pintu jati utama dengan napas memburu yang berat. Aura dari tubuh tegapnya malam ini terasa jauh lebih menyeramkan daripada gabungan sepuluh bos mafia internasional. Di sampingnya, Aulia menyeret paksa lengan Thania Arshila Sella Saputra yang berjalan menunduk lesu. Gadis 19 tahun itu tampak hancur total; wajah cantiknya sembab akibat air mata, hidung mancungnya memerah, dan kedua bahunya bergetar hebat menahan tangis yang siap meledak kembali.

Namun, sebuah pemandangan mengerikan yang seketika membuat jantung semua orang di ruang tamu nyaris copot adalah tangan kanan kekar Kaizen yang sedang menggusur kasar kerah jas seorang pria dewasa. Pria itu diseret masuk ke dalam rumah tanpa ampun, persis seperti seekor sapi kurban yang sudah pasrah menunggu ajal di jagal.

"ADIT?!"

Reno yang kebetulan sedang duduk santai di sofa ruang tamu langsung terlonjak kaget setengah mati, hampir saja melakukan gerakan salto mundur karena saking syoknya. Pria malang yang sedang diseret itu—Raditama Abraham, CEO muda utama dari Abraham Company yang biasanya selalu tampil elit dan parlente—kini berpenampilan sangat mengenaskan. Rambut hitam klimisnya acak-acakan mirip sarang burung, dasi sutranya melilit miring di leher, dan wajah tampannya pucat pasi seolah-olah seluruh nyawanya baru saja disedot paksa oleh malaikat maut.

"Lho... Reno? Kok... kok lo bisa ada di dalam rumah ini juga?!" tanya Adit dengan nada suara parau dan megap-megap kekurangan oksigen. Kedua tangan Adit bergerak panik berusaha melonggarkan cengkeraman maut tangan Kaizen di kerah kemejanya.

"BAGUS BANGET!" Ka

izen melotot tajam ke arah Reno, lalu sedetik kemudian beralih menatap wajah Adit dengan tatapan mata elang yang sanggup membakar aspal jalanan.

"Ternyata kalian berdua ini satu komplotan bajingan?! Yang satu nekat menyusup ke kamar tidur ibu saya bersama anak sulung saya di Jakarta, dan yang satu lagi saya tangkap basah sedang bersembunyi tanpa baju di balkon kamar anak bungsu saya di Paris! Apa-apaan ini?! Rumah pribadi saya ini sebenarnya tempat tinggal atau sudah berubah fungsi jadi sarang penyamun?!"

Suasana di dalam ruang tamu luas itu mendadak hening seketika seperti kuburan. Sindy hanya bisa menepuk jidatnya sendiri dengan pasrah di sudut ruangan, sementara fokus pandangan mata semua orang langsung tertuju pada Sella yang mendadak jatuh terduduk bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin, tepat berada di samping kaki sang ayah.

"Duduk kalian semua! Jangan ada satu orang pun yang berani berdiri dari atas lantai ini sebelum saya berikan izin resmi!" bentak Kaizen berapi-api. Suara bariton militernya menggelegar dahsyat memantul ke langit-langit, hingga membuat vas bunga kristal mahal di atas meja ikut bergetar ketakutan.

Atmosfer ruang tamu itu mendadak berubah drastis menjadi sebuah agenda rapat darurat pertahanan nasional yang sangat mencekam. Reno dan Adit terpaksa duduk berdampingan di atas sofa kecil dengan posisi bahu yang melorot drastis. Adit hanya bisa menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap ujung sepatu pantofelnya sendiri dengan pandangan mata kosong penuh rasa penyesalan yang mendalam. Sesekali, ia melirik ke arah Sella dengan raut wajah yang sangat sulit untuk diartikan—berada di antara rasa bersalah yang besar dan kebingungan logis yang luar biasa.

Di sela-sela ketegangan yang merayap, Sindy memberanikan diri untuk bergerak mendekat, lalu berbisik pelan pada ibunya yang baru saja duduk dengan napas tersengal-sengal.

"Mama... kenapa Sella ikut pulang mendadak ke Jakarta? Terus kenapa Pak Adit bisa diseret kasar kayak maling jemuran begitu? Dia itu kan bos besar Sindy di kantor, Ma! Ada skandal apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka berdua sampai Papa mengamuk seperti ini?" bisik Sindy dengan mata bulat yang dipenuhi rasa penasaran sekaligus ketakutan luar biasa melihat ayahnya dalam mode komandan perang.

1
meimei
lanjut😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!