NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Telepon ke Masa Lalu

Langkah kaki sepatu bot pengawal bergema teratur di atas lantai marmer lorong penthouse. Sejak tiga hari lalu, keheningan di tempat ini terasa bagaikan keheningan di makam bawah tanah—dingin, pekat, dan menyesakkan dada.

Aisyah duduk membisu di sudut sofa ruang tengah, memangku cangkir teh yang sudah mendingin. Manik matanya menatap kosong ke arah deretan gedung pencakar langit di luar jendela raksasa. Di mata semua orang, termasuk Ayden dan Bi Sumi, Aisyah hanyalah raga tanpa jiwa yang telah kehilangan seluruh daya juang.

Namun, di balik raga yang kaku itu, nyala kesadaran Aisyah mendadak terperanjat pelan.

"Pak Broto!" suara panggilan radio genggam terdengar samar dari arah foyer utama. "Ada pengiriman berkas mendesak dari kantor pusat untuk Mas Ayden di lantai dasar. Tolong bantu verifikasi di pos sekuriti bawah."

"Baik, segera saya turun," sahut Pak Broto melalui radio.

Aisyah mengalirkan sudut matanya tanpa menggerakkan kepala. Melalui pantulan cermin hias di dinding, ia melihat Pak Broto memberi isyarat pada rekannya.

"Jaga pintu depan, Yudi. Saya turun sebentar ke lantai dasar," pesan Pak Broto.

"Siap, Pak," jawab pengawal kedua seraya melangkah mendekati area elevator, membelakangi lorong dalam yang menuju ke arah ruang kerja pribadi Ayden.

Pada saat yang bersamaan, Bi Sumi terdengar sedang sibuk mencuci peralatan dapur di area pantry tertutup, diiringi gemericik air keran yang deras.

Ini adalah celah langka yang tak boleh terlewatkan.

Tanpa suara, Aisyah membangkitkan tubuhnya dari sofa. Gerakannya tidak lagi kaku seperti boneka mekanik, melainkan begitu cepat, halus, dan tak bersuara. Dengan menyusuri bayangan dinding lorong, Aisyah menyelinap masuk ke dalam ruang kecil di samping perpustakaan pribadi—tempat sebuah pesawat telepon kabel rumah berwarna hitam terpasang menggantung di dinding.

Jemari Aisyah yang memucat dan gemetar hebat meraih gagang telepon. Ia menempelkannya ke telinga, mendengarkan nada panggil panjang yang memecah kesunyian.

Dengan ingatan yang digali paksa dari memori masa lalunya, jemari Aisyah menekan deretan tombol angka. Itu adalah nomor ponsel pribadi Paman Haris—saudara kandung almarhum ayahnya, satu-satunya kerabat darah Rahardja yang tersisa dan berhasil selamat dari badai kebangkrutan Dinantara Utama.

Tut... tut... tut...

Dada Aisyah naik turun berpacu dengan detak jantungnya yang bergemuruh keras.

"Halo? Siapa ini?" suara seorang pria paruh baya memecah nada tunggu di ujung telepon. Suara itu terdengar lelah dan hati-hati.

"Paman... Paman Haris?" bisik Aisyah lisan, suaranya tercekat di tenggorokan hingga nyaris tak terdengar.

Terjadi jeda keheningan selama dua detik di seberang sambungan sebelum napas pria itu terdengar tertahan.

"A-Aisyah?!" jerit Paman Haris di ujung telepon, suaranya seketika bergetar hebat. "Ya Allah... Aisyah! Ini benar kamu, Nak?! Kamu di mana selama ini?! Paman mencari keberadaanmu ke mana-mana setelah kamu mendadak menghilang pasca pemakaman papamu!"

"Paman... ini Aisyah," lirih Aisyah lagi, air mata dingin tanpa sadar menetes meniti pipinya yang pucat. "Aisyah... Aisyah dalam bahaya, Paman..."

"Bahaya apa, Nak?! Ceritakan pada Paman! Kamu ada di mana sekarang?!" cecar Paman Haris panik, suara berisik klakson jalanan terdengar dari latarnya. "Paman dengar kamu sudah menikah, tapi tidak ada satu pun keluarga besar yang diundang! Siapa pria yang menikahimu itu, Aisyah?!"

Aisyah mengusap air matanya dengan punggung tangan, menggenggam gagang telepon begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Aisyah menikah dengan Ayden, Paman..." bisik Aisyah dengan nada gemetar. "Ayden Khana..."

Seketika itu juga, keheningan mencekam menyergap sambungan telepon. Suara bising di latar belakang Paman Haris seolah lenyap, berganti menjadi hela napas berat yang tersengal-senggal ketakutan.

"A-Ayden... Khana?" bisik Paman Haris, suaranya berubah drastis—gemetar, ketakutan, dan dipenuhi oleh kepanikan yang teramat luar biasa. "Maksudmu... anak tunggal dari mendiang Maya dan Khana Perdana?!"

"Iya, Paman..." sahut Aisyah. "Dia... dia yang merancang kebangkrutan Dinantara Utama. Dia yang menyuntikkan utang beracun itu hingga Papa meninggal..."

"Gila! Kamu gila, Aisyah! Kenapa kamu bisa berada di dekat iblis itu?!" jerit Paman Haris, suaranya melengking tinggi dalam keputusasaan yang murni. "Aisyah, dengarkan Paman baik-baik! Kamu harus keluar dari sana detik ini juga! Lari, Aisyah! Lari sejauh mungkin dari pria itu!"

"Aisyah tidak bisa keluar, Paman!" potong Aisyah dengan bisikan histeris yang tertahan. "Pintu diblokir! Ada pengawal di mana-mana! Rumah ini sudah jadi penjara bagi Aisyah..."

"Astaghfirullahaladzim..." ratap Paman Haris, terdengar suara dobrakan meja di ujung sana. "Aisyah, kamu tidak tahu siapa Ayden Khana sebenarnya! Pria itu bukan sekadar pebisnis yang balas dendam! Pria itu adalah predator berbahaya!"

"Maksud Paman apa?" tanya Aisyah, dadanya kian kencang menghantam tulang rusuknya.

"Lima tahun lalu, saat perusahaan Khana Perdana hancur dan orang tuanya tewas, Paman pernah secara tidak sengaja bertemu Ayden di pemakaman," ungkap Paman Haris dengan nada panik luar biasa. "Matanya... mata pria itu sudah mati, Aisyah! Dia mengumpat dan bersumpah di atas nisan ibunya bahwa dia tidak akan pernah berhenti sebelum meratakan seluruh garis keturunan Surya Rahardja hingga tuntas ke akar-akarnya!"

Darah Aisyah serasa membeku mendengar penuturan itu.

"Dia tidak hanya ingin merebut aset Dinantara, Aisyah!" lanjut Paman Haris mencecar, suaranya makin gemetar. "Dia ingin memusnahkan keluarga kita! Dia mendekatimu, menikahi darah daging Surya Rahardja, hanya untuk menghancurkan jiwamu pelan-pelan sampai kamu tidak punya sisa alasan untuk hidup! Pria itu tidak akan melepaskanmu hidup-hidup setelah puas menyiksamu!"

"Paman..." bisik Aisyah, tenaganya serasa meluruh habis dari persendian kaki. "Dia... dia memang sudah membunuh jiwaku, Paman..."

"Jangan menyerah, Aisyah! Dengar kata Paman!" tegas Paman Haris penuh peringatan berbahaya. "Ayden itu manusia tanpa nurani! Jangan pernah percaya pada kata-katanya! Jangan pernah percaya pada air matanya atau pura-pura penyesalannya! Jika dia tersenyum padamu, itu adalah cara dia menguliti keberadaanmu! Dia adalah iblis yang menyamar jadi manusia!"

"Paman, tolong Aisyah..." pinta Aisyah lisan, air matanya kini mengalir deras. "Tolong panggilkan bantuan..."

"Paman akan cari cara! Paman akan laporkan ini ke polisi atau minta bantuan rekan-rekan Papamu!" seru Paman Haris cepat. "Tapi kamu harus bertahan, Aisyah! Jangan makan atau minum apa pun yang dia berikan tanpa kecurigaan! Ingat, pria itu tidak akan berhenti sampai garis keturunan kita—"

Diiiiing...

Suara denting halus elevator pribadi bergema keras di area foyer luar, memotong kalimat Paman Haris secara mendadak.

Aisyah tersentak kaku. Matanya membelalak lebar. Suara derap langkah sepatu kulit yang sangat familier dan tegap kini terdengar melangkah masuk ke dalam penthouse, bergerak cepat menyusuri lantai marmer lorong.

Ayden sudah pulang. Lebih cepat dua jam dari jadwal biasanya.

"Aisyah? Aisyah, kamu masih di sana?!" panggil Paman Haris dari speaker telepon dengan nada cemas. "Halo?! Aisyah?!"

"P-Paman..." bisik Aisyah panik.

Tanpa menunggu sahutan lebih lanjut, jemari gemetar Aisyah menekan tombol pemutus sambungan secara kasar.

Bip.

Garis telepon terputus seketika. Aisyah meletakkan kembali gagang telepon ke wadahnya di dinding dengan gerakan yang sangat berhati-hati, berusaha keras agar tak menimbulkan bunyi berisik sedikit pun.

Ia dengan cepat menyapu air mata di pipinya menggunakan lengan baju, lalu memutar tubuhnya seraya berusaha mengatur napasnya yang memburu. Aisyah memaksakan raut wajahnya kembali mengkristal menjadi topeng kaku tanpa ekspresi.

Namun, sebelum Aisyah sempat melangkah keluar dari ruang sempit itu, sebuah bayangan tubuh yang tinggi dan tegap mendadak menutup celah pintu keluar.

Ayden berdiri melintang di ambang pintu ruang kecil itu.

Pria itu masih mengenakan kemeja kerjanya yang rapi, namun jas hitamnya sudah dilepas dan tersampir di lengan kiri. Tatapan matanya yang tajam dan pekat terkunci rapat pada wajah Aisyah, sebelum bergerak perlahan menatap pesawat telepon kabel hitam yang menempel di dinding tepat di belakang tubuh istrinya.

Atmosfer di dalam sudut ruangan temaram itu mendadak jatuh ke titik beku.

"Aisyah?" panggil Ayden. Suaranya mengalun sangat rendah, terkontrol, namun menyimpan riak gelisah dan kecurigaan yang menusuk.

Aisyah tidak menjawab. Ia tetap berdiri tegak, membalas tatapan suaminya dengan pandangan hampa yang membatu, walau jantung di dalam dadanya berdegup bagaikan genderang perang.

Ayden melangkah satu sudut memasuki ruangan kecil yang sempit itu, memangkas jarak di antara mereka. Bau parfum maskulin bercampur aroma dingin angin luar merayapi indra penciuman Aisyah.

"Apa yang sedang kau lakukan di ruangan sempit ini?" tanya Ayden lagi. Matanya menyipit halus seraya memperhatikan dada Aisyah yang masih naik turun secara tidak teratur.

Aisyah tetap membisu. Lipatan bibirnya terkatup rapat tanpa berniat memberi jawaban.

Ayden mengulurkan tangan kanannya, menyentuh gagang telepon kabel hitam di dinding. Jemarinya mengelus permukaan gagang plastik itu, merasakan hangat sisa bekas genggaman tangan Aisyah yang baru saja melepasnya beberapa detik lalu.

Sebutir kilat dingin melintas di manik mata Ayden.

Ayden menoleh kembali pada Aisyah, membungkukkan wajahnya sedikit hingga jarak hidung mereka hanya terpisah beberapa senti.

"Dengan siapa kau baru saja berbicara lewat telepon rumah ini, Aisyah?" tanya Ayden dengan nada menuntut yang teramat pekat, menembus keheningan ruangan dengan intimidasi yang mematikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!