Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.
Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Awal dari lembaran baru
Hening fajar di taman belakang terasa begitu panjang, seolah waktu sengaja berhenti berputar hanya untuk memberikan ruang bagi dua insan yang sama-sama pernah terluka itu.
Genggaman tangan Bayu di jemari Larissa terasa begitu hangat dan kokoh, mengalirkan sensasi keamanan yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Larissa rasakan di dalam hidupnya.
Jawaban tegas Bayu bahwasanya dia menikahi jiwanya dan bukan rahimnya, seketika meruntuhkan sisa-sisa benteng pertahanan trauma di dalam dada Larissa.
Caci maki keluarga Baskoro yang masih sesekali bergema di kepalanya perlahan sirna, digantikan oleh harapan baru yang ditawarkan pria di hadapannya ini.
"Bagaimana, Larissa?" tanya Bayu dengan suara lembut. Jemarinya mengusap punggung tangan Larissa perlahan.
"Mulai hari ini, aku ingin kita membuang sekat formalitas itu. Jangan panggil aku Pak lagi saat kita sedang berdua atau bersama Elang. Panggil aku... Mas. Dan aku ingin kita menggunakan kata 'aku-kamu' agar hubungan kita tidak terasa kaku lagi."
Larissa tersentak samar mendengar permintaan tak terduga itu. Panggilan "Mas" terasa begitu intim, sebuah panggilan yang dulu pernah dia berikan pada Bram dengan sepenuh hati, namun justru dibalas dengan pengkhianatan paling keji.
Larissa menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berdebar dengan ritme yang aneh.
Dia menatap ke arah kamar Elang yang masih tertidur lelap, lalu kembali menatap Bayu.
Binar bahagia di mata Elang setiap kali bocah itu berada di dekatnya, ketulusan Bayu yang ikut terjaga semalaman demi merawat sang putra, dan jaminan perlindungan yang ditawarkan pria ini, semua itu menjadi jawaban yang tidak bisa dibantah oleh nalurinya lagi.
Larissa menyunggingkan sebuah senyuman tipis namun sangat tulus, senyuman pertama yang memancar murni dari lubuk hatinya sejak dia buang oleh keluarga Baskoro.
"Iya, Mas... aku menerima lamaranmu," jawab Larissa lirih namun terdengar sangat tegas. Bibirnya terasa agak canggung saat mengucapkan panggilan baru itu untuk pertama kalinya.
Senyuman Bayu merekah sempurna, sebuah ekspresi langka yang seketika mengubah wajah kakunya menjadi begitu menawan.
Pria itu tidak bisa menyembunyikan rasa lega yang membuncah di dadanya. Tanpa ragu, Bayu menarik tubuh Larissa ke dalam pelukannya, mendekap wanita itu erat-erat di bawah langit fajar yang kian terang, menandakan dimulainya aliansi baru yang akan mengubah peta takdir mereka selamanya.
Satu bulan berlalu dengan cepat.
Di bawah kendali dari Bayu, persiapan menuju hari pernikahan bergulir dengan cepat. Sesuai dengan kesepakatan bersama, pernikahan ini akan digelar secara tertutup dari sorotan kamera media demi menjaga kenyamanan serta kondisi psikologis Elang yang masih dalam masa pemulihan trauma.
Acara sakral itu direncanakan hanya akan dihadiri oleh keluarga besar Bayu dan beberapa kolega bisnis paling terpercaya yang masuk dalam lingkaran high society asli.
Keluarga besar Bayu, yang merupakan dinasti konglomerat lama dengan silsilah terhormat, ternyata menyambut kehadiran Larissa dengan tangan terbuka. Mereka bukan tipe orang kaya baru yang haus akan validasi sosial atau sibuk pamer kemewahan.
Sebagai kalangan yang memegang teguh old money values, mereka tahu betul bagaimana ketulusan Lana telah menyelamatkan Elang dari belenggu trauma bicaranya sejak dia menjadi pengasuhnya.
Bagi mereka, ketulusan batin Larissa jauh lebih berharga daripada sekadar status sosial atau latar belakang rahimnya.
Selama satu bulan ini, Larissa disibukkan dengan berbagai rangkaian persiapan, mulai dari fitting gaun pengantin yang dirancang khusus oleh desainer couture ternama, hingga pertemuan berkala dengan tim wedding organizer.
Namun, di tengah padatnya jadwal tersebut, Larissa selalu memastikan bahwa perhatian dan waktunya untuk Elang tidak berkurang sedikit pun.
Hubungan antara Larissa dan Elang pun kian hari kian erat terikat. Bocah empat tahun itu kini sudah benar-benar pulih dari traumanya. Dia tidak lagi mengalami tantrum atau ketakutan saat melihat orang baru. Tawa riangnya kini selalu menggema di setiap sudut rumah, dan kosa katanya berkembang dengan sangat pesat.
Puncaknya adalah suatu sore, saat mereka berdua sedang duduk bersama di ruang tengah setelah menyelesaikan sesi terapi wicara harian Elang.
"Mama Ica," panggil Elang, matanya yang bulat menatap wajah Larissa dengan lekat. Ica adalah panggilan yang dibuat oleh Elang sendiri, dan Larissa sangat menyukainya.
Larissa menghentikan gerakannya yang sedang merapikan buku gambar, lalu mengusap rambut Elang dengan lembut. "Iya, sayang? Ada apa?"
"Papa bilang, sebentar lagi Mama Ica akan tinggal terus di rumah besar sama Elang dan Papa," ujar Elang dengan suara cemprengnya yang khas, wajahnya tampak begitu bersemangat.
Bocah itu menarik napas pendek, lalu menyunggingkan sebuah senyuman lebar. "Elang senang sekali. Itu berarti Elang boleh panggil 'Mama' setiap hari, kan? Bukan cuma kalau kita lagi main berdua aja?"
Mendengar permintaan polos yang keluar dari mulut mungil Elang, pertahanan mental Larissa kembali runtuh. Air mata kebahagiaan setetes demi setetes mulai mengalir membasahi pipinya.
Dia tidak pernah menyangka, di tengah vonis cacat biologis dan sebutan wanita mandul yang dijatuhkan oleh keluarga Baskoro, dia justru mendapatkan panggilan suci seorang "Mama" dari seorang bocah yang kini sangat dia cintai dengan segenap jiwanya.
Larissa berlutut, merengkuh tubuh mungil Elang ke dalam pelukannya dengan sangat erat. "Iya, Elang sayang...Elang boleh panggil Mama setiap saat. Mama sangat mencintai Elang."
Bayu yang baru saja melangkah masuk dari pintu depan berdiri diam di bawah bayangan pilar marmer, menyaksikan momen mengharukan itu. Raut kebahagiaan memancar dari wajah tegas sang CEO, menegaskan bahwa keputusannya untuk melamar Larissa adalah langkah terbaik yang pernah dia ambil sepanjang hidupnya.
Sesuai dengan linimasa yang telah diatur oleh tim humas korporat, tepat satu hari sebelum rangkaian acara sakral itu dilaksanakan, berita mengenai rencana pernikahan sang CEO Megah Corp akhirnya resmi dirilis ke publik melalui pengumuman formal di lantai bursa.
Meskipun acara resepsi dan akadnya direncanakan berlangsung sangat tertutup, pengumuman ini merupakan kewajiban regulasi karena Bayu adalah pucuk pimpinan tertinggi dari sebuah perusahaan terbuka.
Begitu dokumen rilis itu diunggah, berita tersebut langsung meledak bagai bom waktu di tengah masyarakat.
Tajuk rencana di seluruh media bisnis, stasiun televisi nasional, hingga akun-akun gosip sosialita seketika dipenuhi oleh satu topik utama:
"Miliarder Es Megah Corp Segera Akhiri Masa Lajang: Siapa Sosok Larissa Pramudita yang Berhasil Menaklukkan Hatinya?"
Foto Bayu dan Larissa yang bersanding kini dipajang dalam ukuran besar di halaman depan semua koran bisnis pagi.
Larissa di dalam foto itu tampak begitu anggun, berkelas, dan memancar wibawa yang dingin, benar-benar merepresentasikan citra seorang calon Nona Besar Megah Corp yang baru.
Namun ledakan berita ini memicu reaksi berantai yang tak terduga di kasta sosial menengah. Jika di kalangan konglomerat elite sosok Larissa dianggap sebagai perawan misterius yang anggun, berbeda halnya dengan lingkaran pergaulan lama keluarga Baskoro.
Pagi itu juga, grup-grup percakapan arisan Ibu Maya, jaringan mantan rekan kerja Larissa di kantor logistik, hingga lingkaran vendor konstruksi kelas menengah mendadak gempar.
Foto Larissa yang terpampang nyata di koran nasional dan portal berita digital langsung dikenali oleh banyak orang.
Desas-desus liar mulai menyebar bak api tersiram bensin di kalangan mereka.
"Eh, lihat deh! Ini kan Larissa, mantan istrinya Bram Baskoro yang diceraikan karena mandul?"
"Astaga, benar! Kok bisa-bisanya dia sekarang menggaet Bayu Megah Corp?!"
"Jangan-jangan dia pakai pelet? Atau selama ini dia diam-diam jadi simpanan waktu masih nikah sama Bram?"
Sindiran, gunjingan, dan spekulasi miring mulai berputar cepat di balik layar ponsel orang-orang di lingkaran lama mereka, menciptakan riak badai desas-desus yang siap menghantam reputasi keluarga Baskoro yang selama ini selalu berlagak paling suci.
Lain halnya dengan suasana di dalam ruang makan kediaman Baskoro terasa begitu kontras dengan gegap gempita berita di luar sana. Tensi di rumah mewah yang dibangun di atas pondasi kebohongan itu kian hari kian mencekam dan menyesakkan napas.
Masalah finansial Baskoro Konstruksi yang kini sedang sekarat akibat penarikan modal para investor pasca-insiden gala dinner, ditambah dengan hasutan Ibu Maya yang terus-menerus mendesak Bram untuk curiga pada Vera, membuat atmosfer rumah itu bagaikan neraka dunia.
Vera duduk di kursi meja makan. Dia sibuk mengaduk teh hangatnya secara obsesif, mencoba mengalihkan ketakutannya dari ancaman tes kesuburan Ibu Maya yang selama satu bulan ini berhasil dia tunda terus dengan berbagai alasan sandiwara medis.
Jerat di lehernya kian mengencang, sementara mantan kekasihnya, dr. Hendra, masih menghilang bak ditelan bumi.
Bram melangkah masuk ke ruang makan dengan langkah kaki yang diseret berat. Pria itu kini tampak jauh lebih tua dan lelah. Beban kehancuran bisnisnya secara perlahan telah mengikis kesombongan dan aura superioritas yang biasa dia banggakan.
Di tangan kanannya, dia memegang selembar koran bisnis pagi terbitan Harian Nusantara yang baru saja diambil dari teras depan.
Bram duduk di kursinya, menghela napas panjang penuh frustrasi tanpa menyapa Vera sedikit pun. "Sialan... kenapa semua rekan bisnis di kota ini mendadak bermuka dua? Hanya karena satu penolakan dari Bayu, mereka semua memperlakukan kita seperti sampah."
Bram mengambil cangkir kopi hitam panas di hadapannya, lalu menyeruputnya perlahan untuk menenangkan saraf-sarafnya yang tegang. Sembari memegang cangkir, matanya beralih menatap halaman depan koran bisnis di tangannya, berniat membaca perkembangan bursa saham pagi ini.
Namun, fokus matanya mendadak terkunci pada sebuah tajuk rencana besar berwana emas yang dicetak tebal di bagian atas halaman utama:
“PENGUMUMAN RESMI: CEO MEGAH CORP, BAYU WICAKSONO, AKAN MELANGSUNGKAN PERNIKAHAN DENGAN NONA LARISSA PRAMUDITA PADA ESOK HARI SECARA TERTUTUP DI KEDIAMANNYA. NONA LARISSA RESMI MENYANDANG GELAR SEBAGAI NYONYA BESAR MEGAH CORP.”
Di bawah tulisan tersebut, terpampang nyata foto beresolusi tinggi yang menampilkan sosok Larissa yang sedang menggandeng lengan Bayu dengan senyuman tipisnya yang begitu berwibawa dan menawan.
"Uhuk! Puh!"
Bram seketika menyemburkan seluruh kopi hitam panas di dalam mulutnya ke atas meja makan, membuat cangkir porselen di tangannya membentur meja dengan bunyi denting yang keras.
Air kopi yang hitam dan pekat itu langsung membasahi permukaan meja dan membuat koran di tangannya basah kuyup. Kopi panas itu juga membasahi sebagian piyama sutra mahalnya, namun Bram sama sekali tidak memedulikannya.
Wajah pria itu seketika berubah menjadi sangat pucat pasi, seputih kertas tanpa ada sisa aliran darah. Rahangnya merosot jatuh dengan sepasang mata membelalak lebar penuh dengan syok.
Dia menatap foto Larissa di koran yang basah itu dengan tatapan tidak percaya, seolah sedang melihat hantu masa lalu yang bangkit untuk menuntut balas.
Wanita yang dia ceraikan dan usir dengan keji sebagai wanita mandul tak berguna pembawa sial... wanita yang dia injak-injak harga dirinya selama lima tahun pernikahan... kini akan melangsungkan pernikahan hari ini dengan pria terkaya di negeri ini.
Bram terbatuk-batuk, napasnya memburu kasar dengan urat-urat yang menegang hebat di pelipisnya. Pria itu mencengkeram dadanya yang mendadak terasa begitu sesak akibat hantaman kenyataan yang terlalu brutal bagi harga dirinya.
Seluruh tubuhnya bergetar gemetar, tak sanggup menerima fakta bahwa takdir telah membalikkan keadaan dengan begitu kejam di depan wajahnya.
Vera yang duduk di sebelah Bram ikut menoleh ke arah koran yang basah akibat semburan kopi suaminya. Begitu sepasang matanya menangkap foto wajah Larissa yang bersanding dengan Bayu, seluruh tubuhnya seketika lemas tak bertulang.
Gelas teh di tangan Vera merosot jatuh dari jemarinya yang mendadak mati rasa, pecah berkeping-keping di atas lantai dan mengotori gaun tidurnya. Tapi dia tidak mempedulikannya.
Mantan istri yang selama ini dia anggap sebagai sampah dan dia fitnah secara keji sebagai wanita mandul, telah resmi naik takhta menjadi Nyonya Besar Megah Corp. Kedudukan mereka kini telah berjarak bak langit dan bumi.
Bersambung
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut