NovelToon NovelToon
Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Sepuluh Ribu Kematian Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: ViNZ idk

Di Sekte Lembah Giok Hitam, menjadi "Murid Teladan" bukanlah kehormatan, melainkan vonis mati sebagai tumbal perpanjangan umur sang tetua.

Di malam sebelum darahnya dikuras habis di atas altar, Gu Yuan, seorang murid luar tanpa latar belakang, tak sengaja membangkitkan artefak peninggalan ayahnya: Kaca Kematian Awal (Yuan Sha Jing).

Setiap kali niat membunuh mengarah padanya, cermin kuno itu membekukan waktu dan memaksanya mati dalam ribuan cabang simulasi. Ia merasakan lehernya ditebas, meridiannya meledak, dan racun membakar jantungnya berulang kali, semua demi satu hal yakni menemukan satu-satunya jalan keluar hidup-hidup.

"Jika takdir menyuruhku mati sepuluh ribu kali, maka aku akan bangkit sepuluh ribu satu kali untuk memenggal takdir itu sendiri."

Bagi Gu Yuan, kematian bukan akhir, melainkan peta menuju keabadian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 015 - Menghadap Tanpa Pilihan

Suara Tetua Mo Cheng yang berat dan serak itu seolah membawa beban ribuan kati yang menindih rongga dada Gu Yuan. Tekanan Qi dari seorang kultivator Ranah Fondasi Sejati merambat lambat di sepanjang lantai marmer, membuat bulu kuduk di tengkuknya meremang dingin.

Gu Yuan melirik sekilas ke arah pintu keluar samping aula yang mengarah ke pelataran terbuka.

Jika ia berbalik sekarang dan melompat menerobos jendela kayu, jaraknya ke pagar pembatas luar hanya sekitar tiga puluh langkah. Namun, di atas dinding pelataran terpasang jajaran jimat pembatas wilayah yang menyala redup dengan pendaran cahaya perak—jimat pembunuh yang dipicu oleh formasi panah spiritual menara induk. Tanpa memegang pelat sandi harian penonaktif formasi yang diperbarui setiap fajar oleh tetua balai dalam, tubuhnya akan langsung dicabik-cabik oleh lusinan anak panah energi sebelum sempat menginjak tanah berumput di luar.

Melarikan diri secara membabi buta ke pelataran terbuka adalah bunuh diri. Satu-satunya jalan keluar yang rasional adalah terus memainkan perannya sebagai Luo Biao hingga ia menemukan kesempatan memegang pelat pengendali formasi altar atau memicu kekacauan yang melumpuhkan sistem pertahanan sekte.

Gu Yuan menarik napas perlahan melalui hidung, menenangkan detak jantungnya hingga kembali pada ketukan yang stabil. Ia menarik tepi topi jeraminya lebih rendah lagi, lalu melangkah mantap menembus tirai sutra merah yang tergantung di depan singgasana balai belakang dengan kepala tertunduk sedalam-dalamnya.

Di balik tirai sutra tersebut, terhampar sebuah ruangan luas yang pengap dan temaram. Cahaya matahari siang sengaja dihalangi oleh tirai-tirai tebal berlapis kain beledu hitam di setiap jendela. Di keempat sudut ruangan, empat buah pedupaan tembaga berkaki tiga terus membakar serbuk kayu cendana tua, mengepulkan asap kelabu yang pekat dan beraroma harum menusuk.

Namun, wewangian dupa cendana yang kuat itu tidak mampu menyamarkan bau busuk yang sebenarnya menguasai ruangan: aroma anyir darah basi yang bercampur dengan bau asam tembaga karat dan nanah yang membusuk secara perlahan.

Di atas sebuah kursi kayu cendana merah berukir naga darah yang diletakkan di atas mimbar setinggi tiga undakan, duduk bersila sosok Tetua Mo Cheng.

Kondisi fisik tetua pengurus murid luar itu tampak jauh lebih mengerikan daripada beberapa pekan lalu saat ia terakhir kali membagikan pil di pelataran barak. Jubah sutra merah marun yang ia kenakan tampak kebesaran membungkus tubuhnya yang kian kurus kering seperti kerangka terbungkus kulit. Kulit wajahnya pucat kehijauan seperti lumut rawa mati, dengan lingkaran hitam tebal dan cekung di bawah kelopak matanya yang tertutup rapat.

Di pipi kanannya, luka membusuk akibat racun Korosi Tulang telah menghitam sepenuhnya, menyebarkan urat-urat keunguan yang berdenyut tegang di sepanjang lehernya hingga menghilang ke balik kerah jubah. Dari tubuh pria tua itu, terus menguar hawa dingin beracun yang membuat embun tipis membeku di lantai marmer di sekeliling kursinya.

Gu Yuan melangkah perlahan hingga berjarak lima langkah di depan mimbar batu, lalu membungkukkan badannya dengan kedua tangan terkatup di depan dada dalam posisi memberi hormat standar seorang pengawas bawahan.

“Luo Biao melapor kepada Tetua,” kata Gu Yuan dengan suara parau yang rendah, menjaga kepalanya tetap menunduk agar tepi topi jerami bambunya menghalangi pandangan Mo Cheng dari melihat wajahnya. “Seluruh sepuluh bejana di ruang bawah tanah telah diamankan. Minyak pembakar untuk ritual malam ini juga sudah selesai disiapkan di gudang luar.”

Mo Cheng tidak langsung menjawab. Kelopak matanya yang cekung tetap terkatup rapat, napasnya berhembus lambat dan berat dengan bunyi desis parau seperti pipa tembaga yang bocor. Di dalam ruangan yang sunyi itu, hanya terdengar suara gemeretak halus abu dupa yang jatuh ke dasar pedupaan.

Keheningan yang mencekam itu berlangsung selama sepuluh tarikan napas penuh. Setiap detik terasa berjalan sangat lambat, menguji ketahanan mental Gu Yuan yang berdiri mematung di lantai marmer yang dingin.

Tiba-tiba, kelopak mata kiri Mo Cheng terbuka sedikit, memperlihatkan pupil matanya yang berwarna kuning keruh dengan urat-urat merah yang pecah di sudut matanya. Tatapannya yang dingin dan kosong menyapu tubuh Gu Yuan dari kepala hingga ke ujung jubah abu-abunya.

Tangan kanan Mo Cheng yang kurus kering dan bercak-bercak hitam bergerak pelan dari atas lututnya. Jemarinya yang berkuku panjang menyambar sebuah cangkir giok hijau bermotif ular melingkar dari meja samping kursinya.

Ting… sret!

Mo Cheng melemparkan cangkir giok tersebut ke lantai marmer di depan kaki Gu Yuan. Cangkir itu tidak pecah; wadah batu giok itu hanya berputar pelan di atas lantai marmer sebelum berhenti tepat di antara kedua sandal jerami Gu Yuan.

Di dalam cangkir giok tersebut, tergenang cairan kental berwarna merah kehitaman yang mengeluarkan uap berbau tembaga karat dan asam belerang yang sangat menyengat hidung. Permukaan cairan beracun itu tampak bergolak pelan dengan gelembung-gelembung halus yang meletup dingin.

“Tadi pagi kau bilang ramuan penenang di dapur sudah siap,” suara Mo Cheng terdengar dingin dan parau, terdengar seperti suara tulang yang bergesekan di dalam peti mati. “Sebelum aku memakai darah sebelas wadah itu malam ini, aku ingin memastikan kemurnian racun penunduk meridian yang kau buat bersama juru masak.”

Mo Cheng mengangkat tangannya sedikit, menunjuk ke arah cangkir giok di lantai.

“Minum setengah cangkir itu di hadapanku sekarang,” lanjut Mo Cheng tanpa nada keraguan sedikit pun. “Tunjukkan bahwa bejana-bejana itu tidak akan punya kekuatan untuk memberontak saat darah mereka mengalir ke tiang formasi.”

1
Shiro Hoshinova
jir jadi kiko
Shiro Hoshinova
Apalagi ini woy
Helios
Hahaha lolos gara-gara botol arak
Ryo Hamada
Misah jalan sendirian mungkin pilihan paling cerdas buat hindarin kejaran sekte
Ryo Hamada
Mo Cheng kuat bgt ya berarti, udh turun ranah tapi masih bisa ancurin lantai
Ryo Hamada
Gas mumpung ada kesempatan
Ryo Hamada
Beneran dingin banget sikap MC kalau udh masalah keselamatannya. Realistis & gak naif, suka aku model MC yg kaya gini
Ryo Hamada
Xiao Wu mungkin ceroboh micu bel alarm, tapi kekacauan sekte justru nutupin langkah Gu Yuan menuju gua air terjun. Momentum pas jir
Ryo Hamada
Mungkin langsung masuk ke aula Mo Cheng itu langkah bunuh diri, tapi jalan mundur udah ketutup total. Harus main peran sampe tuntas.
Helios
Woy tahanan di bilik jangan teriak napa
Shiro Hoshinova: Fix inimah
total 1 replies
Shiro Hoshinova
Hawanya horor kerasa banget, keren thor!
Helios
Hoki seumur hidup kepake tuh pas kuncinya jatuh deket sepatu wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!