SINOPSIS
.
.
.
.
.
Delapan tahun setelah dikirim ke Selatan, Shen Ruyin akhirnya kembali ke Chang’an.
Keluarganya mengatakan ia pergi karena sakit. Namun sejak kepulangannya, Ruyin mulai menemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ingatannya.
Orang-orang di Chang’an mengingat masa kecilnya dengan cara yang berbeda. Ibunya terlalu berhati-hati saat membicarakan masa lalu, sementara kakaknya mengetahui hal-hal yang seharusnya tidak ia ketahui.
Lalu Ruyin menemukan sebuah lukisan tua.
Wajah perempuan di dalamnya sama persis dengannya—padahal lukisan itu dibuat bertahun-tahun sebelum ia lahir.
Jika semua orang menyimpan rahasia tentang dirinya, lalu siapa sebenarnya Shen Ruyin?
Dan apa yang terjadi pada malam ketika ingatannya mulai hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diva Devira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: SIMPUL YANG DIKENAL KAKAK
Tanggal sepuluh bulan sepuluh.
Ruyin terbangun dengan angka itu di kepalanya, seperti nama yang disebut seseorang di tengah tidur. Ia tidak tahu apakah tanggal itu sungguh berarti atau hanya kebetulan yang terlalu rapi. Seorang anak bisa menulis "besok" tentang apa saja: tentang kue, tentang janji bermain, tentang seekor kucing yang belum pulang. Ia mengingatkan dirinya bahwa dugaan belum bisa disebut bukti.
Buku tulis itu ia kembalikan ke barisan paling bawah rak, persis di tempat ia menemukannya, miring sedikit seperti dulu. Kunci dan catatan kecilnya tetap tersembunyi di balik lapisan kain dalam kotak. Setelah itu ia memanggil pelayan untuk membantunya berdandan, dan memilih jepit rambut yang paling sederhana.
Satu pertanyaan terus mengikutinya sepanjang pagi, dan ia tidak menemukan jawabannya: mengapa seorang anak kecil perlu menyembunyikan sesuatu dari kakak yang menjerit paling keras ketika ia terluka?
———
Yucheng ia temukan di serambi halaman tengah, sedang memeriksa tumpukan buku rekening bersama pengurus rumah. Begitu melihat Ruyin, ia menutup gulungan itu dan menyuruh pengurus pergi dengan satu lambaian tangan.
"Kau sudah bangun. Aku baru mau menyuruh orang membawakan bubur ke kamarmu."
"Aku ingin berjalan dulu. Kakak punya waktu?"
"Untukmu, selalu."
Ia mengatakannya dengan ringan dan tulus, dan Ruyin tidak menemukan celah apa pun di sana. Itulah yang membuatnya makin berhati-hati. Ia tahu orang yang berbohong sering gagap, tetapi orang yang menyimpan sesuatu sering justru paling lancar.
Mereka berjalan pelan menyusuri koridor berpagar kayu yang mengelilingi taman. Daun ginkgo sudah mulai menguning di tepinya. Seorang tukang kebun membungkuk memberi hormat dari kejauhan dan Yucheng mengangguk tanpa menghentikan langkah.
"Rumah ini lebih sunyi dari yang kuingat," ujar Ruyin.
"Dulu kau yang paling berisik." Yucheng tertawa kecil. "Kau suka berlari di koridor ini sampai Ibu menyuruh pelayan menaruh tikar supaya langkahmu tidak terdengar."
"Aku?"
"Kau. Jangan pura-pura lupa."
"Aku memang banyak lupa, Kak." Ruyin memandang lurus ke depan. "Anehnya, aku masih ingat ada seseorang yang mengajariku menulis. Tangannya sabar sekali. Aku sampai tidak ingat siapa dia."
Langkah Yucheng tidak berubah. Sumpit ataupun cangkir tidak ada di tangannya kali ini, jadi tidak ada benda yang bisa menunjukkan getarnya. Hanya lengan jubahnya yang bergeser sedikit ketika ia merapikannya.
"Itu pasti Guru Pei," katanya. "Guru keluarga kita dulu. Seorang tua yang suka sekali menepuk kepala muridnya dengan gulungan buku. Kau menangis dua hari ketika ia pertama kali memarahimu."
"Guru Pei."
"Beliau meninggal tak lama setelah kau pergi. Sakit di dada, kalau aku tidak salah."
Itu jawaban yang masuk akal. Seorang guru tua yang sudah wafat, dan karena itu tidak akan bisa ditanyai.
"Tangan Guru Pei pasti kasar," ujar Ruyin. "Yang kuingat sangat halus."
"Orang tua bisa halus juga, kalau mengajar anak perempuan." Yucheng menoleh dan tersenyum. "Ingatan kanak-kanak itu seperti lukisan basah, Ruyin. Warnanya mudah bercampur."
Ruyin mengangguk, seolah kalimat itu menenangkannya.
———
Mereka berhenti di dekat paviliun kecil di tepi kolam. Yucheng membeli sepotong kue beras ketan dari pelayan yang kebetulan lewat dan memecahnya jadi dua, seperti kebiasaan anak-anak. Ruyin menerima setengahnya.
"Kakak sering berada di halaman timur dulu, waktu aku bermain di sana?"
"Tidak sesering yang kau kira." Yucheng mengunyah pelan. "Tahun-tahun terakhir sebelum kau berangkat, Ayah mengirimku belajar di akademi di lereng gunung. Aku hanya pulang dua kali setahun, ketika tahun baru dan ketika musim panas."
"Sepanjang tahun?"
"Hampir sepanjang tahun."
Ruyin memikirkan malam sebelum keberangkatan: Yucheng berlutut di hadapannya dengan lengan baju basah. Jika kakaknya benar, malam itu bukan musim panas ataupun tahun baru. Atau mungkin saja ia pulang di luar jadwal. Orang bisa pulang kapan saja kalau adiknya akan dikirim jauh.
"Berarti Kakak tidak ada waktu aku dikirim," katanya hati-hati. "Maksudku, di hari-hari menjelang aku berangkat."
"Aku ada." Jawaban itu keluar terlalu cepat, dan Yucheng seperti menyadarinya sendiri. Ia menelan kuenya. "Ibu mengirim kabar. Aku pulang berkuda semalaman untuk mengantarmu. Tapi kau sudah tertidur di kereta ketika aku sampai di gerbang."
"Tertidur."
"Obat dari tabib membuatmu mudah mengantuk. Kau tidak ingat?"
"Tidak." Ruyin tersenyum tipis. "Kalau begitu aku ini memang tidak bisa diandalkan soal ingatan."
"Jangan bicara begitu."
Ia mengatakannya sedikit terlalu keras. Seorang pelayan di seberang kolam menoleh, lalu cepat-cepat menunduk lagi. Yucheng mengusap pangkal hidungnya, menarik napas panjang.
"Maaf. Aku hanya tidak suka mendengarmu merendahkan dirimu sendiri."
Dan Ruyin percaya bahwa itu benar. Di sanalah letak kesulitannya. Kasih sayang itu nyata, terlalu nyata untuk dicurigai tanpa merasa bersalah.
———
Mereka duduk di bangku paviliun. Ruyin mengeluarkan seutas benang dari lengan bajunya, sisa benang sulam yang ia bawa dari Selatan, untuk mengikat gulungan surat yang akan ia kirim ke tabib tua. Jari-jarinya bergerak sendiri: tiga lilitan, satu ujung diselipkan kembali.
Yucheng memperhatikan dari samping, kunyahannya melambat.
"Simpul itu lagi," katanya sambil tersenyum. "Aneh tapi kuat. Itu kata orang tua itu, bukan? Kau selalu membuatnya seperti itu, seakan takut ada yang bisa melepasnya."
Ruyin tidak berhenti mengikat. Ia menyelesaikan lilitan terakhir dengan tangan yang tetap stabil, lalu menarik simpul itu erat.
"Orang tua yang mana, Kak?"
"Hm?"
"Yang mengatakan itu."
Sepersekian detik, wajah Yucheng kosong, seperti seseorang yang melangkah turun satu anak tangga yang tidak ada. Lalu ia tertawa, pendek dan ringan.
"Guru Pei, tentu saja. Siapa lagi?"
"Tentu saja," kata Ruyin.
Ia meletakkan gulungan itu di pangkuan dan memandang kolam. Seekor ikan emas naik ke permukaan, membuat riak kecil, lalu menghilang lagi.
Kalimat itu bukan ucapan Guru Pei. Ia sendiri tidak pernah mendengarnya dari Guru Pei, karena ia tidak punya ingatan tentang guru itu sama sekali. 'Aneh tapi kuat' adalah kata-kata tabib tua di Selatan, diucapkan di beranda rumah tepi sungai, bertahun-tahun setelah ia meninggalkan rumah ini. Ia tidak pernah menuliskannya dalam surat. Tidak ada surat dari rumah ini yang pernah sampai ke Selatan, dan tidak ada surat dari Selatan yang pernah ia kirim ke sini.
Namun kakaknya mengucapkannya dengan nada orang yang sudah lama mengenal kalimat itu.
"Ruyin?" Yucheng menyentuh lengannya. "Kau melamun."
"Aku hanya memikirkan teh," jawabnya. "Kakak bilang tadi ada kedai yang bagus di dekat pasar."
Dan sementara Yucheng mulai bercerita tentang kedai itu dengan wajah yang kembali tenang dan hangat, Ruyin mendengarkan sambil mengangguk, memikirkan satu pertanyaan saja.
Jika kakaknya tidak berada di rumah, tidak pernah membaca surat dari Selatan, dan tidak pernah bertemu tabib tua itu, dari mana ia mengetahui apa yang dikatakan orang itu tentang simpulnya?