Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9
Hari itu langit Jakarta berwarna abu-abu muda. Awan tipis menggantung seolah menahan hujan yang belum mau turun. Dera berdiri di depan cermin kecil di kamar kosan Rere, menatap bayangannya sendiri. Rambutnya sudah digulung rapi ke belakang, wajahnya hanya diberi sedikit bedak dan lipstik warna nude. Ia mengenakan blazer hitam yang sempat ia lipat rapi di dalam koper, dipadukan dengan kemeja putih dan rok pensil abu-abu.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Semoga diterima,” ucap Dera penuh harap.
Di meja kecil di samping tempat tidur, ponselnya bergetar. Pesan dari Rere masuk.
“Semangat, Der. Jangan lupa napas. Kamu pasti bisa.”
Dera tersenyum tipis. Ia membalas pesan singkat dari Rere, lalu memasukkan ponsel ke dalam tas kerja miliknya. Di dalam tas itu hanya ada map berisi fotokopi ijazah, curriculum vitae, dan sebotol air mineral.
Ia keluar dari kosan dengan langkah semangat. Angin pagi yang agak lembap menyambutnya di luar. Motor ojek online sudah menunggu di depan. Sepanjang perjalanan menuju kawasan perkantoran di Sudirman, Dera hanya diam. Pandangannya menatap gedung-gedung tinggi yang berlalu cepat di sampingnya. Pikirannya kemana-mana.
Rasa takut tentu ada. Bagaimana jika ditolak? Bagaimana jika mereka melihat aku hanya sebagai perempuan yang lari dari masalah? Bagaimana jika aku gagal lagi?
Dera menggigit bibirnya. Ia menolak membiarkan pikiran itu menang. Ia sudah banyak kalah. Hari ini, setidaknya, ia harus mencoba berdiri.
Gedung tempat interview itu menjulang tinggi dengan kaca-kaca yang memantulkan langit. Lobi dalamnya dingin, ber-AC kencang, dan beraroma parfum mahal. Resepsionis tersenyum profesional saat Dera menyebutkan namanya.
Beberapa menit kemudian, ia dipersilakan menunggu di ruang tunggu yang tenang. Ada tiga pelamar lain yang sudah duduk di sana, dua laki-laki dan satu perempuan. Mereka semua terlihat lebih percaya diri darinya.
Dera duduk di ujung sofa, menggenggam map di pangkuannya. Jari-jarinya sedikit gemetar. Ia menarik napas dalam-dalam.
Tak lama nama Dera dipanggil.
Ruang interview berukuran sedang, dengan meja kayu gelap dan dua orang pewawancara, seorang laki-laki berusia empat puluhan dan seorang perempuan yang kelihatannya lebih muda. Mereka tersenyum sopan.
“Selamat pagi, Mbak Dera. Silakan duduk.”
Dera mengangguk, duduk tegak di hadapan mereka. Suara hatinya berteriak minta tenang, tapi wajahnya berusaha tetap netral.
Wawancara berjalan cukup lama. Pertanyaan datang bergantian, pengalaman kerja, alasan pindah ke Jakarta, bagaimana ia menghadapi tekanan, dan apa yang membuatnya ingin bergabung dengan perusahaan itu. Dera menjawab sejujur mungkin. Suaranya sempat bergetar di awal, lalu perlahan berubah tenang.
Ketika pewawancara perempuan menanyakan kelemahan terbesarnya, Dera terdiam sejenak.
“Saya terlalu sering mengalah demi orang lain,” katanya pelan. “Tapi sekarang saya belajar untuk tidak melakukan itu lagi. Saya ingin lebih berani memilih diri saya sendiri.”
Kedua pewawancara saling pandang. Senyum tipis terulas di wajah mereka.
Empat puluh menit kemudian, wawancara selesai. Dera berdiri, menjabat tangan mereka, dan mengucapkan terima kasih. Kakinya sedikit goyah saat keluar dari ruangan, tapi ia menahan diri agar tidak terlihat lemah.
Di lobi, ia berdiri sejenak di dekat jendela besar. Jakarta di luar tetap ramai dan tidak peduli. Dera menghela napas lega.
Sisa hari itu terasa panjang. Setelah interview selesai, Dera kembali ke kosan dengan langkah yang agak lesu. Ia langsung menuju kamar, melepas blazer hitamnya, lalu berganti pakaian lebih longgar, kaus oblong dan celana pendek. Rasa tegang di bahu dan lehernya perlahan mereda, digantikan oleh kelelahan yang dalam.
Di dapur kecil, Rere sudah mulai menyiapkan bahan-bahan untuk makan malam. Bau bawang yang digoreng memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma kecap manis. Dera menghampiri tanpa banyak bicara, lalu mengambil pisau dan papan potong untuk membantu mengiris sayuran.
Mereka mengobrol tentang hal-hal ringan sambil bekerja. Rere bercerita tentang rekan kerjanya yang selalu terlambat, tentang harga cabai yang naik, dan tentang tetangga yang suka menyanyi di malam hari. Dera sesekali tersenyum atau mengangguk, meski pikirannya masih berkeliaran di ruang interview tadi.
“Bagaimana interviewnya?” tanya Rere tiba-tiba, sambil mengaduk tumisan di wajan.
Dera menghela napas pelan. “Lancar, Re. Aku sudah jawab semua pertanyaan semampu aku. Tapi… aku belum tahu diterima atau tidak.”
Rere menoleh, tersenyum yakin. “Percayalah, kamu pasti diterima. Aku bisa lihat dari caramu bicara. Kamu kelihatan serius dan siap.”
“Semoga aja, Re,” jawab Dera pelan. Senyumnya tipis, tidak sampai ke mata.
Mereka kembali fokus memasak. Rere terus bercerita, berusaha mengisi keheningan, sementara Dera mengiris wortel dengan gerakan otomatis. Namun pikirannya tidak sepenuhnya di dapur.
Tiba-tiba…
“Aww…!” pekik Dera keras. Pisau yang digenggamnya terlepas dan jatuh ke papan potong. Darah segar langsung mengalir dari ujung jari telunjuknya.
Rere langsung panik. “Astaga, kamu kenapa, Dera?!” Ia cepat-cepat mematikan kompor, lalu menarik tangan Dera ke wastafel. Air mengalir deras, membilas darah yang terus keluar. Rere memegang pergelangan tangan temannya erat-erat, wajahnya penuh khawatir.
“Kamu melamun terus dari tadi! Sakit banget, ya?” tanyanya sambil memeriksa luka itu. Irisan cukup dalam, darahnya tidak langsung berhenti.
Dera menggigit bibir, menahan rasa perih. “Iya… aku kurang hati-hati. Maaf, Re.”
“Jangan minta maaf. Tunggu, aku ambil obat merah dan perban.” Rere buru-buru mengambil kotak P3K dari lemari, lalu membersihkan luka Dera dengan telaten. Tangannya lembut, tapi gerakannya cepat dan cekatan.
Sementara itu, Dera hanya diam. Rasa sakit di jarinya justru membuatnya semakin sadar betapa berantakannya pikirannya hari ini. Ia menatap darah yang mulai mengering di bawah aliran air, lalu berbisik pelan,
“Aku takut gagal lagi, Re…”
Rere yang sedang menempelkan perban menghentikan gerakannya sejenak. Ia menatap wajah Dera, lalu menghela napas.
“Kamu tidak akan gagal sendirian,” katanya lembut. “Aku di sini. Dan besok, atau lusa, hasilnya pasti bagus. Percaya sama aku.”
Dera mengangguk pelan. Meski jari telunjuknya masih berdenyut nyeri, ada rasa hangat yang sedikit meredakan kekhawatirannya. Di dapur kecil yang dipenuhi aroma masakan, untuk malam itu, ia membiarkan dirinya bersandar sedikit pada temannya.
******
Keesokan harinya, tepat pukul sepuluh pagi, ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.
“Halo, selamat pagi. Dengan Mbak Dera?”
Suara di seberang profesional dan ramah.
“Ya, benar.”
“Saya dari HRD. Kami ingin mengabari bahwa Mbak Dera dinyatakan diterima untuk posisi yang dilamar. Silakan datang Senin depan untuk orientasi dan penandatanganan kontrak.”
Dera terdiam. Jantungnya yang sejak kemarin berdegup tidak menentu kini seolah berhenti sejenak.
“Saya diterima?” suaranya hampir berbisik.
“Benar, Mbak. Selamat. Kami tunggu kehadirannya Senin depan.”
Setelah telepon terputus, Dera masih memegang ponsel di tangan. Matanya memanas. Air mata yang sejak lama ia tahan akhirnya menetes pelan, tapi kali ini bukan karena sakit. Melainkan lega. Sangat lega.
Ia duduk di tepi tempat tidur, menutup wajah dengan kedua tangan, lalu tertawa kecil di sela tangisnya.
Rere yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri. “Der? Kenapa?”
Dera mengangkat wajahnya. Senyumnya lebar, meski air mata masih membasahi pipi.
“Aku diterima, Re,” katanya. “Aku diterima kerja.”
Rere langsung memeluknya erat. “Aku bilang kan! Kamu pasti bisa!”
Dera membalas pelukan itu. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Bandung, ia merasa ada sesuatu yang benar-benar miliknya. Bukan sisa-sisa yang diberikan orang lain. Bukan belas kasihan. Melainkan hasil langkahnya sendiri.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa