NovelToon NovelToon
Di Labrak Selingkuhan Suami

Di Labrak Selingkuhan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:18.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Yurinika tak mengira akan di labrak oleh selingkuhan suaminya. bukan hanya sekali tapi berkali-kali selingkuhannya itu datang dan melabrak dia. memintanya meninggalkan sang Suami Abimana. pria bingung itu justru tak mau meninggalkan keduanya.

hingga akhirnya Yuri benar-benar kecewa kepada Abimana dan saat tahu Sandra adalah anak dari atasannya di kantor membuat Yuri memiliki ide untuk memanfaatkannya.

apa yang akan di lakukan Yuri atas rasa kecewa yang dia dapat dari suami yang sudah dia bersamai dari titik nol sampai mereka menikah dua tahun? ikuti terus ceritanya.

dan jangan lupa baca karya othor lainnya dengan mencari nama pena Yam_zhie.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yurinika 2

Tangan Yuri yang berada di samping badannya seketika mengepal. Nama suami yang belakangan ini mulai sibuk dan jarang di rumah karena selalu beralasan banyak pekerjaan, kini disebut oleh wanita yang berdiri pongah di hadapannya. Ternyata alasannya adalah wanita yang bernama Sandra.

"Tunggu dulu," suara Yuri berusaha tetap tenang, meski dadanya bergemuruh hebat.

Hati istri mana yang tak meletup-letup seperti letupan gunung merapi. Karena tak ada angin, tak ada hujan tiba-tiba datang seorang wanita yang datang melabrak dan meminta dirinya menjauhi suaminya sendiri. Hatinya benar-benar tercubit, walau rumah tangganya akhir-akhir ini sedikit dingin karena kesibukan Abimana, tapi pernikahan mereka selama ini baik-baik saja. Bahkan mereka masih berkomunikasi dengan baik.

"Anda ini siapa berani-beraninya datang ke tempat kerja saya dan menyuruh saya menjauhi suami saya sendiri? Anda sehat, Mbak Sandra yang terhormat?"

Sandra tertawa renyah, sebuah tawa yang sarat akan cemoohan. Ia melangkah maju hingga jarak mereka hanya tersisa sejangkauan tangan. Bau parfum mahal yang menyengat langsung menusuk indera penciuman Yuri.

"Suami?" Sandra mencondongkan badan.

"Asal kamu tahu ya, Yuri... Abi itu udah nggak anggap kamu ada! Pernikahan kalian itu cuma di pertahankan karena kasihan. Dia menyayangi saya, dia cuma butuh saya! Kamu itu cuma beban yang kebetulan belum sempat dia depak! Tinggal menunggu waktu, sedikit lagi rasa kasihannya habis!"

PLAK!

Suara tepukan keras saat Sandra menghempaskan seikat amplop tebal berisi lembaran uang kertas ke atas meja kayu di antara mereka membuat suasana seketika hening.

"Ini uang lima puluh juta. Cukup kan buat bayar ganti rugi waktu kamu selama dua tahun menikah dengan Abimana? Ambil uang ini, angkat kaki dari rumah Abi, dan urus perceraian kalian sekarang juga! Karena aku dan Abi akan segera menikah!" seru Sandra dengan wajah menantang.

Ajeng yang memperhatikan dari balik pintu kaca kedai kopi langsung menutup mulutnya terkejut. Ia bersiap keluar untuk menolong sahabatnya, namun langkahnya terhenti saat melihat respons Yuri.

Yuri tidak menangis. Ia tidak juga berteriak histeris. Sebaliknya, Yuri merapikan tatanan hijabnya menghela napas panjang, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Sandra dengan pandangan yang sangat dingin.

Ia meraih amplop tebal di atas meja, menimbangnya sebentar di tangan, lalu tersenyum manis, begitu manis hingga membuat rasa percaya diri Sandra sedikit bergoyang.

"Lima puluh juta?" Yuri menaikkan alisnya.

Ia mendekati Sandra, lalu menebarkan amplop beserta isinya ke atas lantai secara perlahan, tepat di depan sepatu hak tinggi milik Sandra. Hal itu membuat Sandra kaget bukan main, begitupun dengan Ajeng,

"Ternyata harga diri seorang Abimana di mata selingkuhannya cuma segini? Ah, ternyata sangat rendah sekali harga suami aku di mata kamu, Mbak Sandra! Apalagi dua tahunku mengurus dia... Ah, rasanya nggak sebanding sekali! Sangat murah atau mungkin mura-han? Seperti kamu yang tak tahu malu menginginkan suami orang lain dan bahkan dengan beraninya datang kepada istri sah seperti ini!" bisik Yuri tepat di samping telinga Sandra.

Wajah Sandra seketika memerah padam. "Kamu...!"

"Dengar ya, Mbak Sandra yang terhormat," cut Yuri tegas, matanya memancarkan ketegaran yang tak tergoyahkan.

"Kalau kamu memang sebangga itu bisa merebut sam-pah dari tangan saya, ambil saja! Tapi jangan pernah berani datang ke sini, mengotori tempat kerja saya, dan bertingkah seolah kamu pemenangnya. Kalau Abimana bisa mengkhianati saya demi kamu, apa yang bikin kamu yakin dia nggak akan melakukan hal yang sama ke kamu nanti?"

Sandra mengepalkan tangannya rapat-rapat, dadanya naik turun menahan amarah. Sebelum ia sempat membalas ucapan itu, Yuri sudah berbalik membelakanginya.

"Jeng! Tolong sapu sampah di depan ya, bau banget," seru Yuri lantang pada Ajeng yang masih berdiri terpaku di balik pintu, sebelum akhirnya melangkah masuk kembali ke dalam kedai kopi tanpa menoleh lagi.

"Ah gampang ini mah! Serahin saja sama gue, Yuri..." jawab Ajeng mendekat ke arah Sandra membawa pengki dan sapu.

"Mau ngapain lo?" Teriak Sandra.

"Noh pungut uang nggak seberapa lo! Terus pergi sebelum gue sapu wajah lo yang menjijikan itu! Jadi pelekor aja bangga lu, Mbak! Apa nggak laku ya sampe-sampe doyan laki orang! Miris banget, ngaku cantik tapi nggak laku ke pria single. Minimal duda lah jangan laki orang! Malu-maluin gender kita sesama cewek aja lu!" Kesal Ajeng sambil menyapu-nyapu kaki dan tangan Sandra yang sedang memunguti uang yang di buang oleh Yuri.

"Sakit gila! Pergi nggak lo! Nggak usah ngeba-cot!"

"Dih ngegas nih nenek lampir!"

SRAAAAAKKKK

SRAAAAAKKKK

Ajeng menyapu lebih keras kaki dan tangan Sandra.

"Sakiiitt! Sia-lan lo! Awas ya lo!" Sandra pergi setelah memasukkan uang-uang yang tercecer ke dalam tas miliknya.

"Iya gue awasin!" teriak Ajeng.

"Dih lumayan ketinggalan lima lembar... Buat bayar kostan..." kekeh Ajeng saat melihat ada lima lembar uang yang tertinggal. Sedangkan Sandra pergi dari sana dengan penuh emosi dan juga dengan harga diri yang terkoyak dengan keberanian Yuri. Dia tak mengira kalau Yuri bisa melemparkan uang itu kepadanya.

Di dalam kedai kopi, suasana hening seketika menyambut langkah kaki Yuri. Beberapa pengunjung yang tadi sempat mengintip keributan di luar buru-buru mengalihkan pandangan, berpura-pura sibuk dengan laptop atau cangkir kopi masing-masing.

Yuri berjalan lurus ke arah dapur belakang. Langkahnya begitu konstan, tegak, dan tanpa ragu. Namun begitu pintu kayu area staf tertutup rapat dan mengisolasi suara mesin espresso, pertahanan dirinya retak.

Kedua lutut Yuri melemas. Ia bersandar pada dinding dingin, membiarkan tubuhnya merosot pelan hingga terduduk di lantai keramik. Napasnya memburu, dadanya terasa seperti dihantam batu besar yang amat berat.

"Tiga tahun..." bisik Yuri pada dirinya sendiri, suaranya bergetar hebat. Matanya menatap kosong ke lantai.

"Tiga tahun kita sama-sama dan nemenin dia dari nol... hingga akhirnya dua tahun menikah, ternyata cuma dibalas begini? Kurang ajar kamu Abimana! Kamu fikir setelah semua pencapaian kamu sekarang, kamu bisa menendang aku dengan mudah!"

"Gila aja... Aku di selingkuhi sama kamu, Abimana sia-lan! Baji-ngan bere-ngsek!" umpat Yuri menahan amarah dan matanya memerah menahan tangis.

Dia bukan wanita lemah yang hanya bisa menangis, terlalu banyak hal buruk yang sudah dia lewati selama ini.

Pintu dapur terdorong terbuka. Ajeng masuk setengah berlari sambil mengantongi lima lembar uang seratus ribuan yang ia temukan di luar tadi. Begitu melihat Yuri meluruh di lantai, senyum cengengesan Ajeng langsung sirna seketika.

"Yuri!" Ajeng berlutut di samping sahabatnya, merangkul bahu Yuri yang mulai berguncang pelan.

"Astagfirullah, Yuri... Kamu nggak apa-apa? Nagis deh kamu Yuri, nggak usah di tahan! Aku di sini, kamu nggak sendirian, ada aku! Kita sunat sampai habis laki kayak si Abimana tak berguna itu!" Ajeng memeluk Yuri dengan erat dan dia yang malah lebih dahulu menangis.

Yuri tak bisa lagi menahan air matanya. Pertahanan tegar yang baru saja ia tampilkan di hadapan Sandra runtuh tak berbekas. Tangisnya pecah, namun tanpa suara berlebihan—hanya guncangan bahu dan lelehan air mata yang membasahi kain hijabnya.

"Aku kurang apa, Jeng?" bisik Yuri parau, menatap Ajeng dengan mata yang memerah basah.

"Setiap hari aku bangun jam empat pagi, nyiapin sarapan buat Abimana, ngurus rumah sebelum berangkat kerja ke sini... Dia bilang dia sibuk proyek luar kota, dia bilang dia lembur... Ternyata dia sama wanita itu?"

Ajeng meremas jemari Yuri yang terasa dingin. Matanya menyala penuh keprihatinan sekaligus amarah.

"Yuri, dengar aku. Kamu nggak kurang apa-apa! Yang kurang itu otak sama rasa syukurnya si Abimana baji-ngan! Lelaki kurang ajar, dapet berlian kayak kamu malah milih batu kerikil penyakitan kayak nenek lampir tadi!"

"Kenapa harus dengan cara seperti ini?" Yuri menyapu air matanya kasar, berusaha menguasai diri.

"Kalau dia sudah nggak cinta, kenapa nggak ngomong langsung? Kenapa harus nyuruh selingkuhannya datang ke sini buat menginjak-injak aku? Sedangkan di rumah dia masi bersikap manis dan memperlakukan aku seperti biasa! Aku benar-benar tak habis fikir! Apa yang harus aku lakukan sekarang, Ajeng...?"

"Karena dia pengecut!" potong Ajeng gemas.

"Abimana itu tahu dia salah, makanya dia nggak berani tatap muka sama kamu. Dia biarin selingkuhannya yang maju buat bikin kamu nyerah duluan!"

Ajeng lalu merogoh saku celemeknya, mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu milik Sandra tadi, lalu menaruhnya tegas di genggaman Yuri.

"Nih, uang 'uang kebersihan' dari si uler. Jangan kamu balikin. Anggap aja ini biaya sewa panggung atas pertunjukan bodohnya tadi," cerocos Ajeng.

Yuri menatap lembaran uang itu, lalu terkekeh sumbang di antara sisa air matanya.

"Kembalikan aja, Jeng. Aku nggak sudi nyentuh uang itu."

"Enak aja! Ini udah jadi milik aku karena aku yang nyapu-nyapu kaki dia tadi!" Ajeng tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana, lalu kembali menatap Yuri serius.

"Sekarang kamu mau gimana, Yuri? Kamu mau pulang ke rumah? Minta penjelasan sama Abimana?"

Yuri menyeka sisa air mata di pipinya. Ia memegang pinggiran meja staf, lalu perlahan berdiri tegak. Ketakutan dan rasa sakit di matanya perlahan berganti menjadi kilatan kepastian yang sangat dingin.

"Nggak," jawab Yuri mantap. Suaranya kini tak bergetar lagi.

"Aku nggak akan ngemis penjelasan dari orang yang udah menghianati aku."

"Terus?" tanya Ajeng penasaran.

Yuri merapikan hijabnya di depan cermin kecil di dinding dapur, menatap bayangan dirinya yang kini terlihat jauh lebih dewasa dan tegar.

"Dia berani khianati aku, maka aku akan membuat dia juga paham dan mengingat siapa dia sebelum berada menjadi Abimana yang sekarang!"

"Anjiiirrr... Gue selalu suka gaya sahabat gue ini... Yurinika is the best! Nanti aku bantu cariian cowok tajir melintir buat kamu lah! Biar si Abimana menyesal melihat wanita yang dia sia-siakan bersinar seperti sinar matahari biar mata dia cepet katarak!"

Yuri menarik napas panjang, membiarkan ingatan masa lalunya berputar cepat seperti kaset lama. Di usianya yang kini menginjak 25 tahun, sedangkan usia Abimana 28 tahun, perjalanan hubungan mereka bukanlah hal yang bisa dicapai hanya dengan membalikkan telapak tangan.

Satu tahun masa berpacaran adalah rentang waktu paling berdarah-darah bagi mereka berdua. Yuri ingat betul bagaimana ia rela makan mi instan dibagi dua di kosan sempit Abimana saat pria itu baru lulus kuliah dan menganggur berbulan-bulan. Yuri yang bekerja membanting tulang di kedai kopi ini yang menyisihkan gajinya untuk membelikan Abimana kemeja rapi pertama agar pria itu layak menghadiri wawancara kerja. Saat Abimana menangis di bahunya karena berkali-kali ditolak perusahaan, Yurilah yang memeluknya erat dan berbisik bahwa masa depan cerah sedang menunggu mereka.

Perjuangan itu berlanjut hingga mereka memutuskan menikah dua tahun lalu di usia 23 tahun, sebuah pernikahan sangat sederhana yang hanya dihadiri keluarga inti. Selama dua tahun membina rumah tangga, Yuri tidak pernah sekalipun menuntut kemewahan. Ia rela menahan lapar dan memangkas kebutuhan pribadinya demi menopang karier Abimana dari posisinya sebagai staf biasa. Lebih parahnya lagi, Yuri harus memasang perisai paling tebal saat menghadapi keluarga Abimana.

Ibu mertua dan adik-adik Abimana bertingkah bak lintah darat yang tak pernah berhenti menguras keuangan mereka, menuntut uang bulanan tinggi, meminta dibelikan gadget terbaru, hingga membiayai gaya hidup mewah keluarga suami yang seolah menganggap Yuri hanyalah penampung beban. Semua caci maki dan tatapan sebelah mata dari mertuanya Yuri telan bulat-bulat, demi menjaga kedamaian rumah tangga dan reputasi Abimana.

Puncaknya terjadi baru tiga bulan lalu. Berkat doa malam yang tak pernah putus dari Yuri serta pengorbanannya yang merawat Abimana saat jatuh sakit karena kelelahan, Abimana akhirnya berhasil dipromosikan menjadi Wakil Manajer di perusahaannya. Yuri pikir, titik balik itu adalah hadiah atas kesabaran dan perjuangan berdarah-darah mereka selama tiga tahun terakhir.

Namun, siapa sangka, baru saja mengecap takhta kecil dan gaji besar sebagai Wakil Manajer, Abimana langsung lupa daratan. Jabatan baru dan uang melimpah itu ternyata bukannya membahagiakan istri yang menemaninya dari titik nol, melainkan justru dijadikan modal oleh Abimana untuk menyanding wanita lain seperti Sandra.

1
Mundri Astuti
habislah kau Abimana ...diinjak" harga dirimu sama Sandra...pas banget jadi bonekanya Sandra 😛
Ambu Rinddiany Thea
getek pisan duuuhh . hyg ningali s sandra hancur
sunaryati jarum
Berkas perceraian sudah lengkap Sandra tinggal tranfer atau vidio arogan dan mesummu dengan Abimana viral.
sunaryati jarum
Emak segera kasih 5 🌟 jika Abimana sudah hancur dan Sandra transfer 2 M ke Yuri
sunaryati jarum
🤣🤣🤣🤭 Sandra jika kau ingin segera dinikahi Abimana segera transfer ke Yuri.Dan Abimana silakan menikmati hidupmu yang dikendalikan Sandra.
Ilfa Yarni
kalian bakal hancur lebih2 km abimana
Muft Smoker
mantaf kn Abimana ,,
km udh gx bisa keluar dr cengkraman nenek lampir berkedok malaikat mu😏
ryuka
wkwkwkwk.. makan tuhh abimana jabatan manager kamu
Thewie
abiawak 🤣🤣🤣
Muft Smoker
kalo tau yurii lebih berharga buat km ,,
knp km nekat ,, gila gilaan bersama nenek lampir ,, gila gilaan ,, gila gilaan ,,
lama2 km jd gila beneran Abimana😏😏😏
ryuka
mampus kamu abimana
Ilfa Yarni
skr aja kau udah hancur gmn nanti klo Yuri menceraikan km Dan dia akan bahagia dgn adhyaksa gigit jari kau
Adrian
bodoh kamu abimana nanti kau hancur bersama gundikmu itu
ryuka
baguusss.. semangat teruss thoorrr
ryuka
gilaaaa fix ga tau malu sama sekali 🤣🤣🤣🤣
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 Sandra mengumbar sifat tidak ntahu malu, tidak punya sopan santun dan murahan.
Ambu Rinddiany Thea
aslina hyg marabkn ka lauk piranha eta s sandra ..
Fitria Syafei
jeng .jeng .. mengkeret kan Abymana kalau tau Yuri deh di samperin Sandra 😏 KK cantik mantaf 😍 terimakasih 🥰
nely_48
yuri ketemu kenzie, mrk saling menguatkan
nely_48
apakah afhiyaksa sang duren anak satu ❓❓
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!