NovelToon NovelToon
SELINGKUH DENGAN SUAMIKU SENDIRI

SELINGKUH DENGAN SUAMIKU SENDIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: SariRani

Karena suami dari putrinya miskin, seorang ayah rela menjual putrinya kepada pria lain untuk membayar hutang judinya. Tapi ayah brengsek itu tidak tau jika pria yang membeli putrinya adalah putra menantunya sendiri. Semua rasa bersalah dari perbuatan ayahnya itu ia tanggung sendiri kepada sang suami. Tapi herannya, suaminya tidak marah saat mengetahui jika istrinya dijual dan dihamili oleh pria lain. Apakah Gina Penelope akan memaafkan sang suami karena telah mempermainkannya? Dan bagaimana kehidupan rumah tangga Gina dan suaminya setelah kejadian satu malam dengan pria lain? Baca novel ini dan dukung untuk jadi favorit ya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERNYATA HAMIL MUDA

Abraham diam ditempat.

"Kamu sudah lama tidak menatapku lembut seperti ini, Gina" lirihnya.

"Karena aku.." belum juga selesai berbicara tiba tiba Gina mual dan muntah di tubuh suaminya.

Hueeeeek!!

Abraham terkejut tapi dia tidak mendorong Gina langsung untuk turun pangkuannya.

Wajahnya langsung panik.

"Kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya pria itu.

"Hmm...aku..aku pusing..." jawab pelan Gina dengan wajahnya langsung terlihat pucat.

Abraham langsung melepaskan dirinya dari milik Gina, lalu mendudukan sang istri di closet.

Tubuhnya yang tadi masih terasa panas karena sisa efek obat perangsang meskipun sudah dilampiaskan, mendadak dingin karena tergantikan oleh kepanikannya.

Apalagi saat melihat ada bercak darah di sela kaki Gina, makin paniklah.

"Ayo kita kerumah sakit!" ajak Abraham.

Gina mengangguk lemas. Abraham membersihkan bajunya cepat dan membuat bajunya basah.

Lalu ia membersihkan bagian bawah Gina yang terdapat sisa cairan permainan panas barusan ditambah bercak darah di paha istrinya lalu membenarkan pakaian Gina sebelum menggendongnya keluar kamar mandi.

Kantor Firma MC terlihat sepi hanya ada beberapa pegawai kebersihan dan pengacara junior.

Tanpa berpikir panjang, Abraham langsung memakai mobil kantor untuk membawa sang istri dirumah sakit.

Gina benar benar terlihat lemas.

"Jangan pingsan" ingat Abraham sambil menyetir mobil sambil satu tangannya menggenggam tangan dingin Gina.

Rasa mual diperut Gina membuat wanita itu muntah lagi di mobil.

Hueeek!

Abraham semakin panik dan semakin kencang membawa mobilnya.

15 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai rumah sakit. Padahal rencana mereka malam ini juga akan kesini untuk mengantar Veronica melakukan persiapan operasi besok lusa ternyata mereka datang lebih dulu.

Abraham menggendong Gina masuk UGD.

Perawat dan dokter yang bertugas langsung memberikan brankar dan memeriksa Gina.

"Tunggu sebentar ya, Pak. Akan kami periksa pasiennya" ujar salah satu perawat.

Abraham berdiri dan meremat tangannya sendiri.

"Kenapa bisa ada darah? Apa dia lagi halangan?"

"Atau jangan..jangan..Gina hamil?"

Tebak Abraham disela sela kekhawatirannya.

Setelah menunggu 10 menit pemeriksaan, Dokter keluar dari bilik UGD.

"Mohon maaf, anda siapanya pasien ya?" tanya sang dokter.

"Saya suaminya, Dok" jawab Abraham.

Ekspresi dokter wanita tersebut mendadak dingin.

"Sebelumnya apakah anda tahu jika istri Anda sedang hamil?" tanya sang dokter lagi.

Deg!

Abraham terpaku diam membisu, namun segera memberi jawaban dengan gelengan kepala.

"Sebagai suami anda harus lebih paham kondisi istri, apalagi sedang hamil muda. Bagaimana anda bisa melakukan hubungan suami istri dengan intensitas tinggi atau kasar saat keadaan seperti ini?" kesal sang dokter.

Abraham lagi lagi tidak bisa membela diri.

"Lebih baik anda segera memeriksakan istri anda ke dokter kandungan. Akan saya rujuk" ucap samg dokter lagi.

"Baik, terima kasih, dok" sahut Abraham.

Hatinya begitu bahagia sekaligus merasa bersalah.

Ia masuk ke bilik pemeriksaan dimana Gina terbaring dengan infus ditangannya.

Gina menatap sendu suaminya. Ia tahu jika janin yang ia kandung bukan milik Abraham melainkan hasil hubungan malam dengan pria asing yang tidak ia kenal akibat ulah ayah brengseknya.

Abraham menatap lembut sang istri dan rasa bersalah menyeruak dihatinya.

Ia duduk di kursi yang tersedia, memegang tangan Gina.

"Maafkan aku" ucap Abraham.

Deg!

"Seharusnya aku yang meminta maaf terlebih dulu, Abraham" batin wanita itu tidak berani terucap.

"Mulai hari ini, aku akan menjagamu dan calon anak kita" lanjut pria itu membuat hati Gina semkin tersayat.

Gina menarik tangannya dari genggaman sang suami.

"Setelah ibuku selesai operasi, aku menerima permintaan cerai darimu" ujar Gina.

Deg!

Abraham terkejut dengan perkataan yang baru saja ia dengar.

"Kenapa? Kenapa kamu ingin bercerai dariku saat kamu hamil? Apa kamu tidak ingin anak kita memiliki keluarga lengkap?" tanya pria itu heran.

"Aku tidak menginginkan anak ini" jawab Gina membuat jantung Abraham seperti ditusuk pisau.

Jleb!

"A..apa yang kamu katakan?" lirihnya tak percaya.

Gina memilih memalingkan wajah kesamping, tidak ingin melihat raut wajah kekecewaan sang suami.

"Kali ini aku menuruti apa yang kamu minta, Abraham. Jadi kita sama sama mau berpisah" lirih Gina menahan tangis.

Abraham diam.

Ia tau jika istrinya sedang memendam rasa bersalah kepadanya. Ia tau jika Gina mengira janin yang dikandung adalah anak pria lain bukan miliknya, tapi sebenarnya miliknya dengan identitas yang lain.

Tapi Abraham ingin istrinya jujur baru dirinya akan jujur.

*Sungguh egois ya si Abraham ini hikss...

"Permisi, kami akan membawa pasien ke poli kandungan. Harap selaku wali mengurus administrasinya terlebih dahulu" suara perawat membuat keduanya sama sama menoleh kearah sumber suara.

"Baik, Sus" sahut Abraham lalu berdiri dan meninggalkan bilik pemeriksaan.

"Seharusnya suami anda lebih hati hati saat berhubungan dengan istrinya. Jika tidak terlalu keras, mungkin tidak terjadi pendarahan meskipun pendarahan kecil" ujar salah satu perawat.

Perawat lainnya memberikan kode untuk rekan kerjanya agar diam tidak mengurus masalah pasien.

2 perawat itu membawa Gina menggunakan brankar ke poli kandungan.

Abraham mengurus administrasi sang istri lalu menyusul ke poli kandungan.

Di dalam poli, Gina diperiksa oleh Dokter George, dokter kandungan yang ternyata temannya sekolah yang tanpa Gina ketahui George pernah menaruh hati padanya.

"Astaga, ternyata kamu ya Gina Hamber yang jadi pasienku" celetuk sang dokter.

Gina tersenyum tipis.

"Aku tidak menyangka akan diperiksa oleh kawan lamaku di sekolah" sahutnya.

"Hahaha sepertinya kita jodoh" canda George.

"Maksudku, jodoh antara dokter dan pasiennya" lanjutnya memberi pembenaran.

Perawat hanya bisa saling lirik. Dokter George yang mereka ketahui sudah bertunangan dengan Dokter Loren bisa menggoda wanita lain meskipun teman sendiri.

Suasana jadi canggung, membuat George langsung mengalihkan pada pemeriksaan.

Gina semakin canggung saat George melihat bagian bawahnya. Ya meskipun tugas sebagai dokter kandungan, tapi tetap saja pria yang kini memeriksanya adalah teman masa remaja.

Tok..tok..tok..

Suara pintu terketuk dari luar, perawat membukanya dan mempersilahkan Abraham masuk.

Deg!

Mata Abraham langsung melotot saat mengetahui dokter kandungan sang istri laki laki, tangannya mengepal.

Kemarahannya ia tahan.

"Selamat siang, anda suami Gina?" tanya George membuat Abraham semakin kepanasan mendengar nama istrinya dipanggil akrab oleh pria lain.

"Iya, saya Abraham, suami nya Gina Penelope Hamber" jawab Abraham penuh penekanan.

George merasakan hawa panas dari tatapan suami pasiennya.

"Oh baiklah, Pak Abraham. Saya sudah memeriksa bagian bawah istri anda, pendarahan sudah berhenti. Sekarang mari kita USG kandungan pasien" jelas George bersikap lebih profesional lagi.

Abraham masih menatap tajam George dan sesekali melirik kearah Gina yang tetap enggan menatapnya.

George tersenyum saat melihat monitor USG sudah menunjukan hasil.

Abraham memalingkan pandangan tajamnya dari sang dokter menuju monitor.

"Ini janin pasien, syukurlah sehat dan normal memasuki usia 4 minggu jalan 5 minggu. Pendarahan yang dialami pasien tidak berdampak langsung ke janin" jelas George.

Abraham bernafas lega, tapi tatapan tajamnya ke sang dokter tidak berubah.

Perawat membersihkan perut Gina dari sisa gel dan George kembali ke kursinya untuk menuliskan hasil pemeriksaan.

Abraham diminta untuk duduk didepan George sebagai wali pasien.

"Untuk kondisi baik cukup baik, namun saya sarankan tidak melakukan hubungan suami istri di trimester pertama" ucap George.

Abraham hanya mengangguk pelan.

"Ini resep untuk obat penguat kandungan dan vitaminnya" ujar George lagi.

Abraham lagi lagi hanya memberikan anggukan.

George hanya bisa tersenyum tipis melihat kecemburuan jelas di sorot mata suami pasiennya ini.

Gina yang masih terbaring di brankar bisa mendengarkan penjelasan George terkait kondisi kandungannya.

1
Yesi Yesi
ah suka ma cerita nya♥️♥️
lanjut thor
SariRani: Terima kasih banyaaaaak mbak yesi 🥹 agak pesimis karena dikit banget yg suka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!