NovelToon NovelToon
Kesatria Merah

Kesatria Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Perperangan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: PrinceArslan

Mati di medan perang modern, Alvaro sang prajurit pasukan khusus elit terlahir kembali di Aetheria—dunia yang dikuasai oleh sihir dan aura. Sialnya, ia terjebak dalam raga "Arya Denwick" Anak bangsawan 17 tahun berpenyakitan pewaris desa rawa miskin, yang baru saja didorong ke jurang kematian oleh Musuh yg tidak diketahui.
Tanpa "sistem" ajaib layaknya kisah pahlawan lain, Arya menolak takdir pecundangnya. Memadukan pernapasan yang ia ketahui di militer untuk memanipulasi energi aura dan mematikannya seni pedang dari Bumi, ia merakit ulang tubuh rusaknya.
dan menjadi penguasa sejati di kerajaan bahkan dunia tersebut!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Pulang Membawa Darah

Kabut pagi masih menggantung tebal di jalanan tanah Rustwood saat gerbang kota berderit terbuka. Penjaga gerbang yang sedang mengantuk mendadak membeku, tombaknya nyaris tergelincir dari genggaman saat melihat rombongan yang muncul dari balik kabut Hutan Kuno.

Mereka terlihat seperti mayat hidup yang merangkak keluar dari neraka.

Langkah sepatu bot mereka terseret berat. Zirah yang mereka kenakan penuh robekan, berbau anyir isi perut, dan tertutup lapisan tebal darah kering yang telah menghitam, bercampur dengan bercak hijau sisa liur asam. Max berjalan terhuyung di tengah, lengan kirinya terikat erat ke dada dengan perban kain kotor yang rembes oleh darah.

Di barisan paling depan, Arya berjalan tanpa bantuan. Ia menolak dibopong di atas tandu kulit sejak satu jam lalu ketika kesadarannya kembali. Wajah pemuda itu sepucat tulang, keringat dingin terus mengucur dari pelipisnya, dan setiap napas yang ia tarik terdengar serak. Ia menggunakan pedang abunya yang sudah bengkok sebagai tongkat penopang.

"Tuan Muda, biarkan saya memapah Anda," bisik Josh cemas melihat Arya yang menahan sakit di setiap langkah.

"Tidak perlu," desis Arya pelan. "Jaga napasmu. Kita harus melapor kepulangan ke Guild sebelum beristirahat."

Tujuan mereka masuk ke kota adalah bangunan kayu besar berlambang dua pedang menyilang. Serikat Petualang. Prosedur wajib bagi setiap kelompok yang kembali hidup-hidup.

Kriet... Brak!

Pintu ganda Guild didorong terbuka secara kasar oleh kaki Erson.

Suara obrolan, denting gelas kayu, dan tawa para petualang di aula utama langsung mati seketika. Bau belerang, daging busuk, dan darah segar yang pekat merangsek masuk memenuhi ruangan yang hangat itu.

Di salah satu meja dekat perapian, Garrick sedang mengangkat cangkir ale-nya. Pria berotot itu membeku. Bir murah itu menetes dari dagunya. Matanya terbelalak ngeri menatap sosok Arya dan kelima pasukannya yang berdiri di ambang pintu, bersimbah darah namun masih bernapas.

"Turunkan bebannya sebentar. Lengan kalian butuh istirahat," perintah Arya datar, memecah keheningan.

Erson dan Kin melangkah maju, menjatuhkan tandu kulit babi hutan itu ke atas meja kayu ek terdekat karena bahu mereka sudah mati rasa.

BRAK!

Ikatan tali rami yang longgar membuat gulungan tebal itu sedikit terbuka. Dari sela-sela kulit babi hutan itu, menyembul enam lembar sisik kelabu bergerigi yang sekeras pelat baja tempaan. Dan dari balik kain kotor yang robek, terlihat ujung Kristal Mana yang memancarkan pendar cahaya hijau tua pekat.

"Dewa..." bisik seorang petualang tua di sudut ruangan, wajahnya pucat pasi. "Itu sisik Ironscale Basilisk... Jangan gila, mereka membunuh monster zona transisi?"

Bisik-bisik panik meledak di seluruh penjuru aula. Mata-mata yang tadinya meremehkan kelompok pemuda ini, kini menatap mereka dengan ketakutan mutlak.

Seorang wanita paruh baya, resepsionis yang sebelumnya melayani pendaftaran mereka, bergegas keluar dari balik meja konter. Wajahnya pias melihat keadaan rombongan itu, namun matanya langsung tertuju pada jarahan di atas meja. Insting pedagangnya seketika mengambil alih.

"I-Ini luar biasa. Kualitas sisiknya sempurna," ucap resepsionis wanita itu, berusaha menjaga nada suaranya tetap profesional meski tangannya bergetar. Ia menatap Arya. "Sebagai prosedur, Guild bersedia membeli semuanya saat ini juga. Sesuai aturan untuk petualang tanpa peringkat resmi, kami akan memotong pajak standar tiga puluh persen dari total taksiran..."

Josh dan Willi seketika menggertakkan gigi. Potongan tiga puluh persen adalah perampokan terang-terangan untuk nyawa yang baru saja mereka pertaruhkan.

Tatapan Arya tetap datar dan sedingin es. Ia sama sekali tidak memedulikan bisik-bisik para petualang di belakangnya.

"Kami ke sini hanya untuk mencatatkan kepulangan kami agar status kelompok ini tidak dianggap mati," potong Arya.

Wanita paruh baya itu terdiam, bingung. "Tapi... hasil buruannya?"

"Tidak dijual," jawab Arya singkat. Ia menoleh ke arah anak buahnya. "Ikat kembali gulungannya, Josh. Kita sudah selesai di sini."

Tanpa membantah satu kata pun, Josh dan Kin kembali memanggul barang berharga itu. Arya memutar tubuhnya, berjalan perlahan ke luar dari aula Guild dengan tertatih, namun tak ada satu pun petualang veteran di sana yang berani menghalangi jalannya.

Kelima prajurit mengikuti langkah tuan muda mereka, membawa jarahan maut itu menuju Vane sang saudagar.

1
adiba fafa
/Drool/
adiba fafa
mana nih duel sama max
palupi
semangat thor👍🥰
palupi
semakin seru...👍🥰
palupi
❤️
PrinceArslan: halo kak' Jika kaka suka karya ku.. aku akan merekomendasikan karya ku yang lain yaitu "Goblin Emperor" barangkali kaka tertarik terimakasih
total 1 replies
palupi
semakin seru 👍
palupi
👍
palupi
langsung tertarik ceritanya 🥰
👍
PrinceArslan: terima kasih 👍
total 1 replies
marsabat hindom
sangat bagus
PrinceArslan: terima kasih 🙏
total 1 replies
Sung Jin Woo
bagus
Akagami Shanks
suka cerita yg seperti ini 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!