NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:245k
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Tidak Tertarik

Belvina menutup kotak P3K itu kembali, lalu menyerahkannya tanpa melihat.

Sopir segera menerimanya dan kembali ke kursi kemudi. Dalam hati ia bergumam,

"Malam ini... nyonya berbeda. Aku kayak gak kenal dia." Ia melirik Belvina dari kaca spion.

"Nyonya itu… diam."

Alden bersandar. Tatapannya masih tertuju pada wanita di sampingnya, sejenak lebih lama dari yang seharusnya.

“Jalan.”

Satu kata. Pendek. Tegas.

“Baik, Tuan.”

Mesin mobil berdengung pelan. Lampu kota melintas di balik kaca.

Belvina tidak menoleh. Tatapannya tetap lurus ke depan. Seolah pria di sampingnya… tidak ada.

Alden menyilangkan kaki, bersandar santai. Namun matanya tidak lepas dari wanita itu.

“Cukup dramanya?” Nada suaranya datar. Rendah. Tajam.

Tidak ada jawaban. Belvina bahkan tidak berkedip.

Alden tersenyum tipis. Sinis.

“Jatuh di depan banyak orang, lalu berpura-pura berubah?” ia memiringkan kepala sedikit. “Metode baru untuk cari perhatian?”

Belvina bergeming. Satu detik. Dua detik. Lalu—

“Kalau aku butuh perhatian,” jawab Belvina akhirnya, suaranya tenang, “aku tidak akan memilih cara yang mempermalukan diri sendiri.”

Alden terdiam. Singkat. Namun cukup untuk membuat udara di dalam mobil berubah.

Tatapan pria itu mengeras. “Berani sekali bicaramu hari ini.”

Dina akhirnya menoleh. Perlahan. Tatapannya bertemu langsung dengan Alden. Tidak goyah. Sedikit pun.

“Baru hari ini kamu sadar?” balasnya ringan.

Alden menatapnya beberapa detik lebih lama. Mencari sesuatu. Celah. Kepalsuan. Kepanikan.

Namun yang ia temukan-- tidak ada. Hanya ketenangan yang asing.

“Jangan lupa posisimu,” ucapnya dingin. Satu kalimat. Tapi penuh tekanan.

Belvina mengangguk kecil. Seolah mengerti. Namun yang keluar dari bibirnya—

“Sebagai istri?” Nada suaranya tipis. Hampir seperti mengejek. “Tenang saja. Aku tidak tertarik melanggar batas.”

Alis Alden bergerak tipis. “Aku juga tidak tertarik,” balasnya cepat.

Dina tersenyum samar. Kali ini benar-benar terlihat.

“Bagus,” katanya pelan. “Berarti kita sepakat.”

Alden mengalihkan pandangannya ke depan. Sejak ia mengenalnya, baru kali ini ia tidak bisa membaca wanita di sampingnya ini. Dan itu… mengganggunya.

Sang supir kembali melirik dari kaca spion. "Apa ini masih Nyonya Belvina yang aku kenal?" batinnya penuh tanya.

Sementara Belvina kembali menatap ke luar jendela. Lampu kota berpendar di matanya. Di balik ketenangannya, satu keputusan sudah bulat.

"Cukup."

Ia tidak akan menguranginya.

"Harga diriku terlalu mahal untuk mengemis cinta. Apalagi..." ia melirik Alden. "...padanya. Dia bukan satu-satunya pria tampan dan mapan di dunia.”

-

Mobil itu akhirnya berhenti di depan rumah besar bergaya modern klasik.

Pintu terbuka.

Alden turun lebih dulu tanpa menoleh.

Belvina keluar beberapa detik kemudian. Langkahnya pelan. Matanya terangkat, baru pertama kali ini ia melihat tempat itu.

Rumah itu besar. Terlalu besar.

Pilar tinggi. Lampu gantung berkilauan dari dalam. Halaman luas yang terawat sempurna.

"Ini rumah atau istana?"

Namun wajah Belvina tetap datar. Tidak ada kekaguman berlebihan. Tidak ada kegugupan.

Hanya… mengamati. Detail demi detail. Seolah sedang memetakan tempat yang akan ia tinggali.

Di dalam, para pelayan sudah berbaris rapi.

“Selamat datang, Tuan. Nyonya.”

Suara mereka serempak.

Beberapa pelayan saling melirik. Lalu diam.

Belvina berjalan lurus. Tenang. Menjaga jarak. Tanpa satu pun usaha mendekat. Langkahnya bahkan tidak menyesuaikan langkah Alden. Seolah, mereka bukan pasangan.

Alden juga menyadarinya. Namun ia tidak berkata apa-apa.

“Siapkan makan malam,” ucapnya singkat.

“Baik, Tuan.”

Belvina berhenti sejenak di tengah ruangan. Matanya kembali berkeliling.

Tangga besar di sisi kanan. Ruang keluarga di kiri. Lorong panjang menuju bagian dalam.

Potongan-potongan ingatan mulai muncul.

Kamar utama di lantai dua. Ruang kerja Alden, tidak boleh dimasuki sembarangan.

Area makan keluarga, tempat paling sering dipenuhi keheningan.

Ia mengerjap pelan. "Jadi… ini rumah Belvina."

Namun ia langsung meralatnya. Matanya melirik Alden sekilas. "Ah, tidak. Ini rumah si es balok arogan itu."

Di belakangnya, bisik-bisik mulai muncul, nyaris tak terdengar.

“Kenapa Nyonya diam saja…?”

“Biasanya langsung ke Tuan…”

“Aneh ya…”

Belvina mendengarnya. Namun tidak menoleh. Tidak peduli. Karena, Belvina yang sekarang tidak hidup untuk dilihat orang lain.

-

Makan malam disiapkan dengan cepat. Di atas meja panjang, hidangan lengkap.

Alden sudah duduk lebih dulu.

Belvina datang beberapa saat kemudian. Ia menarik kursi, dan duduk. Di seberang Alden.

Bukan di sampingnya.

Satu gerakan kecil. Namun cukup untuk membuat seorang pelayan hampir menjatuhkan gelas.

Alden mengangkat alis tipis. Sikap Belvina jelas menarik perhatiannya.

“Kenapa di sana?” tanyanya datar.

Belvina menatapnya sebentar. “Lebih nyaman.”

Jawaban singkat. Tanpa basa-basi. Tanpa senyum. Tanpa usaha menyenangkan.

Alden tidak langsung menjawab. Ia mengambil gelasnya, menyeruput pelan. Matanya tidak lepas dari wanita itu.

“Tidak ingin duduk di dekatku?” nada suaranya tipis, mengandung sesuatu yang sulit ditebak. Menguji.

Dulu, wanita ini akan langsung duduk di sampingnya tanpa diminta.

Sekarang?

“Tidak.”

Jawaban itu datang cepat. Tenang. Tanpa ragu.

Sendok di tangan pelayan berhenti sesaat.

Alden menyandarkan tubuhnya. Tatapannya menajam.

“Atau memang tidak berani?”

Serangan halus.

Belvina terdiam sejenak. Lalu, ia mengangkat kepalanya. Tatapan mereka bertemu.

“Tidak tertarik.”

Jawaban itu ringan. Namun seperti batu yang jatuh di keheningan.

Alden terdiam.

Sejak jatuh di lobby hotel tadi, tidak ada usaha dari Belvina untuk mendekat. Tidak ada obsesi. Tidak ada rasa ingin memiliki.

Dan justru itu, terasa jauh lebih mengganggu.

Alden meletakkan gelasnya pelan. Bunyinya kecil. Namun cukup jelas di tengah suasana yang menegang.

“Jangan main permainan yang tidak bisa kau selesaikan.” Nada suaranya turun. Lebih dingin. Lebih berat.

Belvina menatapnya beberapa detik. Lalu, ia tersenyum tipis. Bukan senyum manis. Bukan juga penuh arti.

Lebih ke… tajam.

“Tenang saja,” katanya pelan. “Aku tidak tertarik pada hal yang tidak bernilai.”

Satu detik. Dua detik. Tidak ada yang bergerak. Namun sesuatu berubah.

Jari Alden yang tadi bertumpu di meja berhenti. Tatapannya mengeras samar, garis rahangnya menegang tipis. Bukan marah yang meledak, lebih seperti ada bagian yang terusik.

Ia tidak langsung membalas. Hanya menatap wanita di depannya. Lebih lama. Lebih dalam. Seolah memastikan kalimat itu benar-benar keluar dari Belvina.

“Kau sekarang suka merendahkan sesuatu tanpa melihat cerminnya dulu?” ucapnya akhirnya, pelan. Tenang, tapi jelas bukan datar lagi.

 

...✨“Cinta yang harus diminta berulang kali… bukan cinta, tapi kebiasaan merendahkan diri.”...

...“Ketika perhatian berhenti, barulah rasa penasaran dimulai.”✨...

.

To be continued

1
anonim
Alden bersama sopir meluncur ke kota di mana Belvina berada.

Belvina ketangkap kau. Kembali dalam pelukan Alden.

Wow...pagi hari bangun tidur Belvina sudah main bogeman dengan sasaran suaminya wkwkwk
anonim
Belvina Dina sudah tidak gadis lagi. Tetap ingin bercerai dari Alden.

Belvina melarikan diri tanpa membawa ponsel. Jadi ketahuan Alden - nama kontak "Es Balok" untuk Alden 😄.

CCTV memperlihatkan bagaimana Belvina memulai aksi kaburnya.

Saatnya mencari Belvina. Alden memerintahkan seseorang mencari Belvina.

Secepat itu orang suruhan Alden menemukan Belvina. Sudah berada di luar kota. Sudah diketemukan alamat hotel dimana Belvina menginap.
abimasta
terimakasih thor,sukses di karya2 selanjutnya
Sulati Cus
menarik
Kyky ANi
aduh tuan Raymond ini manas manasin aza deh,,,
Kyky ANi
bahaya nih,,Serap,, udah mulai rencana jahat,,
Kyky ANi
Alden sudah tidak percaya lagi sama kamu Seraphina,,
Kyky ANi
Alden menganggu aza sih kamu,
Kyky ANi
Seraphina punya rencana jahat nih ke Belvina,, semoga Belvina selamat dari rencana jahat siSerap,,,
Liana Simon
Ceritanya menarik Thor
Bela Viona
ada beberapa kisah hidup yg tidak pantas mendapatkan kesempatan ke2.dan ada juga yg pantas di berikan kesempatan ke 2. itu semua tergantung dgn usaha dan pembuktian. tidak mudah mendapat kn maaf dan pengampunan, selama org itu tetap sabar dan berusaha keras serta berusaha memperbaiki serta tdk mengulangi hal yg sama. maka kesempatan itu pasti ada.
Bela Viona
posisi HB yg baik untuk ibu hamil itu miring & wanita di atas 😁.
klo perempuan di bawah yg ad sesak, dan terlalu terguncang buat kandungan 😁
Bela Viona
jgn salah kn hormon ibu hamil 😁, aku hamil anak ke 2 juga gtu, asli kandungan ku usia 1-4 bln. aku benci bgt lht suami.
di sentuh tangan aj gak suka. smpe suami frustasi di kira udh gak cinta.
usia kehamilan 5 bln malah aku nempel trs sama suami. tiap mlm mau ny HB trs. smpe suami kewalahan 🤣. horman ibu hamil itu unik² dan bukan di sengaja ya.
Kadek Sri
akhirnya tamat juga
Bela Viona
makan tuh 🤣
Anitha
Akhirnya kisah Belvina dan Alden happy ending...

terimakasih juga kak Nana....
Anitha
selama nikah bertahun² Alden hanya dua kali merasakan surga dunia bersama Belvina🤣
Yunita Sophi
bintang lima untuk penyemangat mu thor..
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Yunita Sophi
makasih jg thor... salam sehat penuh semangat dan sukses slalu
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama, Kak.🤗🙏🙏
total 1 replies
Oma Gavin
akhirnya happy ending untuk belvina dan alden
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!