Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Api Belerang di Tebing Celah Serigala
Hujan gerimis membilas permukaan kain kemah kulit beruang di tengah markas Lembah Batas. Bau minyak senjata, keringat kaku, dan uap belerang menyatu pekat di dalam ruangan. Di atas meja kayu cedar yang retak, terbentang peta kulit domba yang menggambarkan lekuk tebing Celah Serigala dan aliran Sungai Belerang.
Tie Shan duduk membongkok di atas kursi kayu. Siku kanannya terbebat kain hitam tebal yang diolesi obat racun penawar dingin. Wajah raksasanya masih pucat, namun sepasang matanya menatap kaku ke arah Ma Huang tanpa sisa keangkuhan sedikit pun.
Feng Ni mencabut belati tali sutra dari pinggangnya. Ujung belati tipis itu ditancapkannya kencang ke atas peta kulit domba, tepat pada titik sempit di mulut Celah Serigala.
"Tiga ratus prajurit zirah berat Kota Yunjiang bergerak di garis depan," terang Feng Ni dengan suara dingin dan datar. "Jian Yue memimpin pasukan itu dari atas kuda perang. Di belakang mereka, empat puluh murid Sekte Pedang Suci mengawal delapan meriam tembaga portabel."
Han Zang mengusap janggut putihnya yang basah oleh sisa air hujan. Tangannya menunjuk barikade kayu berujung pasak besi di gerbang depan benteng. "Kita bisa menumpuk seribu prajurit perisai di balik barikade. Dinding batu lembah cukup tebal untuk menahan gempuran awal."
"Pertahanan pasif hanya menjadikan kita sasaran empuk meriam tembaga," potong Ma Huang dengan nada suara mendatar yang memotong keheningan kemah.
Ma Huang melangkah mendekati meja kayu. Jubah birunya yang robek memancarkan uap dingin tipis dari resapan racun Inti Bencana. Jemari tangan kirinya mengetuk kencang gambar celah tebing yang terhimpit batu basal.
"Zhao Feng telah tewas di ruang altar," kata Ma Huang tanpa mengubah raut wajahnya. "Pasukan di luar sana bertarung dalam kepanikan. Jian Yue sengaja memajukan meriam tembaga untuk menutup rasa takut anak buahnya."
Tie Shan menegakkan punggungnya yang tebal. Napasnya terdengar berat berderak di dalam dada. "Lalu apa perintahmu, Tuan Muda? Pasukan peloporku siap meremukkan leher mereka di lumpur."
Ma Huang menggeser belati Feng Ni ke arah saluran parit tua di dasar celah tebing. Parit alami itu terhubung langsung dengan sumber lahar dingin dan minyak tanah di perut bumi.
"Kita pancing seluruh barisan zirah berat masuk ke dalam Celah Serigala," tegas Ma Huang. "Jangan keluarkan satu pun panah sampai perisai terdepan mereka melewati garis parit minyak."
Ia memutar pandangannya menatap Feng Ni. "Tempatkan delapan ratus pemanahmu di sepanjang tebing barat dan timur. Gunakan panah berujung kain minyak belerang. Saat barisan terdepan musuh terjebak di dasar celah, bakar seluruh parit dari atas."
Feng Ni menganggukkan kepalanya tipis. Jemarinya menarik kembali benang sutra belatinya dengan gerakan senyap. "Minyak belerang di parit itu cukup pekat untuk melelehkan zirah tembaga dalam dua puluh hembusan napas."
Ma Huang beralih menatap Tie Shan yang memegang kampak kirinya dengan jemari gemetar. "Kau bawa seribu prajurit zirah berat Serigala Hitam menyusuri lorong bawah tanah di balik tebing timur. Saat parit terbakar, kunci pintu keluar celah dari belakang. Potong seluruh jalur mundur mereka."
Tie Shan menghentakkan lutut kirinya kencang ke lantai tanah. "Hamba mengerti! Tidak ada satu pun anjing Yunjiang yang akan lolos dari celah itu!"
Han Zang melangkah mendekat. "Bagaimana dengan pasukan pertahanan benteng?"
"Kau pegang seribu prajurit tersisa di barikade utama," perintah Ma Huang kaku. "Jaga Master Han dan Pertapa Gu Mo. Jika ada prajurit musuh yang berhasil menembus tebing, bantai mereka di atas garis lumpur."
Gu Mo yang bersandar di pilar kemah mengangkat wajah tuanya. Sarung tangan besi meteorit di tangannya memancarkan pendar merah tipis. "Lalu kau sendiri akan berdiri di mana, Bocah?"
Ma Huang menggenggam erat gagang Pedang Tulang Hitam di tangannya. Matanya memancarkan kilatan merah yang sangat dingin di bawah temaram nyala lilin kemah. "Aku akan berdiri di tengah asap api belerang. Kepala Jian Yue harus terputus malam ini."
Perintah telah dijatuhkan. Ketiga panglima bergerak cepat memobilisasi tiga ribu prajurit Serigala Hitam dalam keheningan yang mencekam. Tidak ada suara genderang perang maupun tiupan sangkakala. Gerakan ribuan prajurit itu meluncur senyap bagaikan kawanan serigala yang berburu di dalam kegelapan malam.
Delapan ratus pemanah Feng Ni merayap naik ke puncak tebing basal. Mereka mengambil posisi merunduk di balik semak duri, menyiap busur baja pendek dengan anak panah berujung kain kelabu yang telah direndam minyak tanah.
Di balik tebing timur, Tie Shan memimpin seribu prajurit zirah berat menyusuri gua terowongan alami. Tangan kirinya memegang erat gagang kampak baja hitam, sementara matanya yang liar menatap lurus ke arah kegelapan lorong batu.
Ma Huang melangkah keluar dari kemah utama. Jubah birunya yang robek ditiup kencang oleh angin malam perbatasan. Lu Gang berjalan rapat di belakangnya, memegang dua belati panjang berlapis racun.
Gumpalan awan hitam menutupi rembulan di langit malam. Hujan gerimis bertambah deras, membasahi batu-batu granit hitam di sepanjang mulut Celah Serigala. Udara malam yang dingin terasa kian tegang oleh getaran derap langkah kuda dan gelinding roda meriam dari kejauhan.
Dari balik tikungan celah tebing utara, cahaya ratusan obor minyak mulai membakar kegelapan malam. Barisan zirah berat Kota Yunjiang melangkah kaku dalam formasi rapat. Perisai tembaga raksasa di tangan mereka memantulkan kilau merah obor yang bergoyang ditiup angin.
Dua ratus prajurit zirah berat terdepan mendorong delapan meriam tembaga portabel yang dipasang di atas roda kayu tebal. Di tengah barisan tersebut, Jian Yue menunggangi kuda perang hitam berzirah besi. Bahu kirinya terbebat erat oleh kain perban tebal, akibat dampak tebasan racun Ma Huang di muara sungai.
Wajah Jian Yue tampak pucat dan penuh amarah yang membendung. Tangannya memegang kencang busur naga berukir emas. Sepasang matanya meneliti kerapatan tebing basal di hadapannya dengan kewaspadaan kaku.
"Periksa parit di depan!" teriak perwira zirah berat Kota Yunjiang dari barisan depan.
Dua prajurit perintis melangkah maju dengan tombak teracung. Mereka menusukkan mata tombak ke dalam celah parit alami yang terbentang melintang di tengah celah tebing. Ujung tombak perunggu mereka kembali dalam keadaan basah oleh cairan minyak hitam yang berbau busuk kental.
"Hanya air rawa!" teriak prajurit perintis itu tanpa menyadari sifat minyak tanah di dasar parit.
Jian Yue mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. "Maju terus! Ratakan benteng Serigala Hitam dan seret kepala Ma Huang kepadaku!"
Deretan prajurit zirah berat melangkah menyeberangi garis parit melintang. Roda-roda kayu meriam tembaga berderit keras saat menggilas batu granit di atas celah lumpur. Lebih dari seratus lima puluh prajurit telah berkumpul rapat di dalam cekungan tebing yang sempit.
Di puncak tebing basal, Feng Ni menarik tali busur bajanya kencang-kencang. Ujung anak panah minyak belerangnya disulut oleh percikan batu api. Pijar api kecil menyala terang di atas kegelapan puncak tebing.
"Lepaskan!" desis Feng Ni dingin.
Ratusan anak panah membara meluncur deras dari atas tebing, membelah hujan gerimis dengan raungan desisan nyaring. Panah-panah api itu jatuh menancap tepat di dalam celah parit minyak belerang di dasar lembah.
Bummm!
Tembok api raksasa berwarna kebiruan meledak hebat membakar seluruh panjang parit melintang. Kobaran api belerang setinggi tiga tombak membumbung tinggi melahap barisan terdepan prajurit zirah berat Kota Yunjiang dalam sekedip mata.
Jeritan histeris dan raungan kesakitan pecah seketika dari tengah kobaran api. Zirah tembaga yang dikenakan para prajurit memanas cepat, melelehkan kulit dan daging di dalamnya. Bau sangit daging terbakar dan minyak tanah yang mendidih memenuhi seluruh udara Celah Serigala.
Kuda perang Jian Yue meringkik liar. Kuda itu berdiri di atas dua kaki belakangnya, melempar Jian Yue jatuh terpelanting ke atas tanah berlumpur di balik tembok api.
Dari balik kobaran api belerang yang membara kebiruan, sosok Ma Huang melangkah keluar secara perlahan. Pedang Tulang Hitam di tangan kirinya diputar melingkar, memancarkan asap korosif yang menyatu dengan kepulan asap hitam perangkap api.
Sepasang mata Ma Huang berkilat merah membelah tirai api membara, menatap lurus ke arah Jian Yue yang merangkak bangun dari lumpur basah.