Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Eh, itu Dara, bukan?"
Suara seorang wanita paruh baya membuat beberapa pemetik teh yang sedang beristirahat serempak menoleh ke arah jalan setapak di pinggir perkebunan.
Dara berjalan pelan sambil membawa termos berisi air hangat untuk Juragan Darmawan. Ia mengenakan kemeja berwarna biru muda yang sederhana, dipadukan dengan celana krem. Wajahnya hanya dipoles make up tipis. Tidak berlebihan, tetapi cukup membuatnya terlihat lebih segar dan anggun.
Siang itu, udara pegunungan terasa sejuk. Para pemetik teh yang sedang beristirahat duduk berkelompok di bawah rindangnya pohon sambil menikmati bekal makan siang. Seperti biasa, obrolan mereka mengalir ke mana-mana. Namun, sejak beberapa hari terakhir, ada satu nama yang paling sering menjadi bahan pembicaraan.
"Iya. Itu Dara!"
Wanita di sebelahnya mengamati Dara beberapa saat, lalu tanpa sadar tersenyum. "Masya Allah, beda sekali dia sekarang."
"Benar. Cantik sekali dia." Wanita lain ikut menimpali sambil mengangguk.
"Padahal dulu setiap hari dia pakai baju bekas Kiara."
"Iya. Bajunya sering kebesaran, warnanya juga sudah pudar."
"Kalau dipikir-pikir, memang dasarnya Dara itu cantik. Hanya saja dulu dia tidak pernah punya kesempatan merawat dirinya."
Seorang ibu yang sudah mengenal Dara sejak masih kecil ikut tersenyum bangga. Ia masih ingat bagaimana Dara tumbuh menjadi gadis pekerja keras yang tidak pernah mengeluh meski hidup serba kekurangan.
"Dara memang anak baik," katanya pelan. "Mau pakai baju sebagus apa pun, dia tetap terlihat sopan."
"Iya," sahut wanita lain. "Yang saya suka, dia juga tidak pernah tinggi hati."
Namun, tidak semua orang memandang perubahan Dara dengan hati yang bersih. Seorang wanita muda yang sejak tadi hanya diam mendecak pelan.
"Ya, jelas sekarang cantik. Wajar saja kalau penampilannya berubah. Sekarang dia punya uang."
Semua orang menoleh ke arahnya.
Wanita itu mengangkat bahu. "Bisa beli baju baru dan kosmetik mahal. Siapa juga yang tidak berubah kalau punya uang sebanyak itu?" Ucapan bernada iri itu membuat suasana sedikit berubah.
Seorang ibu yang duduk di sampingnya langsung menggeleng pelan. "Jangan begitu."
"Kenapa memang?" Wanita itu tampak tidak terima.
"Kalau Dara memang berubah karena harta, sejak hari pertama menikah dia sudah pamer ke seluruh kampung."
Beliau menunjuk ke arah Dara yang masih berjalan pelan di kejauhan. "Tapi coba lihat sendiri. Setiap bertemu orang yang lebih tua, dia selalu berhenti untuk menyapa."
"Iya. Dara juga tidak pernah berjalan sambil mendongakkan kepala seperti orang yang merasa paling kaya," lanjut wanita tua dan beberapa orang lain mengangguk setuju.
"Iya, benar."
"Anaknya tetap sama."
"Yang berubah hanya penampilannya."
Seolah membenarkan ucapan mereka, Dara yang sudah semakin dekat benar-benar menghentikan langkahnya ketika melewati kelompok para pemetik teh itu. Ia tersenyum hangat sambil mengatupkan kedua tangannya di depan perut.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawab mereka hampir bersamaan.
"Selamat siang, Ibu-ibu."
Dara menundukkan kepala dengan sopan. "Bagaimana kabarnya? Semoga semuanya sehat."
Seorang wanita tua tersenyum lebar. "Alhamdulillah sehat, Dara. Kamu sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah, saya juga sehat." Dara menjawab dengan senyum yang sama tulusnya seperti dulu. Tak ada nada angkuh atau sikap ingin dipuji. Ia tetap menjadi Dara yang dikenal seluruh kampung.
Setelah berpamitan, Dara kembali melanjutkan langkahnya menuju rumah Juragan Darmawan.
Tatapan para wanita itu terus mengikuti kepergiannya.
"Aku senang melihatnya," gumam salah seorang dari mereka.
"Dara memang tidak berubah."
"Betul. Yang berubah hanya pakaiannya. Dan sekarang dia terlihat lebih percaya diri. Tapi hatinya tetap sama."
Tanpa mengetahui pembicaraan itu, Dara terus berjalan dengan langkah pelan. Baginya, hidupnya masih sama seperti dulu. Ia hanya ingin menjadi istri yang baik dan pantas bagi Gavin, juga ingin merawat keluarga yang telah menerimanya dengan tulus.
Sore itu suasana yang sangat berbeda justru terlihat di rumah Rama. Rumah sederhana itu dipenuhi udara panas sinar matahari senja, bukan karena cuaca, melainkan karena kemarahan yang sejak beberapa hari terakhir terus memenuhi hati penghuninya.
Brak!
Sebuah gelas diletakkan Tina di atas meja dengan cukup keras hingga air di dalamnya bergoyang. Wanita itu mondar-mandir di ruang tengah dengan wajah masam.
"Sudah seminggu Dara menikah, tapi uang satu miliar itu belum juga kita pegang!" seru Tina kesal.
Rama yang sedang duduk di kursi bambu mengusap wajahnya dengan kasar. Kerutan di dahinya semakin dalam. "Aku juga heran. Setiap kali kita datang ke rumah Juragan, Dara selalu tidak ada."
"Hari pertama katanya mengantar Juragan terapi. Besoknya lagi menemani Den Gavin ke pabrik pengolahan. Lusa datang lagi, katanya sedang mengurus kebutuhan rumah," lanjut pria paruh baya itu sambil mengipasi dirinya memakai topinya yang sudah lusuh.
Rama mengembuskan napas panjang. "Seolah-olah memang tidak pernah ada waktu untuk bertemu."
Tina mendengus kesal. "Atau jangan-jangan mereka sengaja menghindari kita?"
Ucapan itu membuat Kiara yang sejak tadi asyik bermain ponsel di atas sofa akhirnya mengangkat kepala. "Bisa saja begitu, Bu. Siapa tahu Gavin sudah tahu tujuan kita."
Rama langsung menggeleng. "Tidak mungkin. Dara itu anaknya penurut. Kalau kita bicara baik-baik, dia pasti mau mendengarkan. Tinggal cari kesempatan saja."
Tina berhenti melangkah. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. Sorot matanya dipenuhi ambisi.
"Aku tidak peduli bagaimana caranya. Pokoknya uang satu miliar itu harus menjadi milik kita. Kalau tidak ...." Ia menggertakkan giginya hingga rahangnya mengeras. "Buat apa selama ini kita bersusah payah membesarkan Dara dan menikahkannya dengan Gavin?"
Ucapan Tina sama sekali tidak terdengar seperti keluarga yang menyayangi Dara. Yang mereka pikirkan bukanlah kebahagiaan Dara sebagai pengantin baru. Bukan pula kehidupan rumah tangganya. Melainkan hanya satu hal, uang mahar senilai satu miliar rupiah yang mereka anggap sebagai hak mereka.