Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Materialistis
Bab 13 Istri Polos Tuan Garra
Terlalu sulit untuk melawan seorang Anggara. Pria itu diusir bolak-balik oleh Elisa tetap saja tak peduli. Mau dibentak, diusir halus, diusir kasar, di diamkan, semuanya mental. Ucapan Elisa baginya hanya seperti angin malam, lewat begitu saja tanpa arti.
(Harus dengan cara apa lagi... aku membuatnya pergi dari sini? Apa aku harus teriak? Tapi kalau aku teriak, yang malu aku sendiri. Semua orang akan tahu.)
Elisa masih mencari celah, agar lelaki itu tak lagi mencarinya dan enyah dari kamar rawatnya. Tapi untuk malam ini, sepertinya dia harus menyerah. Anggara tidak punya keinginan sedikitpun untuk pergi dari sana. Lihat saja, pria itu sekarang duduk dengan santai di kursi jaga yang keras itu sambil menatap ponselnya, membalas email. Tidak bergerak, hanya duduk saja seperti patung mahal. Sesekali ia melirik Elisa.
Sampai satu jam berlalu dalam keheningan yang canggung itu, Elisa mulai mengantuk. Obat anti mual yang disuntikkan tadi membuatnya sangat mengantuk. Matanya sudah berat sekali. Tanpa sadar, ia malah ketiduran dengan posisi masih memeluk selimut, menghadap tembok, membelakangi Anggara.
Anggara yang melihat Elisa tertidur, perlahan mematikan ponselnya. Ia menatap punggung gadis itu yang kurus.
Jam 11 malam
Klek.
Pintu terbuka pelan. Alex masuk ruangan setelah mendapatkan pesan singkat dari bosnya tadi. Mereka berbicara pelan dalam ruangan itu, hampir berbisik, agar tidak membangunkan Elisa.
"Pak, mobil sudah siap di bawah. Apartemen juga sudah disiapkan sesuai perintah. Dokter pribadi juga sudah standby. Apa Bapak mau pulang sekarang? Biar saya antar."
Anggara melirik Elisa yang tertidur pulas, nafasnya teratur. Wajahnya yang tadi tegang kini terlihat polos dan damai saat tidur.
"Tidak," jawab Anggara pelan. "Kau pulang saja. Bawa mobilnya. Aku di sini malam ini."
Alex terbelalak. "Maksud Bapak... Bapak tidur di sini? Di kursi ini, Pak?"
Anggara hanya mengangguk tanpa menoleh.
"Tapi Pak, punggung Bapak... besok ada rapat penting jam 7 pagi..."
"Aku bilang kau pulang, Alex. Jangan banyak tanya," potong Anggara dingin.
Tak lama berselang, Alex mengangguk pasrah dan meninggalkan Anggara di dalam ruang rawat itu berdua saja dengan Elisa. Ia menutup pintu pelan.
Seorang pengusaha kaya raya, tidur di kursi rumah sakit yang keras dan sempit. Sebuah pemandangan yang tidak akan pernah dipercaya oleh dewan direksinya. Sebenarnya, bisa saja ia dengan mudah memindahkan Elisa ke ruang VVIP paling mewah dengan kasur empuk dan sofa untuk penunggu. Namun, dia tahu. Gadis keras kepala itu pasti akan menolak mentah-mentah. Paling buruknya, gadis itu bisa panik dan menghilang kabur lagi seperti bulan lalu.
Hanya untuk malam ini, Anggara akan merelakan punggungnya kaku, jas mahalnya kusut, demi menunggu Elisa yang sedang tertidur. Demi memastikan gadis itu dan calon anaknya baik-baik saja di depan matanya.
Pagi-pagi sekali, jam 5 subuh, Elisa sudah bangun karena tidak nyaman dengan selang infus. Matanya membuka pelan, melihat sekeliling. Sepi, hanya dia sendiri di ruangan itu. Kursi jaga di sampingnya sudah kosong, selimut yang tadi dipakai Anggara terlipat rapi.
Aneh, mengapa sekarang malah merasa kosong? Hampa! Bukankah tadi malam ia sangat ingin pria itu pergi?
Ia memejamkan matanya lagi, mencoba mengabaikan perasaan aneh itu. Badannya masih lemas.
Klek
Jam 7 pagi, dokter dan perawat datang tepat waktu untuk visit. Mereka mengecek Elisa, bertanya keluhannya, sekaligus memeriksa detak jantung janin dengan alat doppler.
"Bagaimana tidurnya semalam, Mbak Elisa? Masih mual muntah?" tanya dokter kandungan senior itu ramah.
Elisa menggeleng pelan. "Sudah tidak, Dok. Tadi malam dikasih obat."
Dokter spesialis kandungan terbaik di rumah sakit itu tersenyum ramah sambil melihat monitor.
"Baguslah kalau tidak ada keluhan. Detak jantung janinnya kuat dan bagus. Jaga pola makan ya, makan yang bergizi. Istirahat cukup dan yang paling penting hindari stres. Jangan banyak pikiran. Stres itu musuh utama ibu hamil muda. Dan... hari ini sudah boleh pulang, ya. Kondisimu sudah stabil."
"Baik, Dok. Terima kasih banyak," jawab Elisa lega. Akhirnya bisa keluar dari tempat yang penuh dengan bayangan Anggara ini.
Selesai memeriksa, dokter dan perawat keluar sambil tersenyum.
Di luar, di koridor yang sepi, dokter itu ternyata tidak langsung pergi. Ia berhenti dan berbicara dengan seseorang yang bersandar di dinding. Rupanya Anggara belum pergi sama sekali. Dia hanya keluar sebentar, mandi dan ganti kemeja di mobilnya, dan sekarang berbicara serius dengan dokter.
Pria itu masih di sana.
"Jadi bagaimana kondisi mereka, Dok? Yang jujur," tanya Anggara to the point.
"Baik, Pak Anggara. Kondisi janin sangat baik, usia kandungan sekitar 7/8 minggu. Hanya saja ibunya memang kelelahan dan sedikit anemia. Banyak istirahat saja, dan sang ibu pastikan tidak gampang stress. Itu kuncinya. Kalau ibunya stres, janinnya juga terpengaruh."
Anggara terdiam sejenak, rahangnya mengeras. Itu yang sulit. Elisa sepertinya selalu stres kalau bertemu dengannya. Tergambar jelas setiap ekspresinya yang selalu ketakutan, marah, dan tertekan ketika ada dia di dekatnya.
"Baik, Dok! Terima kasih. Saya akan pastikan dia tidak stres lagi," jawabnya.
Anggara tak banyak tanya lagi, itu sudah cukup baginya. Dia meminta Alex yang sudah datang kembali untuk membereskan semua urusan administrasi dan membawa kursi roda.
Elisa baru keluar dari kamar mandi, habis cuci muka dan gosok gigi, ia terkejut setengah mati. Garra sudah duduk lagi di kursi dekat ranjang pasien, dengan dua cangkir teh hangat di meja.
"An... anda belum pergi? Dari mana anda masuk?" tanya Elisa kaget, hampir menjatuhkan handuknya.
'Kau mengusirku lagi?" tanya Garra tak percaya, tapi kali ini nadanya ia tahan. Dia ingat pesan dokter. Elisa tak boleh stress. Bahaya untuk janinnya. Ia harus lebih lembut, meskipun itu sangat sulit baginya.
"Hari ini kau boleh pulang, bukan? Kau akan pulang bersamaku! Mobilku sudah di bawah," ucap Anggara. Suaranya lebih pelan dan tenang dari kemarin, berusaha tidak mengintimidasi.
"Kenapa saya harus ikut dengan anda? Maaf, saya tidak mau! Saya bisa pulang sendiri!" tolak Elisa cepat.
"Elisa... dengar baik-baik. Aku tak minta pendapat darimu. Ini perintah. Satu lagi, aku tak akan membiarkan calon anakku menghirup udara sesak dan kotor serta berjamur di tempat kosmu yang sempit dan kumuh itu! Di sana tidak layak untuk ibu hamil!" sindir Anggara, kata-katanya pedas.
"Terserah anda berkomentar apa tentang kos saya. Tapi anda tidak punya hak mengatur hidup saya! Saya tidak butuh belas kasihan anda!"
"Jangan lupa! Kau mengandung anakku!" sentak Anggara. Kelepasan emosi lagi. Kesabarannya yang tipis itu habis.
"Ini bukan anak anda!" ujar Elisa menantang balik, menatapnya berani.
"Lisa... kau tidak pandai berbohong! Wajahmu memerah kalau berbohong! Lebih baik kau kerjasama! Ikuti saja apa kataku! Kau dan anak ini, sekarang tanggung jawabku!"
"Tidak, saya tidak mau ikut! Kita tidak punya hubungan apapun. Saya tidak mau!"
Bibir Anggara tersenyum sinis, senyum yang menghina. Ia berdiri dan mendekat.
"Jadi kau mau status ya? Kau mau aku menikahimu? Menggunakan anak ini sebagai alat untuk memeras ku? Cerdas... licik. Aku kira kau benar-benar gadis polos dan lugu yang butuh uang untuk ibumu. Ternyata kau sama saja... perempuan materialistis yang mengincar hartaku!"
Kata-kata itu menghantam Elisa seperti tamparan keras.
Bersambung.
Bukan nya minta maaf ini koq malah semakin semena mena yak
tenin ki loe,,,,jangan di hina kan Loe tau lagi hamil muda hormon ambur adul jangan selalu nya menyamakan wanita di masa lalu nya yang lihat duit loe ijo mirip
kolor ijo,,, Anissa beda paham salah haduhhh mumet mumet,, bolak balik di kandani ga mudeng mudeng,,😇😇😇😇lope yuuuuuu sekebon bunga' buat,,, BESTie. Sept iki wis Oktober 🤣🤣
di kurung emang manuk Podang aiiiss,,,MBG parah Mas Bro Gara ga ngenai odol usus bukan Pepsodent,,,Mas Bro pisan kolo bikin ketawa Elisa jangan cuma di takuti 😂 ya emang fasilitas dan segala di penuhi Mergo GEMBOL Anaknya saja ,,,
cuma coba yen ga Gung karuan,,,Elisa dah
gadis gini saja di suruh tanda tangan dan Kamu juga usul kalau yang tidak sesuai,,,loh ko enak sing karep sopo Yo ga Elisa,,, jangan mau ya siap perang tak ewangi wis GE endang,,,jaluk rujak jingur
apel malang sing lagi metik tapi kudu moro kapok koen Mas Bro Gara,,