Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: JAKET HITAM
#
Kain blus itu ditarik sampai bunyinya robek di keheningan gudang.
Gina menjerit tertahan. Ia merapatkan bahu dan menunduk, tangannya yang terikat di belakang tidak bisa menutupi apa pun. Tawa di ruangan itu pecah lagi, makin liar.
"Jangan nangis, Neng. Belum juga mulai."
Air matanya jatuh tanpa suara. Ia tidak lagi menghitung pintu atau gembok. Kepalanya kosong, dan hanya satu kalimat yang berputar: *Ayah, maaf. Aku bilang aku bisa jaga diri.*
Tangan kotor itu bergerak ke pinggangnya.
*BRAK!*
Pintu seng gudang terlempar dari engselnya dan menghantam lantai beton. Semua kepala menoleh. Sebelum ada yang berdiri, sebuah bayangan menerjang dari gelap dan sebuah tendangan menghantam kepala lelaki berkunci itu. Ia terlempar ke tumpukan drum dengan bunyi seperti karung dibanting, dan kunci motornya berputar-putar di lantai.
"Siapa kau?!"
Tidak ada jawaban. Orang itu melangkah masuk ke bawah cahaya bohlam yang bergoyang, jaket hitam, kacamata tebal sudah dilepas dan terselip di kantong, rusuk kanannya terbalut perban yang kelihatan dari balik kaus. Wajahnya bersih, tajam, lelah, dan sama sekali tidak tergesa.
Tiga orang menyerbu sekaligus. Yang pertama menerima siku di tenggorokan dan jatuh memegangi leher. Yang kedua mengayunkan besi, tapi Kenzo menangkap lengannya, memutarnya sampai terdengar retak, dan membantingnya ke peti. Yang ketiga mencabut pisau lipat. Kenzo menunduk, menyapu kakinya, lalu menghantamkan lutut ke dagunya.
Tujuh detik. Kenzo berdiri di tengah ruangan dengan bahu naik turun dan satu tangan menekan rusuk. Ia menahan sakit itu sampai wajahnya pucat.
Yang tersisa dua orang. Mereka sudah mundur ke dinding, tangan terangkat.
"Ampun, Bang! Kami cuma disuruh..."
"Pergi."
Mereka lari, melompati tubuh teman-temannya. Suara motor menjauh dan lenyap.
Gudang itu hening. Hanya bohlam yang masih berayun dan napas Gina yang pecah-pecah.
---
Kenzo berbalik dan melihatnya untuk pertama kali.
Seorang gadis meringkuk di lantai dengan blus robek di bahu, rambut menutupi separuh wajah, tangan terikat. Tubuhnya bergetar hebat sampai bahunya terguncang, dan ia menatap Kenzo dengan mata yang belum percaya semuanya selesai.
Kenzo berlutut dan menyayat tali plastik itu dengan satu gerakan pelan. "Sudah. Mereka pergi."
Gina tidak bergerak. Pergelangannya merah, bibirnya bergetar. Perlahan ia menurunkan tangan dan memeluk lututnya sendiri.
Kenzo berhenti sebentar. Ia sudah menghadapi hakim, jenderal, dan lelaki yang memohon di depan pistolnya, tapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukan terhadap seseorang yang gemetar sehebat ini. Ia melepas jaket hitamnya, menyampirkannya di bahu gadis itu, dan menarik kerahnya sampai menutup dada. Ia mundur selangkah supaya tidak terlalu dekat.
"Pakai. Aku nggak lihat."
Gina menarik jaket itu rapat-rapat. Bau sabun murahan, solar tipis, dan sedikit darah kering. Anehnya, bau itu membuat napasnya sedikit turun.
"Terima kasih," bisiknya.
"Kamu terluka?"
"Aku... nggak. Tapi Mbak Retno." Matanya melebar. "Di jalan bukit. Kepalanya dipukul besi. Dia... dia nggak bergerak."
Kenzo langsung berdiri. "Di mana tepatnya?"
"Jalan tanah, dekat pemakaman di bukit utara."
Kenzo menekan earpiece, lalu teringat suara datar yang dulu menjawab di ujung sana tidak lagi ada. Ia menurunkan tangannya. Lalu ia mengeluarkan telepon kecil dan menelepon nomor lain. "Dante. Bukit utara, jalan tanah dekat makam. Seorang perempuan luka di kepala. Bawa ke klinik. Sekarang."
"Siap, Bos."
Ia menutup telepon dan menoleh. Gina menatapnya dengan mata bening yang sembab.
"Dia akan dijemput. Orangku cepat."
"Kamu... siapa?"
"Kenzo."
"Gina." Suaranya serak. Ia memaksa bangun, tapi kakinya lemas. Kenzo mengulurkan tangan secara refleks, dan Gina menyambutnya. Telapak tangan kasar itu hangat. Tubuhnya masih gemetar, dan saat ia berdiri ia tidak bisa menahan diri.
Ia memeluk Kenzo.
Ia tidak berpikir. Wajahnya terbenam di dada lelaki itu, kedua tangannya mencengkeram kaus yang basah oleh keringat dan bau mesiu. Tangisnya pecah, hancur, tanpa tertahan lagi.
"Aku takut... aku takut sekali... tolong... tolong lindungi aku. Aku mohon. Aku nggak punya siapa-siapa lagi malam ini."
Kenzo membeku. Tangannya terangkat setengah dan berhenti di udara. Sudah lama tidak ada orang yang menyentuhnya tanpa maksud lain, tanpa ancaman, tanpa perhitungan. Sesuatu di dadanya bergerak pelan, sesuatu yang bahkan ia tidak punya nama untuknya.
Pelan, sangat pelan, tangannya turun dan melingkari punggung gadis itu. Ia tidak mengeratkan, hanya menahan, seperti menahan sesuatu yang bisa pecah.
"Aman," katanya, suaranya rendah dan serak. "Kamu aman. Aku di sini."
"Janji?"
"Janji."
Kata itu keluar sebelum ia sadar. Ia sudah memberikan janji serupa pada Victor, dan ia tahu ia gagal. Tapi malam ini, di bawah bohlam yang masih berayun, ia mengucapkannya dengan keyakinan yang tidak ia mengerti.
---
Motor tuanya terparkir di balik semak di depan gudang. Kenzo menyalakan mesin dan menoleh.
"Rumahmu di mana?"
"Aku... aku nggak mau pulang malam ini." Gina memeluk jaket itu erat-erat. "Penginapanku sepi. Aku takut mereka tahu."
Kenzo terdiam. Ia tahu ia tidak boleh membawa orang asing ke markas. Tapi ia juga tahu, dengan kepastian yang aneh, bahwa gadis ini tidak bisa dibiarkan sendirian malam ini.
"Ada tempat aman. Rumah kecil. Aku bawa kamu ke sana, kamu istirahat, besok aku antar ke mana pun."
"Terima kasih."
"Naik."
Gina naik ke boncengan dan ragu sepersekian detik. Lalu kedua tangannya melingkar di pinggang Kenzo, hati-hati supaya tidak menyentuh rusuknya, dan pipinya bersandar di punggung lelaki itu.
Motor melaju. Angin malam Sarvenna dingin, lampu-lampu jalan bergeser pelan, dan jalan pesisir terbentang kosong di bawah langit bertabur bintang.
"Kamu kerja apa?" tanya Gina setelah lama diam. Suaranya hampir terbawa angin.
"Pengangguran."
"Bohong."
"Kenapa bohong?"
"Orang pengangguran nggak bisa mengalahkan tujuh orang dalam tujuh detik." Ada senyum tipis di suaranya, pertama kali malam itu. "Tapi nggak apa-apa. Aku nggak akan tanya lagi."
Kenzo tidak menjawab. Sudut bibirnya naik sedikit.
Mereka berhenti di lampu merah satu-satunya di jalan kosong itu. Dari sini, Kenzo bisa merasakan napas Gina yang mulai tenang di punggungnya, dan jari-jarinya yang masih memegang bajunya erat, seperti takut ia menghilang.
Ia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Bukan seperti pada Silva, yang selalu ia lihat sebagai seseorang yang berdiri di sebelahnya dalam badai. Ini sunyi dan hangat dan nyaris menyakitkan, seperti pulang ke rumah yang tidak ia ingat pernah punya.
*Kamu gila,* pikirnya. *Kamu baru mengenalnya sepuluh menit.*
Di belakangnya, Gina menutup mata. Ia tidak mengerti kenapa jantungnya berdetak sekeras ini, padahal baru beberapa menit lalu ia hampir kehilangan segalanya. Ia hanya tahu bahwa untuk pertama kalinya sejak ayahnya mati, ia tidak merasa sendirian.
Lampu berubah hijau.
Kenzo menarik gas, dan saat itulah ia teringat sesuatu. Map tipis berinisial *Ginawati* masih terselip di saku dalam jaket hitam itu, jaket yang sekarang membungkus tubuh gadis di boncengannya. Foto di dalamnya buram, diambil dari jauh dengan lensa panjang. Ia tidak pernah melihat wajahnya dengan jelas.
Ia hanya akan memikirkannya sebentar. Gadis di belakangnya sedang tertidur kelelahan, dan ia tidak tega membangunkannya.
Di belakang mereka, tanpa lampu, tanpa suara, sebuah sedan hitam mengikuti dari jarak seratus meter. Dari kaca belakangnya, sepasang mata di balik topeng perak berbentuk mawar mengamati dua orang di atas motor itu tanpa berkedip.
---
*Bersambung ke Bab 33*