Di balik ruang pemulasaraan yang dingin dan sunyi, Arya menyimpan kemampuan magis sekaligus mengerikan. Ia bisa melihat detik-detik terakhir kehidupan dari setiap jenazah yang disentuhnya. Tugasnya bukan sekadar menyucikan jasad, melainkan menjadi saksi bisu bagi suara-suara yang dibungkam kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Rutinitas
Pagi itu, langit di atas kota diselimuti awan kelabu yang tebal. Rintik hujan gerimis menyapu kaca helm Arya saat sepeda motor matic lamanya menembus kemacetan jam sibuk.
Udara dingin menyusup lewat celah-celah jaket kulit sintetisnya yang mulai mengelupas di bagian siku, namun rasa dingin di dalam dadanya jauh lebih membekukan.
Pikiran Arya masih tertambat pada peristiwa aneh dini hari tadi. Penglihatan mendadak yang begitu hidup, tajam, dan mengerikan, seolah-olah ia ditarik masuk ke dalam kesadaran orang lain tepat di ambang maut.
Arya meremas stang motornya lebih erat. "Itu cuma halusinasi," bisiknya dalam hati, sebuah mantra denial yang terus ia ulang sejak melangkah keluar dari kamar mandi rumahnya. "Aku kurang tidur. Otakku cuma merespons stres dan keletihan ekstrem".
Namun, logikanya sendiri menentang alasan itu. Sebagai orang yang terlatih dalam ilmu forensik dasar dan anatomi tubuh, Arya tahu betul bedanya antara mimpi buruk, ilusi keletihan, dan sesuatu yang terasa begitu nyata hingga meninggalkan bau darah dan sensasi tercekik di tenggorokannya.
Ketika ia belok memasuki gerbang RSUD Bina Husada, aroma khas campuran asap kendaraan dan bau antiseptik yang samar-samar langsung menyambutnya. Ia memarkir motor di area parkir belakang, tepat di dekat lorong yang menuju ke Instalasi Kedokteran Kehakiman dan Jenazah (IKKJ).
Arya menarik napas panjang, seraya menepuk-nepuk kedua pipinya dengan agak keras. "Fokus, Arya. Hari ini kamu harus profesional. Jangan biarkan ilusi semalam mengganggu pekerjaanmu."
Ia melangkah menyusuri lorong berlantai keramik putih yang dingin. Lorong menuju ruang pemulasaraan selalu menjadi jalur paling hening di rumah sakit ini.
Di tempat ini, tidak ada suara langkah terburu-buru para perawat atau jeritan sirine ambulan yang panik. Yang ada hanyalah gema kesedihan yang mengendap di udara.
Sebelum mencapai pintu besi ganda bersandi tempat ia bekerja, Arya dikejutkan oleh suara isak tangis yang begitu menyayat hati dari area ruang tunggu keluarga.
Arya menghentikan langkahnya. Di bangku besi yang dingin, duduk sebuah keluarga kecil yang diliputi duka mendalam. Seorang wanita paruh baya tampak ditenangkan oleh beberapa kerabatnya, tangisnya terengah-engah seolah napasnya ikut terenggut bersama kepergian orang yang mereka cintai.
Namun, mata Arya justru tertuju pada seorang wanita muda yang duduk menyendiri di ujung bangku.
Wanita itu tampak sangat muda, mungkin baru berusia awal dua puluhan. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap dan memerah karena terlalu banyak menangis, tetapi yang paling menarik perhatian Arya adalah bagaimana kedua tangannya gemetar hebat sambil terus mengusap lembut perutnya yang masih tampak sedikit membuncit.
Ibu muda itu sedang hamil muda.
Dari pakaian yang dikenakan, gaun hamil sederhana berwarna merah muda pucat yang tampak agak kusut dan cara kerabat di sekitarnya menatapnya dengan rasa kasihan yang mendalam, Arya bisa menyimpulkan satu hal bahwa ia adalah istri dari almarhum yang jasadnya baru saja masuk pagi ini.
Arya menghentikan langkah beberapa meter dari sana. Naluri kemanusiaannya bergetar hebat. Dadanya terasa sesak melihat pemandangan itu.
Pernikahan yang mungkin baru berjalan beberapa bulan, sebuah kehidupan baru yang sedang bertunas di dalam kandungan, dan kini sang suami harus pergi selamanya dalam sebuah kecelakaan tragis.
Bagaimana seorang wanita semuda itu bisa menanggung beban sebesar ini sendirian? Bagaimana kelak anak di dalam kandungan itu tumbuh tanpa pernah mengenali pelukan hangat ayahnya?
Seorang kerabat pria paruh baya yang berdiri di dekatnya berbisik pelan kepada perawat jaga di depan pintu. "Tolong, Mbak... biarkan kami melihatnya sebentar. Dia baru menikah empat bulan lalu... kasihan istrinya, sedang hamil anak pertama..."
Perawat itu mengangguk prihatin. "Mohon tunggu sebentar ya, Pak. Petugas kami baru saja tiba untuk membersihkan dan menyiapkan jenazah. Setelah selesai, keluarga baru diperbolehkan masuk untuk memberikan penghormatan terakhir."
Arya menundukkan kepala. Rasa iba yang mendalam mengalir di dadanya, menimbulkan simpati murni, sebuah empati yang tulus namun dibalut duka mendalam atas nasib tragis yang dialami ibu muda tersebut.
Tanpa sadar, Arya berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan merawat jasad suami wanita itu dengan sebaik-baiknya, dan memberikan rasa hormat tertinggi di detik-detik terakhir perjalanan almarhum di dunia ini.
Kreekkk...
Arya mendorong pintu besi ganda. Udara dingin bertekanan negatif langsung menyapu wajahnya, dan membawa aroma khas yang sudah terpatri di memorinya.
Di dalam ruangan berpenerangan lampu neon putih yang terang benderang, tampak Teguh, senior sesama pemulasara jenazah yang berusia pertengahan tiga puluhan, sedang menyiapkan ember basah, sabun khusus, dan lembaran kain kafan serta pakaian ganti di meja stainless steel.
"Pagi, Ya," tegur Teguh tanpa menoleh, sementara tangannya sibuk menata spons dan kain kasa. "Muka kamu pucat banget. Semalam jadi lembur sampai jam berapa?"
"Pagi, Mas Teguh," jawab Arya seraya melangkah menuju loker karyawan untuk mengganti pakaian dengan apron kedap air, sepatu boot karet, masker, dan penutup kepala. "Semalam selesai sekitar jam tiga pagi, Mas. Cuma sempat tidur dua jam di rumah."
Teguh menoleh, dan menatap Arya dengan kerutan di dahinya. "Kamu harusnya ambil libur kalau tidak fit. Pekerjaan kita butuh ketenangan pikiran. Kalau kamu tidak fokus, kasihan jenazahnya, kasihan kamu juga."
"Aku tidak apa-apa, Mas. Masih sanggup," sahut Arya tegas sambil mengikat tali apron di belakang punggungnya. Ia lalu berjalan mendekati brankar utama di tengah ruangan.
Di atas meja stainless steel yang besar itu, terbaring jasad seorang pria muda berusia sekitar 25 atau 26 tahun. Wajahnya relatif utuh, namun ada bekas memar kebiruan di pelipis kanan dan luka lecet di sepanjang bahu serta lengannya, ciri khas cedera akibat benturan keras dan terseret di jalanan.
"Ini korban kecelakaan lalu lintas yang di luar?" tanya Arya pelan.
Teguh mengangguk seraya menghela napas panjang. "Iya. Namanya Rendy. Masih muda banget, kasihan. Menurut laporan polisi, dia mengendarai sepeda motor mau berangkat kerja tadi pagi-pagi sekali. Katanya ada mobil box yang melaju kencang dari arah berlawanan dan menyenggolnya di tikungan jalan utama. Dia jatuh dan kepalanya membentur pembatas jalan, dan meninggal di tempat."
Arya menatap wajah kaku di depannya. Pria muda inilah yang membuat wanita hamil di luar sana menangis hingga tak berdaya. Pria inilah yang meninggalkan janin yang belum sempat menyapa dunia.
"Istrinya di luar... kasihan sekali, Mas. Sedang hamil muda," ujar Arya pelan, dan hampir menyerupai bisikan.
"Iya, aku tadi sempat lihat," Teguh mengesah. "Dunia kadang kejam banget, Ya. Tapi tugas kita cuma satu, pastikan almarhum bersih, rapi, dan harum sebelum diserahkan kembali ke keluarganya. Biar mereka bisa melihat wajah terakhirnya dengan tenang."
Arya mengangguk. Ia membuang jauh-jauh rasa lelahnya, kemudian mengenakan sarung tangan latex tebal, mengambil selang air bertekanan rendah, dan mulai menyiapkan proses pemulasaraan.
Bersambung...