Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Malam yang Penuh Kejutan
Pada akhirnya restoran benar-benar tutup.
Lampu-lampu mulai dimatikan satu per satu.
Para pegawai sudah pulang lebih dulu.
Isya keluar dari dalam restoran sambil membawa tas kecilnya.
Kak Rara masih berdiri di dekat pintu sambil merapikan apron.
“Isya pulang dulu ya kak.”
Kak Rara mengangguk.
“Iya hati-hati di jalan.”
“Jangan lupa salam buat nenek sama Ba’da.”
Isya tersenyum.
“Iya kak.”
Ia lalu berjalan ke depan.
Di dekat gerbang restoran ada Pak Satpam yang sedang duduk di kursinya.
Isya menunduk sopan.
“Assalamu’alaikum pak.”
Pak Satpam tersenyum ramah.
“Wa’alaikumussalam.”
“Pulang ya, Neng Isya?”
“Iya pak.”
“Hati-hati di jalan.”
“Iya pak, syukron.”
Isya lalu melangkah pergi menyusuri jalan yang mulai sepi.
Lampu jalan menyala redup.
Angin malam terasa sejuk.
Beberapa langkah kemudian…
Isya melihat seseorang berdiri di pinggir jalan.
Orang itu memakai topi dan masker.
Tubuhnya tinggi dan berdiri diam.
Isya langsung berhenti sedikit.
“Ihh…”
“Siapa itu…”
Ia mulai berjalan lebih hati-hati.
Dalam pikirannya langsung muncul macam-macam.
“Jangan-jangan orang jahat…”
Namun ketika Isya melewati orang itu…
tiba-tiba terdengar suara pelan.
“Isya.”
Isya langsung terlonjak.
“AH!”
Ia menoleh cepat.
Matanya membesar.
“Loh?!”
“Itu kamu?!”
Orang itu membuka sedikit maskernya.
Ahnaf.
Isya melotot.
“Lah… kamu kenapa di sini?”
Ahnaf tersenyum santai.
“Cuma lewat.”
Isya memicingkan mata curiga.
“Lewat apanya…”
“Malam-malam begini…”
Mereka berdiri beberapa detik dalam diam.
Lalu Ahnaf berkata santai.
“Kalau kamu mau… kita pulang bareng.”
Isya langsung menegakkan badan.
“HAH?!”
Ia langsung menggeleng cepat.
“Ihhh nggak mau!”
“Haram harammm!”
Ahnaf menahan tawa.
Isya sendiri tiba-tiba terdiam sebentar.
“Eh…”
Ia mengerutkan kening.
“Kayaknya aku pernah bilang begitu…”
“Tapi ke siapa ya…”
Ia terlihat berpikir sebentar.
Namun kemudian menggeleng.
“Ah udah lah.”
Isya lalu berjalan pergi.
“Dah ya aku pulang.”
Namun beberapa detik kemudian…
ia merasa ada langkah di belakangnya.
Isya berhenti.
Menoleh.
“Kamu kenapa ngikutin aku?”
Ahnaf hanya tersenyum tanpa menjawab.
Isya langsung cemberut.
“Awas ya…”
“Jangan ikutin aku.”
“Nanti ada hantu.”
“Aku nggak mau ada hantu.”
Ia kembali berjalan.
Namun langkah di belakangnya tetap terdengar.
Isya makin kesal.
“Ihhh…”
Ia berhenti lagi.
“Kamu kalau mau duluan ya duluan aja deh!”
“Aku tunggu di sini!”
Ahnaf akhirnya berjalan sedikit lebih cepat.
Namun bukannya menjauh…
ia justru berhenti tepat di samping Isya.
Isya langsung melotot.
“Ihhh ngapain di sebelah aku!”
“Sana jauh-jauh!”
Ahnaf malah tersenyum jahil.
“Loh…”
“Maunya kan jalan berdua.”
Isya langsung manyun.
“Ihhh…”
Namun tiba-tiba wajahnya berubah.
Seperti mendapat ide.
Matanya berbinar licik.
Ia lalu tiba-tiba berteriak keras.
“AHHH!”
“Kak Ahnaaff!”
“Kak Ahnaf boyband!”
“Minta tanda tangan dong!”
Ahnaf langsung kaget.
“Hah?!”
Ia refleks menepi ke dinding dan menunduk.
Beberapa wanita yang sedang berjalan di kejauhan langsung berhenti.
“Hah?!”
“Mana?!”
“Ahnaf?!”
Mereka mulai berteriak.
“Ahnaf di mana?!”
Ahnaf cepat menggeleng ke arah Isya.
Seolah berkata jangan bilang.
Namun Isya hanya tersenyum kecil.
Dalam hatinya ia berkata nakal.
“Hehe…”
“Boong dosa loh…”
Lalu ia menunjuk.
“Itu kak Ahnaf!”
Para wanita langsung berteriak.
“AHHHH!!!”
“AHNAF!!!”
Ahnaf langsung panik.
Ia segera berlari menjauh.
Isya berdiri sambil menahan tawa.
“Hihi…”
“Rasain…”
Ia lalu melanjutkan jalannya.
Beberapa menit kemudian ia berhenti di sebuah gerobak.
“Bang…”
“Martabak satu ya.”
Penjual martabak mengangguk.
Isya tersenyum kecil sambil menunggu.
Dalam pikirannya sudah terbayang wajah Ba’da dan nenek yang senang.
------------------------------------------------------------------------
Setelah membeli martabak…
Isya berjalan pulang dengan langkah ringan.
Malam itu terasa tenang.
Tanpa ia sadari…
kejadian kecil barusan mungkin akan membuat seseorang semakin penasaran padanya.
Sementara Isya sendiri hanya memikirkan satu hal.
“Ba’da pasti senang kalau dapat martabak.”
------------------------------------------------------------------------
Malam sudah semakin larut.
Langkah Isya akhirnya sampai di depan rumah kecil mereka.
Ia mengetuk pintu pelan sambil mengucap salam.
“Assalamu’alaikum…”
Dari dalam rumah langsung terdengar suara kecil yang penuh semangat.
“Wa’alaikumussalam!”
Pintu langsung terbuka.
Ba’da sudah berdiri di sana dengan wajah cerah, seolah sudah menunggu lama.
“Kak Syaa!”
Isya tersenyum lebar melihat adiknya.
“Eh… Ba’da belum tidur?”
Ba’da menggeleng cepat.
“Nunggu kakak!”
Isya tertawa kecil sambil melepas sepatunya di depan pintu.
“Ihh ini anak…”
“Nunggu kakak terus.”
Ba’da mendekat dengan wajah penuh semangat.
Sepertinya ia ingin sekali bercerita.
Namun sebelum ia sempat berbicara…
dari dalam rumah muncul nenek mereka.
Isya langsung menoleh.
“Ahh nenek…”
“Isya pulang.”
Nenek tersenyum hangat.
“Iya, nenek tahu.”
“Istirahat dulu Sya.”
“Itu ada sup ayam… angetin badan dulu.”
Wajah Isya langsung berbinar.
“Wahh nenek tahu aja Isya suka.”
“Makasih ya nek.”
Isya lalu masuk ke dalam rumah.
Ia mengganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman.
Setelah itu mereka berkumpul bertiga di ruang tamu kecil.
Di atas meja sudah ada mangkuk sup ayam yang masih hangat.
Ba’da duduk di dekat kakaknya dengan wajah tidak sabar.
Sepertinya ia sudah menahan cerita sejak tadi.
“Kak Syaa…”
Isya menoleh sambil tersenyum.
“Iya?”
Ba’da langsung mulai bercerita dengan penuh semangat.
“Kak… Ba’da sekarang punya teman baik di sekolah.”
Isya berhenti makan sebentar.
“Serius?”
Ba’da mengangguk cepat.
“Iya!”
“Teman-temannya baik semua.”
Ia tersenyum lebar.
“Nggak kayak sekolah Ba’da yang dulu.”
Isya dan nenek saling melirik sebentar.
Ba’da melanjutkan ceritanya dengan semangat.
“Tadi ada yang jajanin Ba’da.”
“Ba’da nolak…”
“Tapi tetap dibeliin.”
“Terus Ba’da diajak main bola juga.”
Isya mendengarkan dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena bahagia.
Ba’da berkata lagi dengan yakin.
“Kata kakak dulu benar.”
“Allah pasti kasih teman baik.”
Isya tersenyum lembut.
Ia menengadahkan wajah sedikit.
“Alhamdulillah…”
“Segala puji bagi Allah.”
Ia lalu mengusap kepala Ba’da dengan sayang.
“Kakak senang dengarnya.”
Kemudian tiba-tiba Isya seperti teringat sesuatu.
“Eh iya!”
“Bentar!”
Ia berdiri sebentar dan mengambil kantong kecil dari tasnya.
Ia menaruhnya di meja.
“Ini ada kabar baik lagi.”
Ba’da langsung menatap penasaran.
“Apa?”
Isya tersenyum jahil.
“Eng ing enggg…”
Ia membuka kantong itu.
“Martabak!”
Ba’da langsung berseru senang.
“WAAH!”
“Kakak kaya!”
Isya tertawa.
“Hahaha…”
“Aamiin, insyaAllah.”
Namun ia kemudian tersenyum tenang.
“Kalau kakak sih bersyukur saja.”
“Apa yang Allah kasih… itu sudah cukup.”
Ia menatap Ba’da dengan lembut.
“Kalau kita bersyukur…”
“Allah pasti tambah.”
Ba’da mendengarkan dengan serius.
Isya melanjutkan dengan suara lembut.
“Tapi jadi orang kaya juga nggak selalu enak loh.”
Ba’da mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Isya menjawab pelan.
“Kalau dia nggak bisa amanah…”
“Nanti di akhirat hisabnya berat.”
Ia tersenyum kecil.
“Bahkan ada hadits yang bilang…”
“Orang-orang fakir akan masuk surga lima ratus tahun lebih dulu daripada orang kaya.”
Ba’da terlihat kaget.
“Lama banget…”
Isya mengangguk kecil.
“Iya.”
“Makanya kadang jadi orang yang tidak mampu itu bukan kekurangan.”
“Justru bisa jadi keuntungan.”
Ia menatap adiknya dengan penuh kasih.
“Karena banyak orang miskin yang lulus ujian dunia… lalu masuk surga.”
Ba’da terdiam sejenak.
Lalu ia berkata pelan.
“Ahh… begitu ya.”
Nenek yang sejak tadi mendengarkan hanya tersenyum hangat.
Mereka bertiga lalu makan martabak bersama sambil berbincang ringan.
Suasana rumah kecil itu terasa hangat.
Beberapa waktu kemudian…
Ba’da mulai menguap.
Matanya perlahan terpejam.
Ia akhirnya tertidur di samping kakaknya.
Isya tersenyum melihatnya.
Ia mengusap kepala adiknya dengan lembut.
“Tidur ya…”
Nenek menatap mereka berdua dengan penuh kasih.
Malam semakin sunyi.
Kini hanya Isya dan nenek yang masih terjaga di ruang tamu kecil itu.
Dan percakapan mereka pun berlanjut dengan tenang.
Percakapan selanjutnya menceritakan bagaimana Abati dan Umi Nya isya bertemu
---Namira Ahsya\_\_
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘