Kanaka kecewa berat mengetahuinya jika kekasih sekaligus suster pribadinya, meninggalkannya demi uang 1 milyar tawaran dari Ayahnya. Sejak dia buta karena kecelakaan 2 tahun yang lalu, Zea begitu tulus menjaganya hingga ia jatuh cinta. Namun cinta tulusnya, kalah dengan uang 1 milyar.
8 tahun berlalu, saat Naka sudah bisa melihat setelah menjalani operasi kornea mata, ia bertemu dengan seorang wanita bernama Zara. Janda dengan satu anak laki-laki itu, memiliki suara yang mirip sekali dengan Zea. Fakta akhirnya terkuak, ia tahu jika Zara ternyata adalah Zea. Kebencian pada wanita itu, membuat Naka membalas dendam dengan cara memisahkan Zea dengan putranya. Ia ingin Zea merasakan kehilangan seperti apa yang ia rasakan dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
"Ini dimana, Om?" Arka takut saat Rizal mengajaknya masuk ke sebuah gedung bertingkat tinggi, gedung tak tak pernah ia lihat selama di Jombang Ia terus mengedarkan pandangan, gelisah, tangannya mencengkeram erat lengan Rizal.
"Kita mau ke apartemen Om," Rizal menuntun Arka menuju lift.
"Apartemen?" Arka mendongak, menatap Rizal bingung.
"Rumah. Maksud Om rumah."
Sepanjang jalan, Rizal terus menunduk, takut tiba-tiba ada yang meneriakinya penculik. Takut juga wajahnya terlihat kamera CCTV dan dijadikan bukti penculikan. Sumpah, selama bekerja dengan Naka, inilah tugas yang paling menegangkan, vibesnya mencekam, bikin ia serasa sedang syuting film thriller. Jantung berdegup kencang, tubuh basah oleh keringat dingin, hingga tremor. Siapa yang tidak takut saat diperintah untuk berbuat kriminal, menculik anak.
"Apa ibuku ada disana?"
"Em... " Rizal bingung untuk menjawab.
Tadi saat menjemput Arka, Rizal menggunakan video editan AI. Video dimana Zara meminta Arka untuk ikut dengannya karena ia sudah ada di Jakarta, pergi lebih dulu dengan Naka, ada pesanan es teh. Anak sekecil Arka, yang belum mengerti seberapa canggihnya AI, jelas percaya begitu saja.
"Ibuku ada di rumah Om?" Arka kembali bertanya.
"Ibu kamu sedang bersama bos, ada di lokasi acara," bohongnya. Setiap menatap wajah Arka, hatinya langsung mencelos, dipenuhi rasa bersalah. Anak sekecil itu, yang belum faham apa-apa, yang menjadikan ibunya sebagai pusat dunianya, malah dipisahkan.
Selain Arka, Rizal juga kepikiran Zara, bagaimana bagaimana kondisinya saat ini, tentunya tidak baik-baik saja. Zara, wanita itu pasti bingung mencari anaknya. Ia sudah tak punya suami, hidup hanya dengan anaknya, tapi seseorang malah memisahkan mereka. Entah apa salah Zara pada Bosnya, sehingga laki-laki itu sebegitu kejamnya pada mereka.
Kalau saja tidak butuh banyak uang untuk pernikahannya 3 bulan lagi, ia pasti sudah memilih resign saja daripada disuruh menculik anak, terlalu high risk.
"Kita ke tempat acara saja Om, aku ingin ketemu Ibu."
"Gak bisa Arka," Rizal menggeleng. "Kita gak bisa masuk sembarangan, hanya orang yang punya undangan saja yang bisa masuk. Malam ini, tunggu Ibu di rumah Om saja ya." Ia berhenti di depan lift, menekan tombol naik, lalu menunggu pintu terbuka.
Saat pintu lift terbuka, Rizal menarik tangan Arka, namun anak itu menolak masuk. "Kenapa?"
"Ini tempat apa, Om?" tanya Arka dengan ekspresi takut, Arka memperhatikan lift yang saat itu dalam keadaan kosong.
"Kamu gak tahu ini?" Rizal mengerutkan kening.
Arka menggeleng.
"Ini namanya lift. Ayo cepat masuk," sedikit menarik agar Arka cepat masuk sebelum pintu kembali tertutup.
Saat pintu lift sudah tertutup dan mulai bergerak, Arka memeluk lengan Rizal, matanya reflek terpejam, takut. Seumur hidup, ia belum pernah naik lift, ini pertama kalinya.
"Kamu takut?" Rizal menahan tawa melihat kepolosan Arka. "Gak papa, ini lift. Lift itu fungsinya seperti tangga, membawa kita naik ke atas atau turun ke bawah. Gak usah takut, aman kok."
Arka memberanikan diri membuka mata, namun saat lift tiba-tiba berhenti dan ada suara ting, ia reflek kembali memejamkan mata, takut. Namun rasa penasaran, membuat ia membuka sedikit mata, mengintip. Ia melihat sepasang lansia yang masuk, lalu pintu kembali tertutup.
Rizal mengajak Arka keluar setibanya mereka di lantai 11, terus menuntun hingga tiba di unit apartemennya.
Mata Arka tak bisa diam, terus menelisik seisi rumah yang menurutnya tak seperti rumah. Tak ada halaman dengan tanah seperti rumahnya. Tak ada jalanan yang banyak kendaraan seperti depan rumahnya. Dari lift hingga masuk rumah, ia hanya melewati lorong sepi dengan pintu-pintu yang kesemuanya tertutup. Mungkin semua sudah tidur karena ini sudah malam, batinnya.
"Kita makan mie instan aja ya, setelah itu mandi lalu tidur," meski badan terasa lelah, Rizal memaksakan diri ke pantry untuk memasak mie. Ia kasihan jika membiarkan Arka tidur dengan perut kosong. "Kamu tunggu di sofa saja, istirahat, pasti lelah."
Arka yang awalnya mengikuti Rizal, mengangguk lalu kembali ke sofa. Ruang tamu menyatu dengan pantry, sehingga Arka bisa langsung melihat Rizal. Di tempat asing dengan orang asing seperti ini, membuat ia selalu was-was.
"Sini Ka, makan disini," Rizal mengajak Arka makan di meja bar. Sofanya masih baru, takut Arka yang masih kecil mengotorinya.
"Om, besok kita ketemu Ibu kan?" tanya Arka setelah mencoba sesuap mie instan. Kuah hangatnya, membuat perut terasa nyaman.
Rizal yang tidak bisa memberi kepastian, hanya mengulum senyum. Melihat Arka masih memakai seragam, ia jadi memikirkan baju gantinya. Anak itu pasti tenggelam memakai bajunya, tapi tak ada opsi lain.
Selesai makan, Rizal mengajari Arka menggunakan shower di kamar mandi, menyuruh anak itu membersihkan diri sementara ia memilihkan pakaian untuknya. Sebuah kaos warna merah dan celana kolor pendek hitam ia ambil dari dalam almari.
Rizal tak bisa menahan tawa melihat tubuh kecil Arka tenggelam dalam bajunya. "Besok Om belikan baju untuk kamu."
"Gak usah Om. Besokkan Arka pulang sama Ibu, jadi gak usah dibelikan baju."
Rizal membuang pandangan ke arah lain, tak kuasa menatap wajah polos Arka yang belum faham jika ia sedang dipisahkan dengan ibunya. Malam ini Arka memang masih baik-baik saja, tapi besok, lusa, dan hari-hari selanjutnya, bagaimana keadaannya saat tahu jika ia sebenarnya diculik, dipisahkan dari ibunya. Ia sungguh tak habis fikir dengan Naka, bisa-bisanya bosnya itu punya otak kriminal. Sebenarnya ada masalah apa Naka dengan Zara, sampai tega menculik anaknya. Pertanyaan yang tak kunjung ia temukan jawabannya.
Keesokan harinya, Vira, tunangan Rizal syok saat melihat ada anak kecil di apartemen sang kekasih. Tadi malam, Rizal mengirim pesan, memintanya datang pagi ini.
"Itu anak siapa, Beb?" menatap Arka penuh selidik. "Bukan anak kamu sama perempuan lainkan?" menatap Rizal tajam. Kepalanya mulai dipenuhi dengan prasangka buruk.
"Dia anak_"
"Jangan bohong kamu ya!" Vira memotong ucapan Rizal. "Kamu nyembunyiin apa di belakang aku hah? Wanita mana yang sudah ngasih kamu anak?" teriaknya, tantrum, memukul-mukul dada Rizal.
Arka yang duduk disofa, sampai mengalih tatapannya dari layar TV pada Rizal dan Vira. Bigung, kenapa dua orang dewasa itu berantem seperti anak-anak.
"Makanya sekarang kamu jarang ada waktu buat aku, sibuk terus, ternyata ada wanita lain. Bajingan kamu, bangsaattt, anj_"
Rizal buru-buru membekap mulut Vira, menarik lengannya masuk ke dalam kamar. "Ada anak kecil, ngomongnya dijaga sedikit," membuka bekapan tangannya.
"Kok kamu malah marah sama aku sih, harusnya aku yang marah sama kamu." Makin kesal karena ditegur.
"Dia anak orang, bukan anakku. ANAK ORANG!" ulangnya penuh penekanan.
"Ya iyalah, siapa juga yang bilang anak singkong?" bentak Vira. "Gak usah bohong! Ngaku kamu, anak siapa dia?"
Rizal berdecak sambil mengacak rambutnya frustasi. Sifat Vira yang seperti ini yang sering membuatnya kesal, meledak-ledak, susah diajak ngomong pelan-pelan. Tapi sebenarnya baik orangnya, hanya cepat meledak saja. "Emang dia mirip aku? Enggak kan?" membuang nafas kasar, menyunggar rambutnya ke belakang dengan jari.
"Lalu, anak siapa dia?"
Rizal mengunci pintu, takut Arka mendengar obrolannya dengan Vira. "Aku disuruh bos nyulik anak itu."
"WHAT! APA! NYULIK! Gila kamu!" teriaknya.
o...o'o... kycduk kalian....
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
itu sih Aku ya Ze😄🤣