Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor
Elvan Bagaskara
CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.
Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .
Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 3
Pagi itu berjalan seperti biasa.
Dira berdiri di depan pagar rumah sambil ngerapihin tasnya. Dari kejauhan, Mobil kakaknya sudah terdengar mendekat.
“Masuk , jangan bengong,” kata Kenzo sambil senyum tipis.
Dira langsung masuk dan mereka melaju menuju sekolah seperti hari-hari sebelumnya. karna memang setiap pagi kenzo yang mengantar dira kesekolah selain satu arah ,kenzo takut adeknya kenapa-kenapa.
Sepanjang jalan, Dira melamun. Entah kenapa pagi ini rasanya biasa banget—nggak ada tanda-tanda bakal terjadi sesuatu yang berbeda.
" Tumben adek abang gak bawel " Kenzo membuka keheningan " Lagi sakit dek" lanjutnya memegang dahi dira dan langsung ditepis dira.
" Ihh gak ya .Lagi hemat suara " jawab asal dira
Kenzo hanya tersenyum
" Pulang abang jemput ya " yang hanya diangguki dira langsung pergi begitu saja .
BRAKK
Pintu mobil dibanting keras.
"DIRA!" Teriak kenzo .Tapi dira sudah melangkah keluar.
Ia berjalan menjauh dari mobil tanpa menoleh
Di dalam mobil, Kenzo mendengus cuma bisa menatap punggung adiknya yang makin menjauh.
" Kenapa lagi tuh anak " tak lama kenzo melajukan mobilnya kembali
***
Dira masuk kelas dan duduk di bangkunya. Suasana kelas masih ribut, sampai wali kelas mereka datang.
“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid pindahan,” ucap wali kelas mereka ibu Rini .Sambil menoleh ke arah pintu.
Seorang cowok melangkah masuk. Posturnya tinggi, wajahnya dingin, auranya kalem tapi berasa… beda.
“Perkenalkan, nama aku Albian Bagaskara,” katanya singkat.
Beberapa murid langsung bisik-bisik.
“Ganteng ya…”
“Dingin banget auranya…”
Dira cuma melirik sekilas, lalu balik fokus ke bukunya.
Cowok itu mengingatkannya pada satu orang— Bos dingin kakaknya sendiri Yang baru ia temui kemarin.
Dan ternyata benar.
Nama belakang mereka sama: Bagaskara.
Albian itu adiknya Elvan Bagaskara, kakaknya sempat cerita bosnya terkenal cool, pendiam, dan susah didekati. Karna kemarin memang pertemuan pertama dira dengan bos kakaknya.
" Buset mirip banget lagi" guman dira
Albian duduk di bangku kosong di dekat jendela.
Dira dan Albian… nggak saling kenal.
Nggak ada obrolan.
Bahkan nyaris nggak saling peduli.
Pagi itu terasa biasa aja.
Tapi tanpa Dira sadari, hari “biasa” itu bakal jadi awal dari sesuatu yang pelan-pelan mengubah hidupnya.
***
Lorong sekolah siang itu rame. Anak-anak baru keluar kelas, suara langkah kaki bercampur obrolan nggak penting.
Dira jalan santai bareng dua sahabat sejatinya, Sinta dan Bayu. Mereka sudah berteman sejak duduk dibangku SD .Dan juga karna orang tua mereka sama- sama bersahabat.
“Eh, kantin rame banget hari ini ya ,” kata Bayu sambil ngelirik ke arah depan.
“Yaelah, tiap hari juga rame kali ,” jawab Dira cuek.
Sinta cuma ketawa kecil. “Kalian ini nggak pernah akur sama perut sendiri.”
Baru beberapa langkah, Dira berhenti mendadak.
Di ujung lorong, berdiri sosok yang bikin suasana hati langsung naik panas: Vina.
Musuh bebuyutannya sejak kelas sepuluh.
Tatapan mereka ketemu.
Vina senyum tipis—senyum nyebelin yang seolah bilang, “Kita ketemu lagi.”
“Oh, lihat siapa yang lewat…” kata Vina nyaring.Bikin semua penghuni kantin menoleh sumber suara .
“Si ratu ribut sekolah.”
Dira langsung muter badan ngadep.
“Ngaca dulu, Vin. Jangan-jangan yang ribut itu kamu sendiri.”
Bayu refleks narik lengan Dira.
“Dir, santai. Jangan mulai lagi di lorong.”
Tapi Dira udah keburu panas.
Langkahnya maju satu. Tatapannya tajam.
“Kamu mau apa sih? Tiap ketemu nyari perkara mulu.”
Vina ketawa kecil, sok kalem.
“Tenang aja. Aku cuma lewat. Tapi ya… kalo ada yang gampang kepancing, salah siapa?”
“Berani lu!”
Dira hampir maju lagi, tapi Sinta cepet-cepet berdiri di depannya.
“Dir, stop. Banyak orang liatin,” bisik Sinta pelan tapi tegas.
Suasana makin tegang. Anak-anak di sekitar mulai melambatkan langkah, kepo pengen lihat drama.
Pas situasi mau makin rusuh…
“Menyingkir .”
Suara datar itu bikin semua orang nengok.
Seorang cowok berdiri di samping lorong. Tingginya di atas rata-rata, wajahnya dingin, tatapannya tenang. Tas ransel masih kelihatan baru. Seragamnya rapi.
Aura “nggak mau ribet” banget.
“Aku mau lewat,” katanya lagi.
Dira melirik sekilas.
Cowok itu beda.
Tenang, cool, pendiam—vibenya mirip sekali bos kakaknya, Elvan.
" eh, napa jadi ingat tuh bos sombong sih " Batin dira sambil menatap albian didepannya .
“Oh, murid baru?” celetuk Bayu. sinta hanya menoleh sekilas
Cowok itu ngangguk singkat.
“Kalo .Mau ribut bukan disini tempatnya .”
Beberapa anak langsung bisik-bisik.
“Murid pindahan ya. Ganteng banget ?”
“Katanya adeknya Pak Elvan ya .Pemilik perusahan terbesar dikota ini .”
" Kok kamu tau ?" tanya siswi lain
" Jelas. Orang gue sering ikut acara bisnis papi aku" Sombong siswi tadi.
Nama Elvan bikin beberapa orang langsung paham reputasinya.
Pengusahan pinter, dingin, jarang ngomong, tapi disegani.
Dira nengok lagi ke Albian.
" Sorry .” Yang kemudian sedikit Menyingkir dari tempatnya.
Albian cuma angkat bahu. Lalu pergi begitu saja
Entah kenapa, sikap cueknya bikin suasana agak turun tensinya.
Vina mendengus, males.
“Yaudah, males ribut. Buang-buang waktu.”
Dia berbalik pergi, tapi sebelum benar-benar menjauh, dia melirik Dira.
“Tenang aja, kita masih sering ketemu, Dir.”
Begitu Vina pergi, Dira nghembusin napas panjang.
“Nyebelin banget tuh anak. ”
Sinta nepuk pundak Dira.
“Untung ada murid baru nyelamatin suasana.”
Bayu nyengir.
“Yaelah, Tanpa dia ira sayang juga berni kali .”
Albian mengangguk tipis.
“Jelas.ngapain takut sama tuh monyet ”
Dira menatap Albian duduk disamping jendela sejenak.
Cowok cool, pendiam, tapi auranya beda.
Kayaknya… bakal ada cerita baru di sekolah ini.
Dan entah kenapa, Dira ngerasa—kedatangan Albian bukan cuma sekadar murid pindahan biasa.
" Tau ah bodo amat" guman dira
" Ngomong apa " Ucap sinta yang kurang jelas apa yang dikatakan dira .
Dira hanya tersenyum kaku.
" Gak ada. salah dengar kali"
" Yah.. ira sayang gak seru dong gitu" Celutuk Bayu pura-pura merajuk
Plak
" Ishh bisa diam gak" tepuk dira tepat dibahu Bayu " Katanya mau makan .Ayoo" langsung menyeret sinta meninggalkan Bayu.
" Woyyy ditinggal " teriak Bayu yang kemudian mengejar dira dan sinta.